Puzzles

Puzzles
Episode 75 - Surat untuk Deina



Ghare menatap Sasa dengan tatapan kaget. "Sasa?" sapa Ghare secara spontan.


Deina yang menyadari kehadiran Sasa itu langsung berdiri dan menghampiri Sasa. "Mysa... Kamu kapan sampai?" tanya Deina.


Sasa masih berdiri di depan pintu. "Ayo masuk dulu, ayo sayang!"


Ghare sedikit terkejut dengan perlakuan manis Deina ke Sasa. "Duduk dulu sayang," ujar Deina.


Sasa duduk dengan bibir yang masih bungkam. "Kamu mau minum apa? Biar tante buatin."


"Ga usah," jawab Sasa dengan datar.


"Tante? Lo kenal sama nyokap gua?" tanya Ghare spontan.


"Jadi, benar dia anak tante?" tanya Sasa.


Deina mengangguk. Ia benar-benar tersudut kali ini. "Tapi, tante bisa jelasin ini semua, ini karena ketidaksengajaan."


"Saya ga mau ikut campur urusan pribadi tante," jawab Sasa dengan datar.


"Lo?" ujar Ghare yang duduk di depan Sasa.


"Gua ponakan tante Deina, beliau adik kandung alm. nyokap gua." Sasa menatap Ghare.


"Apa? serius?" tanya Ghare.


"Iya, dan lo pasti tahu bisnis keluarga gua apa," jawab Sasa lagi..


"Eh atau kamu mau ngobrol berdua? Biar tante suruh dia pergi dulu." Deina mencoba menyekat obrolan itu.


"Ga usah," ujar Sasa merogoh tasnya.


"Mysa? Kamu pasti capek jauh-jauh ke sini," jelas Deina.


Sasa lalu mengeluarkan amplop yang sudah ia persiapkan. "Ini," ujar Sasa.


"Ini apa?" tanya Deina.


Ghare nampak memperhatikan keduanya. "Silahkan dibaca," ujar Sasa.


Deina membuka amplop itu dengan sesekali menatap Sasa. Ia lalu membaca isi dari surat itu. Baru satu baris pertama, dahi Deina langsung berkerut.


"..." Sasa melirik ke Ghare yang nampak diam.


Deina terus membaca surat itu hingga akhir baris. "Ini, maksudnya?" tanya Deina.


"Mulai besok tante bisa off dari hotel Gloubel," ujar Sasa secara spontan.


"Off? Kamu mecat tante kayak yang lain?" tanya Deina.


"Kalau ragu tante bisa baca ulang surat itu, ini juga mumpung ada anak tante di sini," jelas Sasa.


"Lo bisa jadi saksi kalau nyokap lo udah gua berhentiin dari Gloubel."


"Mysa? Maksudnya apa?" tanya Deina mulai kesal.


"Saya ke sini cuma mau nganterin surat yang seharusnya udah dari dulu anda terima, saya pamit." Sasa berdiri dari duduknya.


"Sasa!!!" bentak Deina.


Sasa terus melangkah tanpa menghiraukan Deina. "Sasaaa!!!! berhenti!!" bentak Deina.


"..." Ghare masih diam seraya melirik ke luar pintu.


Sasa yang dipanggil nampak terus melangkah tanpa melihat ke belakang lagi. Ia lalu merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Baru saja akan mencari nomor telfon, Sasa tersentak saat mobil yang tadi ia tumpangi tiba-tiba mundur ke arahnya.


"Kenapa supirnya ga pergi?" tanya Sasa.


(Klakson)


Kaca mobil terbuka perlahan. "Silahkan masuk Nona," ujar supir itu bersamaan dengan terbukanya pintu.


Sasa masuk ke dalam dan pintupun segera tertutup. "Kenapa Bapak bisa tiba-tiba ada di sini? Kan tadi saya udah bilang tunggu di hotel?"


"Saya hanya menjalankan perintah," jawab supir itu.


"...perintah?" tanya Sasa.


Supir itu menjawab pertanyaan Sasa seraya mengendarai mobil menjauh dari rumah Deina.


"Bu Bila sudah menduga kalau Nona akan segera pergi setelah menyerahkan surat ke tangan Bu Deina."


"..." Sasa menatap hampa ke depan kaca mobil.


"Makanya saya sengaja tidak meninggalkan tempat dan memantau Nona dari luar," jawab supir itu lagi.


"Bapak supir khusus di Gloubel Bali?" tanya Sasa.


"Iya Nona, semua keberangkatan antar kota di sini saya yang antar."


...----------------...


Zean duduk di depan komputer milik Bima. Ia lalu mencoba mengaktifkan kembali PC itu. "Semoga aja bisa," ujar Zean sembari membenarkan komputer itu.


Selang beberapa menit, Komputer itu siap untuk dipakai. Zean menekan tombol ON dan menatap layar itu dengan teliti.


"Yash!" Zean bersorak saat layar di hadapannya hidup kembali.


'Enter password.'


"What? PC nya dikunci lagi," jawab Zean.


Zean lalu melirik sekeliling, mencoba mencari kode password yang mungkin Bima tinggalkan.


"Dimana ya? Bimmm!!!" Zean mengacak-acak beberapa file milik Bima.


Nihil. Tidak ada password yang ia dapatkan. "Gua coba acak aja deh, ntar kalau ke lock langsung gua retas."


Zean lalu kembali ke depan layar. Ia mengetik beberapa password yang tentunya salah. "Satu kesempatan lagi," ujar Zean.


"Apa ya?" Zean mencoba mengingat ucapan Bima.


'Lo kenapa ga pernah pacaran?'


'Pernah suka doang, sama perempuan satu kampus dulu, tapi...'


'Dia lanjut S2 di Aussie!'


'Kayla Afrea.'


"Apa sandinya Kayla Afrea?" Zean lalu memberanikan dirinya untuk menekan tombol klik.


Klik!


'WELCOME BIMA AZZAFA.'


"Bagus," ujar Zean sembari mencari data di komputer tersebut.


Zean mengacak file di komputer itu dengan sistem retas. Ia terus berusaha hingga akhirnya menemukan data yang dia cari.


"Nah, ini... Gua harus salin ke flashdisk ini," ujar Zean memindahkannya.


Zean menyalin file tersebut ke flashdisk yang akan ia berikan ke seseorang. "Ini, ini data terakhir yang akan nyelesain puzzles."


Zean menunggu hingga file itu selesai dipindahkan. Ia kemudian mengunci akses ke komputer milik Bima agar tidak ada yang bisa meretas saat Bima hilang.


...----------------...


Sasa turun dari mobil yang ia tumpangi. "Selamat datang, Nona... Silahkan masuk, ruangan sudah kami siapkan."


Sasa mengikuti langkah sekretaris di hotel ini. Beberapa orang nampak memberikan salam penghormatan karena Sasa baru berkunjung ke hotel ini.


"Beginilah keadaan Gloubel di Bali, Nona. Semua sistem sudah terupdate secara digital, kami baru saja menggunakan smartlock untuk kunci setiap kamar," jelas wanita itu.


Sasa mengangguk dengan serius. Ia membiarkan sekretaris ini memperkenalkan fitur terbaru dari cabang hotel miliknya itu.


Mereka menaiki lift ke lantai 2, di sana sudah ada beberapa orang yang menyambut Sasa di depan pintu sebuah kamar.


"Welcome Nona, silahkan beristirahat."


Sasa mengangguk. Ia lalu masuk ke dalam kamar bersama sekretaris di sini. "Ayo, Nona."


"Itu makan malam untuk hari ini, Nona. Jika tidak suka bisa konfirmasi ke saya atau rekan yang lain agar dipesankan yang baru."


"Baik, saya mau istirahat." Sasa duduk di kursi santai yang ada di hotel itu.


"Baik, jika ada keperluan bisa hubungi kami lewat lonceng yang ada di sebelah tv ya, Nona."


"Saya keluar dulu, Nona." Sasa mengangguk dan membiarkan sekretaris itu keluar dari kamarnya.


Ia lalu menuju ke seluk beluk kamar ini, melihat setiap sudut kamar yang benar-benar mewah. "Gua harus hubungi Bu Bila."


Sasa duduk di pinggir kasur, ia lalu merogoh ponselnya dan segera menelfon Bila. Ada hal yang harus ia sampaikan ke Bila.


(Dering telfon)


'Halo, Mysa?'


"Halo, Bu... Saya sudah kasih suratnya ke Deina, ta-"


'Tapi, kamu pasti langsung pergi setelah kasih surat?'


"Benar, saya tidak bisa berdiam diri di rumah Deina, saya harus benar-benar tegas sekarang," jawab Sasa.


'Apa langkah kamu selanjutnya setelah menjalani wasiat yang terakhir tadi?'


Sasa diam, ia memahami benar ucapan Bila. Apa yang harus ia lakukan lagi setelah ini? Ia bahkan belum sempat bertanya soal kematian Ibunya ke Deina?