Puzzles

Puzzles
Episode 71 - Semoga bertemu lagi



Mentari pagi masuk ke celah gorden kamar Sasa. Ia menyorot kasur yang sudah tidak ada tuan di atasnya itu.


Langkah kaki Sasa terdengar jelas menuruni anak tangga dengan sesekali melirik ke belakang.


Sasa menarik nafasnya dengan dalam, ia lalu menuju ke Diki yang tengah menderek koper di depannya itu.


"Ayo, Mysa..."


Sasa menatap Diki yang kini sudah berlalu menuju mobil. Di tangan Sasa, sudah ada kertas dengan amplop yang kemarin malam ia terima.


"Semoga ini berhasil," ujar Sasa seraya memasukkan amplop itu ke dalam tas slingbag.


Sasa lalu berjalan keluar rumah. "Silahkan masuk Mysa, koper sudah di dalam."


"Saya pamit ya, Pak Diki." Sasa tersenyum kecil seraya masuk ke mobil.


"Iya, hati-hati Mysa... Saya akan jaga rumah ini dengan baik," ujar Diki.


Sasa mengangguk dan segera masuk ke mobil kantor itu. Pintu mobil itu tertutup bersamaan dengan Diki yang berlari membuka gerbang.


(Klakson Mobil)


"Iya, hati-hati..."


Mobil yang Sasa tumpangi melaju menuju bandara karena sudah mepet dengan jadwal keberangkatan.


Sasa mencoba merogoh ponselnya, ia melihat notif pesan dari Bara. 'Kalau gua ga ada di sana pas jam 8.30 WIB, lo boleh langsung masuk ke bandara.'


Sasa menarik nafas dalam dan segera menyimpan ponselnya kembali. Ia tahu bahwa pagi ini Bara harus hadir di kampus untuk penyerahan laporan magang perdananya.


"Ada yang mau dibeli dulu ga, Nona?" tanya supir yang sedang mengendarai mobil.


"Ga usah, Pak. Langsung ke bandara aja," jawab Sasa.


"Oke, baik Nona." Sasa kemudian menatap lurus ke depan, ia melihat jalanan yang tak begitu ramai.


...----------------...


Ghare yang masih berada di hotel itu, bergegas berbenah untuk dapat meninggalkan hotel. Ia segera mengganti baju dan sarapan sebelum pergi.


"Silahkan dinikmati," ujar pelayan seraya menyerahkan makanan.


Ghare tersenyum dan melahap makanan itu dengan keadaan yang sudah rapi. Ia kemudian sesekali melihat ponselnya untuk membalas pesan kepada seseorang.


"Ada yang mau ditambahin lagi ga?" tanya pelayan.


"Tambahin es aja di lemon tea saya," ujar Ghare menyodorkan kembali gelas lemontea nya.


Pelayan itu mengambil gelas yang Ghare sodorkan dan segera mengisi batu es batu ke dalamnya.


"Gua harus bisa sampai di rumah nyokap sebelum jam 12 siang ini."


Ghare kembali melahap hidangan itu seraya menunggu lemontea yang tadi ia mintakan es batu.


...----------------...


"Bangun, ini makanan untuk lo!" ketus seseorang bertopeng itu.


Bima nampak enggan menyantap makanan itu. Tangannya yang masih terikat dengan noda darah itu tak bisa melahap apa yang diberikan.


"Makan!!" bentak orang itu.


"Gimana bisa makan kalau tangan gua ke iket?" tanya Bima.


Orang itu lalu melepaskan ikatan pada satu tangan Bima. "Sekarang lo bisa makan, kalau lo sampai mati kami akan kena masalah besar!" bentak pria itu.


Bima hanya diam tanpa suara. Ia tahu pria dibalik pengendali pria bertopeng ini. Dengan menggerutu, Bima melahap makanan itu perlahan.


Perih sekali rasanya ketika menelan makanan, luka di bibirnya belum sembuh total. Tapi, mau tidak mau makanan itu harus segera Bima lahap.


"Selesai makan, gua akan tanya lagi keputusan lo gimana?!!" ujar pria itu.


Bima seperti tidak mendengarkan ucapan itu. "Denger ga?!!" bentaknya lagi.


"Keputusan gua akan tetap sama, gua ga akan beralih kubu untuk nyakitin Zean!" bentak Bima.


Braggg!!!


Meja yang ada nasi di atasnya itu seketika terbalik. Butiran nasi yang masih tersisa kini terbuang ke lantai. Bima hanya bisa tercengang dengan kejadian ini.


"Gua udah berkali-kali coba cara baik ke lo ya! Gua cuma butuh lo bantu kita satu kali aja!!"


Bima menatap pria itu dengan tatapan jijik. "Gua tau wajah dibalik topeng lo itu!" ketus Bima dengan senyuman.


Pria itu seketika diam. Ia sudah merahasiakan identitasnya karena dia hanya bekerja sebagai penjaga bayaran di sini.


"Gua bisa lakuin apapun setelah gua bebas dari sini, karena gua tau Ghare ga akan lama nyekap gua!" bentak Bima.


"Diam lo!!! Ghare sekarang ga main-main lagi kayak dulu," ujar pria itu.


"Hah..." lirih Bima dengan tawaan.


Bima melirik ke nasi yang berserakan. Ia lalu tersenyum sinis dan tak membalas lagi ucapan pria itu.


...----------------...


(Dering telfon)


(Panggilan Masuk dari Zeano)


Sasa menjawab paggilan itu tepat saat mobilnya sedang mengisi bensin di Pertamina. "Iya, Halo?" sapa Sasa.


"Saa, gua udah di bandara... Lo udah berangkat ke Bali atau gimana? Kok gua ga liat lo?" tanya Zean yang melirik sekeliling itu.


"Belom, lagi ngisi bensin dulu," jawab Sasa.


"Oo kirain, yaudah buruan... Gua tunggu di lobi keberangkatan A ya..."


"Iya, gua juga bentar lagi nyampe kok." Sasa lalu melirik ke jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8.00 WIB.


Mobil kantor itu akhirnya keluar dari Pertamina dan segera melaju menuju bandara. "Pak, lebih cepat lagi ya."


Supir itu mengiyakan dan segera menambah kecepatannya. Kini, mereka semakin dekat dengan bandara.


Disisi lain, Bara nampak masih duduk di dalam kelas. Ia harus menunggu giliran dalam penyerahan laporan magang itu karena akan ada bahasan dalam penyerahan ini.


Bara melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 08.10 WIB. "Jadi, untuk laporan mingguan kedua jangan sampai ada yang lupa minta cap basah ke kampus."


Bara berperang dengan pikirannya sendiri. 'Apa gua masih bisa nganter Sasa ya?'


"Selanjutnya, Bara."


Bara membawa laporan itu dan menyerahkannya ke dosen. "Silahkan diperiksa, Bu."


"Baik, saya akan cek kelengkapan strukturnya dulu."


Bara mengangguk dan menyimak pembahasan dosen di hadapannya. Dalam hatinya, ia ingin segera meninggalkan ruangan ini.


Mobil yang ditumpangi Sasa akhirnya masuk ke lajur bandara. Ia melirik sekeliling yang dihiasi banyak pesawat. Supir itu lalu berhenti tepat di zebra cross untuk menurunkan barang bawaan Sasa.


Sasa turun dari mobil dengan barang yang sudah diangkat oleh supir. Hanya ada satu koper yang tidak begitu besar.


"Ini, Nona... Saya akan tunggu di sini, untuk memastikan Nona berangkat dengan aman."


"Baik, koper saya mohon di antar ke jalan masuk pengecekan kabin."


"Baik, tapi saya izin memarkir mobil dulu," ujar supir segera naik ke mobil


Sasa mengangguk dan membiarkan mobil itu melaju ke parkiran. "Saaaa?" sorak Zean berjalan mendekat.


Sasa melirik ke Zean yang semakin dekat itu. "Lo nyampe sini jam berapa?" tanya Sasa.


"Jam setengah 8, gua kan hari ini ga ada kelas," jawab Zean.


Sasa menatap Zean dengan curiga. "Gua ga percaya lo ga ada kelas, lo bolos kan?" tanya Sasa.


Zean tertawa kecil. Ia lalu segera mengambil alih koper yang Sasa pegang. "Gausah, koper ini mau dijemput sama supir kantor, biar langsung dikasihin ke jalan masuk."


Zean mengangguk. Ia lalu kembali menatap Sasa yang ada di depannya. "Sekarang jawab gua lagi, kenapa lo bolos?" tanya Sasa.


Zean menatap Sasa dengan sangat dalam. Ia lalu menyentuh rambut Sasa yang nempel di pipinya. Sasa yang sedikit tersentak itu hanya diam menerima perlakuan Zean.


"Gua takut aja nanti ga bisa ketemu lo lagi," jawab Zean dengan belaian di rambut Sasa.


Sasa menepis tangan Zean dan tertawa geli. "Gua pergi cuma sebentar kali, nanti juga balik ke Jakarta lagi," jawab Sasa.


"Bukan lo, tapi gua..." lirih Zean.


"Lo mau ninggalin Jakarta?" Sasa mengernyitkan dahinya.


Zean tersenyum kecil ke arah Sasa. Ia tak membalas lagi ucapan gadis itu. "Saya angkat koper ke dalam dulu, Nona."


Supir itu membuyarkan suasana dan segera membawa koper Sasa ke depan jalur masuk. Saat ini jam baru menunjukkan pukul 8.25 WIB.


"Lo jam 8.30 WIB harus prepare di dalem loh," ujar Zean saat melihat jam tangannya.


Sasa diam dan menatap sekeliling. "Lo nunggu Bara ya?" tanya Zean.


Sasa menatap Zean dengan hambar. Ia membenarkan ucapan itu dalam hatinya, ia benar-benar menunggu Bara datang.


Bara yang ditunggu nampak baru saja keluar dari kelas. Ia bergegas menuju mobilnya sembari melirik jam. "Eh, Bara... Lo mau kemana?" tanya Hanum.


Bara tak menjawab ucapan itu dan segera masuk ke mobil. Dengan kecepatan tinggi, ia melaju menuju bandara. "Semoga aja ga macet," ujar Bara dengan harap.


"Udah mau setengah 9 loh, ayo masuk ke dalam." Zean menatap Sasa yang masih diam mematung.


"Kita tunggu lima menit lagi ya," pinta Sasa.


"Oke, gua akan temanin lo," jawab Zean.


Sasa tersenyum kecil dan kembali menatap sekeliling. 'Ayolah, Bara lo dimana?'