
Pagi ini adalah awal perjalanan Ghare di Bali untuk menemui Deina. Ia yang bahkan tak pernah bertemu dengan ibunya itu harus berkelana sendiri di kota ini.
Ghare bergegas keluar hotel menuju mobil yang sudah disiapkan oleh hotel. Ia sedikit tergesa karena kemarin tidak sempat mendatangi hotel gloubel.
"Jalan Pak, ke alamat ini." Ghare menunjukkan secarik kertas bertuliskan alamat.
"Baik, sedikit memakan waktu untuk sampai ke hotel itu," jawab supir sembari mulai menggas mobilnya.
Ghare mengangguk dan membiarkan perjalanan panjang membawanya bertemu dengan Deina.
Disisi lain, Sasa nampak sedang menelfon seseorang seraya mempacking bajunya ke dalam koper. "Iya Bu, saya pasti akan sampaikan surat pemberhentian yang baru ke Deina."
'Ibu harap masalah ini bisa kamu handle dengan baik.'
"Iya, besok jam 9 saya berangkat ke Bali." Sasa terus memasukkan bajunya ke dalam koper satu per satu.
'Take care ya, ibu akan atur semua kebutuhan kamu di Bali.'
"Makasi Buk, saya yakin ibu pasti udah tahu apa yang saya butuhkan di Bali." Sasa lalu tersenyum dan menutup telfon itu.
Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas kasur. Setelah semua baju siap, Sasa lalu mengambil satu foto Zena Wijaya.
Ia mengusap lembut foto itu. "Mamm, Mysa sekarang udah bisa gantiin posisi Mama, meski keadaan ga akan sebaik dulu."
Sasa mengusap bulir air mata yang mulai mengalir di sudut matanya. "Trust me!" ujar Sasa seraya mencium foto itu.
Sasa lalu meletakkan foto itu ke dalam koper yang sudah rapi. Ia perlahan menutup seleting koper itu. "Berat juga," ujar Sasa saat mengangkat koper itu.
Ia lalu meletakkannya di sudut kamar. Setelah semuanya siap, Sasa kembali merogoh ponselnya dan menelfon seseorang.
(Dering Panggilan)
'Halo, Sasa?'
"Halo, gua mau ketemu lo sekarang." Sasa menatap dinding kamar yang ada di depannya.
'Dimana?'
"Cafe Monrow, gua otw sekarang," ujar Sasa seraya menutup telfon.
Sasa memasukkan ponselnya ke dalam tas slingbag. Ia lalu segera turun ke lantai bawah. Sekarang, baru pukul 09.00 WIB. Bara sepertinya masih tertidur di kamarnya.
Sasa yang sengaja pergi tanpa Bara, memilih berjalan ke gerbang sendirian. "Mysa..." ujar Diki.
"Buka gerbangnya, Pak." Sasa berjalan mendekat ke gerbang.
"Baik, Mysa." Diki segera membuka gerbang di hadapannya itu.
Sasa keluar dan berdiri di depan gerbang. "Mysa, mau pergi kemana?" tanya Diki.
Sasa menoleh ke belakang. "Saya ada urusan sebentar," ujar Sasa dengan datar.
Sasa lalu kembali menatap ke depan. Saat sedang asik bermain ponsel, Sasa seketika teringat soal Bara.
"Pak..." ujar Sasa berbalik badan ke arah Diki.
Diki yang hendak menutup gerbang jadi terhenti. "Iya, kenapa Mysa?"
"Tolong sampein ke Bara, nanti saya tunggu dia di taman angkasa... Sekitar jam 7 malam."
"Baik, Mysa... Nanti saya sampaikan," ujar Diki.
Sasa mengangguk dan menunggu taxi yang ia pesan. "Mba Sasa?" tanya supir yang baru saja tiba itu.
"Iya, Mas..." ujar Sasa seraya membuka pintu.
"Silahkan, Mba... Tujuannya sudah sesuai aplikasi ya?" tanya supir itu sambil melirik Sasa dari spion.
"Iya, jalan Mas." Sasa kembali fokus dengan ponselnya.
Ia sedang mengetik sebuah pesan untuk pengurus Hotel Gloubel di Bali. Matanya fokus membaca setiap pesan yang ia tulis.
Setelah selesai mengabari manajer di Bali, Sasa segera meletakkan ponselnya. Ia sengaja tak menghubungi Bara sendiri karena nanti urusannya pasti akan panjang.
Bara pasti akan menghujamnya dulu dengan pertanyaan. Di dalam mobil, pikiran Sasa seketika teringat ucapan Arya.
'Kalau ART kamu ga jadi balik kerja, kabarin kami ya.'
Pikiran Sasa sesaat difokuskan dengan itu. 'Kenapa, dokter Arya butuh informasi soal itu ya?'
'Gua hubungin atau enggak ya?'
Sasa memikirkan baik-baik niatnya. 'Kayaknya gausah dulu deh, gua kan besok harus ke Bali... Gua harus fokus dulu.'
"Mba, udah sampe..." ujar supir itu.
"Mba?!"
"Eh--i-iya..." ujar Sasa seraya membuka pintu mobil.
"Baik, terima kasih, Mba..." ujar supir itu.
Sasa menutup pintu mobil itu dan segera berjalan masuk ke cafe monrow. Ia memilih berjalan ke bagian order dulu sebelum duduk. "Moccacinonya satu, sama ice latte nya satu..."
"Silahkan duduk, Kak... pesanan akan segera di antar," ujarnya dengan ramah.
Sasa mengangguk dan berjalan menuju kursi nomor 8. Kursi yang ada di sudut cafe. Ia lalu duduk dan meletakkan tasnya di atas meja.
"Tumben, kenapa Zean belom dateng ya?" Sasa melirik ke kiri dan kanan.
Zean yang baru saja sampai, berjalan ke arah Sasa yang nampak menunggu seseorang. "Helloww..." ujar Zean menepuk meja dan segera duduk.
"Ngagetin aja lo!" ketus Sasa.
"Gitu aja kaget, gimana kalau lo denger info-info baru dari gua?" celetuk Zean.
Sasa seketika penasaran dengan ucapan Zean. "Emang ada info baru apa lagi?" tanya Sasa.
"Ada ban––"
"Pesanannya kak..." ujar pelayan di cafe ini.
"Eh, iya... Makasi kak..." ujar Sasa mengambil pesanan itu.
Sasa menyodorkan ice latte ke hadapan Zean. "Tau aja lo yang gua suka," ujar Zean.
"Iya, sekarang buruan jawab... info baru apa lagi?" tanya Sasa penasaran.
Zean menatap Sasa dengan serius. Ia bahkan tidak jadi menyedot minuman di depannya. "Kaga ada!" ujar Zean yang langsung meminum minuman itu.
"Fvck!" ketus Sasa dengan wajah kesal.
"Serius banget, gua kan cuma bercanda," ujar Zean.
"Ga lucu! Gua udah seneng tau kalau lo sampai bawa berita baru lagi soal Mbok Ira," jelas Sasa.
"Belum, masih dalam proses penyelidikan!" tegas Zean.
"Kayak polisi aja!" ketus Sasa.
"Iyalah, cita-cita gua kan intel." Zean kembali meminum ice latte itu.
Sasa menggeleng dan ikut meneguk moccacino yang sudah ia pesan tadi. Mereka lalu meredakan emosi canda agar tidak bicara ngawur terus.
"Btw, lo mau ngomongin apa? Sampe ajak gua ke sini," ujar Zean menjauhkan minuman di depannya.
Sasa diam sejenak. Ia lalu menatap Zean dengan sangat dalam. "Besok pagi jam 9, gua otw Bali."
"Apa?" tanya Zean dengan kaget.
"Besok pagi jam 9, gua otw Bali."
"Lo beneran jadi ke Bali? Sendirian?" tanya Zean lagi.
Sasa mengangguk. "Kenapa lo ga pertimbangin ucapan gua malam itu?" tanya Zean.
"Zee... Please, kita udah bahas soal alasan lo ga bisa ikut ke Bali ya di atas motor waktu itu."
"Kenapa lo ngebet banget sih pergi sendiri?" tanya Zean.
"Gua di sana cuma beberapa hari, itupun untuk anterin surat ke Deina," jawab Sasa.
"Lo bakal kasih surat ke Deina secara langsung?" tanya Zean.
"Iya, dan gua ngajak lo ketemuan di sini, mau minta file bukti soal Deina," ujar Sasa.
"Buktinya masih gua proses, Sa... Ga bisa di ambil sekarang, itu akan ngerusak file yang lain."
"Jadi, apa lo ga punya salinan di hp gitu?" tanya Sasa.
"Ada, tapi cuma soal penjelasan nama di artikel waktu itu, lo mau?" tanya Zean.
"Iya, gapapa.... Kasih gua bukti yang satu itu," ujar Sasa.
"Oke, tapi apa gua bisa ikut lo ke Bali setelah kasih file ini?" tanya Zean lagi.
Sasa mendengus. "Zeee... Lo mau kita bicarain itu lagi dan berantem?" tanya Sasa datar.
Zean menarik nafas dalam. Ia lalu menatap Sasa dengan fokus. "Gua boleh anterin lo ke bandara?" tanya Zean.
"Boleh," jawab Sasa.
"Cuma gua kan? Ga sama Bara?" tanya Zean.
"Sama Bara, besok kan tanggal merah, dia ga masuk magang." Sasa menatap Zean dengan serius.
Zean seketika melemahkan nada bicaranya. "Mm, yaudah... Gua akan pikirin dulu, gimana bagusnya besok."