
Ambulance yang sedari tadi mereka tumpangi akhirnya tiba di jalur khusus untuk sebelum masuk ke pesawat. Mobil berhenti dan seseorang membukakan pintu.
"Silahkan turun, dek." Ujar petugas ambulance.
Bara dan Sasa turun dari ambulance, ia membiarkan Renita diturunkan oleh petugas untuk dibawa ke pesawat.
Dari jauh sudah terlihat mobil honda jazz yang dibawa Arya. Mobil itu lalu berhenti tepat di belakang ambulance.
Arya turun dari mobil itu, bersamaan dengan beberapa orang yang sigap membawakan barang mereka ke bagasi pesawat.
Arya lalu menghampiri mereka berdua, di samping mereka sudah ada Renita yang berbaring dengan kasur rumah sakit.
"Ibu Renita akan segera kami bawa ke dalam," ujar petugas yang masih di sebelah Bara itu.
"Baik, Pak." Ujar Bara.
"Pamit sama Bunda," ujar Arya menoleh ke Bara.
Bara melihat wanita di sebelahnya itu. Ia lalu mendekat dan menciumnya.
"Cepat sembuh, Bun.." sembari mencium kening.
Sasa yang ada di sebelahnya hanya melihat momen haru itu. Arya lalu mengode petugas agar segera membawa Renita.
Kini, hanya ada mereka bertiga bersamaan dengan orang yang masih mengangkat koper.
"Ini," sembari menyerahkan kunci mobil ke Bara.
"Ayah berangkat dulu, kamu baik-baik, jangan ngerepotin Sasa," ujar Arya.
"Aku yang akan jaga, Sasa." Sahut Bara yang membuat Sasa menoleh.
"Fokus kuliah, ya... Bunda pasti sembuh," sembari memeluk Bara.
"Hati-hati, Yah!" sembari membalas pelukan itu.
Arya lalu melepas pelukannya dan melihat ke Sasa yang sedari tadi diam.
"Titip Bara ya, Sa. Saya yakin kamu lebih tangguh dari dia," Ujarnya lagi.
Sasa mengangguk, ia kemudian mengulurkan tangan untuk salim.
"Hati-hati, dok. Semoga Bu Renita cepat sembuh," ujar Sasa.
Arya menjabat tangan Sasa. Ia lalu mengelus pundak Bara dan melangkah pergi menuju keberangkatan.
Kini, mereka berdua hanya bisa menatap punggung Arya yang semakin menghilang.
"Keep strong!" ujar Sasa sembari menepuk punggung Bara.
Bara menoleh ke Sasa dengan tatapan datar. Ia lalu mengajak Sasa untuk pergi.
"Mm.. Lo mau ikut gua ke rumah atau gua anter lo pulang dulu?" tanya Bara.
"Gua..."
Baru saja hendak menjawab, dering telfon membuyarkan obrolan mereka. Sasa lalu merogoh tasnya.
(Dering telfon)
"Sorry... bentar," sembari menjawab telfon itu.
"Halo, Bu?" sapa Sasa kepada Bila.
"Udah dapet ya?" tanya Sasa.
"Yaudah, saya ke sana sekarang juga." Sembari menutup telfon.
Sasa lalu kembali memasukkan telfon itu ke tas kecilnya. Ia lalu menoleh ke Bara yang sedari tadi memperhatikannya.
"Gua pulang sendiri aja, ada urusan soalnya." Ujar Sasa.
"Kemana? Kenapa ga bareng aja?" tanya Bara melirik ke mobilnya.
"Gapapa, lo bisa jemput baju ke rumah lo duluan, nanti ketemu gua di rumah aja," ujar Sasa.
"Gua mau anterin lo dulu aja, nanti gua baru jemput baju ke rumah, gimana?" ujar Bara menawar.
"Ga usah, gua udah bilang gua ada urusan!" ketus Sasa.
Bara lalu menggenggam tangan Sasa. Sasa sontak kaget atas ulah Bara.
"Mulai sekarang lo kemana-mana harus bareng gua," ujar Bara menarik Sasa ke dalam mobil.
"Heii... Gua bisa sendiri!" ketus Sasa.
Bara menyuruh Sasa masuk ke mobil dan menutup pintu mobilnya. Ia lalu berjalan ke arah kursi pengemudi.
Bara menoleh ke Sasa yang duduk di sebelahnya. Wajahnya nampak bete sekali.
"Gua anter lo dulu, abis itu kita ke rumah gua, dan berakhir di rumah lo." Bara lalu men-start mobilnya. Ia melaju meninggalkan bandara.
"Lo baru 15 menit sama gua, udah banyak ngatur!" bentak Sasa.
"Ini juga karena lo ga nerima tawaran gua," ujar Bara sembari menyetir.
"Gua ga suka ya!" ketus Sasa menoleh ke Bara.
"Kalau ga suka lo tinggal diem," balas Bara tak mau kalah.
Sasa mendengus dan membuang pandangan ke jendela. Baru 15 menit saja berdua mereka sudah sepanas ini, bagaimana harus hidup beberapa hari dengan Bara? Apakah akan terbakar?
"Lo tadi mau kemana?" tanya Bara yang belum tahu tujuan Sasa itu.
"Hotel Gloubel Utama, lo tau jalannya kan?" tanya Sasa.
"Tau, gua pernah seminar di situ." Ujar Bara. Ia kemudian sesekali melirik ke arah Sasa yang nampak sibuk dengan pemandangan lalu lintas yang ramai.
***
"Kalisa ada?" tanya Bila.
Kalisa adalah sekretaris Hotel Gloubel utama. Ia biasa bekerja sebagai penulis surat dan pengatur persiapan acara.
"Lagi makan keluar, Bu." Jawab resepsionis itu.
"Tolong suruh Parman siapin makanan untuk dibawa ke ruangan saya," ujar Bila.
"Baik, Bu... Saya akan kabari Parman," ujarnya sembari menelfon seseorang.
Bila mengiyakan dan berjalan keluar hotel. Ia sekalian menyambut kedatangan Sasa. Matanya melirik ke sekitar hotel dan mendapati satu mobil honda jazz masuk ke parkiran.
Mobil itu melaju dan berhenti di sebelah sedan silver. Satpam hotel pun berjalan ke arah mobil itu untuk menyambut tamu, beliau belum tahu kalau itu adalah Sasa.
Tak lama, Sasa keluar dari mobil itu. Bila lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Selamat sore, Nona Mysa!" sembari membungkukkan badan.
Bara yang melihat itu langsung bertanya-tanya alasan apa yang membuat Sasa dihormati di sini selain pewaris, karena setau Bara, Sasa masih berkuliah dan belum memegang ahli waris.
"Ga usah panggil Nona, Pak!" ujar Sasa kepada satpam itu.
"Tapi, Nona.." ujar satpam itu menyangkal.
"Saya terlalu muda untuk bapak hormatin, saya yang harus ngehargain bapak," ujar Sasa.
"Baik, Mysa..." ujarnya lagi.
Sasa yang tahu Bila menunggunya itu, lalu mengajak Bara berjalan ke teras hotel.
"Ayo, ikut gua," ujar Sasa berjalan lebih dulu.
Bara mengikuti langkah Sasa, hingga tiba di hadapan Bila yang tengah berdiri menyambut mereka.
"Mysa..." sembari memeluk Sasa.
Bara masih berdiri di samping Sasa yang sedang berpelukan itu. Sasa lalu melepas pelukannya.
"Ini,.. Siapa Mysa?" sembari menunjuk Bara.
"Oh, ini Bara... Anak Bu Renita, sahabat Mama." Ujar Sasa melirik ke Bara.
"Kenalin, saya Bila.. Manajer di hotel ini," sembari salam. Bara membalas salaman itu dan tersenyum.
"Bara, Bu.. Temannya Sasa," ujar Bara.
"Mm.. Ayo masuk," ujar Bila berjalan lebih dulu.
Sasa dan Bara lalu mengikuti langkah Bila. Resepsionis pun nampak memberi salam hormat karena tahu Sasa adalah CEO baru di sini yang akan dilantik.
Mereka berjalan menuju lift yang ada di sudut kiri hotel. Mereka masuk ke dalam lift dan Bila menekan lantai 15 untuk menuju ke ruangannya.
Kantor di hotel ini berada di lantai teratas. Di sana ada berbagai ruangan yang menjadi pusat auditing, pemberkasan dan perbendaharaan hotel.
Mereka hanya diam sepanjang perjalanan, hingga keluar dari lift. Setelah itu, mereka Bila berjalan lebih dulu dan membuka pintu sebuah ruangan.
"Silahkan duduk, Mysa.. Bara.." Sembari mempersilahkan.
Bara menatap sekeliling ruangan dengan takjub, karena sangat besar dan megah untuk sekedar kantor manajer saja.
"Sebentar, kita tunggu hidangannya dulu," sembari berjalan mengambil berkas ke mejanya.
Selang beberapa menit, seseorang mengetuk pintu dan membawakan hidangan yang ditunggu.
"Permisi," sembari masuk dan menyalin hidangan ke meja yang ada di depan Sasa dan Bara.
Sasa melihat ada banyak sekali makanan, ada 2 burger, 2 spageti, 3 nasi ayam dan 1 steak berukuran jumbo. Sasa lalu melirik ke jus lemon yang ada di meja.
"Tolong ganti jus lemonnya sama ice moccacino," ujar Sasa.
Bila kemudian menoleh ke Parman untuk segera mengganti jus tersebut. Bara nampak heran dan menatap ke Sasa.
"Kita belum makan, lemon terlalu asam kan buat lambung yang kosong?" tanya Sasa menatap Bara.
Bara lalu tersenyum kecil. Ia memang benar-benar heran dengan perilaku Sasa ketika di hotel ini.
"Segera ya, Parman." Ujar Bila sembari melangkah ke dekat Sasa. Di tangannya sudah ada berkas, Bila lalu meletakkan berkas itu di sampingnya.
"Baik, Bu. Saya akan ambilkan dulu." Sembari mendorong meja dorongan ke luar.
Kini, hidangan sudah siap mereka santap sembari menunggu minuman.
"Makan, Bar.. Santai aja," ujar Sasa.
"Lo... Kok bisa..." ujar Bara yang heran kenapa Sasa begitu di jamu.
"Sasa akan jadi CEO baru di sini, Bara.. Menggantikan alm. Ibunya." Jelas Bila.
Bara sedikit terkejut atas pernyataan itu. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa? Bukannya Sasa masih fokus pada kuliahnya?
"Lo ga kuliah lagi?" tanya Bara spontan.
Sasa seketika menatap Bara dengan sinis. Itu karena ia belum memberitahu Bila soal kuliahnya.
"Apa, Mysa kuliah? Kuliah dimana?" tanya Bila sembari mengambil sendok.
"UGB," ujar Sasa sembari melahap burger di tangannya.
"Tapi, bagi saya tidak ada masalahnya kamu kuliah atau tidak, yang penting hak telak perusahaan harus ada di tangan kamu," jelas Bila lagi.
"Untuk saat ini, saya putuskan berhenti dulu, Bu. Ibu pasti tahu alasannya apa," ujar Sasa kembali melahap burgernya.
Bila mengangguk, sedangkan Bara nampak penuh dengan pertanyaan.
"Makan, Bara... Jangan sungkan-sungkan," ujar Bila.
Bara mengangguk dan melahap nasi ayam itu satu per satu sendok, sembari berfikir keras hal apa yang tengah Sasa persiapkan sampai kuliahnya harus tertunda?