Puzzles

Puzzles
Episode 68 - Berkelana di Mall



Bara yang sudah tau Sasa tidak di rumah itu, lalu memutuskan untuk bertanya ke satpam. Ia keluar dari kamarnya dan turun ke pos satpam.


"Pak Diki," panggil Bara seraya berjalan mendekat.


"Eh, Bara." Diki juga memperdekat jaraknya dengan menghampiri Bara.


"Bapak tau Sasa kemana ga hari ini?" tanya Bara.


"Oh, tadi Mysa nitip pesan. Katanya, Bara jam 7 nanti ditunggu di Taman Panda."


"Taman Panda? Terus dia naik apa ke sana?" tanya Bara.


"Tadi sih naik taxi online, cuman saya kurang tau juga." Diki tersenyum sebagai tanda selesai memberi tahu.


"Oh, oke... Makasi ya, Pak..." Bara lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Ia membuka pintu dan melihat jam yang tertera di sana. Sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. "Gua mau siap-siap dulu, deh."


Ia lalu melangkah ke kamarnya untuk segera berbenah. Ia tidak mau Sasa menunggunya terlalu lama kali ini.


...----------------...


"Terima kasih, kak...." ujar pemilik toko ice yang sedang menyerahkan pesanan Sasa.


Sasa yang sudah membayar itu mengambil ice yang diserahkan kepadanya. Ia lalu mencari tempat duduk agar dapat meletakkan bag yang tadi ia genggam.


"Huh,..." Sasa duduk dan mulai melahap ice yang ia pesan.


Ia rasanya tidak percaya pada keadaan saat ini. 'Ternyata gua udah berjalan sejauh ini,'


'Meskipun belum ada moment pasti soal pelaku pembunuhan Mama.'


Sasa menatap kosong seraya memakan ice. 'Besok, besok gua udah mau terbang ke Bali aja, gimana cara gua sampein semua bukti ke Deina ya?'


Sasa yang mulai menyadari satu hal, lalu merogoh ponselnya untuk menelfon seseorang. "Halo, Bu?"


'Mysa... Ada apa?'


"Saya mau tanya soal surat kedua yang harus diberikan ke Deina, Bu... "


'Kamu udah berniat untuk ngasihin itu ke Deina?'


"Nanti saya jawab ya, Bu... Sebelumnya, surat itu udah dikirim ke Bali atau gimana ya?" tanya Sasa.


'Oh, suratnya ada di ruangan Ibu, kamu bisa minta tolong ke sekretaris Ibu kalo mau ambil.'


"Oke Bu, tolong bilang ke sekretaris untuk antar suratnya ke rumah saya." Sasa lalu menutup telfon itu setelah mengucapkan terima kasih.


Sasa meletakkan kembali ponselnya di dalam tas. Ia lalu melahap ice itu sampai habis. Setelah itu, ia berjalan menyusuri mall.


Saat sedang asik berjalan, matanya tertuju pada salah satu toko elektronik yang menjual pernak-pernik ponsel.


"Silahkan masuk kak, dilihat dulu..."


Sasa tersenyum dan masuk ke dalam toko itu. Ia lalu melihat sekeliling dan menemukan beberapa earphone yang dipajang.


Tangannya menyentuh earphone berwarna abu-abu, mirip sekali dengan miliknya. "Mba..." ujar Sasa kepada seorang penjaga.


"Iya, ada yang bisa dibantu kak?"


"Ini ada yang warna putih ga ya?" tanya Sasa.


"Oh, itu stok terakhir kak, cuma ada warna grey."


Sasa sedikit memanyunkan bibirnya. "Kakak mau lihat warna putih dengan model yang lain?"


"Saya mau yang ini aja, tapi bisa di custom ga ya?" tanya Sasa.


"Kalau untuk custom beda lagi kak, ada di toko sebelah kanan, jarak dua ruko dari sini."


"Ohh, jadi saya bayar dulu?" tanya Sasa lagi.


"Iya, Kak... Setelah itu, kakak bisa ke mitra kami di sebelah kanan untuk mengcustom." Wanita itu lalu mengajak Sasa ke kasir.


"Oh, oke... Saya bayar dulu." Sasa mengikuti langkah wanita itu.


Ia lalu melihat total belanja dan segera membayarnya. Sudah lama sekali ia tidak mendengarkan suara lain selain masalah.


Sasa mengangguk dan segera melangkah menuju toko elektronik custom tersebut. Ia masuk dan bertanya kepada pemilik toko.


"Saya mau custom nama di earphone ini bisa?" tanya Sasa.


"Bisa, ini list harganya..." ujar pemilik toko.


"Saya mau yang ini, tambah emas untuk menambah nuansa elegant di inisialnya." Sasa menunjuk salah satu custom.


"Bisa, proses pengerjaannya kurang lebih 2 jam, mau ditunggu atau jemput besok?"


"Lumayan lama ya," ujar Sasa seraya melirik jam di tangannya.


Sekarang sudah menunjukkan pukul 17.45 WIB. Ia punya janji


dengan Bara pukul 7 nanti.


"Mmm, bisa diantar ke alamat rumah saya aja ga? Saya akan bayar biaya kirimnya."


"Mmm, sebenarnya kami belum pernah melakukan pengiriman custom," jawab orang itu.


"Tenang aja, saya akan bayar di muka." Sasa mencoba meyakinkan.


"Silahkan ditulis alamatnya," ujar orang itu.


Sasa merasa lega dan segera menulis alamat rumahnya. "Saya harap barangnya bisa langsung sampai malam ini, saya perlu besok soalnya."


"Kami segerakan, selagi tidak ada kendala di luar kuasa kami, semua akan cepat."


Sasa mengambil pulpen yang tersedia dan membuat inisial yang akan di custom.


"Silahkan tinggalkan nomor telfon juga, biar lebih gampang dihubungi."


Sasa menulis nomornya. Ia lalu memastikan katalog yang ia pilih dan menyerahkan kembali pulpen itu. "Ditunggu ya, kami akan segera proses." Sasa mengangguk dan berlalu pergi.


Ia melirik jam ditangannya yang sudah pukul 18.02 WIB. Hari sudah mulai gelap. Ia segera keluar mall untuk menuju ke Taman Panda.


Jarak taman itu dengan mall tidak terlalu jauh. Sasa hanya perlu naik bus dengan satu kali pemberhentian. Untuk mempercepat sampai, Sasa segera berjalan menuju halte bus.


Beberapa menit menunggu, ia lalu mendapati bus yang akan membawanya ke tujuan awal. Ia segera naik dan duduk di kursi no. 6 seperti biasa.


...----------------...


Ghare yang tidak jadi betemu Deina itu kini hanya diam di dalam kamar. Ia hanya bisa menatap hamparan langit luas dari ketinggian hotel.


"Gua ga bisa cuma diam di kamar, gua harus temuin nyokap secepatnya, waktu dari Papi terus berjalan."


Ghare menatap kosong dengan pikiran yang tak karuan. "Aaaaarghh!!!"


"Gimana caranya gua bisa dapetin alamat rumah Deina, gua ga mungkin tanya Papi juga."


Ghare mencoba memikirkan cara lain. "Atau pakai sistem IT aja kali ya, biar gua bisa tau secara instan."


"Tapi, siapa yang bisa bantu gua?" tanya Ghare dengan bingung. Ia lalu berbalik badan dan mengambil ponsel yang terletak di meja.


Ghare mencari kontak seseorang yang mungkin bisa menyelesaikan masalahnya kali ini. "Afff--aff-afann," ujar Ghare menekan nomor yang tertera.


(Terhubung)


'Kenapa Gha?'


"Fan, gua butuh bantuan lo soal it," jelas Ghare.


'IT? Gua kan anak pertanian Gha, apa yang mau diretas? Ngawur lo!'


"Iya, gua juga tau, tapi kan pacar lo si Fani anak IT, lo juga sering kan minta bantuan IT ke Fani?" sindir Ghare.


'Sok tau lo! Lagian si Fani sekarang itu lagi persiapan tes untuk buat robot ke Singapura, ga bisa di ganggu dia!'


Ghare mendengus. "Itu kan kalo ke gua, kalau lo yang minta lagi UAS juga dia bakal luangin waktu!" ketus Ghare.


'Bisa aja lo!! Jadi, mau dibantu apa?' tanya Affan.


Ghare mencoba menjelaskan maksud ia menelfon Affan. Ada beberapa hal yang Ghare minta di telfon ini. Intinya, alamat Deina harus segera ada di kepalanya.