
Sasa masih duduk di ruang tamu, berfikir keras siapa sosok yang menemani Zena saat grand oppening waktu itu. Apakah sosok itu kenal dengan Sasa?
"Apa ibu tau maksud dari kata-kata di surat ini?" ujar Sasa menanyakan maksud setiap kata ambigu di surat itu.
"Mama kamu cuma menyerahkan amplop yang sudah diberi perekat, jadi ibu tidak tahu isinya apa," jelas Bila.
"Tapi, dari apa yang ibu baca, sepertinya Ibu Zena mau kamu tetap berada di rumah itu, jangan keluar," jelas Bila.
Sasa lalu menatap Bila dengan raut bertanya-tanya. Kenapa? Apa ada sesuatu yang akan mengganggu hidupnya?
"Di surat ini," ujar Sasa menunjuk surat yang ada di atas meja itu.
"Ada kalimat yang seolah ngasih tau kalau ada ancaman dari seseorang terhadap keluarga saya," ujar Sasa menjelaskan.
"Orang itu adalah orang yang saya kenal, menurut ibu siapa? Apa Mama pernah cerita sesuatu ke Ibu?" tanya Sasa.
Bila nampak memikirkan sesuatu, ia mencoba mencari jalan untuk menerangkan maksud surat itu.
"Beliau cuma pernah bilang ada hal yang harus di urus dan dia mau kamu tetap aman,"
Bila lalu membuang pandangan ke luar agar dapat memikirkan sesuatu secara jelas.
"Ibu Zena orang baik, saya bahkan ga berfikir akan ada orang yang bermasalah sama dia," jelas Bila.
"Kalau benci?" ujar Sasa membuyarkan pikiran Bila.
Bila lalu mencoba memperbaiki duduknya. Ia lalu menatap Sasa baik-baik.
"Kita ga pernah tau siapa yang akan berubah wajah di belakang kita," jelas Bila.
"Mungkin ini yang Ibu Zena maksud, kamu harus berhati-hati terutama sama orang terdekat kamu!" ujar Bila.
Sasa seketika terdiam. Ia seperti diterpa badai, siapa orang terdekat yang tega menusuk mereka dari belakang?
Apa orang itu adalah Renita?
Bila lalu bangun dari duduknya, ia bermaksud ingin mengambil sesuatu yang ia simpan.
"Sebentar Mysa," sembari berjalan pergi.
Ia meninggalkan Sasa sendiri dengan lamunan. Bila masuk ke ruang kerja dan mengambil sesuatu di dalam lacinya.
Setelah mengambil map berwarna hijau, ia kembali menemui Sasa. Bila duduk seperti tadi dan meletakkan map itu di meja.
"Itu apa Bu?" tanya Sasa sembari melihat map itu.
Bila lalu membuka map itu. Nampak berkas berwarna coklat dan putih di sana. Seperti kumpulan surat-surat penting.
Bila lalu mengeluarkan satu surat berwarna putih, ia menyerahkannya ke tangan Sasa.
"Sudah empat tahun ibu nunggu kedatangan kamu," ujar Bila.
Sasa nampak membaca kertas itu sembari mendengarkan Bila yang terus berbicara.
"Ibu pikir kamu akan ke sini saat usia kamu 17 tahun, tapi...."
"Ternyata tidak," Bila lalu merogoh beberapa kertas lagi.
"Ibu terpaksa simpan surat ini di rumah selama 4 tahun sambil berharap kamu datang ke sini," jelas Bila.
Sasa lalu menurunkan surat yang tadinya menutup sebagaian wajahnya itu.
"Kenapa ibu ga langsung ke rumah aja?" tanya Sasa.
"Tidak bisa, kalau saya ke rumah kamu, itu hanya akan membahayakan nyawa kamu!" ujar Bila secara tegas.
"Kenapa?" tanya Sasa meletakkan surat itu.
"Karena pesan ibu kamu waktu itu biar kamu yang nanti akan menemui saya, karena ada sesuatu yang beliau tidak bisa ceritakan!" tegas Bila.
Bila lalu mendekat ke Sasa, ia mulai menatap Sasa dengan serius.
"Saya orang kepercayaan Ibu Zena, saya harap kamu juga bisa percaya ke saya," ujar Bila.
"Sekarang, kamu udah tau isi wasiatnya, seluruh cabang hotel akan jadi milik kamu," ujar Bila.
"Apa semua wasiat ini harus diturutin termasuk poin ke 2?" tanya Sasa.
Poin ke 2 menuliskan bahwa semua manajer harus di ganti kecuali manajer pusat. Apa? Kenapa ada wasiat ini?
"Saya tanya sekali lagi, apa kamu bisa percaya sama saya?" tanya Bila.
Sasa nampak berfikir panjang, ia bukan orang yang mudah percaya, tapi untuk situasi ini sepertinya ibunya benar, Bila adalah kunci yang akan menuntunnya.
"Cuma kamu yang bisa ngehandle semua ini dengan baik, atau ibu dan yang lain juga akan kehilangan pekerjaan," ujar Bila.
Sasa lalu memutuskan untuk mempercayai Bila seperti Zena percaya ke Bila.
"Oke, apa yang harus saya lakukan?" ujar Sasa.
Bila lalu tersenyum kecil. Ia senang Sasa mulai bisa mempercayainya. Dengan begini, ia akan dengan mudah menempatkan Sasa di tempat aman.
"Tanda tangan di sini sebagai peralihan waris," ujar Bila.
Sasa lalu menekan kertas itu dengan tanda tangannya. Setelah itu, ia bertanya kembali apa yang selanjutnya harus ia lakukan.
"Sekarang kamu sudah jadi CEO 25 cabang Hotel Gloubel." Ujar Bila.
Sasa terbelalak, lalu bagaimana dengan kuliahnya? Pembunuh ibunya? Siapa yang akan cari tahu semua ini lagi?
"Langkah kedua apa?" tanya Sasa.
"Kamu harus ganti semua manajer, saya akan bantu urus berkasnya, kamu hanya perlu tanda tangan," ujar Bila.
"Tapi, bukannya tante Deina adalah salah satu manajer di Bali?" tanya Sasa memastikan.
Bila lalu mengangguk.
"Mysa harus percaya kalau isi wasiat ini adalah langkah membersihkan semua orang yang mungkin menjadi penyelundup," ujar Bila.
"Apa Mama dulu pernah nge upgrade hotel dengan reset pegawai?" tanya Sasa.
"Pernah, tahun 2013," ujar Bila.
"Ibu Zena mengganti semua karyawan karena ada mata-mata dari salah satu hotel saingan," jelas Bila.
"Mungkin ini adalah langkah yang sama, biar Mysa dan perusahaan tidak terkontaminasi dengan orang lama," tambah Bila lagi.
"Oke, saya akan turutin semua pesan ini," jelas Sasa secara tegas.
Bila lalu kembali tersenyum, ia yakin bahwa Sasa akan bisa menjalankan Hotel Gloubel seperti Ibunya dulu.
"Saya minta ibu bantu saya ngurus semua ini," ujar Sasa.
"Baik, pokoknya kita akan jalankan semua poin di wasiat ini, saya akan kabarin proses ini secepatnya." Ujar Bila sembari merapikan berkas.
"Baik, Mysa..." ujar Bila memberi salah hormat.
Sasa lalu bangun dari duduknya, ia pamit ke Bila dan melangkah menuju pintu.
"Hati-hati, Mysa..." sembari terus merapikan berkas.
Sasa melanglah ke pintu, namun ia berhenti dan membalik badan. Ia melihat kembali Bila yang tengah merapikan berkas itu, lalu berkata.
"Apa saya bisa minta berkas 4 tahun lalu soal grand oppening, Bu?" tanya Sasa secara tiba-tiba.
Bila lalu mendongak dan melihat ke Sasa. Ia lalu mengangguk dan tersenyum.
"Bisa, tapi perlu waktu untuk mencarinya, tapi secepatnya akan saya kabarin," ujar Bila.
Sasa menarik nafas dalam dan mengiyakan ucapan Bila.
"Oke, saya tunggu!" Sasa lalu berjalan menuju pagar. Ia meninggalkan Bila sendiri.
***
Sasa pulang ke rumahnya naik taxi seperti awal pergi tadi. Ia hanya bisa diam dan memikirkan semua perkataan Bila. Apa ia harus menjalankan semua wasiat itu? Tapi, itukan perintah ibunya, tidak mungkin Sasa mengabaikannya.
Sepanjang jalan, Sasa memikirkan kuliahnya yang baru berjalan. Apa ia akan berhenti dan hanya menjadi CEO saja? Tapi, tujuan awalnya kan mencari pelaku pembunuhan ibunya.
Jika ia tidak kuliah, siapa yang akan bisa ia percaya untuk meretas?
Seketika Sasa teringat sosok Zean. Pria yang mati-matian ingin bergabung dalam misinya. Apa ia harus membuka jalan untuk Zean?
Sasa lalu merogoh ponselnya dan mencari nama Zean di sana. Tepat, tinggal menekan saja untuk menelfon.
Entah kenapa, Sasa kemudian tidak jadi menelfon dan memilih membuka room chat saja. Ia lalu menghubingi Zean terlebih dahulu.
(Room Chat)
Penerima: Zeano Pratama
Besok gua ga masuk kuliah, gua pengen ketemu lo besok pagi di cafe Monrow, tapi kalau lo masuk kuliah kita ketemunya siang aja.
(Send)
Sasa meletakkan kembali ponselnya dan membuang pandangan ke luar. Ia menarik nafas dalam, kenapa beban jadi sebanyak ini?
Apa karena cuma dia yang nanggung sendiri?
Taxi itu melaju terus dan berhenti tepat di depan rumah Sasa. Sasa menyerahkan sejumlah uang dan turun. Ia lalu menekan bel rumah dan mendapati sosok Diki membukakan gerbang.
"Sore Mysa," ujar Diki yang dibalas anggukan oleh Sasa.
Sasa lalu berjalan masuk ke halaman rumah, kali ini ia tidak masuk ke dalam. Ia memilih duduk dulu di pos satpam.
Diki seketika heran akan perilaku Sasa, ia lalu mendekat dan mempersilahkan Sasa duduk.
"Ini Mysa, kursinya silahkan duduk." Ujar Diki.
Sasa diam dan duduk di kursi itu. Diki menjadi semakin heran kenapa Sasa tak bicara.
"Mysa..." ujarnya melambaikan tangan di depan mata Sasa.
Sasa lalu menatap datar mata Diki. Diki seketika terkejut akan tatapan kosong Sasa.
"Mysa... Kesambet? Sebentar saya bacain ayat kursi!!!" sembari hendak mengambil air.
Sasa yang melihat itu seketika tersenyum dan menaikkan alisnya.
"Ya Allah, beneran kesambet ini mah!" ujar Diki ingin mengambil air.
"Haha.... Enggak Pak!!" sembari menyilangkan kakinya.
"Alhamdulillah, beneran ga kesambet?" tanya Diki.
"Engga, Fine!" ujar Sasa.
Diki lalu mengusap dadanya dan membuang nafas. Ia memang sedikit penakut kalau masalah horor. Semua orang juga gitu ga sih? Hehehe.
"Pak Diki punya anak perempuan?" tanya Sasa tiba-tiba.
Diki seketika mengangguk.
"Punya, 2 lagi." Ujar Diki.
"Saya boleh minta tolong ga Pak?" tanya Sasa.
"Apa? Mysa mau dibantu apa?" tanya Diki penasaran.
"Tolong beliin saya motor baru," ujar Sasa.
Diki seketika tertawa atas ucapan Sasa.
"Darimana duitnya Mysa, saya kerja di sini juga gajinya setor ke istri semua loh," ujar Diki.
"Nanti kalau berkurang dikira punya simpenan," celetuk Diki.
Sasa nampak bergidik atas ucapan Diki.
"Tenang, nanti uangnya dari saya." Ujar Sasa.
"Oalah, beneran minta tolong toh, okee!!!" jawab Diki dengan sigap.
"Mysa kan ada mobil, kenapa naik motor?" tanya Diki.
"Pokoknya tolong beliin motor keluaran terbaru, bapak kan punya anak perempuan, jadi pasti tahu selera perempuan, iya kan?" tanya Sasa.
"Walah, kalau seleranya beda gimana?" tanya Diki.
"Saya kasih waktu bapak buat telfon anak bapak hari ini, besok pagi kabarin saya dia suka motor model apa," jelas Sasa.
Sasa lalu bangun dari duduknya. Ia bermaksud ingin pergi ke dalam rumah.
"Kalau bisa yang paling gampang dibawa," ujar Sasa.
"Oke Mysa, besok saya kabarin." Sahut Diki.
Sasa lalu berjalan masuk ke rumah, sementara Diki nampak merogoh ponsel untuk menghubungi anaknya.
"Ada ada saja Mysa," sembari menelfon anaknya.
(Dering Panggilan)
"Halo, ndok?" sapa Diki.
"Bapak mau tanya, kamu mau motor model apa?" tanya Diki.
"Bukan, bukan bapak yang mau belikan kamu!" celetuk Diki.
"......" Diki lalu mengobrol panjang dengan anaknya.