Puzzles

Puzzles
Episode 52 - Pergi ke KUA



Pagi ini, Sasa bangun sedikit siang karena Bara tidak membangunkannya. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.


"Huaammm!!"


"Bara ga kuliah apa?" tanya Sasa.


Sasa menggeliat, ia lalu bangun dengan rambut yang masih acak-acakan. "Baraa?!!" sorak Sasa sembari berjalan ke kamar Bara.


"Barr.. Lo ga kuliah?" tanya Sasa sembari mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban. "Baraa... Lo masih marah ya sama gua?" tanya Sasa.


Sasa lalu memutuskan untuk membuka pintu. "Bar..." Sasa masuk ke kamar yang tidak dikunci itu, kosong.


Tidak ada Bara di sana. Sasa lalu berjalan ke ruang tamu, kosong juga. "Baraa... Lo dimana sih?"


Sasa kemudian berjalan ke ruang makan. Tidak ada Bara juga, bahkan piring nampak masih bersih semua. Tidak biasanya Bara pergi tanpa sarapan.


"Atau dia udah ke kampus duluan ya?" tanya Sasa.


Sasa lalu mencoba menelfon Bara. Beberapa kali ia menelfon, tetap tidak ada jawaban. Di sisi lain, Bara yang ditelfon nampak sedang fokus menyimak pelajaran, dan ponselnya di silent.


"Ga diangkat," ujar Sasa.


Sasa lalu memutuskan untuk segera mandi dan kembali mengenakan baju yang ia pakai kemarin. Ia harus segera pergi ke alamat yang Zean tunjukkan itu.


...----------------...


Zean yang sudah ada di gerbang kanan, nampak masih menunggu kedatangan Larisa. Ia sesekali menelfon gadis itu, namun tetap tidak tersambung.


"Sasa udah berangkat belum ya?" tanya Zean.


Zean lalu memutuskan untuk menghubungi Sasa. Sasa yang baru keluar kamar mandi itu, lalu melihat ponsel yang berdering.


(Dering Telfon)


Sasa berjalan ke dekat kasur dan merogoh ponsel itu.


"Halo, Ze?"


'Lo udah berangkat ke KUA?'


"Belom, baru siap mandi."


'Oh, buruan nanti jam 12 udah tutup, lokasinya juga lumayan makan waktu,'


"Iya, btw lo ada liat Bara ga di kampus?"


'Bara, belom sih, paling lagi di kelas.'


"Oh yaudah, gua siap-siap dulu."


'Kenapa lo nanya Bara?'


"Gapapa, udah dulu ya!" Sasa lalu menutup panggilan itu.


Zean yang ada di gerbang kanan hanya bisa bertanya-tanya. "Bukannya dia serumah ama Bara ya? Atau lagi marahan?"


Sasa yang sudah selesai mengenakan baju itu, lalu mengambil semua perlengkapannya. Ia lalu berjalan ke ruang tamu. Matanya melirik sekeliling, tidak ada kertas di sini.


Sasa lalu berjalan ke kamar Bara. Ia mengambil kertas dan pulpen. Lalu, menulis sesuatu dan meninggalkannya di atas meja belajar Bara.


Sasa menarik nafas dalam. Ia lalu keluar dari rumah Bara. Sasa memutuskan berjalan ke luar untuk sampai di halte bus.


Matanya sesekali menatap rumah Bara. 'Kenapa rasanya ada yang hilang ya?'


Sasa berjalan ke halte bus dan naik ke bus yang sudah datang. Sudah lama sekali ia tidak ada di fase ini. Sasa melirik kursi nomor 6, sudah ada isinya.


Apa karena sudah terlalu lama ia tidak naik bus ini?


Sasa lalu melirik kursi lain yang kosong. Ia lalu duduk dan memasang earphonenya. 'Kayaknya teman terbaik gua emang musik,'


Sudah lama sekali Sasa vakum dari earphonenya. Ia bahkan lebih banyak berbicara dengan orang lain. Namun, perilaku Bara kali ini seolah menjadi pukulan baru bagi Sasa.


'Lebih baik gua sendiri kayak sebelumnya,'


Bara yang di kelas nampak fokus dengan pelajaran. Ia benar-benar serius mengetik permohonan magangnya. Bahkan, ia tak melihat ponsel sama sekali.


...----------------...


Sasa turun dari bus itu setelah membayar. Ia tetap mengenakan earphonenya. Ia lalu berjalan sedikit mencari lokasi KUA yang berada di Tangerang Selatan itu.


"Katanya di Pamulang," Sasa berjalan ke beberapa kerumunan untuk bertanya.


"Permisi, Bu... KUA Pamulang dimana ya?" tanya Sasa.


"Oh, itu di samping simpang jalan yang di sana, dekat kok."


"Oh, di balik warung yang di simpang jalan itu ya Bu?"


"Iya, dekat kok bisa jalan kaki,"


"Oke, makasi Buk..." Sasa kemudian berjalan ke arah simpang jalan itu.


"Eh, tunggu Pak..." ujar Sasa.


Pria itu menoleh ke Sasa. "Kenapa neng?" tanya pria itu.


"Yah, KUA nya udah tutup ya, Pak?" tanya Sasa.


"Udah, bisa nikahnya besok neng, kalau sekarang ga!" tegas pria itu.


Sasa nampak kecewa. "Oh, saya bukan mau nikah, Pak..."


"Terus apa?" tanya pria itu.


Sasa menjelaskan maksud kedatangannya ke sini. Ia memberitahu beberapa hal soal Deina. Pria yang berprofesi sebagai penjaga KUA itu lalu mengajak Sasa ke rumah seseorang.


Sasa mengikuti langkah pria itu hingga tiba di sebuah rumah kayu yang sudah mulai tua. "Ini, rumah Abah Eji, silahkan masuk..." ujar pria itu.


Sasa menaiki anak tangga dari rumah itu. "Permisi, Bahh..." ujar pria itu.


"Abah, ini teh ada yang nyari..." ujarnya lagi.


Selang beberapa menit, seseorang datang dari belakang mereka. "Parjo, kamu teh ngapain di situ?" ujar Abah Eji.


Abah Eji yang berpenampilan muslim itu lalu menaiki anak tangga. "Ini, ada gadis yang mau ketemu Abah,"


Abah pun melihat ke Sasa. "Geulis pisan, mau urus surat nikah?" tanya Abah dengan lembut.


Sasa tersenyum dan menggeleng. "Bukan, Bah.. Saya––"


"Lebih baik ngobrol di dalem wae ya, biar sedep di liat."


"Iya, mangga..."


Sasa kemudian masuk ke rumah itu. "Mangga duduk, sebentar dibuatkan minum dulu," ujar Abah hendak berdiri.


"Ga usah Bah, saya ke sini cuma sebentar," ujar Sasa.


Abah pun kembali duduk. Di sebelahnya masih ada Parjo si penjaga KUA. "Ini teh, ponakannya Deina Bah.." ujar Parjo.


Abah seketika tersentak. "Bener? Pantes geulis pisan..." ujar Abah.


Sasa tersenyum. "Saya dateng ke sini ingin menanyakan soal pernikahan Tante Deina, Bah..." ujar Sasa.


"Ooo, pernikahan dia sama bule waktu itu?" tanya Abah.


Sasa mencoba berfikir. "Saya sebenarnya belum tau soal pernikahan ini, dan saya ke sini untuk dengar langsung dari Abah soal Deina,"


"Maaf, saya tidak bisa membeberkan data pribadi setiap orang yang nikah di sini,"


"Jujur, saya butuh informasi soal pernikahan ini sebagai kado peralihan hak waris ke Deina dan anaknya," ujar Sasa.


Mendengar itu Abah seketika luluh, terlebih Sasa adalah ponakan Deina. "Saya ingin membagi persen harta saya ke Deina dan anaknya, Bah.. Tapi, saya belum ada surat nikah resmi mereka," jawab Sasa.


Abah kemudian berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. "Tunggu ya neng, Abah teh baik orangnya," sahut Parjo.


Abah kemudian kembali dan menyerahkan beberapa lembar dokumen. "Deina dan bule itu cuma menikah secara agama," ungkap Abah.


"Itu sebabnya, negara tidak mencatatnya secara resmi," kata Abah lagi.


Sasa tersentak, ia menatap Abah penuh pertanyaan. "Kenapa mereka tidak menikah secara resmi saja, Bah?"


"Saya tidak bisa cerita banyak ke kamu, intinya..." lirih Abah.


"Mereka waktu itu menikah... Karena satu hal," ujar Abah lagi.


"Satu hal? Apa?" tanya Sasa penasaran.


Abah menyerahkan dokumen itu ke dekat Sasa. "Saya tidak punya hak memberitahu hal itu, ini beberapa dokumen yang bisa kamu bawa."


"Saya ga ngerti, Bah... Mereka menikah karena kejadian apa?" tanya Sasa.


"Silahkan bawa dokumennya, saya sudah ada salinan di sini," ujar Abah tak menjawab ucapan Sasa.


Sasa yang penuh dengan tanda tanya itu, lalu mengambil berkas itu. "Apa mereka menikah karena Tante Deina––" Sasa menatap Abah dengan raut cemas.


"Nanti kamu pasti tahu sendiri, masih ada lagi yang mau dibicarakan?" tanya Abah.


Sasa menggeleng. "Saya bawa berkas ini, terima kasih Bah, Pak..." sembari tersenyum dan pamit ke mereka berdua.


"Hati-hati, neng..."


Sasa berlalu keluar rumah dengan membawa berkas itu. Baru saja ia keluar, ponselnya berdering. Sasa mengapit berkas itu di ketiak dan menjawab telfon.


"Halo, kenapa Bu?" tanya Sasa.


"Sekarang banget?" tanya Sasa.


"Oh, oke... Tapi, saya akan sedikit lama sampai ke sana."


"Baik," ujar Sasa sembari mengakhiri telfon.


Sasa menatap lurus ke depan. Ada apa lagi ya? Tapi, di sisi lain, ia senang karena sudah mendapatkan bukti pernikahan Deina.