
Zean meletakkan ponselnya di atas meja belajar. Ia lalu melirik jam di dinding yang baru menunjukkan pukul 20.30 WIB. Zean membuka laptop dan memulai tugas baru yang Sasa berikan.
"Irana Susilowati," ujar Zean seraya mengetik.
Zean melakukan search di perangkat yang sudah ia setel. "Banten, 20 Juli 1968."
"Jadi, dia asli Jawa kah?" tanya Zean seraya meretas.
'3 minutes again.'
Zean membuka ponselnya kembali dan melihat foto seseorang di galerinya. "Kenapa harus Bara yang tinggal sama lo, Sa?" tanya Zean.
Mengingat bahwa mereka hanya tinggal berdua, Zean seketika menjadi cemburu. "Kenapa harus Bara?"
Saat sedang asik melamunkan foto Sasa, Zean langsung beralih ke laptopnya saat ia sadar sudah selesai meretas.
'Finish: Your File.'
Zean mengklik data tersebut. Ia lalu kaget saat melihat bahwa ada keganjalan pada kartu identitas yang dikirim Sasa.
"Di sini, kenapa namanya berubah jadi Jia Nurhaya." Zean terus men-scroll hingga bertemu dengan informasi baru.
"Menetap di Korea Selatan selama 3 tahun," ujar Zean.
"Jadi, Mbok Ira ini TKW?" tanya Zean.
Zean merasa bingung dengan ketidaksingkronan data yang ia peroleh. "Tapi, kenapa nama di KTP ini berubah ketika di retas?"
Zean lalu menjauh dari layar laptopnya. "Apa ini KTP palsu ya?" tanya Zean sembari memutar-mutar KTP itu.
Zean lalu mencoba berfikir lebih keras lagi. "Kayaknya, data ini ada hubungannya sama bokap Ghare yang tinggal di Korea Selatan deh," ujar Zean menduga-duga.
"Eh, tapi Ghare apa kabar ya? Kenapa dia ga coba telfon gua lagi setelah kejadian kemarin?" tanya Zean saat ingat kalau dia meninggalkan Ghare.
"Biarin aja deh, gua harus fokus dulu."
Setelah mendapatkan celah aktivitas baru, Zean lalu mengambil file yang ia temukan dan memikirkan rencana baru untuk ke depannya.
...----------------...
Sasa dan Zean baru saja tiba di sebuah kedai pinggir jalan. Kedai pecel lele itu nampak ramai dari luar. Mereka turun dari mobil dan segera masuk.
"Lo mau apa?" tanya Bara di dekat gerobak pecel lele itu.
"Lele aja," ujar Sasa sembari melangkah ke kursi kosong.
Bara lalu memesan makanan dan dua teh es untuk mereka santap. "Jadi, pecel lele nya satu, ayam satu, tambah es tehnya dua ya, Mas..."
"Baik, silahkan ditunggu dulu," ujar pria yang sedang menggoreng ayam itu.
Bara mengangguk dan segera menghampiri Sasa. "Lo udah pernah makan di sini belom?" tanya Bara seraya duduk.
"Belom," ujar Sasa.
"Ini pecel lele ter enak yang pernah gua makan sama Bunda," jelas Bara.
"Bu Renita suka pecel lele juga?" tanya Sasa.
"Banget," jawab Bara dengan mata berkaca.
"Lo kangen sama Bu Renita ya?" tanya Sasa.
"Iya, kemarin pas gua telfon katanya Bunda udah ada kemajuan," jelas Bara.
Sasa tersenyum kecil. "Semoga aja, ini jadi pertanda baik buat kepulangan Bu Renita ke Indonesia."
Bara mengangguk. Sudah lama sekali mereka tak berkumpul sebagai keluarga. "Oh iya, persiapan magang lo gimana?" tanya Sasa.
"Baik, udah selesai... dua minggu lagi gua udah bisa langsung praktek."
Sasa mengangguk. "Baguslah, gua yakin... Bu Renita akan cepet sehat demi lo," jawab Sasa.
"Aamiin, cuma lo yang gua punya di sini." Bara menatap Sasa dengan dalam. Ia seperti memiliki perasaan lebih ke wanita itu.
"Silahkan, Mas... Mba..." ujar pelayan menyerahkan pesanan mereka.
Sasa dan Bara mengambil pesanan itu dan berterima kasih. Ia lalu berterima kasih dan segera menyantap makanan itu.
"Enak tau, makan yang banyak..." ujar Bara menyodorkan nasi ke Sasa.
Sasa yang sudah mulai dekat dengan Bara itu langsung mengambil nasi yang disodorkan oleh Bara. Ia lalu melahapnya satu per satu.
"Oh iya, rutinitas lo di hotel gimana?" tanya Bara.
"Oh, itu... Gua mantau hotel lewat monitor di hp doang, karena belum bisa terjun terus ke hotel."
Bara mengiyakan seraya melahap selada. "Baguslah, lo bisa banyak istirahat kan di rumah..." ujar Bara lagi.
"Hhmmm... Iy––"
(Dering Telfon)
"Bentar," ujar Sasa merogoh ponselnya yang berdering.
Sasa lalu menjawab panggilan itu. "Halo, Bu?" sapa Sasa.
"Oh, bisa... Lusa jadi berangkat ya?" tanya Sasa.
'Iya, kamu harus hadir ya... Nanti berkasnya Ibu kirim.'
"Oke, segera kirim ya Bu... Kantor akan cover semuanya," jawab Sasa.
Sasa lalu menutup ponselnya seraya meletakkannya di atas meja. "Bu Bila mau berangkat lusa ya?" tanya Bara.
Sasa mengangguk sembari memekan lele di hadapannya. "Lo jadi makin sibuk dong?" tanya Bara lagi.
"Begitulah, itu makanya gua masih pending soal kuliah." Sasa terus melahap makanannya.
Bara mengangguk. Ia juga ikut menghabiskan makanan yang tadi dipesan. Mereka lalu menghabiskan makanan itu hingga kenyang.
...----------------...
Ghare tengah berbaring di kamarnya. Mukanya nampak kesal karena ketidakhadiran Zean tadi. Di tangannya sudah ada ponsel dan nama Zean yang bisa dilihat.
"Anj***!!!!!" ketus Ghare.
"Besok bokap akan dateng, gua pasti akan kena marah!!!" ketus Ghare.
Ghare melempar bantal di sampingnya. Ia lalu teringat ucapan Ayahnya beberapa hari lalu.
(FlashBack)
'Perusahaan Papi di sini sedang mengalami penurunan omset karena beberapa vendor ngebatalin kerjasama dalam investasi secara sepihak,'
'Pihak kampus kamu juga memutus kerja sama dengan Papi,'
'Ditambah lagi gaya hidup kamu yang glamor!'
"Kenapa jadi Ghare? Ghare selama ini juga udah hidup dengan hemat, Pi." Ghare mencoba menyangkal ucapan ayahnya.
'Hemat apanya, mobil yang kamu pakai ke kampus itu pajaknya gede! belom lagi kuliah kamu!'
'Kamu juga ga bisa kasih apa-apa ke keluarga kita!'
"Itu kan tugas Papi, Ghare mau minta ke siapa lagi? Ghare kan masih kuliah, itu juga demi Papi kan?" tanya Ghare yang meredam emosi.
'Gausah banyak alasan ya!'
'Sekarang gini aja, Papi udah coba cari informasi soal kampus kamu,'
"Maksudnya, Papi mata-matain rektor?" tanya Ghare lagi.
'Iya, rektor kamu itu punya anak yang juga kuliah di kampus itu,'
"Masa sih? Ghare aja ga tau?!" tanya Ghare bingung.
'Kamu cuma perlu ngejalanin perintah Papi, cari dan deketin anak yang namanya Zeano Pratama, dari jurusan IT.'
Ghare terdiam dan mencoba mengingat sosok dari nama yang disebut. 'Kamu harus bisa bujuk Zean supaya ayahnya mau terima bantuan dari kita lagi, investasi terbesar kita itu ada di kampus itu.'
"Tapi, itu ga gampang, Pi.... Anak yang Papi sebut itu––"
'Papi gamau tau! Bantu kerjasama ini atau,'
"Atau apa?" tanya Ghare.
'Cari aja Ibu kamu sana! Suruh dia belajar tanggung jawab sama anaknya!'
(Telfon terputus)
"Pi?!! Papi... Haloo??"
Ghare melihat panggilan yang sudah berakhir itu. Ia lalu membanting ponselnya. "ARRRGHHH!!!"
"KENAPA HARUS GUA?"
Ghare merutuki semua ucapan ayahnya. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Zeano Pratama..."
"Bocah itu kan yang sempet gua tonjok waktu itu," ujar Ghare.
"Gimana caranya? Gua bakal susah deket sama mereka!" ketus Ghare lagi.
Setelah percakapan ini terjadi, Ghare mencoba mencari cara agar dapat masuk ke pertemanan Zean. Ia memang bermaksud lain karena arahan ayahnya.
Day 1
Hari pertama, Ghare mencoba memantau Zean dari jauh. Ia berdiri di balik tembok. "Itu, gua baru tau dia anak rektor."
Ghare lalu kembali bersembunyi saat Zean dan Larisa lewat di sampingnya.
Day 2
Ghare mencoba bertanya kepada teman-teman Zean, dimana mereka biasanya ngumpul.
"Eh, bentar... Bocah yang pake jaket biru itu biasa nongkrong dimana?" tanya Ghare.
"Gerbang kanan bang, dia biasa bertiga di sana."
Ghare mengangguk. Ia lalu memperhatikan Zean dari jauh. "Gua harus bisa masuk ke tongkrongan mereka."