
Seperti biasa, Sasa kuliah sesuai jadwal yang tertera. Ia datang ke kampus dan nongkrong di gerbang kanan. Kali ini, Zean tidak ngumpul karena ada urusan dengan Pak Fergi. Jadi, hanya ada Sasa dan Larisa.
Dari sudut jalan nampak Sasa tengah meneguk sebotol green tea. Matanya menatap lurus ke depan dengan tetap mengenakan earphone di telinganya.
Larisa nampak merogoh sesuatu dari kantong celananya.
(Dering Telfon)
"Halo?" ujarnya kepada seseorang di seberang telfon.
"Harus sekarang ya, Bun?"
"Ga ada kelas sih, udah selesai."
"Yaudah, aku langsung otw." Sembari menutup telfon itu.
Larisa lalu menatap Sasa dan bermaksud mengajak sahabatnya itu.
"Sa," sembari menarik earphone di telinga Sasa.
"Apaa!??" sembari memasang kembali earphonenya.
"Eh, dengerin gua dulu." Sembari menarik lagi earphone Sasa.
Sasa lalu melepaskan earphonenya yang sebelah kanan.
"Kenapa?" ujarnya datar.
"Gua mau anter pesenan bunga, lo ikut ya." Sembari menarik tangan Sasa.
"Lo aja," sahut Sasa.
"Ayolah, sekalian gua kenalin lo ke Bunda." Dengan wajah memelas.
"Kemana?" tanya Sasa.
"Nanti lo juga tau, ga jauh kok," ujar Larisa sembari bangun dari duduknya.
"Ga jauhnya kemana, ege?!" sembari ikut berdiri.
"Masih jaksel, ikut aja!" ujar Larisa.
Mereka pun berjalan menuju mobil Larisa. Mobil honda brio berwarna merah itu lalu melaju membawa Sasa dan Larisa ke toko bunga.
***
Selang beberapa menit, Larisa dan Sasa turun dari mobil tepat di depan toko. Sasa memandang sekeliling yang nampak sangat asri.
Ada banyak sekali jenis bunga di sini. Sasa lalu sibuk memperhatikan bunga itu tanpa sadar Larisa sudah berjalan masuk memanggil ibunya.
"Itu Bun, si cantik yang suka pake earphone terus." Celetuk Larisa sembari menunjuk ke arah Sasa.
"Saaa!!?" sorak Larisa memanggil dengan lambaikan tangan.
Sasa melihat Larisa dan seorang wanita berhijab. Ia lalu mendekat dan tersenyum kecil.
"Ini Bunda," ujar Larisa.
"Sasa tante," sembari salim.
"Panggil Bunda aja, biar lebih akrab."
"Iya Bunda," sedikit terkekeh.
"Kamu satu jurusan sama Larisa?" tanya Bunda.
"Nggak, saya dari IT Bun."
"Wah, keren tuh... masih ada kelas ga hari ini?"
"Udah free, jadi bisa nemenin Larisa." Jelas Sasa.
"Oo bagus itu, yaudahh..." ujar Bunda sembari menyerahkan beberapa bunga.
"Ini bunga yang mau dibawa, anter dan tunggu dia kasih cek baru balik ya." Jelas Bunda kepada Larisa.
"Siap Bunda, berangkat dulu." Larisa melangkah ke mobil.
"Pamit Bunda," ujar Sasa.
"Iya, hati-hati ya..."
Larisa membuka bagasi mobil dan meletakkan sekitar 3 bunga hidup berukuran sedang. Bunga yang nampaknya akan dipajang di meja kerja.
Setelah itu, mereka langsung masuk ke mobil untuk menuju ke lokasi.
"Cuma tiga bunga?" tanya Sasa.
"Itu sampel, kata Bunda ada yang mau pesan 1 truk, gatau deh buat apa!" ujarnya heran.
"Kirain cuma tiga," celetuk Sasa menyimpan earphonenya.
"Tumben," sahut Larisa melirik Sasa yang memasukkan earphone ke tas.
"Biar fokus bantuin lo anter bunga,"
Larisa tertawa kecil. Ia baru kali ini melihat Sasa mau menyimpan earphone, terlebih untuk membantunya.
"Sering-sering dong, Sa." Ujar Larisa sembari tertawa.
Sasa hanya diam dan menatap ke luar jendela mobil. Ia merasa seolah kenal dengan jalan yang dilewatinya.
Jalan yang sangat tidak asing. Ia bahkan sering ke sini saat ibunya masih hidup.
Selang beberapa menit, mobil Larisa berhenti tepat di sebuah hotel megah. Hotel yang dengan jelas tertulis 'Gloubel' di bagian depan atapnya.
"Ayo, Sa." Larisa turun dari mobil sembari membuka bagasi.
Sementara, Sasa masih diam di dalam mobil. Ia menatap datar ke arah hotel milik ibunya itu.
Hotel Gloubel di Jaksel ini adalah hotel induk. Pusat perbendaharaan dari semua cabang hotel ibunya. Dulu, Sasa selalu dibawa ke sini usai pulang sekolah.
Namun, sudah 4 tahun sejak kematian ibunya, ia belum pernah lagi melihat hotel ini. Rasanya belum siap saja harus kembali membaca nama pada atap hotel ini.
Nama hotel yang merupakan tempat ibunya meninggal. Tapi, ibu Sasa meninggal di hotel cabang ke 4, tepatnya di Bogor.
Namun, di Bogor atau dimanapun, baginya Gloubel adalah merek yang menyeramkan karena menyeretnya dari dunia terang ke sisi gelap yang tak berujung.
(Tok... tok.. tok..)
Larisa mengetuk kaca mobil karena Sasa belum juga turun.
“Saaa... Ayo turun!” soraknya yang terdengar kedap.
Sasa nampak diam sejenak, ia berfikir tentang apakah ia sudah siap ke sini lagi setelah empat tahun berlalu?
Namun, di suatu sisi ia juga tidak boleh manampakkan dirinya yang sebenarnya kepada Larisa, terutama soal keluarganya. Jika ia tidak turun, maka Larisa akan lebih curiga lagi.
Sasa lalu memberanikan diri untuk turun. Matanya menatap sekeliling dan melihat ke bunga yang sudah ada di tangan Larisa.
"Gausah, ini cuma bunga sedang, ayo." Ujar Larisa melangkah ke pintu hotel.
Baru saja sampai ke teras hotel, satpam tersebut langsung mengenali Sasa. Ia membungkukkan badannya, dan terkejut akan kedatangan Sasa yang sudah lama tidak terlihat.
"Pak, saya mau mengantar sampel bunga," ujar Larisa sembari heran dengan raut wajah tegang dari satpam itu.
Larisa lalu menatap Sasa. Sementara, Sasa nampak mengode satpam itu dengan gerakan tangan agar menyuruh satpam itu stop memberitahu soal dia siapa.
"Non..." ujar Satpam itu sembari melihat kode tangan Sasa.
"Bisa langsung ke dalam mba, bu airin sudah menunggu." Ujarnya lagi mengalihkan perhatian.
Sasa masih diam, matanya menatap satpam itu dengan sangat dingin.
"Baik Pak, terima kasih..." ujar Larisa mengajak Sasa masuk ke dalam.
Sasa mengikuti langkah Larisa dari belakang. Ia menatap kemewahan hotel yang dirintis ibunya itu sejak dulu.
Saat sedang asik melangkah, Larisa berhenti tepat di depan wanita berjas maroon dengan heels tinggi.
"Dari Toko Bunga Laresta?" tanya wanita itu.
Sasa nampak masih berada di belakang Larisa. Sementara, para karyawan hotel nampak menyadari kehadiran Sasa sembari berbisik-bisik.
"Iya Bu, ini sampelnya." Sembari menyerahkan sampel itu.
Wanita itu mengambil satu bunga di tangan Larisa, bersamaan dengan itu, Sasa melangkah sejajar dengan Larisa.
Ia lalu menegakkan wajahnya tepat menatap ke Bila, kini Sasa terlihat jelas oleh manajer hotel bernama Bila itu.
Bila seketika terkejut dan langsung membungkukkan badan memberi salam hormat.
"Mysa..." sembari membungkukkan badan.
Larisa nampak kaget dengan apa yang ia lihat.
"Mysa?" tanya Larisa heran.
Sasa tahu sekali bahwa Bila adalah orang kepercayaan ibunya saat masih hidup, bahkan Bila sudah bekerja lebih dari 10 tahun bersama Zena.
Namun, saat ini, terlebih Larisa belum tahu soal keluarga Sasa, ia merasa harus merahasiakan identitasnya terutama soal ibunya. Ini juga akan mempermudah langkahnya mencari bukti.
"Saya manajer hotel ini, panggil aja Bu Bila," jelas Bila dengan tetap memegang bunga di tangannya.
"Dan dia..." sembari menunjuk Sasa.
"Sasa?" tanya Larisa.
"Dia anak tunggal pemilik hHotel Gloubel ini, kamu ga tau?" tanya Bila.
Sasa hanya terdiam, sementara Larisa nampak kaget sekali. Ia terkejut bahwa teman yang tidak pernah berkendara ke kampus adalah orang yang sangat kaya.
“Ini beneran?” tanya Larisa tercengang.
“Iya,” ujar Bila sembari tersenyum.
Bila lalu memutuskan untuk memanggil karyawan lain.
"Pak...." ujar Bila memanggil pekerja di sana.
"Iya Bu?" ujarnya mendekat.
"Siapkan minum dan makanan terenak kita, ga pake lama." Ujar Bila.
"Sasa ini gua mimpi apa?" celetuk Larisa. Ia bahkan masih memegang dua bunga di tangannya.
"Ayo Mysa, ikut ibu..." ujarnya mengajak Sasa sembari tersenyum.
"Saya ke sini cuma untuk nemenin temen saya anter bunga, bukan mau urus hotel," ujar Sasa mengambil dua bunga di tangan Larisa.
"Ini, bunganya 2 lagi..." sahut Sasa sembari menyerahkan bunga itu ke tangan Bila.
"Biar pihak karyawan di sini menjamu kamu dan teman kamu," jelas Bila sembari menyerahkan bunga di tangannya ke karyawan lain.
"Ga usah, makasi..." sembari menarik Larisa keluar.
Larisa nampak bingung dengan drama yang ia lihat. Apa benar Sasa sekaya ini?
"Saa,,.." ujar Larisa dengan tetap mengikuti langkah Sasa.
Sasa lalu tiba-tiba berhenti dan menghadap ke belakang.
"Jangan lupa, anter uang cash aja ke rumah Larisa, jangan cek... soalnya ribet!" ujar Sasa sembari kembali berjalan.
Larisa hanya diam dan tetap mengikuti langkah Sasa. Mereka berjalan ke mobil Larisa yang terparkir di depan hotel.
Saat berada di depan mobil, mereka berdua berhenti sejenak sembari melepaskan pegangan tangan.
"Anggep aja yang lo liat tadi ga terjadi hari ini," ujar Sasa dengan sangat dingin.
".... Sa? are you okay?" tanya Larisa.
"Ayo pulang," ajak Sasa sembari membuka pintu mobil.
Baru saja Larisa berjalan ke sisi kanan mobil untuk membuka pintu, seseorang memanggil mereka dengan keras.
"Mysa!!!" sorak Bila keluar dari hotel itu.
Sasa membiarkan pintu mobil itu terbuka dan melihat ke arah Bila. Ia melihat sosok Bila yang terus mendekat ke arahnya.
"Ini, pesan yang pernah di buat sama ibu kamu..." ujar Bila menyerahkan amplop berwarna coklat tua.
Sasa melihat ke Bila dengan ragu, ia lalu menatap Bila beberapa kali untuk meyakinkan diri.
“Pegang, ada buktinya kok kalau ini ibu kamu yang buat,” jelas Bila lagi.
Sasa lalu menggenggam amplop yang sudah di tangannya itu.
"Ada sesuatu yang harus kamu tahu secepatnya." Jelas Bila.
Sasa sedikit terkejut, apakah sepenting itu? Larisa nampak memperhatikan dari sisi kanan mobil.
"Ini, alamat rumah Ibu, dateng saat kamu udah baca suratnya..." jelas Bila.
Sasa lalu menatap Bila dengan sangat datar, matanya mengisyaratkan apakah ini ada hubungannya dengan kematian ibunya?
Sebanyak apapun otaknya berpikir dan hatinya biacra, ia masih tetap diam. Diam dengan tatapan penuh tekanan. Bahkan, ia hanya diam tanpa ucapan terima kasih.
Bila yang memaklumi itu, memilih meninggalkan Sasa tanpa berkata apa-apa lagi.
Kini, hanya ada Sasa dan Larisa di parkiran itu. Mata Sasa menatap ke sebuah amplop yang ada di tangannya.
Apa yang ada di dalam amplop ini? Apa ini jadi salah satu alasan kenapa Sasa harus secepatnya membaca pesan di dalamnya?
Sasa lalu kembali menatap Larisa yang sedari tadi berdiri. Ia lalu masuk ke dalam mobil, begitupun Larisa. Mereka berdua kini melaju meninggalkan hotel ini.