
Sasa berdiri di depan perpustakaan sembari menunggu Zean. Selang beberapa menit, Zean tiba di hadapan Sasa.
(Klakson Motor)
"Ayo, naik." Zean memberikan helm ke Sasa dan menyuruhnya naik.
Sasa memakai helm itu dan segera naik. Motor Zean pun melaju menuju rumah Larisa. "Lo jadi ke KUA kan?" sorak Zean dari atas motor.
"Jadi, gua udah dapet berkasnya." Sasa sedikit berteriak agar suaranya terdengar jelas.
"Syukurlah," ujar Zean sembari terus mengemudi.
"Lo udah makan belom?" tanya Zean.
"Belom," ujar Sasa tepat di telinga Zean.
Ucapan mereka seperti berlawanan dengan angin, suaranya jadi meredam. "Mau makan dulu ga?" tanya Zean.
"Ga usah, gua ga laper." Sasa lalu mengalihkan pandangan ke sekeliling.
Zean mengendarai motornya menuju rumah Larisa. Perlu waktu sekutar 30 menit untuk mereka tiba di depan toko bunga milik Larisa.
Sasa turun dari motor yang sudah berhenti. Ia lalu membuka helm dan menggenggamnya seraya berjalan ke pintu rumah Larisa.
Di depan halaman rumah yang biasanya dihiasi bunga, kini nampak kosong. Sasa terus berjalan menuju pintu, rumah ini seperti tak berpenghuni.
"Permisi," ujar Sasa. Zean nampak menyusul setelah menaruh helm di atas motor.
Tok..Tok..Tok..
"Larisa... Permisi," ujar Sasa kembali mengetuk pintu.
"Gimana, Sa?" tanya Zean.
"Ga ada orang deh kayaknya," ujar Sasa.
"Permisi, Larisa... Ini gua sama Sasa," sahut Zean dengan nada keras.
Sasa menarik nafas dan melirik ke Zean. "Kenapa rumahnya kosong banget ya, bunga yang biasa dijual juga udah ga ada," jelas Sasa.
Zean melirik sekeliling yang memang kosong. "Atau dugaan gua bener? Kalau Larisa udah pindah ke Bali?" tanya Zean.
"Bukannya timeline nya besok ya?" tanya Sasa.
Zean mengangguk. "Tapi, dia kan udah mau 3 hari ga ke kampus," jawab Zean.
Saat mereka bercengkrama, seseorang yang baru selesai berbelanja sayur lewat. "Itu, kita tanya aja." Sasa berjalan memanggil wanita itu.
"Buk, permisi..."
Wanita itu melihat Sasa dan segera berhenti. "Iya, kenapa dek?" tanya beliau.
"Saya mau tanya, pemilik toko bunga ini kemana ya? Soalnya bunganya udah ga ada, dari tadi dipanggil juga ga ada yang jawab," jelas Sasa.
"Oh, Bundanya Larisa ya? Beliau kan sudah pindah ke Bali sejak 3 hari lalu, dek..."
Sasa terkejut dengan ucapan wanita itu. "Jadi rumah ini udah kosong dari 3 hari lalu ya, Bu?" tanya Sasa.
"Iya dek, kalau soal bunga yang kosong, mereka sudah memindahkan secara bertahap ke Bali dari satu minggu lalu."
Sasa mengangguk paham. "Oh, makasi ya Buk..."
"Iya, sama-sama," ujar wanita itu sembari berlalu pergi.
Sasa lalu kembali berjalan mendekat ke Zean yang dari tadi ada di depan pintu. "Gimana, Sa?" tanya Zean.
Sasa menggeleng, ia kemudian mendengus. "Bener, Larisa udah pindah dari 3 hari lalu, bahkan bunganya juga udah dicicil ke Bali sejak seminggu lalu," jelas Sasa.
"Yah, pantes dia ga bisa dihubungin," jawab Zean.
"Kayaknya dia marah banget deh sama gua," ujar Sasa.
"Lo juga ga boleh nyalahin diri lo sendiri," kata Zean sembari menatap Sasa.
"Tapi, tetap aja ini semua karena gua ga jujur sama dia," jawab Sasa.
"Kita ga usah pikirin itu lagi, sekarang yang perlu dibahas, gimana caranya kita bisa jelasin hal ini langsung ke Larisa," ungkap Zean.
Sasa seketika berfikir. Ia kemudian ingat kalau beberapa minggu lagi ia akan menuju Bali untuk bertemu Deina.
"Ada satu cara," ungkap Sasa.
"Apa?" tanya Zean.
"Gua yang akan temuin dia langsung ke Bali," jawab Sasa.
"Gua harus ikut," ujar Zean.
"Pokoknya gua harus ikut," ujar Zean.
Sasa kemudian melangkah menuju halaman. "Gua akan pergi sendiri, nanti bokap lo bisa curiga karena lo udah sering bolos!"
"Gua bisa cuti kuliah dan nyambung tahun depan," jawab Zean dengan santai.
Sasa seketika menghentikan langkahnya. "Ini alasan gua ga mau lo terlibat jauh dalam masalah gua!" ketus Sasa.
"Tapi, gua seneng Sa... Gua suka berada di antara pemecahan masalah lo," jawab Zean.
"Gua yang ga suka kalau lo berubah gara-gara ikut misi ini," jawab Sasa.
Zean lalu mengikuti langkah Sasa yang kini berjalan ke motornya. Sasa mengenakan helm itu untuk segera naik.
"Emang lo tau kemana harus cari Larisa?" tanya Zean sembari memegang helm.
"Gua tinggal cari toko bunganya aja, atau lacak nomernya." Sasa lalu menatap Zean agar segera mengenakan helm di tangannya.
"Buruan," ujar Sasa lagi.
Zean langsung mengenakan helm dan naik ke motor. Mereka lalu berkelana lagi di jalanan yang ramai.
...----------------...
Flashback
Pagi ini, Bara bangun kesiangan karena terlalu banyak mengerjakan tugas di malam hari. Ia bangun setelah beberapa kali di telfon oleh seseorang.
(Dering telfon)
Setelah beberapa kali berdering, Bara terbangun dari tidurnya. Ia lalu mencari ponselnya untuk mengangkat telfon itu.
"Halo?" ujar Bara dengan nada serak.
'BARAA, LO LUPA YA KALAU KITA ADA PRESENTASI HARI INI? INI UDAH JAM BERAPA BAR?!!!'
"Ya Allah, gua lupa, sumpah deh!"
'Ini 20 menit lagi dosen masuk, kita kan udah janji mau cek beberapa berkasnya dulu biar ga salah.'
"Iya, sorry... Gua kesiangan..." jawab Bara.
'Yaudah, buruan ke sini!'
Bara seketika bangun dari posisi duduknya. "Oke, gua otw sekarang."
Bara meletakkan ponselnya dan segera bergegas ke kamar mandi. Ia lalu berbenah diri dan menukar pakaiannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, dan Sasa masih tertidur pulas di kamar tamu.
Selang beberapa menit, Bara selesai dan mengemasi barang-barangnya. Ia lalu keluar dari kamar. Ia menjinjing laptopnya dan melewati kamar tamu.
"Sasa..." ujar Bara tanpa mengetuk pintu kamar itu.
"Saa..."
Tidak ada jawaban dari Sasa. Bara yang berfikir bahwa Sasa masih tidur itu, lalu perlahan membuka pintu tanpa mengetuknya. Ia lalu melihat sosok Sasa yang tertidur dengan pulas.
"Kalau gua bangunin, kasian juga..."
Bara lalu memutuskan keluar dari kamar tamu. Ia lalu berjalan ke ruang tamu tanpa menyiapkan makanan terlebih dahulu. Bara keluar rumah dan segera menuju mobil.
Hanya perlu beberapa menit saja untuk Bara meninggalkan rumahnya. Ia lalu mengendarai dengan cepat karena jam sudah menunjukkan pukul 09.15 WIB.
Bara berpacu dengan waktu yang tinggal 5 menit lagi. Beberapa panggilan masuk terpaksa ia hiraukan. Walaupun pada akhirnya Bara kalah dengan waktu.
Mobil Bara tiba di kampus pukul 09.45 WIB. Bara bergegas menuju kelas dengan laptop yang ia jinjing. Baru saja tiba di pintu kelas, sudah ada teman sekelompoknya yang berdiri di pintu.
"Kali ini lo selamat karena Pak Taryo ga jadi dateng ke kampus," ujar wanita itu tanpa bersalah.
"Apa? Kenapa ga jadi? Gua udah ngebut-ngebut di jalanan loh untuk presentasi hari ini!"
"Anaknya jatuh dari motor pas mau ke sekolah, jadi dia yang udah sampe kampus terpaksa pulang lagi ke rumah."
Bara mendengus dan kecewa karena sudah tergesa-gesa untuk waktu kosong. Ia yang masih berdiri di pintu, seketika teringat Sasa yang tadi ia tinggalkan.
'Sasa pasti akan mikir kalau gua ninggalin dia karena marah malam tadi.'
"Lo ga mau masuk, Bar?" tanya teman sekelas Bara.
Bara mengangguk dan berjalan bersama ke dalam kelas. Pikirannya kali ini penuh dengan dugaan soal Sasa. Sementara, Sasa yang dipikirkan nampak masih berteman dengan mimpinya.
Ia bahkan belum menemukan titik bangun di tidurnya pagi ini. Sedangkan, Bara harus menunggu beberapa jam lagi untuk belajar.