
Sasa yang sudah selesai masak itu membawa sup ke meja makan. "Nih, cobain." Sasa menyodorkan sup daging ke hadapan Bara.
"Makasi, chef!" celetuk Bara.
Bara lalu menyuap sup daging itu. Ekspresinya seketika berubah. "Kenapa? ga enak ya?" tanya Sasa.
Bara mengernyitkan dahinya. Ia membuat Sasa merasa bahwa masakannya tidak enak. "Sorry ya kalau rasanya kurang, tapi biasanya gua––"
"Enak." Bara langsung tersenyum ke arah Sasa.
Sasa seketika tersentak. "Lo tuh ya!" ketus Sasa.
"Haha, tegang banget." Bara kembali menyuap sup daging itu.
Sasa bergidik malu di hadapan Bara. Bara lalu menyodorkan sesuap sup ke hadapan Sasa. "Nih, giliran lo cobain."
Sasa melihat tangan Bara yang akan menyuapi nya. "Biar gua sen––"
"Makan aja, biar gua yang suapin." Bara menyodorkan sesendok sup ke mulut Sasa.
Sasa memakan sup itu, ia kemudian berdehem untuk membuyarkan suasana. Rasanya ada yang lengkap ketika ia dan Bara menjadi akur.
"Lo beneran bisa masak ternyata," ujar Bara.
"Itu resep dari Mama gua, udah diajarin dari SMP." Sasa menatap Bara yang masih makan itu.
Bara menyuap sup itu beberapa kali. "Lo ga makan?" tanya Bara.
"Udah, tadi di kampus makan nasi goreng buatan chef Bara..."
Bara tertawa mendengar itu. "Iya deh, ga bosen kan?" tanya Bara.
Sasa tersenyum dengan lebar. "Enggak, malah nagih." Mendengar itu, Bara seperti merasa semakin dekat dengan Sasa.
Bara melahap sup itu hingga ludes. Ia lalu meletakkan piring itu ke dapur. "Lo mau ganti baju dulu ga?" tanya Bara berjalan mendekat ke meja makan.
"Boleh deh, mau mandi aja." Sasa lalu bangun dari duduknya.
"Lo bisa mandi di kamar tamu yang paling ujung, nanti gua bawain baju ke situ," sahut Bara sembari berjalan ke kamarnya untuk mengambil baju.
Sasa mengangguk. Ia lalu berjalan ke kamar yang sudah Bara kasih tau itu. Sasa perlahan membuka pintu kamar yang bertuliskan 'Kamar Tamu' itu.
Ia masuk dan mendapati kamar yang serba coklat. Nuansanya sangat elegan berteman dengan lampu berwarna oren keemasan. Sasa masuk dan menuju ke kamar mandi.
Ia lalu mencoba menghidupkan kran air.
Beberapa kali di coba tapi tidak hidup. "Ga hidup, kenapa ya?" tanya Sasa.
Sasa terus mencoba hingga suara Bara terdengar jelas di dekatnya. "Saaa..." ujar Bara.
Bara melirik ke toilet yang hening. Tidak ada suara air di sana. "Saaa.. ini bajunya gua taro sini," ujar Bara lagi.
Bara yang menyadari Sasa tak mendengarnya itu, lalu memilih mendekat ke pintu toilet. Sementara, Sasa di dalam nampak terus mencoba kran itu.
"Kenapa sih?" ujar Sasa dengan kesal.
Bara berdiri tepat di depan pintu. Sasa yang putus asa itu, bermaksud keluar untuk memberitahu Bara.
Krek!
Sasa terkejut melihat Bara yang sudah ada di depannya. "Astaga! Bara....." sorak Sasa sembari mengelus dada.
Sasa nampak tersentak, begitupun Bara. "Sorry, gua pikir lo kenapa-napa."
"Lo ngapain di sini?" tanya Sasa.
"Tuh, baju buat lo pake." Bara melirik ke baju di kasur.
"Toiletnya mati, gua mandinya besok aja." Sasa lalu berjalan keluar kamar.
"Ehh, sekarang aja! pake toilet gua." Bara kembali mengambil baju itu dan berlalu ke kamarnya.
"Toilet lo airnya emang hidup?" tanya Sasa.
"Hidup, toilet ini mungkin sengaja di matiin karena jarang ada tamu yang dateng ke sini," ujar Bara.
Sasa mengikuti langkah Bara berjalan menuju kamarnya. "Tuh, toiletnya di sebelah sana." Bara meletakkan baju itu di kasurnya.
"Oke, lo ga di sini sampai gua selesai mandi kan?" tanya Sasa menyudutkan matanya ke Bara.
Bara menggaruk tengkuknya. "Boleh sih, kalau lo mau ditemenin," ungkap Bara.
Mendengar itu, Sasa langsung mendorong Bara keluar. "Gausah! gua ga takut," ujar Sasa.
"Iyaa, iyaaa.... itu bajunya di kasur," ujar Bara yang sudah ada di luar kamar.
Sasa kemudian masuk dan mengunci pintu kamar Bara. Ia lalu berjalan ke dekat kasur, ada baju berwarna maroon dengan celana pendek di sana.
"Kok dia bisa ada baju cewek ya?" tanya Sasa sembari merogoh baju itu.
Setelah diangkat, nampak beberapa perlengkapan dalam wanita. "Lah, kenapa bisa ada ini juga?" tanya Sasa.
Sasa yang hendak bertanya lalu melihat bandrol baru dari ****** ***** itu. "Niat banget beli ginian," ujar Sasa sembari meletakkan kembali celana itu di kasur.
Sasa lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia masuk dan perlahan membuka pakaian yang ia kenakan. Satu per satu benang hilang dari tubuh Sasa.
Ia lalu mengguyur badannya dengan air. Lumayan dingin, ia lalu memakai sabun dan mandi seperti biasanya.
Di ruang tamu nampak Bara tengan duduk sembari menonton tv. Ia memakan beberapa cemilan sembari menunggu Sasa selesai mandi.
Ponsel Sasa yang tinggal di ruang tv lalu berbunyi sebagai tanda adanya pesan masuk.
Bara lalu melirik ke layar ponsel yang hidup itu. Tertera nama Zean di sana.
'Sa, gua udah dapet data soal dimana Deina nikah, lo tinggal ambil salinannya ke KUA.'
Bara seketika mengernyitkan dahinya. Data pernikahan Deina? Bukannya Deina masih single?
Sasa keluar dari kamar mandi, ia lalu memakai pakaian yang Bara kasih. Setelah dipakai, ternyata baju kaos itu sedikit ngepas di badan Sasa.
Sasa lalu membuka kembali baju itu. "Baraaaaa?!!!!" sorak Sasa.
Bara yang sedang melirik ponsel Sasa itu langsung berdiri dan menghampiri asal suara. "Bar!!?"
"Iya, kenapa?" tanya Bara yang sudah ada di depan pintu.
"Bajunya kekecilan, ada yang lain ga?" tanya Sasa.
Bara langsung memegang gagang pintu untuk membukanya. "Jangan masuk, gua ga pake baju!" bentak Sasa.
"Oh, yaudah, cari di lemari gua aja." Bara bersorak dari luar kamar.
"Oke, yaudah lo pergi aja!" ketus Sasa lagi.
Bara mendengus dan kembali ke ruang tamu. Ia kembali duduk dan mendapati notif lagi dari ponsel Sasa.
'Lo mau pergi sendiri atau gua anter?'
Membaca itu, Bara langsung berubah ekspresi. Ia merasa jengkel dengan Zean yang begitu dekat dengan Sasa.
Sasa membuka lemari baju Bara. Ada banyak sekali kemeja di sini. "Baju kaosnya mana ya?" Sasa mencari di beberapa laci, namun nihil.
"Kebanyakan kemeja," ujar Sasa.
Sasa yang hanya memakai tanktop itu terus mencari baju, namun tidak ada baju kaos di lemari bawah.
Ia kemudian melirik ke lemari atas. Nampak beberapa kaos di sana. "Itu tuh baju kaos," ujar Sasa.
Sasa merogoh baju itu. Saat ia menariknya, tanpa sengaja sesuatu berupa benda kecil ikut terjatuh. Sasa lalu mengambil benda itu.
Baru saja membaca namanya, Sasa langsung kaget dan naik darah. Ia seketika keluar dengan hanya memakai tanktop.
"BARA?!!!!" bentak Sasa.
"Baaraa?!!"
"Ap––" ujar Sasa membalik badan.
Baru saja melihat Sasa, Bara langsung memalingkan wajahnya. "Saaa, lo kenapa ga––"
"Lo yang kenapa?" tanya Sasa.
"Apaan? Itu pake dulu––" tanya Bara dengan wajah berpaling.
Sasa nampak berdiri secara tak sadar bahwa belum memakai baju di hadapan Bara. "Ini apaan, kenapa lo nyimpen ko*d*m!!!" Sasa melempar alat kontrasepsi itu ke wajah Bara.
Bara seketika kaget. Ia kemudian melihat tulisan di benda kecil itu, lalu segera berdiri. "Lo salah paham!!" tegas Bara.
"Lo sengaja ya tinggal bareng gua, dasar mesum!!!" bentak Sasa.
"Dengerin dulu, Sa..."
"Apa yang mau di dengerin, lo ngapain nyimpen ini?!!" tegas Sasa.
"Makanya dengerin dulu," pinta Bara.
"Ini juga alasan kenapa lo bisa ada pakaian dalem perempuan!!" bentak Sasa.
"Lah, itu pakaian bunda yang ga kepake karena kecil," ujar Bara.
Sasa tak peduli dengan ucapan Bara. Ia masih emosi atas apa yang ia temukan. "Terus ngapain lo nyimpen begituan!!!"
"Sabar dulu, gua bakal jelasin!" tegas Bara.
Sasa lalu diam, ia mengatur nafas dan membiarkan Bara bicara.
"Itu dapet waktu pelajaran mata kuliah kesehatan seksual di kedokteran," sahut Bara.
"Lo praktek––"
"Bukan, semuanya dibagiin itu untuk ngeliat secara langsung cara terbaik biar ga kena HIV," jelas Bara.
Mendengar itu, Sasa seketika merasa malu. "Lo, beneran ga mesum?" tanya Sasa.
"Yaelah, kalau mesum lo ga pake baju kaya gini, juga––"
Sasa seketika melihat bahwa dia hanya pakai tanktop. "Kan beneran mesum!!!!!" Sasa langsung berlari ke kamar.
Bara yang heran itu nampak tertawa kecil dengan ulah Sasa. Ia lalu merogoh kdm yang tadi terjatuh. Matanya melihat jelas ke alat kontrasepsi itu.
"Huh, gua lupa ngebuang ini lagi pas selesai kuliah." Bara tersenyum kecil melihat kdm itu.
Sasa masuk ke kamar dan segera mengganti baju. Ia merutuki apa yang baru saja ia lakukan. "Bisa-bisanya gua ga pake baju dulu!" tegas Sasa.
Sasa bergidik dan langsung memakai baju, ia seketika teringat juga pada alat kontrasepsi yang tadi ada di lemari Bara.
"Dasar cowo mesum!" ketus Sasa yang masih tak percaya dengan ucapan Bara.
"Apa dia sengaja masuk ke kedokteran cuma buat mesum doang?!!" ujar Sasa ngasal.