
Weekend kali ini, Sasa memilih untuk tidak kemana-mana seperti biasa. Ia mengurung diri di kamar. Membersihkan beberapa kotak bedaknya yang sudah mulai berserakan.
Saat sedang asik menyusun bedak, Sasa menemukan secarik kertas bertuliskan alamat rumah atas nama Renita.
Seketika, ia teringat pada percakapan beberapa hari lalu dengan Mbok Ira.
Sasa lalu memutuskan untuk menelfon kembali Renita untuk menanyakan kondisinya.
(Dering Panggilan)
(Dering Panggilan)
Tidak ada jawaban seperti kemarin. Sasa lalu memutuskan untuk pergi ke alamat tersebut sembari mengisi weekend nya minggu ini.
Belum mengetahui siapa putra dari Renita, membuat Sasa hanya bisa menghubungi Renita ketika ingin bertanya soal keadaannya. Selain itu, Sasa juga tidak mengetahui suami dan alamat rumah Renita.
Hal ini karena yang dekat dengan Renita adalah Ibunya. Sejak dulu pun, Sasa belum pernah berkunjung ke rumah Renita.
......................
Sasa turun dari taxi online sesuai alamat yang tertera di kertas itu.
"Ini Pak, terima kasih." Sembari menyerahkan sejumlah uang.
(Klakson Mobil)
Nampak rumah berpagar coklat dengan cat berwarna biru tua. Ada banyak tanaman hijau di sekitarnya.
Mata Sasa tertuju pada kondisi rumah yang sepi. Ia lalu mendekat ke pagar rumah dan mencari bel yang ternyata tidak ia temukan.
"Permisi..." Sorak Sasa dari depan rumah.
"Permisi...."
(Tidak ada jawaban)
Sasa lalu melihat kunci pagar yang terbuka. Ia memutuskan untuk masuk ke halaman hingga ke depan pintu rumah.
(Tok... Tok... Tok...)
"Bu, permisi!" ujarnya lagi.
Tetap tidak ada jawaban. Sepertinya, tidak ada orang di rumah ini.
"Apa gua salah alamat ya?" sembari mengecek alamatnya kembali.
"Bener kok,"
(Tok...tok...tok...)
"Permisi!!!" sorak Sasa.
Usai tidak ada jawaban, Sasa memutuskan untuk berjalan ke pagar. Namun, baru saja membalik badan, sosok pria tampan sudah berada di depannya. Seseorang itu berdiri tak jauh dari pagar.
“Bara?” sapa Sasa terkejut.
“... duduk dulu, Sa.” Sembari berjalan mendekati Sasa.
Bara lalu mempersilahkan Sasa duduk di kursi luar, sementara ia pergi mengambil beberapa berkas ke dalam.
“Lo mau minum apa?” tanya Bara.
“Ga usah, udah minum tadi.” Ujar Sasa yang masih kebingungan itu.
“Oke, tunggu sebentar ya Sa.”
Bara lalu ke dalam rumah dan kembali dengan tas kecil berisi dokumen yang diperlukan oleh rumah sakit. Bara duduk di kursi yang bersebelahan dengan Sasa.
“Gua anaknya Bu Renita.” Ujar Bara yang membuat Sasa kaget.
“Anak?” tanya Sasa memastikan.
“Iya, gua yang kemarin ninggalin alamat di rumah lo.” Jelas Bara.
“Jadi, anak yang dimaksud bu Renita waktu di cafe Monrow itu lo?” tanya Sasa.
“Iya, yang bawa mobil waktu bocor ban.” Ujar Bara.
“Bu Renita sekarang di mana?” tanya Sasa.
“Bunda... lagi di rawat di rumah sakit,”
“Apa? Sejak kapan?” tanya Sasa lagi.
“Nanti gua jelasin. Gua harus segera ke rumah sakit, Sa. Ada beberapa berkas yang harus gua anter.” Bara bangun dari duduknya karena tidak ada waktu lagi untuk menjawab pertanyaan Sasa.
“Gua ikut,” ujar Sasa sembari bangun dari duduknya.
Bara melihat ke Sasa dan mengangguk. Ia lalu melangkah keluar pagar. Disana sudah ada motor retro berwarna hitam. Ada dua helm tersangkut di sana, satunya lagi helm penumpang.
Sasa sebenarnya tak mengira bahwa Bara akan membawa motor, ia pikir akan naik bus seperti biasa.
“Pake, Sa.” Sembari menyerahkan helm bogo chip.
Sasa memakai helm itu dan naik ke motor yang akan di kendarai oleh Bara. Sementara, pertanyaan yang banyak ia kubur dulu di benaknya. Apakah sekarang keadaan seburuk itu?
Mereka melakukan perjalanan ke rumah sakit tanpa bicara. Bahkan Sasa merasa melihat sosok Bara yang berbeda saat ini. Bara yang saat ini lebih pendiam. Kenapa? Biasanya Bara selalu memulai topik untuk bisa ngobrol dengan Sasa. Namun, sekarang semuanya menjadi hening.
Motor yang dikendarai Bara berhenti di parkiran rumah sakit Gunadarma. Bara turun dari motornya, begitupun Sasa. Ia menyerahkan helm itu ke Bara.
“Ayo,” sembari mengajak Sasa masuk ke dalam.
Sasa mengikuti langkah Bara. Ia memilih tak banyak bertanya dan membiarkan dulu Bara menyelesaikan semuanya. Mereka berjalan dan berhenti di meja resepsionis.
“Halo Bara,” sapa resepsionis yang telah kenal dengannya itu.
“Kak Hanum, ini berkasnya. Kalau ada yang kurang kabarin ke ayah ya.” Ujar Bara.
“Siap, nanti kalau ada kendala saya yang akan kabarin dr. Arya.” Jawabnya lagi.
“Makasi, duluan kak,” ujar Bara sembari menggenggam tangan Sasa.
"Siap Bara," jawab Hanum yang kembali fokus ke pekerjaannya.
Sasa yang dari tadi diam itu malah kaget. Ia melihat ke Bara yang nampak rusuh sekali hari ini. Melihat itu, Sasa membiarkan Bara menggenggam tangannya. Siapa tahu Bara memang butuh asupan energi saat ini.
“Biar lo ga tersesat aja,” ujarnya sembari berjalan dengan memegang tangan Sasa.
“Rumah sakitnya ga besar amat perasaan.” Celetuk Sasa sembari mengikuti langkah Bara.
Sasa merasakan aura yang tidak baik di sini. Bara lalu melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke sisi kanan pintu yang dibuat dengan kaca itu. Ruangan itu bahkan bisa dilihat dari luar. Ia lalu berdiri tepat di depan kaca itu.
Kesedihan terlihat jelas di mata Bara saat ia menatap menembus kaca ruang ICU itu. Ada seorang wanita yang terbaring lemas dengan berbagai alat. Sasa menatap jelas wajah wanita yang biasa mengawasinya di sekolah itu.
Iya, Renita sedang berada di ruang ICU saat ini.
“Bunda udah 5 hari di rawat di sini,” ujar Bara menatap ke dalam ruangan.
“Sakit apa?” tanya Sasa.
“Seminggu lalu bunda demam, tapi gamau di rawat di sini, gua maksa biar di rawat,” ujar Bara.
“Tapi, bukannya calon dokter kaya lo bisa ngobatin demam sendiri?” tanya Sasa.
“Seharusnya iya, tapi masalahnya Bunda pernah ada riwayat kanker di paru-parunya,” ujar Bara.
Sasa menatap Renita dengan tatapan sedih. Ia tak menyangka semua seburuk ini.
“Itu ngebuat gua dan Ayah selalu hati-hati dan harus bawa bunda ke rumah sakit kalau ada seseuatu.” Jelas Bara.
“Bokap lo mana?” tanya Sasa.
“Lagi perjalanan ke sini dari Manado. Beliau jadi dokter bantuan di sana.” Jelas Bara.
“Bokap lo dokter juga?” tanya Sasa.
“Spesial Paru, tepatnya.” Sahut Bara.
Sasa bahkan tak menduga bahwa suami Renita adalah dokter. Melihat Renita terbaring di dalam Sasa ingin sekali.masuk.ke dalam.
“Gua boleh masuk?” tanya Sasa.
“Boleh,” sahut Bara.
Bara lalu berjalan ke loket kecil. Ia lalu mengambil dua baju steril, ia menyerahkan baju dan topi penutup itu ke Sasa beserta masker. Setelah siap, Bara membuka pintunya dan membiarkan Sasa masuk lebih dulu.
Sasa mendekat ke arah Renita dan berdiri tepat di sampingnya. Wajah ceria Renita kini dihiasi selang oksigen. Ada banyak alat yang bahkan Sasa tidak tahu namanya.
“Bu...” ujar Sasa sembari menyentuh tangan Renita.
Suasana di sekitar nampak sesekali bising oleh alat detak jantung. Membuat ketegangan di ruangan ini semakin jelas.
“Ini Sasa dateng,” tambahnya lagi.
Bara lalu berjalan mendekat ke Sasa. Ia berdiri di samping gadis itu.
“Bunda udah tiga hari ga sadar,” ujar Bara yang membuat Sasa kaget.
Sasa menatap Bara yang berada di sampingnya.
“Terakhir kali bunda sadar, dia mau ketemu lo, makanya gua langsung dateng ke rumah lo.”
Mendengar itu Sasa merasa bersalah sekali. Bersalah karena tak hirau pada kehadiran Bara. Ia terlalu sibuk sama urusannya, hingga tidak tahu keadaan Renita. Sasa lalu berjalan keluar meninggalkan Bara. Ia merasa kecewa pada dirinya.
Sasa melepas maskernya, Bara lalu keluar dari pintu itu dan memanggil Sasa.
“Saa?” ujar Bara.
“Maaf.” Ujar Sasa dengan tubuh membelakangi Bara.
“Untuk?” tanya Bara menatap punggung Sasa.
“Seandainya gua dateng di hari itu, pasti keadaan ga seburuk ini.” Ujar Sasa.
Bara lalu mendekat ke gadis itu, ia mengambil masker di tangan Sasa dan mengenakannya kembali.
“Ga ada yang pasti di dunia ini Sa,” ujarnya menatap Sasa.
“Tapi faktanya gua emang terlalu sibuk sama diri gua,” jelas Sasa.
“Padahal Bu Renita selalu ada buat gua.” Ujar Sasa lagi.
“Hei, jangan kaya gitu.” Ujar Bara.
“....” Sasa diam dan menatap Bara.
“Sekarang lo masuk ke dalam, ajak ngobrol lagi Bunda... Ayo, gua temenin.” Ujar Bara mendorong Sasa masuk.
Sasa mengikuti langkah Bara dan kembali ke posisi tadi. Ia seketika memahami kode mata Bara yang menyuruhnya menggenggam tangan Renita.
“Orang yang sedang koma bisa merasakan kehadiran kita, walaupun dia ga bisa kasih feedback.” Jelas Bara.
“Lo bisa ajak nyokap bicara kok,” ujar Bara.
“Bu... Sasa minta maaf telat dateng ke sini,” ujarnya dengan menahan sedih.
“Sasa.... ga tau kalau keadaan akan seburuk ini,” ujar Sasa lagi.
“Sekarang, ibu bangun ya.... Please! Bangun...” rintih Sasa.
Bara hanya melihat pemandangan itu dengan diam. Ia membiarkan Sasa bercengkrama dengan Bundanya.
“Bu... Ayo bangun...” pinta Sasa yang tak direspon sama sekali itu.
Sasa lalu kembali menatap Bara dengan raut putus asa.
“Nihil, ga ada respon Bar...” ujar Sasa.
“Kan gua udah bilang, orang koma tahu kehadiran lo walau ga bisa kasih feedback,” jelas Bara.
“Jadi, ga usah kecewa.” Ujar Bara tersenyum kecil.
"...." Sasa menarik nafas dalam dan mulai pamit kepada Renita.
"Bu, Sasa harap ibu cepat bangun ya, sembuh...” ujar Sasa.
“Sekarang Sasa harus pulang dulu, nanti Sasa akan ke sini lagi...” ujarnya sembari melepaskan pegangan tangan.
“Sasa percaya ibu kuat,”
Sasa lalu menatap Bara menandakan ia akan pulang dan keluar dari ruangan ini.
“Bunda... Bara mau anter Sasa dulu,” ujarnya mendekat.
Bara lalu mencium kening Renita sebelum akhirnya berjalan keluar bersama Sasa.