Puzzles

Puzzles
Episode 30 - Bukti Dari Zean



"Jadi, beberapa hari lalu gua sama Larisa sempat ke Hotel Gloubel punya nyokap gua," ujar Sasa sembari duduk di sebelah Zean.


Ditangannya, sudah ada amplop coklat yang waktu itu Bila berikan. Sasa menggenggam amplop itu sembari bercerita.


"Ngapain? Kok gua bisa ga ikut?" tanya Zean penasaran.


"Nemenin Larisa nganter sample bunga, waktu itu lo lagi ga ngampus, gua ikut ke sana karena gua gatau Larisa akan nganter bunga ke situ."


Zean nampak mengangguk sebagai sahutan dari ucapan Sasa. Ia lalu membiarkan laptopnya menyala di atas meja.


"Manajer hotel utama, Bu Bila yang gua bilang ke lo, dia ngasih ini," sembari meletakkan amplop itu di meja.


Zean melihat ke amplop itu, namun enggan mengambilnya. Ia hanya menerka-nerka pesan apa yang ada di dalam amplop itu.


"Ini, isinya apa?" tanya Zean.


"Wasiat dari Mama," jawab Sasa menatap Zean.


"Mama lo sempat bikin wasiat?" tanya Zean sembari mengernyitkan dahinya.


Sasa mengangguk, ia lalu menyodorkan amplop itu agar Zean dapat membacanya.


"Lo nyuruh gua baca? Emang boleh?" tanya Zean menunjuk dirinya.


"Gua percaya sama lo yang udah berjalan sejauh ini untuk bisa ngungkap pembunuh Mama," jelas Sasa.


Zean mengambil amplop itu dengan hati-hati, ia lalu membukanya. Matanya lalu menatap Sasa sekali lagi, apakah ia benar boleh membacanya?


Sasa lalu kembali mengangguk, seolah menjawab pertanyaan Zean yang dilakukan lewat kontak mata itu.


Zean membaca isi dari pesan yang ada di kertas putih itu. Matanya bergerak kiri dan kanan, hingga ia tiba di titik terakhir dan kembali menoleh ke Sasa.


"Apa orang terdekat yang dimaksud ibu lo itu...." ujar Zean.


"Iya, sepertinya tante Deina," jawab Sasa.


Sasa lalu bangun dari duduknya dan berdiri ke balkon. Ia memandang hamparan langit yang sangat luas itu.


"Dan ini juga deh kayaknya salah satu alasan Mama untuk nyuruh gua ganti semua manajer di setiap cabang hotel." Jelas Sasa.


"Apa pembunuhan nyokap lo ada hubungannya sama masalah keluarga?" tanya Zean.


"Gua masih belom tahu pasti penyebabnya, Ze. Setau gua Mama ga pernah ada masalah sama keluarga, apalagi tante Deina." Ujar Sasa.


Zean meletakkan kembali amplop itu dan berjalan ke tepi balkon. Ia lalu menoleh ke Sasa.


"Gua yakin ini ada hubungannya, semua bukti yang kita dapet selalu berujung ke tante lo," jawab Zean.


Sasa masih menatap lurus ke depan, ia menarik nafas dengan berat, kenapa Deina bisa terlibat?


"Mulai dari mobil penguntit yang dipakai Ghare ternyata adalah mobil yang dimiliki oleh investor asing, dan investor itu ternyata suami dari tante lo," jelas Zean.


"Iya, sekarang yang perlu gua cari tahu cuma soal pernikahan tante Deina," jelas Sasa.


"Pernikahan yang bahkan gua baru tahu sekarang kalau gua udah ada sepupu," ujar Sasa lagi.


"Ini pasti akan terungkap, Sa. Gua akan bantu," ujar Zean.


"Untuk masalah tante Deina, gua minta lo ga usah ikut dulu, biar gua yang coba cari tahu," ujar Sasa.


"Kenapa? Bukannya berdua lebih gampang?" tanya Zean.


"Please, biar gua dan Bu Bila yang cari tahu," ujar Sasa.


"Apa Bu Bila bisa dipercaya?" tanya Zean ragu-ragu.


"Dia satu-satunya orang kepercayaan Mama yang paling bisa gua percaya saat ini," jelas Sasa.


"Oke, kalau itu mau lo, silahkan." Ujar Zean sedikit putus asa dengan keputusan baru Sasa.


Ia merasa Sasa hanya mengajaknya untuk hal berbau hack saja, padahal Zean ingin terlibat dalam setiap jajaran misi ini.


"Lo tolong urus supaya berkas bukti yang udah kita dapetin bisa dijadiin satu, Ze." Ujar Sasa.


"Soal tante Deina, gua yang akan urus setelah gua konfirmasi ke Bu Bila." Jelas Sasa.


"Oke, gua akan bantu lo rangkum semuanya jadi satu, tapi lo harus janji ke gua, apapun bantuan yang lo butuh," jelas Zean.


"Kabarin gua!" tambah Zean lagi.


"Pasti!" sembari tersenyum kecil.


***


Bara tengah memegang tangan Renita sembari berdiri, ia lalu mengelus rambut ibunya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Bunda..." ujar Bara.


"...." Tidak ada jawaban.


"Besok adalah kali pertama kita pisah,"


Tanpa sadar air mata keluar dari sudut mata Bara.


"Tapi, Bara yakin ini cuma sebentar karena Bunda pasti akan sembuh,"


Bara menunduk dan air matanya jatuh tepat di pipi Renita. Baru kali ini, Bara menangis sesegukan. Seolah melihatkan sisi lemahnya pada dunia.


Bara terus menangis, ia benar-benar penuh dengan ketakutan. Ia takut ini akan jadi perpisahan yang panjang.


Saat sedang menangis, seseorang masuk ke ruangan itu. Mendengar suara pintu, Bara lalu menghentikan tangisnya, ia perlahan menyeka air matanya.


"Ga ada aturan dalam hidup yang bilang kalau laki-laki ga boleh nangis," ujar Arya dari dekat pintu.


Bara masih menunduk, ia tak mau menatap Arya dengan wajah lemah ini.


"Apalagi untuk seorang ibu seperti Bunda," Arya berjalan mendekat ke Bara. Ia lalu mengelus bahu putranya itu.


"Ayah pasti akan jaga Bunda dengan sangat baik," ujar Arya meyakinkan Bara.


Bara melihat ke Renita yang masih terbaring lemah.


"Bawa Bunda dalam keadaan baik ke Jakarta lagi, Yah." Ujar Bara.


Arya menarik nafas dan merangkul putranya itu.


"Bunda sejauh ini bertahan pasti karena ga mau kamu sendirian," sahut Arya lagi.


"Aku juga bertahan sejauh ini karena ga mau ngeliat Bunda berjuang sendiri,"


"Iya, Ayah tahu kamu sayang sekali sama Bunda." Ujar Arya melepas rangkulannya.


Bara terus menatap Renita dengan sendu, matanya seolah berkata ingin melihat Renita bangun secepatnya.


"Besok kamu udah bisa masuk kuliah lagi, jangan pikirin soal Ayah dan Bunda," jelas Arya.


"Biarin aku besok ikut anter Bunda ke bandara, Yah. Aku janji akan masuk kuliah lusa."


"Kamu juga harus janji untuk fokus dapetin nilai yang bagus, agar praktek lapangan kamu bisa dilakukan 2 bulan lagi." Ujar Arya.


Bara mengangguk, Arya memang tegas dalam hal pendidikan. Ia bahkan tetap memaksa Bara mengejar sesuatu dengan baik dalam keadaan apapun, termasuk ini.


***


Zean menutup telfon dan menyimpan ponselnya di saku jaket. Ia lalu berdiri dan segera mengambil tasnya.


"Gimana? Kita jadi makan?" tanya Sasa kepada Zean yang tengah mengemas laptop itu.


"Ga bisa, tadi bokap ngabarin kalau ada keluarga jauh yang mau dateng ke rumah," ujar Zean.


"Sekarang banget?" tanya Sasa.


"Iya, 20 menit lagi mereka dateng." Ujar Zean.


"Oo, yaudah, terus lo mau balik langsung?" tanya Sasa.


"Iya, next time gua ke sini lagi," sahut Zean.


Sasa mengangguk dan berjalan ke pintu untuk mengantar Zean. Sebelum turun, Zean berhenti sebentar dan melihat ke Sasa.


"Soal bukti itu, perlu waktu untuk download keseluruhan file nya secara utuh, Sa." Ujar Zean yang berdiri di depan pintu.


"Tapi, gua pastiin semua akan siap tepat waktu." Ujar Zean lagi.


"Kalau soal Ghare? Apa kita jadi cek ke alamat rumahnya?" tanya Sasa.


"Untuk sekarang kita cukup tahu kalau Ghare ada hubungan darah sama tante lo, jadi biarin keadaan tenang dulu," ujar Zean.


"Nanti baru kita cek Ghare tinggal di Jakarta sama siapa," jelas Zean lagi.


Sasa mengangguk paham dan berjalan ke lantai bawah bersama Zean.


"Besok lo ngampus?" tanya Sasa sembari berjalan.


"Iya, besok ada tugas presentasi, lo ga inget?" ujar Zean.


"Inget..." ujar Sasa ragu-ragu.


"Lo udah selesai kan?" tanya Zean memastikan.


Sasa mengangguk, ia seolah menutupi soal kuliah dari Zean yang faktanya teman sekelas, mereka kemudian menuruni anak tangga dan bertemu dengan Mbok Ira.


"Eh, Mysa.... Den...."


"Pamit Mbok," sembari berjalan bersama keluar rumah.


Sasa mengantar Zean hingga ke dekat motornya. Zean lalu memakai helm dan melirik motor Sasa.


"Besok lo ke kampus naik ini?" tanya Zean.


Sasa terdiam, bukan soal ia tidak bisa bawa motor, tapi....


"Ze," sembari melihat ke Zean.


"Iya? Kenapa?" tanya Zean sembari mengeluarkan motornya dari dekat motor Sasa.


"Mm.. Hati-hati!" ujar Sasa yang tidak jadi mengutarakan isi kepalanya itu.


Zean yang memang bergegas itu tersenyum dan langsung pergi setelah pamit. Kini, Sasa hanya berdiri sendiri memandang Zean yang semakin menjauh.


Dalam hati kecilnya, ada nafas yang mulai lega soal terbukanya bukti satu per satu. Namun, ia semakin tak tenang karena yang terlibat di sini adalah tantenya sendiri.


Beribu pertanyaan seolah menghujam, apa yang sebenarnya Deina tutupi dari Sasa?