Puzzles

Puzzles
Episode 12 - Makan Bersama di Rumah Zean



Sesuai perjanjiannya dengan Zean, Sasa mengirimkan lokasi rumahnya agar di jemput.


Kali ini, Sasa tampil berbeda. Ia mengenakan mini dress selutut dengan rambut setengah dikepang. Sasa berdiri di depan kaca dan menambahkan anting serta jepitan di rambutnya.


Tak lupa, ia memilih sepatu untuk dikenakan. Pilihannya jatuh pada heels 5 cm berwarna hitam dengan hiasan bercak gold.


Usai berdandan, Sasa kemudian mengecek notif dari Zean yang sudah berada di halaman rumahnya.


"Rumahnya Sasa gede banget," ujar Zean sembari masuk ke pagar yang sudah dibuka oleh satpam.


"Makasi Pak," ujar Zean pada Satpam Diki itu.


"Gila, ini ada mobil sedan silver di depan rumahnya..."


"Tapi, kenapa dia naik bus coba ngampus?!"


Zean terus berjalan hingga tiba di depan pintu.


"Saaa!!!!" sorak Zean sembari memencet bel.


Tak lama, terlihat wajah Mbok Ira yang tersenyum dan bertanya.


"Eh, ada tamu... sebelumnya, ada apa ya Den?" tanya Mbok Ira.


"Saya udah ada janji sama Sasa Mbok, Sasanya mana ya?" Zean sedikit mengintip ke dalam.


Ia takjub dengan berbagai pernak pernik berlapis gold yang menghiasi rumah Sasa.


Bukan soal kayanya, tapi soal betapa terlihat humble nya Sasa ketika di kampus. Dia tidak sedikitpun pamer harta yang dia punya.


"Wah, baru kamu loh cowok yang dateng ke sini,"


"Serius Bi?" dengan semangat Zean bertanya.


"Semenjak Mbok di sini iya, eh sebentar Mbok panggil Mysa dulu." sembari berjalan ke dalam.


"Semenjak di sini?" tanya Zean bingung.


Tak butuh waktu lama, Sasa kemudian turun ke lantai bawah dan menemui Zean.


Melihat Sasa, Zean seketika terpana. Ia bahkan sulit menelan ludahnya sendiri.


"Cantik." Ujar Zean sembari menatap Sasa.


"Gua kan cewek!" ketus Sasa membuyarkan pandangan Zean.


Zean lalu terkekeh dan mempersilahkan Sasa berjalan ke motornya.


"Mm lo gapapa naik motor?" tanya Zean sembari menoleh ke mobil yang terparkir.


"Jadi pergi ga?" tanya Sasa dengan raut datar.


"Iyaa, sinis banget!" ujar Zean mulai menaiki motornya.


Zean lalu memberikan helm ke Sasa dan menyuruhnya naik.


"Ayo," sembari mulai menggas motor.


Satpam Diki dengan sigap membukakan gerbang, ia lalu membiarkan Sasa pergi dengan pria itu.


......................


Diatas motor, Zean tetap mengajak Sasa bicara meski suara angin berpacu volume dengan pita suaranya.


"Udah pernah kaya gini belom?" sorak Zean menoleh ke kiri.


"Belom." Sasa melihat sekeliling.


"Biasa pacaran pake mobil ya?" ujar Zean bercanda.


"Gapernah pacaran." Sahut Sasa.


Zean yang mendengar itu lalu terkekeh.


"Pasti karena lo kayak batu es ya? Makanya sekali-sekali cair dong!"


Mendengar itu Sasa sedikit tersenyum.


"Emang gua sedingin itu ya?" tanya Sasa tepat di telinga Zean.


"Iya, tapi bagus! lo jadi keliatan susah digapai,"


Sasa tak mengiyakan lagi ucapan Zean. Kali ini, ia merasa dunianya sedikit hidup. Sedikit hidup.


Karena sudah 4 tahun Sasa tidak bercengkrama seperti ini dengan orang lain. Hari setelah kepergian ibunya, ia habiskan dengan kaca dan dirinya sendiri.


***


Motor Zean terus melaju dan berhenti tepat di depan rumah mewah berwarna putih, berpagar hitam tinggi.


Mendengar suara motor Zean, satpam di rumahnya sigap membukakan gerbang.


Zean masuk dan mengklakson satpam di rumahnya.


Sasa memandang sekeliling rumah Zean. Suasana di sini nampak hidup sekali. Ada banyak mobil juga di sini, setidaknya ada 3 mobil yang terparkir di halaman yang luas.


"Udah, turun..." ujar Zean menstandart motornya.


Sasa turun dan berdiri di dekat motor itu.


"Ayo masuk," ujar Zean melirik Sasa.


Sasa mengikuti langkah kaki Zean, ia masuk ke pintu berwarna putih itu.


Sasa melihat nuansa putih di rumah Zean. Sekeliling rumah nampak megah dan hidup. Namun, matanya tertuju pada foto keluarga yang sangat besar terpajang di tembok.


Ada foto Zean, Pak Fergi dan wanita cantik di sebelahnya.


"Saa, sini...." sorak Zean yang membuyarkan tatapan Sasa ke foto itu.


Sasa lalu bertemu dengan Pak Fergi, rektor kampus sekaligus ayah sahabatnya. Sasa bersalaman dan dipersilahkan duduk.


"Cantik sekali, duduk Sa." Ujar Pak Fergi mepersilahkan.


"Gimana? perjalanan ke sini aman?" tanya Pak Fergi.


"Aman dong Pi, motor aku tu stabil Pi." Celetuk Zean.


"Itu kan kata kamu, gimana Sa?"


"Hehe, aman Pak." Ujar Sasa sembari tersenyum kecil.


"Baguslah kalau begitu, orang tua kamu udah dikasih tau kalau kamu main ke sini?" tanya Pak Fergi.


"Mama sama Papa udah ga ada Pak," lirih Sasa.


"Maaf ya, apa meninggalnya bersamaan?" tanya Fergi.


"Nggak, Papa meninggal pas aku TK, kalau ibu...."


"Ibu kamu baru meninggal?" tanya Pak Fergi.


"Udah 4 tahun lalu, dibunuh!" Sasa sedikit menahan tangis dan emosi.


"Pembunuhnya udah ke tangkep? Dibunuh dimana?" tanya Fergi.


Zean yang menyadari ketidaknyamanan Sasa itu kemudian langsung mengalihkan topik.


"Udahlah Pi, makan dulu." Ujar Zean menaruh piring ke depan Sasa.


"Oh iya, sampe lupa, pokoknya kalau perlu bantuan apa aja kabarin ke Zean." Sembari tersenyum ke Sasa.


"Makan Sa, ambil yang banyak, ini Zean yang masak." Ujar Pak Fergi.


"Makasi Pak, bener?" tanya Sasa semabari mengambil nasi.


"Zean itu banyak pinternya loh," sembari mengambil nasi.


"Titisan rektor," celetuk Zean.


"Dia ini pinter masak, pinter ngaji, pinter nge hack juga." Ujar Pak Fergi yang membuat Sasa seketika menatap Zean.


"Nge-hack?" tanya Sasa memastikan.


"Udahlah, makan dulu Sa, cobain." Sahut Zean.


"Iya, nge-hack data apa aja dia bisa, ini istagram kampus aja ya..."


"Zean yang bikin keamanannya, kamu emang ga tau kalau Zean ini freelance hacker data?" tanya Fergi.


"... baru tau, Pak." Ujar Sasa.


"Sasa itu selalu pake earphone Pa, jadi suka ga nyimak orang ngobrol!" sindir Zean yang membuat Sasa terkekeh.


"Bukan ga nyimak, tapi males denger aja." Jawab Sasa.


"Ini dia ke sini juga buat...." ujar Zean.


"Buat dateng karena di undang, Pak." Celetuk Sasa.


Fergi nampak terkekeh dan melahap makanannya sembari sesekali bercengkrama.


Sementara, Zean nampak senang dengan kehadiran Sasa di sini.


***


Selesai makan, Sasa kemudian berjalan ke ruang tamu sembari menunggu Zean yang ingin mengambil sesuatu.


Mata Sasa kembali menatap foto keluarga itu. Tapi, kenapa tidak ada wanita di sini? Hanya Zean dan Pak Fergi.


"Yang di sebelah kanan itu, alm. Dita, ibunya Zean," jelas Pak Fergi yang tiba-tiba ada dibelakang Sasa.


Sasa seketika melihat ke belakang dan merasa canggung.


"... meninggal karena apa, Pak?" tanya Sasa sembari melihat kembali ke foto itu.


"Serangan jantung," sahut Fergi.


"..."


"Zean belum cerita ke kamu kalau ibunya udah ga ada?" tanya Fergi.


Sasa menggeleng dan melihat ke arah Fergi.


"Saya cuma tahu dia anak yang ceria," ujar Sasa.


"Sebenarnya begitu," lirih Fergi.


"Kenapa Pak?" tanya Sasa bingung.


"Dia ga pernah seceria ini sejak ibunya meninggal,"


"Sekitar 6 tahun lalu,"


Sasa mengiyakan sebagai tanda menyimak percakapan.


"Dan dia juga baru kali ini bawa cewek selain ibunya ke rumah ini," jelas Fergi tersenyum kecil.


Sasa tersipu malu dan mengalihkan pandangannya.


"Zean itu sangat dekat sama Ibunya, sayang sekali, tapi... takdir soal maut emang ga bisa dielakkan," jelas Fergi dengan raut sedih.


Sasa mengangguk dan bersimpati atas ucapan Fergi. Obrolan mereka harus terhenti saat Zean turun ke bawah sembari mengenakan jaket.


"Pi, aku bawa mobil." Ujar Zean mengode Sasa agar pamit.


"Nah, gitu dong... masa bawa cewek dingin-dingin malem gini," celetuk Fergi sembari membalas salaman dari Zean.


"Makasi ya Pak, saya pamit." Sasa bersalaman.


"Iya, jangan bosen-bosen ya." Ujar Fergi membalas salam dari Sasa.


Sasa mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Zean.


"Daaa Pi..." sorak Zean pergi ke luar rumah.