Puzzles

Puzzles
Episode 11 - Fakta Soal Zean



Mencari sendiri tokoh utama dibalik pembunuh ibunya adalah hal yang sangat rumit. Namun, satu per satu celah akhirnya mulai terbuka saat Sasa menemukan mobil yang biasa terparkir di rumahnya ada di halaman kampus.


Sasa berjalan menyusuri koridor kampus hendak menuju ke gedung B1, namun matanya seketika dibuat fokus oleh sedan hitam yang berplat sama dengan yang ada di rumahnya.


"Mobil itu? kenapa ada di sini?" tanya Sasa sembari melihatnya dari jauh.


"Plat nya sama, apa si penguntit itu ada di sini ya?" tanya Sasa pada dirinya sendiri.


Sasa berniat menghampiri mobil itu, namun baru saja hendak jalan, tangan Zean seketika menariknya untuk ke kelas.


"Ehh, ngapain lo bengong di sini, kelas yuk!!" ajak Zean sembari menarik Sasa.


"Mmm, gapapa, gua...." lirih Sasa.


Sasa terpaksa mengikuti langkah kaki Zean dengan mata masih tertuju ke mobil itu.


***


(Di kelas)


Pikiran Sasa hanya tertuju pada mobil sedan hitam itu.


Mobil itu memang sudah beberapa hari tidak menguntit Sasa lagi, dan bertepatan dengan hari ini mobil itu ada di kampus.


"Heiii!!! ngelamun terus lo!!" sorak Zean sembari duduk di depan Sasa.


"...." Sasa hanya diam dan memilih memasang earphonenya.


"Hei, nanti kuping lo jadi sakit kalo pake earphone terus." Zean melepaskan earphone itu dari telinga Sasa dan mengambilnya.


"Untungnya buat lo apa sih ngambil earphone gua?" tanya Sasa sinis.


"Biar kuping lo ga budeg aja," ujar Zean kembali ke kursinya.


"Zee, balikin ga!!" bentak Sasa sembari berjalan ke arah Zean.


"Gamau!" Zean lalu berlari sekeliling kelas.


"Zee, gua ga becanda ya!" bentak Sasa mengejar Zean..


Zean yang berlarian sembari melihat Sasa itu tanpa sengaja menabrak dosen yang baru saja masuk ke kelas.


Brugg!!!


Buku dan laptop dosen itu jatuh. Sasa yang masih mengejar itu seketika berhenti dengan sorot mata seisi kelas menghadap ke arahnya.


Degup jantung mereka berdua seketika tak karuan.


"Maa.. maaf buk.." Ujar Zean sembari mengambil laptop itu.


"Kalian berdua ini ngapain?!! Laptop saya jadi pecah kan," ketus Buk Dosen yang emosi itu.


"Maaf Buk, saya..." ujar Sasa.


Dosen itu lalu mengambil laptopnya yang ada di tangan Zean. Melihat bagian lcd kanan laptop telah pecah.


"Saya yang salah buk, saya akan ganti rugi semuanya Buk," tegas Zean.


"Ini data saya di dalem semua, laptopnya harus hidup lagi kalau tidak nilai kalian berdua jadi taruhan!" bentak dosen itu.


"Biar saya aja buk yang ganti," ujar Sasa.


"Begini saja, sekarang kalian berdua ikut saya ke ruang rektor." Sembari berjalan keluar kelas.


Zean menatap ke arah Sasa dan merasa bersalah.


"Sorry ya Sa," ujar Zean.


"Ayo ke ruang rektor!" ajak Sasa.


Sasa lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.


"Sa, ayo bareng!" sorak Zean.


Zean yang mengira Sasa akan marah itu malah terkejut saat tahu Sasa tak cemas sedikit pun.


***


(Ruang Rektor)


Sasa, Zean dan Bu Airi (dosen tadi), menemui dan duduk di depan bapak Fergi Pratama.


Sasa yang baru kuliah itu, baru sadar kalau nama rektornya adalah Fergi Pratama.


Zean nampak santai sekali duduk di depan rektor itu.


"Begini Pak Fergi, mereka menjatuhkan laptop saya saat masuk kelas," sembari menyerahkan laptop.


"..." Fergi hanya diam di hadapan dosen baru itu.


"Semua data pindah mengajar saya ada di sini, jadi bagaimana Pak?" tanya Bu Airi.


"Benar kalian menjatuhkan laptop bu Airi?" tanya Fergi.


Sasa yang tidak peduli hanya diam. Sementara, Zean menatap dalam ke arah Fergi.


"Kampus itu tempatnya belajar, bukan pacaran!" ujar Fergi.


Seketika mata Sasa terbelalak dan langsung menyangkal.


"Nggak Pak, Zean ini sahabat saya di kampus." Ujar Sasa menyangkal.


Fergi seketika geleng kepala.


"Bu Airi ini baru mengajar satu bulan di sini, jadi dia belum mengenal betul perilaku mahasiswa di Grellya ini." Jelas Fergi.


"Jadi, kalian harus menjaga sikap agar bisa membantu Bu Airi beradaptasi,"


"Jangan kejar-kejaran di kelas," tegas Fergi.


"Saya minta maaf dan bersedia mengganti laptop itu Pak, atau biar saya yang bawa ke konter untuk perbaikan," jelas Sasa.


"Begini saja, bu Airi bisa mengajar lagi, biar saya yang mengurus ini." Jelas Fergi.


Airi pun berterima kasih dan meninggalkan mereka bertiga.


Sasa seketika terdiam dan heran kenapa tawarannya untuk membenarkan laptop malah tak diindahkan.


Kini, hanya ada Zean, Sasa dan Fergi di ruangan itu.


"Nanti biar Papi yang bayar ganti ruginya," ujar Fergi.


"Papi?" ujar Sasa.


"Kenapa? kamu ga tau kalau Zean ini putra tunggal saya?" tanya Fergi.


"Mmm.. hah.." ujar Sasa kaget.


"Pi, Zean kan udah bilang kalau di kampus jadi pak rektor aja," tegas Zean.


"Dikampus atau di rumah kan kamu tetap anak Papi." Jelas Fergi.


"Aku ga suka kalau banyak orang tau, Pi." Ujar Zean sembari mengusap rambutnya.


"Kan cuman pacar kamu doang yang tau, dia kan wajib tau." Ujar Fergi menatap ke Sasa.


Sasa hanya bisa diam menelan ludah.


"Yaudah, Zean ke kelas dulu." Ujar Zean mengajak Sasa pergi.


"Permisi Pak, terima kasih," ujar Sasa hendak pergi.


"Eh, bentar, nama kamu siapa?" tanya Fergi.


"Sasa Sasilia, Pak." Ujar Sasa.


"Saya undang kamu makan malem di rumah saya hari ini," ujar Fergi.


"Pi, Bi Mina kan lagi pulang kampung." Ujar Zean.


"Pokoknya dateng ya," ujar Fergi.


Sasa tersenyum tipis dan berlalu ke luar ruangan.


***


(Perjalanan menuju kantin)


Karena jam sudah menanggung, mereka memutuskan untuk ke kantin saja.


"Teh botol satu Buk," ujar Sasa.


"Dua buk, saya juga!" sorak Zean.


Sasa duduk di depan Zean yang tengah sibuk mencari sesuatu dalam tasnya.


"Kenapa lo ga bilang kalo bokap lo rektor di sini?!" tanya Sasa.


"Males! Ga ada gunanya juga bilang ke orang," jelas Zean.


"... Larisa tau?" tanya Sasa.


"Cuma lo doang mahasiswa yang tahu di kampus ini kalau pak fergi itu bokap gua,"


"tapi kalau dosen tau semua, kecuali ibu tadi, karena beliau baru satu bulan." Jelas Zean.


"Pantesan, nama belakang lu sama Pak Fergi sama." Celetuk Sasa.


Mereka lalu bercengkrama sembari meneguk teh botol yang sudah datang.


"Btw, sorry ya, lo jadi nyaris ganti laptop Bu Airi," ujar Zean.


"Santai, ini bagi gua bukan masalah," jelas Sasa.


"Bukan masalah? gua pikir lo marah." Ujar Zean.


"Gua di SMA hampir setiap minggu ketemu kepsek, ini mah bukan apa-apa."


"Pantes lo dingin dan misterius," celetuk Zean.


"...."


"Tapi, earphone lo tetap gua sita, kalau lo mau ambil di rumah gua jam 7 nanti." Ujar Zean.


"Ze, gua kayaknya ga bisa dateng deh, next time aja ya!"


"Ya, kalau lo mau earphonenya gua buang silahkan aja,"


"Buang aja, gua bisa beli lagi." Sasa menghabiskan teh botol itu dan berdiri.


"Yah, ayolah Sa, gua jemput!" ujar Zean merayu Sasa.


".... Ga bisa Zean!"


"Baru kali ini loh bokap ajak orang secara langsung ke rumah, ayolah." Bujuk Zean.


Sasa kemudian memikirkan ajakan itu dengan matang.


"Nanti gua kabarin," sembari berjalan ke kelas.


"Nah, gitu dong." Zean lalu berlari setelah membayar teh botol itu.


***


Sehabis jam kuliah, seperti biasa, mereka bertemu di gerbang kanan. Namun, tidak dengan Sasa, karena ia ingin melihat mobil sedan tadi.


"Sa, Larisa udah di gerbang kanan, ayo!" ajak Zean.


"Gua pulang duluan ya, bilangin ke Larisa." Ujar Sasa.


"Yah, kok gitu?"


"Iya lo aja yang ke gerbang kanan, buruan susul Larisa." Sasa mendorong Zean agar pergi.


"Tapi, nanti malam gua jemput lo ya, jam 7." Ujar Zean.


"Terserah lo!" sorak Sasa.


Setelah Zean pergi, Sasa kembali ke parkiran gedung B, ia kembali melihat ke sekeliling untuk melihat mobil sedan hitam tadi.


Matanya mencari sekeliling dan mendapati mobil itu tengah pergi menuju gerbang kampus.


Sasa berusaha mengejar mobil itu, namun yang ia lihat hanya plat nomer saja karena kaca mobil itu full hitam.


"Sial!!!" bentak Sasa pada dirinya sendiri.


Ia lalu diam di parkiran sembari mengatur nafas.


"Besok gua harus dateng lebih pagi," ujar Sasa.