Puzzles

Puzzles
Episode 28 - Ghare Minta Nomor HP Sasa



Pagi ini, Larisa tengah duduk seperti biasa di gerbang kanan. Bedanya, hanya sendiri. Ia menatap dalam ke ujung jalan. Tapi, sudah hampir 20 menit, tidak ada yang datang.


Larisa menarik nafas dalam, merasa ada sesuatu yang hilang.


"Apa Zean juga ga masuk?" tanya Larisa sembari mencari nama Zean di ponselnya.


Larisa yang tidak biasa sendiri di gerbang kanan ini hanya bisa menatap sekitar seperti sepi yang mendalam. Hanya ada ia dan angin tanpa sahabatnya.


Ia lalu menelfon Zean pagi ini. Namun, tidak ada balasan karena Zean yang di telfon tengah sibuk di kamar mandi untuk berangkat ke rumah Sasa.


Larisa sudah mencoba beberapa kali, tapi Zean tetap tidak mengangkatnya.


"Permisi, apa mau tambah es teh lagi?" ujar seseorang menghampiri Larisa.


"Hmm ga usah, Bu... Yang tadi berapa?" ujar Larisa sembari mengeluarkan uang.


"30 ribu,"


Larisa membayar dan segera berdiri dari duduknya. Ia lalu memutuskan pergi sembari sesekali melirik ke tempat biasa mereka nongkrong.


Saat sedang asik berjalan menuju kelas, Larisa lalu bertemu dengan Ghare.


"Nah, ini yang gua cari!" sembari berdiri di depan Larisa.


Larisa yang tahu sifat seniornya itu memilih terus berjalan tanpa menatap Ghare.


"Eh, tunggu dulu!" sembari menahan Larisa.


"Apa? Mau marah-marah?" sindir Larisa dengan nada tinggi.


Ghare yang kini hanya sendiri itu, tidak bersama para bedebah lainnya, membuat mata Larisa melirik ke kiri dan kanan.


"Lo liat kan gua ke sini sendiri?" tanya Ghare.


"Hm!" Larisa lalu membuang pandangannya ke arah lain.


"Gua mau ngomong secara baik," ujar Ghare.


"Huh, ternyata lo masih tahu ya cara baik itu kayak apa?!!" dengus Larisa.


"Makanya lo jangan songong!" sindir Ghare yang mulai emosi.


"Baru aja di bilangin, udah keluar aslinya!" Larisa sedikit tertawa sinis.


Ghare lalu menatap Larisa. Ia benar-benar ingin bicara baik-baik kali ini.


"Gua serius, temen lo yang songong itu, siapa namanya? Lupa gua!" ujar Ghare berfikir.


"Temen gua ga ada yang songong, Kak! Kalau pun songong pasti orang lain yang mulai duluan!" bentak Larisa.


"Ni anak mancing-mancing emosi terus, yaudah, temen lo siapa namanya?" tanya Ghare menahan emosi.


"Temen gua banyak, yang mana?" ujar Larisa.


"Itu yang sering nongkrong ama lo di gerbang kanan?" tanya Ghare.


Larisa lalu menatap Ghare dengan heran.


"Lo tau dari mana gua sering duduk di gerbang kanan? Stalker ya lo?!!" tunjuk Larisa tepat di hadapan Ghare.


"Eh, bocah!!" bentak Ghare.


"Tongkrongan lo itu jalan umum, terbuka lagi, setiap orang yang lewat situ pasti ngeliat muka lo yang nyebelin ini," tegas Ghare.


"Lo tu yang nyebelin!" bentak Larisa.


"Yaudah, buruan namanya siapa?" ujar Ghare.


"Sasa sama Zean!" ujar Larisa.


"Nah, itu yang namanya Sasa, gua boleh minta nomernya ga?" tanya Ghare.


Larisa tanpa menjawab memutuskan pergi dari hadapan Ghare.


"Eh, jawab!!" sembari melihat ke Larisa yang berjalan menjauh.


"Gua ada kelas!" ujar Larisa menunjuk jam di tangannya.


Ghare yang kesal tak dapat informasi itu kini menggerutu di koridor kampus.


***


"Larisa nelfon?" tanya Zean sembari melihat notif pada ponselnya.


Zean lalu menuruni anak tangga sembari bermain ponsel. Fergi yang melihat itu, lalu menegur Zean.


"Kalau turun tangga jangan sambil main hp, nanti jatuh!!" ujar Fergi yang tengah mengoles roti itu.


Zean yang mendengar teguran itu lalu turun ke bawah sembari menyimpan ponsel di saku jaketnya. Ia tak mencoba menghubungi Larisa lagi.


"Pamit, Pa." Ujar Zean sembari bersalaman.


"Ga sarapan dulu?" tanya Fergi pada putra tunggalnya itu.


"Ga usah, Pa, udah telat!" ujar Zean berlalu ke luar rumah.


"Hati-hati, Zean!!" sorak Fergi.


Fergi yang baru akan menyantap roti itu lalu melanjutkan makannya kembali. Zean naik ke motornya dan segera menuju rumah Sasa.


Perjalanan ke rumah Sasa berlangsung lancar, Zean sampai di depan gerbang dan menekan bel .


Satpam Diki lalu membuka gerbang dan bertanya ke Zean.


"Namanya Zean ya Mas?"


"Iya," ujar Zean sembari mengangguk.


"Langsung masuk ke dalem aja," ujar Diki memberi jalan masuk.


"Makasi, Pak." Zean lalu masuk dan memarkir motornya di sebelah vespa matic.


Zean turun dari motornya dan melirik motor baru milik Sasa itu.


"...." Zean mencoba mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban.


Karena sudah dipesankan untuk langsung masuk, Zean lalu membuka pintu yang tidak dikunci dan masuk ke dalam rumah.


Rumah yang sangat megah ini nampak sepi penghuni. Zean lalu berjalan ke ruang tamu, tetap tidak ada orang.


"Saaa... Sasaaa!!" soraknya yang menggema.


Zean berjalan perlahan, mencoba mencari keberadaan orang di rumah. Namun, nihil.


"Saaaa...." ujarnya sembari berjalan kecil.


"Sasaaaa!!!!" soraknya lagi.


Sasa yang mendengar suara itu, nampak baru saja terbangun. Ia lalu mendengus dan menyadari bahwa itu adalah Zean.


"Huuuaaammm," ujarnya menggeliat.


Sasa yang masih mengantuk itu lalu memaksakan diri berdiri dengan mata setengah tertutup. Ia berjalan gontai hingga sampai ke depan tangga.


Tepat di bawah tangga sudah ada Zean yang celingak-celinguk mencari orang.


"Naik aja!" sembari berlalu meninggalkan Zean.


Zean melihat ke Sasa yang masih kusut itu. Ia lalu mengikuti perintah Sasa dan menaiki anak tangga.


Sasa kembali ke kamarnya tanpa menutup pintu, ia lalu kembali berbaring dan tidur karena masih sangat ngantuk.


Zean yang canggung itu, akhirnya sampai ke lantai 2 rumah Sasa. Ia lalu mencoba mencari kamar Sasa, karena Sasa sudah masuk duluan.


Zean melewati beberapa kamar yang tertutup hingga akhirnya menemukan satu pintu terbuka.


"Saaa... kamar lo yang mana sih!" sembari terus berjalan.


Zean lalu berdiri di depan pintu yang terbuka itu. Ia dapat melihat jelas bahwa itu kamar Sasa karena ada tulisan, Mysa Room di pintunya.


Zean memutuskan masuk dan mendapati sosok Sasa yang tertidur di kasur.


"Yaelah, tidur lagi!" sembari meletakkan tasnya di kasur.


Zean lalu menatap sekeliling kamar Sasa. Kamarnya sangat luar, ada mading besar yang berisi berbagai stiky note. Ada meja rias dan meja belajar, bahkan di atas mejanya ada 2 laptop.


Zean berjalan melihat beberapa detail kamar itu, ia lalu mendapati jaket Bara yang digantung dengan rapi di sudut kamar.


"Huh," dengus Zean melihat jaket itu.


Zean lalu mencoba bergerak ke gorden yang masih tertutup. Tangannya lalu mencoba membuka gorden itu, dan....


"Jangan dibuka, silau tau!" ketus Sasa dengan mata tertutup.


Zean sontak mendekat ke arah Sasa dan duduk di kasur itu.


"Lo tidur masih bisa ngomong ya?" celetuk Zean.


Sasa lalu melanjutkan tidurnya, ia tak merespon ucapan Zean. Zean yang dapat melihat jelas wajah Sasa itu mencoba lebih dekat.


Sasa nampak begitu cantik saat tidur, walaupun rambutnya berantakan.


"..." melihat Sasa tertidur, Zean membiarkan dulu. Ia memilih mengeluarkan laptop dan jurnal yang kemarin ia pinjam.


Zean menyila kakinya di atas kasur dan mulai mengoperasikan laptop miliknya. Sedangkan, Sasa nampak sangat pulas dengan tidurnya.


***


Larisa yang baru saja keluar kelas, harus dikagetkan oleh kehadiran Ghare di depan pintu kelasnya.


"Eits," sembari merentangkan tangan.


"Apaan lagi sih!" ujar Larisa sembari menatap Ghare dengan sinis.


Ghare lalu menyerahkan pulpen dan secarik kertas.


"Buat apa?" tanya Larisa bingung.


"Nomer Sasa," ujarnya lagi.


Larisa menepis tangan Ghare dan berjalan ke koridor. Ghare lalu mengikutinya dari belakang.


"Lo ngapain masih ngikutin gua?!" sembari berbalik ke belakang.


Ghare kembali menyerahkan pulpen dan kertas itu. Namun, Larisa nampak tidak ingin menghiraukan Ghare.


"Minta sendiri aja,"


"Ga bisa, karena gua udah beberapa hari ini ga liat dia," jelas Ghare.


"Dia lagi ada urusan," ujar Larisa.


"Urusan apa?" tanya Ghare lagi.


"Lo bisa ga sih, ga usah kepo sama privasi orang?!!" ketus Larisa.


"Lo juga bisa ga sih, ga bikin ribet orang, tinggal tulis dan kasih nomer nya ke gua," bentak Ghare.


"Ga bisa! Kenapa?" sahut Larisa menantang.


Ghare lalu mengambil tas Larisa dan mencari ponselnya di sana.


"Apaan sih lo, ga sopan banget!!" bentaknya lagi.


"Kalau ga bisa sama cara halus, gua bisa lebih kasar dari ini!" bentak Ghare yang sudah menggenggam ponsel Larisa itu.


"Sandinya," sembari menatap Larisa.


"..." Larisa hanya diam.


"Buruan," ujar Ghare.


"18367,"


Ghare mencobanya dan ponselnya terbuka. Ia lalu mencoba mencari nama Sasa di sana. Dan, dapat.


Ghare lalu mengambil ponselnya dan menyalin nomor itu. Lalu, menyerahkan kembali ponsel milik Larisa.


"Makasi," sembari berlalu pergi.


"Emang Saico, laknat!!!!" umpat Larisa yang menerima kembali ponselnya.


Ia hanya bisa menatap Ghare dengan kesal. Kenapa bisa ada makhluk menyebalkan seperti dia di kampus ini?