
Zean yang tengah duduk di meja belajar nampak memasukkan flashdisk yang ke dalam kotak cokelat berpita cream.
"Ini, rasa terima kasih gua untuk lo, karena udah mau percaya sejauh ini."
Zean tersenyum kecil. Ia lalu turun ke bawah dan bertemu dengan Fergi. "Halo, Mas Bro, mau kemana? Udah malam loh," jawab Fergi.
"Biasa Pi, nongki di cafe dekat rumah." Zean turun ke bawah dan duduk di sebelah Fergi.
"Kamu, kenapa happy banget sekarang?" tanya Fergi.
Zean tersenyum lebar. Ia menatap Fergi dengan sangat dalam. Ia lalu memeluk Fergi secara tiba-tiba. "Eh, kenapa? Kamu baik?" tanya Fergi.
Zean mempererat pelukannya. Ia lalu menyandarkan dagunya ke bahu Fergi. "Makasi, udah jadi Ayah dan Ibu yang hebat untuk aku."
Fergi seketika terenyuh dengan perkataan Zean. Ia terdiam dan membiarkan Zean memeluknya dengan erat. "Aku bangga punya ayah seperti Papi."
"Papi juga bangga punya anak sehebat kamu," ujar Fergi seraya mempererat pelukannya.
"Maafin Zean, kalau belum bisa masuk ke jurusan kedokteran seperti keinginan Mami."
"Tapi, Papi perlu tahu setiap jalan yang aku pilih, ga ada maksud untuk ngecewain Papi dan Mami."
Fergi melepas pelukannya dan menatap Zean dengan dalam. "Berhasil atau gagalnya kamu dalam setiap hal, kamu tetap anak Papi dan Mami," jawab Fergi.
Zean seketika tersenyum. "Papi jangan sakit ya, sehat-sehat." Melihat tingkah Zean, Fergi seperti merasa ada yang berbeda.
"Kamu ga ada masalah kan?" tanya Fergi.
"Ga ada, Pi. Aku cuma mau ungkapin perasaan bangga aku ke Papi."
Fergi tersenyum. Ia lalu memalingkan wajahnya ke tv yang ada di depan mereka. "Pi, titip ini untuk Sasa ya." Zean menyerahkan kotak kecil tadi ke Fergi.
"Kenapa ga kamu aja yang kasih?" tanya Fergi.
"Sasa lagi ke Bali, Pi. Dia akan pulang lusa, aku lusa ada keperluan," jawab Zean.
"Kamu lusa mau ikut camp campus kita yang ke Bogor?" tanya Fergi.
"Iya, Pi. Aku pengen refresh pikiran dari hacker-hacker an."
Fergi tersenyum. "Yaudah, nanti Papi kasih ke Sasa," jawab Fergi.
"Makasi ya Pi," jawab Zean seraya berdiri.
"Iya, kamu jangan malem banget ya pulangnya," ungkap Fergi.
"Iya, aku pamit ya Pi." Zean menatap ke Fergi dengan senyuman seraya berjalan ke luar.
Fergi bahagia melihat senyum yang melengkung di wajah Zean. "Anak kamu udah besar, udah bisa kasih sesuatu ke wanita lain."
Zean mengenakan helm sembari menatap ke pintu rumahnya. Ia lalu menarik nafas dalam dan tersenyum lebar. "Mi, sejauh ini... Aku bangga sama diri aku sendiri bisa berjalan tanpa Mami."
"... Meski sejujurnya, hidup rasanya tidak benar-benar hidup."
Zean memutar kunci motornya ke on, lalu kembali menatap ke pintu rumah itu. " Sampai bertemu dilain waktu ya, Mi."
Zean lalu mengendarai motornya keluar dari gerbang rumah. Ia menyapa satpam rumahnya dan segera pergi.
***
Sasa yang sedang berbaring di kamar itu nampak memikirkan hal yang sama dengan tadi siang. "Ghare? Ternyata dia sosok sepupu yang selama ini gua cari tahu," ujar Sasa.
"...Apa yang harus gua lakuin selanjutnya ya?" tanya Sasa.
(Dering telfon)
Sasa melirik ke ponsel yang ada di sebelahnya. Ia lalu merogoh ponsel itu dan melihat nomor tak dikenal sedang memanggilnya.
"...Siapa ya?" Sasa lalu menolak panggilan itu.
(Dering telfon)
Sasa kembali melihat layarnya yang menampilkan nomor tadi. "... Ganggu aja," Sasa kembali menolak panggilan itu.
Selang beberapa menit sejak panggilan itu ditolak, Sasa tidak lagi menerima telfon. Namun, ponselnya berdering dengan nada pesan masuk.
(Notifikasi pesan)
Sasa kembali merogoh ponsel itu dan melihat pesan dari nomor tak dikenal tadi.
'Gua tunggu lo di depan Hotel Gloubel Bali, sekarang!...... Ghare.'
Sasa seketika terkejut membaca pesan itu. "Ghare? Ngapain dia ke sini?" tanya Sasa.
Sasa tak membalas pesan itu, ia hanya memikirkan apa yang akan Ghare tanyakan ke dirinya saat bertemu nanti.
(Notifikasi pesan)
'Gua udah 10 menit di bawah, kalau lo ga turun dalam 5 menit lagi gua akan nyamperin lo ke dalam.'
"What?!!!" ketus Sasa.
"Ini anak mau ngapain sih?!" tanya Sasa.
Sasa lalu bangun dari pembaringannya, dengan rasa malas ia bergegas mengambil jacket tanpa menukar baju.
"Malam Nona, mau diantar kemana? Atau ada keperluan apa?" tanya salah seorang pekerja.
"Oh, gapapa... Saya mau cari angin sebentar, silahkan lanjut kerja."
"Baik Nona, terima kasih dan hati-hati."
Sasa mengangguk dan terus berjalan hingga tiba di teras hotel. Beberapa orang nampak berlalu lalang karena Bali adalah kota wisatawan luar negeri yang cukup banyak.
(Dering ponsel)
Sasa yang akan melangkah ke pagar itu terhenti saat mendapat telfon dari Ghare. "Halo?" sapa Sasa.
"Pagar masuk sebelah kiri, sedan cokelat."
Sasa menutup panggilan seraya berjalan ke arah yang Ghare tunjukkan. Perlu beberapa menit saja untuk Sasa tiba di sebelah mobil sedan berwarna cokelat itu.
'Tok.. Tok.. Tok..'
Ketukan kaca itu dibalas turunan jendela dan bukaan pintu oleh Ghare. Sasa yang masih di luar itu lalu masuk ke dalam untuk bicara.
Di dalam mobil, sudah ada Ghare dengan raut emosi. Sasa menarik nafas dalam namun enggan bertanya.
Ghare menutup jendela dan mengunci pintu mobil miliknya. Melihat itu, Sasa sedikit ngeri karena takut Ghare akan berbuat nekad.
"Ehm!!" dehem Sasa membuyarkan suasana.
Ghare tak melihat ke Sasa sedikitpun, ia lalu mengendarai mobilnyajauh agar jauh dari hotel itu.
"Lo mau bawa gua kemana?" tanya Sasa dengan santai.
"... Gua perlu ngobrol sama lo di tempat yang santai," jawab Ghare.
Sasa diam, ia memilih mengikuti kemana Ghare akan berhenti. Saat sedang di mobil, ponsel Sasa menunjukkan satu notifikasi pesan.
'Bara.'
'Lo udah makan belom? jangan kelamaan di Bali, nanti gua keburu wisuda.'
Membaca itu, Sasa seketika tersenyum kecil. Ia lalu membalas pesan itu segera.
'Kayaknya gua balik tahun besok deh, hehe.'
Ia lalu segera menyimpan ponselnya. "Kenapa senyum?" tanya Ghare yang fokus menatap ke depan.
"Ga ada urusannya juga sama lo," ujar Sasa dengan nada datar.
"..." Ghare diam dan melanjutkan perjalanannya menuju suatu tempat.
Selang beberapa menit, mobil mereka berhenti tepat di sebuah Glamping. Sasa melihat ada beberapa tenda mewah yang terang.
Ia lalu melihat ke Ghare yang tengah memarkir mobil itu. "Silahkan," ujar penjaga di situ seraya menyerahkan tiket masuk.
Mobil itu lalu berhenti sesuai nomor parkirnya yang ada di tiket masuk. Sasa diam, ia bingung kenapa dibawa ke sini.
"Ayo, turun." Ghare membuka pintu mobilnya dengan kaki yang satu sudah di bawah.
"Kenapa harus ke sini?" tanya Sasa.
"Ayo, ikut aja!" Ghare lalu keluar dari mobilnya bersamaan dengan Sasa yang tengah membuka pintu.
Mereka berdua lalu keluar dari mobil dan melihat keindahan Glamping Bali yang tengah disorot media.
"Ikut gua," ujar Ghare seraya mengajak Sasa berjalan ke resepsionis.
"Atas nama Ghare."
"Selamat malam, ini ruang outdoor yang sudah di booking," seraya menyerahkan kartu akses.
"Thank's," ujar Ghare seraya mengode Sasa untuk masuk.
Sasa yang masih bingung itu memilih mengikuti langkah Ghare. Ia kini sudah masuk ke area Glamping yang sebenarnya, suasananya ramai, namun sangat tentram. Semua orang seolah menikmati malam masing-masing dengan tenang.
"Ke sini," ujar Ghare mengajak Sasa masuk ke sebuah ruangan terbuka dengan akses pintu.
Sasa mengikuti Ghare dan melihat jelas keindahan ruangan itu. Ada banyak lilin disekeliling mereka. Di sana, sudah ada meja makan dengan beragam menu.
"Silahkan Tuan," ujar pelayan di sana.
Ghare mengode Sasa untuk duduk dan segera memberi kode agar pelayan itu pergi.
"Kenapa harus di sini?" tanya Sasa yang sudah duduk itu.
"Seseorang akan cerita dengan baik dalam keadaan nyaman," ujar Ghare dengan tatapan lurus.
"Dan tempat ini, jelas bisa memberi kenyamanan," tambah Ghare lagi.
Sasa menatap Ghare yang ada di depannya. "To the point aja, lo mau ngapain?" tanya Sasa.
"Minum dulu, obrolan gua kali ini akan menguras kenangan buruk lo di masa lalu, jadi lo perlu banyak energi untuk itu." Ghare menatap Sasa dengan tajam.
Melihat sorot mata itu, Sasa tahu bahwa Ghare akan membuka lukanya kali ini.