Puzzles

Puzzles
Episode 6 - Menemukan Niat Kuliah



23 Februari 2019


Pukul, 9.30 WIB


Waktu berlalu dengan cepat, tahun mulai berganti, membawa Sasa menemukan satu per satu bukti yang ia perlukan.


"Mobil itu," ujar Sasa yang tengah ada di balkon kamarnya.


"Sedan hitam dengan plat B 12 SM," ujar Sasa.


Sasa memperhatikan setiap detail sedan itu. Ia lalu melihat ke arah jam dinding dan menyadari bahwa sepertinya pemilik mobil mengira Sasa masih sekolah.


"Dia pikir gua masih ke sekolah," ujar Sasa.


Sasa lalu masuk dan segera menutup jendela kamarnya. Ia membiarkan sedan itu terparkir di depan rumahnya.


......................


04 April 2019


Pukul, 12.45 WIB


"Mobil itu selalu pergi di angka 12.45 WIB," ujar Sasa.


Sasa menyimpulkan bahwa benar kepergian mobil itu tepat di jam 12.45 WIB setiap kedatangannya. Hal ini didukung oleh Cctv dan perkataan Mbok Ira, selain itu ia juga menyaksikan secara langsung.


Ketepatan waktu ini membuat Sasa berfikir bahwa sepertinya sudah ada rencana di balik penguntit an ini.


"Kayaknya dia orang suruhan," dugaan Sasa.


"Atasannya yang kasih batas waktu pengintaian, mungkin..." ujarnya lagi.


Sasa lalu masuk dan menutup kerai jendelanya. Ia merasa sedikit berjalan dalam masalah ini, karena sudah mulai tahu bahwa penguntit itu datang dan pergi jam berapa.


......................


14 Juli 2019


Sasa sedang duduk di meja belajarnya. Pikiran soal mobil sedan itu seolah memaksanya membuka laptop. Ia memainkan laptopnya dan mencek plat B 12 SM.


Ia mengumpulkan semua bukti yang berkaitan dengan plat itu di internet, namun nihil.


Tak satupun membahas tentang plat itu, lalu Sasa mencoba mencari kata kunci lain agar dapat menemukan satu petunjuk.


"Kayaknya ada nama lain yang lebih internet kenal, bukan cuma plat nomer aja." Ujar Sasa menutup laptopnya.


Sasa lalu mencoba memikirkan hal yang bisa menguak apakah dia adalah pengusaha. Karena dengan tahu pekerjaan orang itu ia akan dengan mudah mencari tahu kediamannya.


"Oh iya, kode plat." Ujar Sasa segera membuka kembali laptopnya.


Jarinya menari di atas laptop, ia menulis beberapa hal yang membuatnya memperoleh informasi.


"Nah!" sorak Sasa setelah menemukan hal yang ia cari.


Disana tertulis:


"Kode SA dipakai oleh orang-orang yang bekerja di bidang distributor barang dan jasa,"


Sasa terus scroll ke bawah dan menemukan apa yang ia cari.


"Kode SM," ujar Sasa.


Disana tertulis:


"Kode SM dipakai oleh para investor asing, ia yang memakai kode ini biasanya adalah orang terpenting dalam sebuah perusahaan jual beli saham,"


Benar dugaan Sasa, pemilik mobil itu bukan orang sembarangan.


"Bener, dia investor, dia punya perusahaan," jelas Sasa.


"Tapi, dimana ya?" tanyanya lagi.


Satu informasi akan selalu membawa Sasa ke informasi berikutnya. Kini, ia harus kembali berfikir soal cara yang dapat membawanya ke kediaman penguntit itu.


***


23 Desember 2019


Seperti biasa, setiap hari Sasa menghabiskan waktunya di laptop, ia mengumpulkan berbagai hal tentang pembunuhan ibunya.


Ia berambisi sekali memecahkan puzzles soal pemilik sedan itu. Pikirannya seolah dipusatkan pada mobil sedan itu.


"Kalau dia punya perusahaan, gua pasti bisa hack datanya," jelas Sasa.


"Disitu gua bisa dapetin semua info." Ujarnya lagi.


"Tapi, gua kan ga bisa hack..." keluh Sasa.


Sasa lalu memikirkan hal yang dapat membantunya saat ini dan kedepannya.


"Apa gua harus kuliah?" tanyanya lagi.


Ia lalu mencari sesuatu di internet untuk membantunya lebih paham akan hacker. Karena hanya dengan permainan data ia akan memperoleh data dengan lengkap.


"10 jurusan kuliah terbaik untuk kamu yang suka di komputer."


"6. Jurusan Teknik Informatika,"


"Jurusan ini cocok untuk kamu yang ingin tahu tentang programer, seperti hacker..."


"Kuliah?" tanya Sasa lagi.


Sasa nampak sedikit ragu akan keputusan ini, apa benar ia harus berjalan sejauh ini?


"Tapi, dengan ilmu gua bisa dapet info tanpa capek, tanpa harus keluar..."


Sasa lalu mencoba berfikir kembali soal ini.


"Kenapa gua ga les aja?" sembari berfikir.


"Tapi, siapa yang mau ajarin?" tanya Sasa lagi.


Sasa lalu ragu mengambil les hacker karena ketidakpercayaannya pada orang lain. Terlebih kasus sebesar ini tidak boleh bocor ke yang lain, karena dapat memperumit jalannya.


"Ga bisa, gua ga bisa les karena orang itu pasti akan banyak tanya atau apalah soal gua, ga usah lah, kalau belajar sendiri pun ga akan maksimal." Gerutunya pada keputusan yang belum dia ambil.


Sasa lalu memcoba memantapkan diri untuk memutuskan soal kuliah. Ia yakin ini adalah jalan terbaik saat ini.


"Kalo kuliah, gua paham tentang hacker, gua bisa dengan mudah sambil duduk di kamar, terus tahu siapa yang bunuh Mama," ujarnya pada dirinya sendiri.


Sasa lalu menutup laptopnya dan mulai memikirkan hal ini lebih jauh.


......................


05 Mei 2020


Bukan waktu yang singkat untuk Sasa menentukan minatnya berkuliah sejak saat itu. Meski banyak waktu terbuang, ia fokus mengumpulkan informasi dengan tenaga terlebih dahulu sebelum akirnya membobol data system perusahaan itu.


Pikirannya setiap hari dipenuhi tidak atau iya untuk kuliah. Sampai akhirnya ia ingat tiket beasiswa itu.


"Apa gua hubungin bu Renita aja kali ya," ujar Sasa.


Sasa lalu mencoba merogoh ponselnya dan mengetik beberapa kali nama Renita lalu menghapusnya.


"Masih bisa ga ya?" ujarnya lagi.


Ia kembali mengetik nama itu dan memberanikan diri untuk menelfon.


(Dering panggilan)


(Dering panggilan)


"Halo Sasa?"


"Halo Bu,"


"Baik bu, ibu gimana?"


"Baik, cuman ini kerjaan agak banyak... mau libur soalnya,"


"Sasa ganggu ga Bu?"


"Nggak sayang, ada apa?"


"Mm, gimana ya bu ngomongnya,"


"Kamu mau ketemuan?"


"Ibu sibuk ga?"


"Nanti jam 3 sore nggak,"


"Yaudah bu, nanti Sasa shareloc,"


"Iya sayang, siap-siap ya!"


"See you," ujar Renita.


(Panggilan berakhir)


Sasa menarik nafas dalam, ia melirik jam yang sudah pukul 13.45 WIB. Ia lalu bergegas mandi dan bersiap sebelum bertemu Renita.


***


Pukul 15.15 WIB.


Sasa nampak duduk di kursi cafe sembari memainkan ponselnuya. Ia sesekali melirik jam, Renita masih belum datang.


Ia lalu mencoba menelfon Renita dan mengirim pesan singkat.


From: Sasa


To: Ibu Renita Ariyanhi


Send: Ibu, ini Sasa udah di cafe Monraw, Ibu udah dimana?


Belum ada balasan dari Renita hingga pukul 15.30 WIB.


"Bu Renita kemana sih?" tanya Sasa.


Selang beberapa menit saat Sasa hendak menelfon Renita kembali, sosok Renita pun muncul di hadapannya.


"Saasaaa..." soraknya memeluk Sasa yang tengah berdiri itu.


Sasa hanya tersenyum kecil.


"Maaf ya, itu tadi ban mobil ibu bocor, jadi harus naik grab, lama..." soraknya lagi.


"Ya ampun, bener Bu? terus gimana mobilnya udah di bengkel?"


"Udah, ga usah dipikirin, ada anak ibu yang ngurus, nanti dia jemput ke sini," jelas Bu Renita.


"Oo oke bu," ujar Sasa.


"Oh iya, duduk bu, ibu mau pesen apa?" tanya Sasa sembari mempersilahkan duduk.


"Ini deh, ice late aja, udah makan soalnya di sekolah..." ujar Renita.


"Mas, Ice Late satu ya," sorak Sasa sembari melambaikan tangan.


Mereka diam sejenak hingga ice late nya tiba, Renita lalu meminum ice late dan mulai berbicara serius dengan Sasa.


"Ada apa Sa? kamu butuh bantuan?" tanya Renita.


Nampak keraguan dari wajah Sasa, ragu kalau beasiswa itu sudah tidak berlaku. Tapi, ia lebih baik memastikannya secara langsung.


"Iya Bu, sebenernya.." Sasa nampak berfikir beberapa menit.


"Bilang aja gapapa..." Renita meneguk ice late sembari menunggu Sasa bicara.


Sasa lalu memberanikan diri untuk bicara soal ini. Ia benar-benar butuh jalur tanpa tes karena sudah 2 tahun tidak belajar.


"Sasa mau nanya soal beasiswa waktu itu Bu," ujar Sasa gugup.


Renita nampak bersemangat mendengar itu. Ia lalu mencoba menerangkan ke Sasa tentang apa yang sudah ia sampaikan beberapa tahun lalu.


"Ooo beasiswa itu, kenapa?" tanya Renita sembari meminum ice late nya.


"Bisa ga Bu, mmm beasiswa nya diambil sekarang?" tanya Sasa.


"Sekarang? kamu bener mau kuliah?" tanya Renita.


"Mm untuk sekarang iya Bu, lebih ke perlu sih sebenernya..."


"Perlu?" tanya Renita.


"Iya, perlu." Ujar Sasa.


"Kamu mau ambil jurusan apa Sa?" tanya Renita.


"Teknik Informatika," ujar Sasa yakin.


"Wahhh... great job,.. Bagus itu Sa.."


"Tapi, masalahnya beasiswa tanpa tes itu masih bisa ga Bu?" tanya Sasa.


"Mmm..." Renita menatap Sasa dengan ragu.


Tatapan Renita seolah membuat Sasa tidak optimis. Ia lalu ragu dengan apa yang akan Renita sampaikan.


"Kalo ga bisa juga ga masalah Bu, Sasa bisa ikut tes mandiri kok..." ujar Sasa lagi.


Renita tersenyum mendengar itu dan mulai berbicara serius. Ia baru kali ini melihat Sasa si gadis yang sering masuk kantor karena masalah, tapi terlihat ambis sekarang.


"Hei,, univ itu nerima murid pintar dengan jangka waktu...."


Mendengar itu, Sasa seketika bingung dan menatap Renita dengan serius.


"Maksud Ibu?" tanya Sasa.


"Dua tahun..." sambung Renita.


Sasa langsung menegapkan lehernya. Menatap Renita dengan harap. Apakah masih bisa?


"Ibu pernah bilang ke kamu waktu itu, dua tahun buat kamu mikir mau ambil atau buang,"


Sasa yang waktu itu memang tidak memperhatikan ucapan Renita dibuat harus bertanya lagi sekarang soal beasiswa itu.


"Serius Buk?" Sasa nampak semangat sekali.


"Yes," ujar Renita.


"Dan ibu senang sekali kamu pilih opsi pertama, AMBIL." Jelas Renita.


Sasa mulai mengembangkan senyumnya dan membahas apa saja syarat yang perlu ia penuhi untuk berkuliah di sana.


"Apa syaratnya akan ribet, Bu?" tanya Sasa.


"Soalnya kan saya udah telat banget," jelas Sasa.


"Yang perlu kamu inget cuma satu, Sa. Ga ada kata terlambat untuk belajar!" tegas Renita.


"Nanti ibu akan bantu, serumit apapun, kamu harus masuk ke kampus itu!" tegas Renita lagi.


"Makasi Buk,"


"Besok, kamu ke sekolah, Ibu akan bantu urus semuanya..." tambah Renita.


Sasa mengiyakan ajakan Renita. Mereka pun bercengkrama dan meminum ice masing-masing.