
Mobil yang ditumpangi Sasa, kini tiba di area hotel. Sepanjang area, terdapat banyak sekali karangan bunga sebagai tanda ucapan selamat.
Mobil itu berhenti dan beberapa orang berkerumun untuk menyambut pintu yang terbuka. Sasa yang baru kali ini berada di posisi penting, rasanya sangat grogi.
"Silahkan, Nona." Supir itu mengode Sasa untuk segera turun.
Sasa mempersiapkan dirinya, ia menarik nafas dan mengambil tas berwarna pink yang ada di sebelahnya. Kemudian, ia turun tepat di atas red carpet.
Nampak beberapa orang di depan pintu mobil, dan hampir seluruh tamu berdiri di sepanjang red carpet. Sasa menelan ludahnya.
"Silahkan, Nona. Mari, saya iringi." Salah seorang berjalan tepat di belakang Sasa.
Sasa kemudian mengikuti red carpet itu dengan elegan. Ia berjalan sembari tersenyum kepada para tamu yang tengah memotretnya.
Sasa berjalan terus hingga sampai di podium aula. Di sana, sudah ada mic dan kue yang disediakan.
"Mysa... You look so prety," ungkap Bila dengan kagum sembari mencium pipi kiri dan kanan Sasa.
Kali ini, Sasa seolah menjadi orang yang berbeda. Ia benar-benar menempatkan dirinya sebagai CEO.
Sasa tersenyum dan langsung memegang mic yang ada di sebelahnya. Ia berdiri di depan banyak sekali collega.
"Hello, i'm Sasa Sasilia," ungkap Sasa.
Hening, semuanya menyimak ucapan Sasa. "Saya adalah anak tunggal dari alm. Ibu Zena Wijaya,"
"Sebelum peresmian, ada beberapa hal yang akan saya sampaikan," Sasa menatap dengan penuh percaya diri.
"Zena Wijaya adalah orang yang benar-benar tangguh, dia berhasil merintis Gloubel yang dulu hanya ada di rate 3," jelas Sasa.
Semua orang nampak mengangguk paham. "Dia berjuang sendiri, hingga akhirnya nusantara tahu keberadaan dan kualitas Gloubel."
"Hal kedua yang akan saya sampaikan adalah terima kasih saya kepada collega semua yang sudah hadir di sini," jelas Sasa.
"Mulai sekarang, apapun yang berkaitan dengan hubungan kerja bisa dibicarakan dengan saya," ungkap Sasa.
Sasa sedikit menjauh dari mic itu. "Untuk mempercepat acara, dengan ini saya mengambil alih pusat kekuasaan Gloubel."
(Suara tepukan tangan)
Jrengggg!!!!!
Semua orang bertepuk, Bila nampak sangat sumringah. "Sekian, selanjutnya akan diarahkan oleh tim saya."
Sasa turun dari podium, ia berjalan menuju Bila. "Good job! Ayo ikut ke aula." Bila merangkul Sasa dan berjalan menuju aula.
"Hadirin, silahkan menikmati hidangan yang ada di aula, dan untuk perkenalan pribadi bisa temui CEO baru kita," ungkap MC tersebut.
Para tamu bubar menuju aula, mereka berjalan mencari hidangan yang sudah ada. "Silahkan duduk," ungkap Bila sembari mengajak Sasa duduk di meja terdepan.
Di sana sudah ada makanan yang dihidangkan. "Silahkan dimakan, Mysa..." ujar Bila yang ikut duduk.
Sasa mengangguk, ia menikmati acara ini. Selang beberapa menit, seseorang berwajah bule dan rekannya nampak menghampiri Sasa.
"Tuan Frans, sit down." Bila berdiri dan memberi hormat, ia lalu mempersilahkan mereka berdua duduk.
Sasa nampak bingung. "Hello, Sasa... I'm Frans." Sasa membalas uluran tangan dari bule itu.
"Sasa Sasilia," sahut Sasa.
"Saya Bima, penerjemah dari tuan Frans."
Sasa tersenyum kecil. "Silahkan, dinikmati dulu hidangannya," ungkap Bila.
Penerjemah itu mencoba bicara kepada Frans. "Oh, Thanks." Frans tersenyum ke arah Bila.
Bila melihat kebingungan di wajah Sasa. "Mysa, ini adalah salah satu collega yang akan ibu kunjungi di Inggris, waktu itu ibu pernah bilang kan."
Sasa mencoba mengingat. "Oh, iya..."
"Dan Bima selalu ikut beliau sebagai penerjemah, kami bertiga akan sama-sama pergi ke Inggris untuk melihat lokasi pembangunan Hotel Gloubel di sana."
Sasa mengangguk, ternyata ini adalah salah satu jalan lebar untuk Gloubel sampai ke Internasional.
"Tuan Frans ingin memberitahu kalau lokasi hotel yang sempat dibicarakan oleh Ibu Zena beberapa tahun lalu sudah ada, jadi apa bisa keberangkatan itu dipercepat?" tanya Bima.
Bila melirik ke Sasa. "Mengenai itu, saya akan tanya CEO baru kita dulu,"
"Sebelumnya, saya baru tahu kalau Mama memberikan mandat agar pembangunan Gloubel dicabangkan ke Inggris," jawab Sasa.
"Iya Mysa, semuanya tertunda karena sebelum keberangkatan kami, Ibu Zena meninggal." Bila menatap Sasa dengan senyum miris.
"Tapi, saya percaya dengan kemampuan kamu pasti bisa menghandle kembali rencana ini," tambah Bima.
Sasa menatap mereka dengan datar. "Bagaimana Mysa?" tanya Bila.
"Boleh, kalau hal itu akan bermanfaat untuk perkembangan Gloubel, silahkan."
"Frans bilang, ini adalah keputusan baik karena sudah lama sekali tertunda, nanti kita akan atur tiket keberangkatan."
Mereka semua tersenyum. " Cheerss!!!"
Sasa yang nampak bingung hanya bisa mengikuti alur dari acara. Ia sesekali tersenyum kepada beberapa collega yang meliriknya.
...----------------...
Di depan rumah Sasa nampak beberapa mobil sedang terparkir. Ada banyak bel yang berbunyi. Bara yang sedang tidur itu, tidak mendengar apapun.
Diki melihat dari balik gerbang. "Wah, bener kata Mysa.... Ini ngapain ya?" tanya Diki.
(Suara Bel dan Klakson)
Sesuai perintah Sasa, Diki enggan membuka gerbang. Ia memilih menutup telinga dengan kebisingan ini.
Sementara di sisi hotel Gloubel, nampak hal yang sama terjadi. Namun para penjaga bisa mengatasi hal ini dengan baik.
"Kenapa kami dipecat sepihak??!!" bentak seseorang ke satpam itu.
"..." Satpam itu hanya diam.
"Mana CEO baru, saya mau ketemu!" bentak yang lain.
"Bisa-bisanya mereka buat acara peresmian setelah pemecatan!"
Mereka seperti orang yang sedang berdemo di luar. Hal ini sudah menjadi pertimbangan Bila dan Sasa. Lebih baik menghadang demo karena sudah terjadi, daripada menghadang demo karena belum terjadi.
"Saya minta semuanya pergi, atau akan saya laporkan ke pihak yang berwenang!" ketus Satpam itu.
"Tapi, kenapa kami dipecat?"
"Iya, kenapa?"
"Sekali lagi, saya minta semuanya menjauhi lokasi hotel!" tegas Satpam itu.
Mereka nampak sangat kecewa dan marah. Tapi, satpam tetap memaksa semua orang pergi agar tidak ada yang jebol ke dalam.
Sasa yang masih ada di dalam ruangan, mencoba berjalan ke beberapa titik hotel. Ia nampak memperhatikan setiap detail yang diusulkan Ibunya.
"Selamat atas pelantikannya, sukses Sasa!" Seseorang menghampiri Sasa yang tengah berdiri.
"Terima kasih, sukses kembali." Sasa tersenyum.
Ia kembali melihat lihat sekitar. Bila lalu datang menghampirinya. "Mysa.. Lihat ini.." Bila menunjukkan rekaman keadaan di luar gerbang.
Sasa mengernyitkan dahinya. "Saya sudah duga ini akan terjadi, dan hal ini juga pasti akan terjadi di rumah!"
Bila menatap Sasa dengan raut cemas. "Apa Mysa mau kami mengirim orang tambahan untuk berjaga di rumah?"
"Tidak usah, saya sudah kasih tahu satpam untuk ga bukain gerbang, dan sampai sekarang belum ada laporan dari satpam rumah."
"Secepatnya mereka akan di handle agar meninggalkan hotel." Sasa melirik Bila dengan tidak yakin.
"Apa yang bisa membuat mereka pergi?" tanya Sasa.
"Konferensi Pers." Bila menatap Sasa dengan sangat yakin.
Sasa bergidik. "Apa keadaannya serumit itu?" tanya Sasa.
"Tidak juga, kita bisa menyuruh semuanya pergi hari ini, tapi mereka pasti akan membawa berita ini ke media," jawab Bila.
"Sekarang kan belum ada berita," ungkap Sasa.
"Nanti, pasti ada." Bila menatap Sasa dengan yakin.
"Buk, saya tuh heran ya, kalau ibu udah tau keadaannya akan begini, kenapa ibu tetap jalani ini?" tanya Sasa.
"Saya sudah kerja belasan tahun dengan Ibu Zena, gejolak ini adalah hal kecil bagi kami. Dan resiko ini adalah yang terbaik."
"Saya kan sudah pernah tanya, kenapa ga peresmian du––"
"Saya sudah bilang ini yang terbaik Mysa!" tegas Bila.
Sasa nampak sedikit emosi dengan keadaan ini. "Saya minta ketika berita keluar, kamu melakukan konferensi pers!" tegas Bila lagi.
"Saya ga bisa tampil langsung di depan tv atau media, itu akan mempersulit saya!" bantah Sasa.
"Saya yang akan siapkan web untuk konferensinya, Mysa cuma perlu klarifikasi soal Gloubel dari rumah."
Sasa mengernyitkan dahinya. "Ini cara terbaik, untuk nama Gloubel sendiri." Bila menatap Sasa dengan serius.
Sasa mencoba berfikir. "Kabari saja kapan saya harus kirim vidionya," jawab Sasa.
Bila mengangguk, ia kemudian mengajak Sasa untuk acara penutupan ke aula.