Puzzles

Puzzles
Episode 42 - Bara Sakit



Setelah acara usai, Sasa kembali ke rumah dengan mobil yang tadi pagi ia tumpangi. Saat ini baru pukul 15.30 WIB.


"Sudah Pak, di sini aja." Sasa memutuskan turun di depan gerbang rumahnya.


"Baik Nona, kalau ada perlu bisa hubungi saya via nomor kantor."


Sasa segera turun dan menuju ke bel rumah. Suasana nampak sepi, ia lalu menekan bel yang ada di depannya. Tak lama, Diki membuka gerbang bersamaan dengan mobil yang baru saja pergi.


"Mysa... Silahkan masuk," ujar Diki.


Sasa masuk, gerbang pun segera di tutup. Diki lalu berjalan mendekati Sasa. "Mysa, tadi––"


"Tadi pasti ada banyak orang yang ke sini kan? terus Bapak bukain pintu kah?" tanya Sasa.


Diki menggeleng. "Sesuai perintah Mysa, saya tidak bukain."


Sasa lalu mengangguk. "Gapapa Pak, itu cuma orang iseng, saya mau ke dalam dulu." Sasa berjalan meninggalkan Diki.


"Baik Mysa."


Baru beberapa langkah, ia teringat soal Bara. "Eh, Pak..." Sasa membalik badan ke arah Diki.


"Iya, Mysa kenapa?" tanya Diki.


"Pas orang datang ramai ke sini, apa Bara ikut ngeliat?" tanya Sasa.


"Bara? Dari pagi saya belum ada ngeliat Bara Mysa, bahkan mobilnya ga keluar gerbang dari pagi."


Sasa nampak sedikit cemas. "Oh, begitu ya?"


"Iya, pas orang ramai ke sini dia ga ada keluar juga," tambah Diki.


Sasa mengangguk. "Oh, yaudah Pak... Saya ke dalam dulu."


"Baik, Mysa..." Diki tersenyum dan kembali ke pos nya.


Sasa yang masih bingung, mencoba menerka ada apa dengan Bara. Ia masuk ke rumah, nampak hening. Ia kemudian berjalan ke ruang makan. Tidak ada tanda orang makan di sini.


Sasa melirik ke lantai atas. Dalam hatinya 'Apa Bara sakit ya?'


"Coba liat ke kamar deh," Sasa berjalan ke kamar Bara. Ia menaiki tangga satu per satu hingga sampai ke depan pintu kamar.


Sasa melihat pintu yang tertutup rapat. Dengan sedikit ragu, ia lalu mengetuk pintu itu.


Tok...Tok...Tok..


"Bar???"


Tokk....Tok...Tok...


"Baraaa??"


Sasa mencoba membuka pintu itu, tidak terkunci. Perlahan Sasa membukanya. "Bara... Lo di dalem kan?" tanya Sasa.


Tidak ada jawaban. Sasa berjalan masuk dan mendapati sosok Bara yang tengah terbaring di tempat tidur. Ia kemudian mendekat.


"BARR??? BARAAA?!!!"


Bara nampak masih tertidur. Sasa yang cemas itu, lalu menepuk pipi Bara beberapa kali. Suhunya naik.


Sasa menyentuh kening Bara, terasa panas. "Barr... Lo demam?" tanya Sasa lagi.


"Badan lo panas, Bar. Lo udah minum obat belum sih," ujar Sasa.


Bara masih memejamkan mata. Ia lalu menggeliat sedikit. "Hmmmm..." lirihnya dengan serak.


Bara tak menghiraukan tangan Sasa yang berada di keningnya. "Bar, lo kalau ga diobatin badan lo bisa tambah panas, tunggu sebentar... Gua panggilin dokter." Sasa bangun dari sisi Bara.


Ia lalu merogoh ponselnya, dan menelfon seseorang. Perlu beberapa detik saja untuk terhubung. "Halo dokter? Bisa ke sini sekarang ga?" tanya Sasa kepada dokter pribadi mereka.


"Apa? Lagi keluar kota?" tanya Sasa.


"Ini, di rumah ada yang sakit."


"Demam," sahut Sasa sembari melirik Bara.


"Paracetamol? Oke, makasi dok..." Sasa lalu menutup telfon itu.


Ia mencarinya di beberapa tempat, hingga melihat kotak itu berada di dalam laci di samping kasur Bara. "Nah, ini."


Sasa membuka kotak itu, ada banyak sekali jenis obat di sana. "Ksr, Ibu Profen..." Sasa terus mencari hingga mendapatkan apa yang dia cari.


"Para..ce....tamol," ujar Sasa.


Ia lalu mengambil obat itu dan mengambil segelas air yang ada di atas meja. "Bar... Bara...." ujar Sasa dengan lembut.


"Hmm, apa?" tanya Bara dengan sangat pelan.


"Ini, minum dulu obatnya..." sembari menyodorkan obat dan segelas air.


Bara bangun dan segera meminum obat itu. Ia kemudian langsung tidur tanpa banyak bicara. Sasa kemudian membenarkan selimut yang Bara pakai.


"Yaelah Bar, lo yang dokter kok jadi gua yang ngerawat!" celetuk Sasa.


"Gua kan ga tau obat-obatan ege!" Sasa kemudian mengumpat dan berjalan keluar kamar.


Baru saja ia keluar dari kamar Bara dan menutup pintu. Dering telfon di saku bajunya membuyarkan pikiran Sasa.


"Siapa ya?" tanya Sasa kepada nomor tak dikenal.


Sasa yang malas menghiraukan nomor itu, kemudian memilih tak menjawab telfon. Ia kemudian berjalan menuju kamarnya.


...----------------...


Sasa menukar bajunya dengan baju piyama pendek. Ia kemudian berjalan ke lantai bawah untuk mengambil segelas air. Sasa lalu duduk sejenak di mini bar rumahnya sembari menunggu pesanan makanan.


"Gua udah hubungin Mbok Ira beberapa kali, tapi ga dijawab." Sasa meneguk kembali air di depannya.


Sudah berminggu-minggu Mbok Ira tak membalas atau menjawab pesan dari Sasa. Untuk bertanya ke Deina pun, Sasa rasanya tidak mungkin karena surat pemecatan itu pasti sudah Deina dapat.


"Tapi, kenapa Tante Deina ga tanya ke gua ya?" tanya Sasa kepada dirinya sendiri.


Heran sekali, kenapa Deina hanya diam?, Sasa kembali berfikir. "Atau mungkin Mbok Ira kembali ke Bali ya," tebak Sasa.


"Tapi, gua ga bisa susul sekarang karena sibuk banget, urusan hotel juga masih banyak."


Ditengah pikiran yang semakin riwet, Diki lalu membuyarkan suasanan. "Mysa... Ini makanannya." Diki menyerahkan kantong makanan.


"Oh iya, makasi ya Pak."


"Iya Mysa, saya ke pos dulu." Diki berjalan meninggalkan Sasa.


Sasa meletakkan gelas yang sedang ia genggam, ia lalu menenteng kresek itu munuju kamar Bara.


Tanpa izin, Sasa langsung membuka pintu kamar dan masuk. Ia kemudian menarik meja kecil yang ada dipojokan untuk meletakkan makanan.


"Bar... Makan dulu," ujar Sasa.


Sasa mendekat ke Bara. "Bar... Ayo makan!" tegas Sasa.


Bara membuka matanya, ia kemudian melihat Sasa yang ada di depannya. "Gua ga mau makan," ujar Bara.


"Dikit aja, biar energi lo pulih." Sasa membuka satu box makanan. Ia kemudian menyerahkannya ke Bara.


"Ga mau Sasa!" tegas Bara.


"Buruan!!" Sasa menyentuh kening Bara. Masih panas, ia kemudian mengambil kembali makanan yang ada di tangan Bara.


"Sini, gua suapin." Sasa kemudian menyodorkan sesuap nasi ke mulut Bara. Bara yang melihat itu, rasanya melihat Sasa sebagai sosok yang berbeda.


"Ayo.. biar lo sembuh, masa dokter ga bisa filter nafsu makan sih!" tegas Sasa.


Tanpa menjawab, Bara menerima suapan Sasa itu. Ia kemudian menyuap beberapa kali. "Udah Sa, gua mau istirahat."


"Minum dulu," sembari menyodorkan air.


Bara meneguk air dan melirik ke Sasa. Sasa lalu meletakkan makanan itu di meja. "Istirahat..."


Bara kembali tidur, Sasa kemudian memilih untuk tetap diam di sini. Ia melihat wajah Bara yang pucat, tidak ada semangat di wajahnya.


Sasa yang berada di sebelah Bara itu, lalu tanpa sadar tertidur. Ia ikut memejamkan mata seiring terlelapnya Bara.