Puzzles

Puzzles
Episode 34 - Hujan Deras di Rumah Bara



Dari dinding rumah berwarna cokelat, nampak Ghare tengah berbaring di kamarnya yang ada di lantai 2. Tangannya dilipat di bawah kepala, ia lalu memandang langit-langit kamarnya yang berwarna galaksi.


"Gua yang akan hadapin lo langsung!"


"Bahkan di kampus yang jadi tempat belajar, masih ada aja orang ga punya etika kaya lo!"


Satu per satu bayangan celotehan Sasa tampil di benak Ghare. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan wanita yang selalu memancing amarahnya itu.


"Cewe rese, tapi...." lirih Ghare sembari tersenyum nakal.


Ghare membalikkan badannya, ia sekarang berada di posisi telungkup. Ia memainkan ponselnya dan mencari nama Sasa di kontaknya.


"Sasa... Kaya nama ajinomoto aja!" celetuknya pada dirinya sendiri.


Ia lalu seolah akan menekan nomor itu, sangat dekat. Namun, ia menarik kembali telunjuknya. Memilih untuk tidak menelfon kali ini.


***


Sasa dan Bara keluar dari Hotel Gloubel. Sasa nampak menjinjing sebuah map yang berisi berkas. Map yang menjadi tujuannya datang kemari.


Baru sampai teras, satpam langsung menghampirinya sembari membawakan payung.


"Ayo, Mysa... Cuacanya lagi mendung," sembari mengembangkan payung.


Sasa melihat hari yang mulai gelap, seolah akan menjatuhkan satu per satu butiran hujan. Namun, baginya tidak masalah karena ini cuma tetesan air kecil.


"Ga usah, Pak. Mobilnya deket kok," ujar Sasa menunjuk honda jazz berwarna hitam itu.


"Gapapa Mysa... Ayo," sembari memayungi Sasa dan Bara.


"Yaudah, ayo Sa.." ujar Bara mulai berjalan.


Sasa terpaksa mengiyakan dan ikut berjalan ke mobil dengan payung, padahal hari belum hujan. Mereka sampai di depan mobil, Bara berjalan menuju kursi pengemudi setelah mengucapkan terima kasih.


"Hati-hati, Mysa.." sembari membukakan pintu untuk Sasa.


"Makasi, Pak." Sembari masuk ke mobil.


Satpam itu masih berdiri di samping mobil, sembari memberi arahan agar mobil yang dikendarai Bara dapat keluar dengan baik.


(Klakson Mobil)


"Iya.... Hati-hati," ujar Satpam itu sembari tersenyum.


Mobil yang dikendarai Bara kini melaju di jalanan. Di tengah cuaca yang murung, sebentar lagi pasti akan turun hujan.


Bara melirik ke Sasa yang duduk di sampingnya. Di pahanya terdapat map yang tadi ia jinjing. Tapi, Bara enggan bertanya soal map itu, biar tidak dikira kepo.


"Lo bener berhenti kuliah?" tanya Bara.


"Harus," ujar Sasa.


"Kenapa ga kuliah sambil jadi CEO aja?" tanya Bara.


"Terlalu ribet, gua orangnya ga suka terlalu sibuk." Ujar Sasa.


"Tapi, kalau jadi CEO kan lo ga perlu banyak kerja juga." Ujar Bara lagi.


"Belum tentu," ujar Sasa.


"Intinya, ada hal yang ga bisa kita genggam dua-duanya, Bar!" tegas Sasa.


Bara melirik ke Sasa sembari fokus ke jalanan. Ia melirik jam di monitor mobilnya yang sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB.


"Dari mana lo tau kalau lo ga nyoba genggam dua-duanya?" tanya Bara lagi.


"..." Sasa terdiam, ia tidak bisa menjelaskan soal masalah puzzles ini ke Bara. Semakin banyak yang tahu, akan semakin mempersulit langkahnya.


Mobil melaju ke rumah Bara, bersamaan dengan rintik hujan yang turun. Sasa melihat jelas kaca di sebelahnya basah karena tetesan air.


Baru saja memalingkan pandangan dari kaca yang mulai kabur, ponsel Sasa berdering. Bara masih fokus menyetir seraya sesekali melirik Sasa.


Sasa merogoh ponselnya di tas, ia lalu melihat siapa sosok yang menelfonnya. Tanpa nama. Seseorang tak dikenal.


(Dering telfon)


Sasa hanya melihat nomor tak dikenal itu. Bara lalu menoleh ke Sasa karena dia tidak juga mengangkat telfon itu.


"Kenapa cuma diliatin?" tanya Bara.


"Ga kenal!" ketus Sasa hendak memasukkan ponselnya kembali.


"Angkat aja, siapa tau penting," sahut Bara.


Sasa kembali berfikir dan melihat lagi nomor itu. Ia lalu memutuskan mengangkatnya.


"Halo?" ujar Sasa.


(Hening) yang terdengar hanya suara hujan yang jatuh ke atas mobil.


"Halo? Siapa?" tanya Sasa lagi.


(Hening)


Sasa kembali menatap layar ponselnya, masih terhubung.


"Halo? Kalo ga ngomong gua matiin!" ujar Sasa.


Suara hujan yang deras membuat suara telfon sedikit kedap, apalagi seseorang itu berbicara dengan berbisik.


"Ini, gua..." ujar orang itu.


"Halo? Apaa, ga kedengeran!" ujar Sasa lagi.


"...." Sasa memutus sambungan telfon itu.


"Ga jelas!" ujar Sasa sembari meletakkan ponselnya di dekat paha.


"Siapa?" tanya Bara.


"Ga tau, suaranya kurang jelas, jadi gua matiin." Ujar Sasa.


Bara bergidik atas ulah Sasa itu. Ia lalu terus menyetir hingga mobil itu berhenti di depan rumahnya.


Pagar yang terkunci membuat mobil itu terparkir di luar pagar. Bara melihat hujan yang turun dengan deras malam ini. Hari pun sudah gelap karena menunjukkan pukul 18.30 WIB.


Jarak hotel gloubel dengan rumah Bara memang lumayan jauh, intinya lebih jauh dari rumah Bara ke rumah Sasa.


Bara melihat ke kaca mobilnya yang sangat basah, ia lalu mencoba menoleh ke kursi penumpang untuk mencari payung. Namun, nihil.


"Gua turun bentar," ujar Bara menoleh ke Sasa.


"Deras banget loh ini," ujar Sasa.


"Bentar doang," sembari membuka pintu mobil dan berlari ke pagar.


Baru beberapa menit saja, tubuh bara langsung basah karena hujan yang memang deras itu. Bara dengan cepat kembali ke mobil usai membuka pagar rumahnya.


"Huh..." dengan keadaan basah kuyup.


"Kan basah banget." Sembari melihat Bara yang mulai kedinginan itu.


"...Itu kan rumah gua ada di depan mata kita, Sa. Tinggal ganti baju," sembari memarkir mobilnya ke halaman rumah.


Kini, mobil Bara sudah terparkir di halaman, ia mencabut kunci mobilnya dan menoleh ke Sasa.


"Lo tunggu di sini bentar, jangan keluar," ujar Bara.


"Gua mau ambil payung buat lo," ujar Bara kepada Sasa.


"Ga usah, ini jaraknya cuma 30 detik Bara!"


"Pokoknya jangan keluar sampai gua dateng," sembari keluar mobil dan berlari ke rumahnya.


"Bar," sorak Sasa yang dibalas hempasan pintu mobil itu.


Sasa mendengus dan melihat ke pintu rumah dari dalam mobil. Ia melihat Bara yang sedang membuka pintu untuk masuk ke dalam.


Dekat, menurutnya jarak yang tidak jauh namun tetap harus basah jika memaksa keluar. Karena, rumah Bara berkonsep halaman terbuka.


Sasa diam sejenak sembari menunggu Bara, namun rasa tidak sabar membuatnya melirik kembali ke jarak yang dekat itu.


Ia lalu membuka pintu mobil dan berlari menuju pintu rumah Bara. Semua barang-barangnya, ia tinggalkan di dalam mobil.


Sasa berlari di tengah hujan yang deras itu, ia lalu sampai di depan pintu dengan keadaan yang basah kuyup. Sekarang, di depannya sudah ada Bara yang memegang payung.


"Kan gua udah bilang, Sasa!" bentak Bara sembari mendekat ke Sasa.


"Ini kan cuma air," ujar Sasa sembari melompat lompat kecil agar basah di badannya jatuh.


"Huh!" dengus Bara sembari menarik Sasa ke dalam rumahnya.


"Apaan sih!" ketus Sasa yang melepas pegangan tangan Bara itu.


"..." Bara hanya diam. Ia tak menjawab ucapan Sasa sama sekali.


Ia lalu berjalan ke kamarnya dan mengambil handuk baru di lemari pakaian. Tanpa bicara, ia lalu menyerahkan handuk itu ke Sasa.


"..." Sasa mengambil handuk itu dan menyeka seluruh bajunya yang basah karena air hujan.


Sasa lalu menyerahkan handuk itu ke Bara. Tanpa bicara, Bara mengambilnya dan mendekat ke Sasa. Ia lalu menyeka kepala Sasa yang lumayan basah.


"..." Hening.


Bara lalu membiarkan handuk itu ada di kepala Sasa, ia lalu berjalan ke kamar untuk mengambilkan baju ganti.


"Ganti, biar ga kembung!" sembari menyerahkan baju.


"Gap.." ujar Sasa hendak menyangkal.


"Bisa ga sih sekali aja ga ngebantah!" bentak Bara yang masih marah dengan Sasa itu.


Bara marah karena ia tidak terima Sasa mengabaikan omongannya tadi. Padahal, memaksa keluar saat hujan akan membuat suhu tubuhnya tak stabil dan demam.


"Gua kan ga suruh lo ngomong!" bentak Sasa tak mau kalah.


Bara lalu mendekatkan langkahnya ke Sasa, satu per satu hingga mereka semakin dekat. Ia lalu mencondongkan badannya, dan berbisik tepat di telinga Sasa.


"Kalau lo masih ngebantah, biar gua yang bantu pakein baju ini ke lo," bisik Bara yang membuat Sasa merinding.


Sasa menelan ludah mendengar perkataan itu. Ia seketika mendorong Bara menjauh dari tubuhnya dan berjalan ke arah tak tentu. Ia berjalan sendiri mencari kamar, namun...


"Ini mau ganti dimana?" tanya Sasa sembari menoleh ke belakang.


Bara mendekat ke Sasa yang berada di depan pintu kamarnya itu. Melihat itu, Sasa seolah punya perasaan yang tidak enak. Ia lalu sedikit mundur saat Bara semakin dekat.


"Disini," sembari membuka pintu kamarnya.


Sasa melirik ke Bara seraya masuk ke kamar itu. Sebelum menutup pintu, ia lalu menatap sekeliling kamar dari depan pintu yang terbuka. Ia lalu menoleh ke Bara.


"Lo ga masang kamera kan?" ujar Sasa dengan raut cemas.


"...Lo pikir gua se free itu? Gua masih banyak kerjaan lagi, packing obat di ruang kesehatan." Celetuk Bara sembari berlalu.


"Yakali, siapa tau aja otak lo cab*l!!!!!" sorak Sasa sembari masuk dan menutup pintu kamar.