Puzzles

Puzzles
Episode 37 - Larisa Pindah Kampus?



Larisa dan Zean tengah duduk di gerbang kanan dengan minuman di meja seperti biasa. Hari ini, Larisa nampak sangat datar. Ekspresinya seakan hilang.


"Oh iya, lo tadi mau ngomong apa?" tanya Zean.


"Nyokap dapet tawaran kerja sama di Bali, collega nya juga udah siapin toko bunga yang lebih elit di sana."


Zean terlihat bersemangat dengan kabar baik ini. "Oh ya, selamat... kesempatan bagus tuh."


Larisa menatap Zean dengan sorot mata kecewa. "Lo kenapa? Bukannya itu bagus ya?" tanya Zean.


Larisa mengangguk. "Tapi, tawaran itu ngebuat gua harus pindah kampus ke Bali."


Zean menatap Larisa dengan kaget. Apa ia tidak salah dengar?


"Pindah kampus? Kenapa ga di sini aja?" tanya Zean.


"Nyokap ga bisa sendiri, kalau dia dibiarin sendiri, bayangan alm. abang gua akan selalu ada di kepalanya."


Zean menyandarkan badannya ke kursi yang ia duduki. "Apa ga ada cara lain ya? memperluas toko bunga nyokap lo yang di Jakarta gitu?" ujar Zean menawarkan saran.


Larisa menggeleng. "Ada peluang yang mereka liat di sana, gua juga ga ngerti, yang jelas nyokap minta gua ikut... " lirih Larisa.


Zean melihat ke Larisa yang tengah murung itu. "Lo pindahnya kapan?" tanya Zean.


Larisa memainkan sedotaran yang ada di gelasnya. Bukan masalah tidak bersyukur. Tapi, ia sudah terlalu nyaman di sini.


"Satu minggu lagi," ungkap Larisa. Zean sontak kaget atas waktu yang begitu singkat ini. "What?! Kenapa cepet banget?"


"Gua cuma dikasih waktu 5 hari buat urus surat pindah, dan di waktu itu juga gua bisa nemuin lo dan Sasa di sini," jelas Larisa.


Zean hanya diam mendengar itu. Ia tidak bisa memberitahu Larisa bahwa Sasa tidak akan ke sini lagi karena hal lain.


"Lo kenapa diem? Lo ga mau nemuin gua kah untuk 5 hari ini?"


Zean menatap Larisa. "Mau," ujar Zean dengan datar.


"Bisa buat acara perpisahan ga buat kita bertiga?" tanya Larisa.


"Coba nanti gua tanya Sasa," jawab Zean.


"Kenapa ga kita tanya barengan aja, kan dia besok juga ke kampus, udah lama banget loh Sasa ga ke kampus," ungkap Larisa.


Zean hanya bisa menatap Larisa dengan bingung. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Kok lo kayak ga semangat gitu?" tanya Larisa.


"Ha, semangat kok!" tegas Zean sembari merangkul Larisa.


"Nanti, kita akan buat perpisahan ala-ala, biar gua yang hubungin Sasa dan atur semuanya, lo tinggal fokus urus surat pindah aja."


Larisa mengembangkan senyumnya. "Beneran ya, sebelum sabtu."


"Iyaaa," ujar Zean mempererat rangkulannya itu.


...****************...


Sasa tengah berbaring sembari menonton televisi di ruang keluarga. Kemarin rasanya lelah sekali, ia jadi malas beraktivitas hari ini.


Selang beberapa menit, suara mobil Bara terdengar jelas hingga membuat Sasa berhamburan ke luar. Bukan menyambut Bara, tapi mencari mapnya.


Mobil itu berhenti di sebelah vespa matic berwarna hijau metalic. Tak lama, Bara keluar dari mobil dan mendapati Sasa yang sudah ada di depan pintu.


"Lo nungguin gua?" goda Bara sembari berhenti di depan Sasa.


"Map gua mana?" Sasa langsung to the point seraya membuka telapak tangan ke Bara.


"Ilang," Bara berjalan masuk.


Sasa langsung mengejar karena ia benar-benar perlu map itu. "Gua ga becanda ya, buruan!" bentak Sasa.


"Gua bilang ilang," sahut Bara.


"Gua ga percaya sama lo!" ketus Sasa.


Bara lalu melangkah ke kamarnya, meninggalkan Sasa yang masih berdiri di ruang tamu.


"Eh, Bara! lo dengerin gua ga sih?" Sasa menyusul Bara yang menaiki anak tangga itu.


"..." Bara hanya diam. Ia kemudian berjalan ke kamarnya dan membuka pintu.


Baru saja Sasa hendak masuk, pintu kamar itu langsung Bara tutup. "Baraa!!!" panggil Sasa sembari mengetuk pintu itu.


Selang beberapa menit, pintu kembali terbuka, hanya sedikit.


"Lo itu y——"


"Ini," kata Bara seraya menyerahkan map.


Sasa melihat ke arah map yang ia cari itu. "Gua ga minta dipercaya sama siapapun, termasuk lo!" Bara lalu menutup pintu kamarnya.


"Wtf!" umpat Sasa yang kini memegang map itu.


"Baperan banget sih jadi cowok!" ketus Sasa sembari memukul pintu itu.


Sasa lalu melangkah pergi, ia berjalan masuk ke kamarnya untuk segera membaca berkas di map itu.


"Nyebelin banget, baru juga tinggal bareng sehari!" umpat Sasa sembari duduk di kursi belajar seperti biasa.


Sasa tetap membuka map itu sembari mengumpat sifat Bara yang hampir semua tidak ia suka.


"Huhh!! sabar Sa... sabar...."


Sasa lalu mengeluarkan berkas yang berlembar-lembar itu. Ia dapat membaca judul laporan yang menjadi cover.


"Semoga aja, apa yang gua cari beneran ada di sini,"


"..." Satu per satu halaman ia baca, tapi belum ada yang ia butuhkan di sini.


Isi halaman awal hanya alasan kenapa GO dilaksanakan di Bogor, bukan di Maluku. Halaman selanjutnya juga hanya menampilkan beberapa tamu undangan yang penting.


"Basic," dengus Sasa seraya membalik halaman berikutnya.


Kecewanya akhirnya bertumpu pada satu halaman yang menjadi power. Sasa menemukan halaman yang menjelaskan tentang internal people yang ada di lokasi pada saat itu.


"Zena Wijaya,"


Sasa membaca baris berikutnya. "Ketua pelaksana, Jerry Aryatama."


"Manajer one of 25, Ardela Deina."


Deep!


Mata Sasa langsung menyorot ke nama ini, tantenya hadir di sana. Sasa lalu membaca halaman berikutnya, berharap ada informasi lain soal Deina.


"Pengelola Cctv, Kylen F."


Sasa terus membaca hingga sampai di halaman terakhir. "Data kehadiran, Ardela Deina pukul 11.05 WIB."


"Dia dateng lebih awal dari Mama, di sini tertulis Zena Wijaya/11.25 WIB."


"Acara dimulai pukul 11.30 WIB."


Deep!


Sasa mengalihkan pandangannya, ia mencoba berfikir. Menghubungkan setiap runtutan yang ada dalam benaknya.


Sasa kembali merogoh jurnal dan mencatat sesuatu di sana. 'AD hadir dalam acara peresmian.' "Berarti bener, tante Deina ada di tempat kejadian itu, tapi kenapa dia ga cerita apapun soal hari itu?"


Sasa mengernyitkan dahinya. Ia lalu meletakkan tangannya di kepala. "Ga mungkin ada orang luar yang bisa kontak bagian cctv."


"Dirumah aja Mama selalu bilang kalau kuasa cctv cuma ada sama gua dan Mama," tambah Sasa.


Sasa memusatkan pikirannya ke Deina. "Kalau hal ini berlaku di kantor, berarti hanya garis keluarga yang punya hak untuk melihat secara mendadak," jelas Sasa lagi.


Sasa tahu sekali bahwa Ibunya akan menerapkan peraturan yang sama dengan hotel mereka. Tapi, ia harus memastikan dulu kepada orang yang mungkin tahu soal ini.


Sasa lalu merogoh ponsel yang ada di meja. Ia mencari nomor seseorang untuk dihubungi.


(Berdering)


'...halo? Mysa?'


"Saya mau tanya, soal cctv di hotel Gloubel, yang punya akses selain petugas siapa aja ya?" tanya Sasa.


'Setau saya, Ibu Zena itu orang yang mengutamakan privasi, jadi hanya garis keluarganya saja yang boleh urgent dengan cctv.'


Mendengar itu, tepat sekali. Dugaannya benar, dan satu-satunya yang terdekat adalah Deina. Sasa langsung menepis keraguannya untuk tidak membagikan surat ke Deina.


'Mysa kenapa nanya itu? Apa mau liat cctv?'


Sasa tidak menjawab pertanyaan Bila. Ia laly menyampaikan keputusan yang bahkan sudah Bila tunggu-tunggu.


"Saya minta pembagian suratnya dipercepat jadi besok," ujar Sasa kepada Bila.


'Kenapa tiba-tiba, Mysa?'


"Saya mau semuanya selesai besok," ungkap Sasa lagi.


'Baik Mysa. Saya akan membagikannya besok pagi.'


"Ini juga berlaku untuk peresmian, saya minta peresmian langsung dilakukan sehari sesudah pembagian surat," tambah Sasa.


'Mysa sudah benar-benar yakin?'


"Saya percaya sama Ibu."


'Saya senang kamu mengambil langkah yang tepat untuk mempercepat ini semua.'


"Kita akan tuntaskan ini secepatnya, Bu." Sasa berbicara tanpa ada keraguan di dirinya.


'Baik, apa masih ada yang mau Mysa sampaikan?'


"Satu lagi, biar saya yang persiapkan baju untuk peresmian sendiri," kata Sasa tanpa ragu.


"Karena lusa akan jadi hari yang paling penting buat saya," tambah Sasa lagi.


Sasa menutup ponselnya, ia lalu membereskan berkas itu dan meninggalkan satu berkas penting itu di luar. "Zean kayaknya perlu dikasih tau soal ini, deh."


Sasa lalu melipat satu kertas yang berisi info soal Deina. "Hal ini akan jadi awal gua untuk ungkap kapan Deina mulai terlibat dalam hal ini."


Sasa melipat kertas itu dan menaruhnya di meja. Ia lalu bermaksud menghubungi Zean untuk segera ke sini.


(Dering telfon)


Tepat sekali, Zean juga menelfonnya. Sasa menjawab panggilan itu dan mulai berbicara.


"Halo, Ze?"


"Apa?! Kapan?" jawab Sasa dengan kaget.


"Kenapa buru-buru banget?"


"Oke, gua tunggu!" Sasa kembali meletakkan ponselnya yang sudah tidak terhubung dengan panggilan itu.