
[Kembali dari Makam Zean]
Abu melangkah pergi meninggalkan Sasa yang masih berdiri di depan mobil miliknya. "Abu, tunggu!" Sasa masih diam di posisinya.
"Iya?" Abu menoleh ke arah suara.
Dengan sedikit malu, Sasa menatap datar ke arah Abu. "Thank's ya!" ujar Sasa.
"Hmm, santai aja... Jangan lupa dibaca!" Abu lalu tersenyum dan masuk ke mobilnya.
Kini, hanya ada Sasa dengan surat di tangannya. Sasa membuka pintu mobil dan masuk. Ia duduk sejenak dan langsung membuka surat itu.
Tangannya membuka lipatan pada surat itu, dengan sedikit deg-deg an ia memutuskan membaca surat yang ditujukan ke dirinya.
'Halo, Sasa Sasilia!'
'Apa kabar? Masih menangiskah?'
'Kalau masih, jangan lupa dikurang-kurangin, biar ga jadi beban.'
Membaca baris pertama saja, nafas Sasa sudah terasa berat.
'Gua sekarang udah ga bisa senyum di hadapan lo lagi, dan surat ini...'
'Akan jadi media bicara gua untuk lo agar mengambil kado terakhir yang gua titip ke bokap,'
'Sana gih, ke rumah gua! Ambil kadonya, dan simak baik-baik ya...'
'Salam, Zeano Pratama!'
Deep!
"Zean? Lo nulis ini untuk gua, Ze?" Sasa meletakkan kertas itu dan mencerna setiap baris yang ia baca.
"Gua harus temuin Pak Fergi," jawab Sasa seraya langsung prepare untuk melaju dengan mobilnya.
...***...
'Gua udah sampai Bali, thank's ya atas tumpangannya kemarin!'
Pesan singkat itu baru saja terkirim ke Ghare. Seketika senyum Larisa mengembang seperti donat.
Tringg!!!
Satu notif pesan masuk membuat senyum Larisa semakin lebar. 'Hari ini jalan yuk?' tanya Ghare lewat pesan.
"Hah?" Larisa mendadak kaget.
'Jalan dalam mimpi?' jawab Larisa ngasal.
Larisa bergidik dan meletakkan ponselnya di meja. "Dasar! Orangnya aja di Jakarta."
(Dering Telfon)
Larisa melirik kembali ke ponselnya. 'Ghare is Calling'
"What? Ngapain nih anak?" Larisa merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
"Halo? Ngapain lo?" tanya Larisa dengan jutek setelah mengangkat telfon itu.
'Jutek kok diangkat?' sindir Ghare.
'Yaudah, gua matiin...' ujar Ghare sedikit mengancam.
"Yaudah! Lo pikir gua bakalan nahan?" balas Larisa lagi.
'Iya, iya... Daripada berantem, jalan yuk.'
"Lo kan di Jakarta," jawab Larisa.
'Gua di depan rumah lo, keluar gih.'
Mendengar itu, seketika Larisa berlari ke jendela. Ia ingin memastikan ucapan pria di balik telfon ini. Saat ini, Bunda Larisa sedang tidak ada di rumah karena pergi ke seminar merangkai Bunga.
"Gila! Kok bisa ni anak nyampe Bali?" tanya Larisa saat melihat Ghare ada di depan pintu rumahnya.
'Keluar, gua udah liat lo tadi di balik jendela.' Ghare lalu menutup telfon tersebut.
"Gha.... Hei, Ghare?" Larisa menyadari telfon yang sudah terputus itu.
"Dasar cowo aneh!" Larisa lalu berjalan menuju pintu rumahnya. Perlu hitungan detik saja untuk ia membuka pintu dan menatap kembali wajah Ghare yang tadi pagi baru ia tatap saat berangkat ke bandara.
"Hai?" sapa Ghare tanpa rasa bersalah.
...***...
Bila melangkah masuk ke hotel Gloubel yang sudah tidak ia pijak beberapa bulan ini. "Siang Bu," beberapa orang menyapanya.
"Siang Bu, welcome."
"Pagi, saya mau nanya... Nona Sasa ada ke sini?"
"Belum ada, Bu. Terakhir kali dua minggu lalu, itupun cuma sebentar."
"Oh, thanks ya..." Bila lalu langsung melangkah ke ruangannya.
Baru sampai di ruangan, Bila langsung tersenyum melirik sekelilingnya nampak terawat. Ia lalu melangkah perlahan ke arah sebuah lemari. Dengan pelan, Bila melirik beberapa buku untuk menentukan pilihannya.
Tangannya lalu memilih satu buku yang berjudul 'Arah Mata Angin' Ia lalu kembali ke kursinya dan segera duduk.
Perlahan Bila membalik buku itu, satu persatu halaman, dan setelah tiba di halaman 68, ia lalu mendapati sebuah kertas yang terlipat dengan baik.
"Huh..." dengusnya seraya membuka kertas itu secara perlahan.
***
Mobil yang dikendarai Sasa berhenti tepat di halaman rumah Fergi. Gerbangnya nampak terbuka dan ada beberapa kursi di halaman.
(Dering Telfon)
"Iya, Halo?" sapa Sasa ke seseorang di balik sana.
"Sekarang?" tanya Sasa lagi.
"30 menit lagi saya ke sana, sekarang ada urusan mendadak yang ga bisa ditinggal."
"Oke..."
Sasa lalu menutup panggilan itu dan meletakkan ponselnya di dalam slingbag. "Gua akan jemput titipan yang udah lo tinggalin di rumah ini."
Sasa lalu turun dari mobil dan membiarkan mobilnya terparkir di luar karena ada banyak kursi.
"Non Sasa... Saya baru liat lagi sejak--"
"Pak Fergi ada?" tanya Sada memutus percakapan pria di hadapannya.
"Ohh, ada Nona, tadi baru selesai tahlilan dengan keluarga besar kampus, sekarang bapak lagi sendiri kok di dalam."
"Makasi ya," Sasa lalu meninggalkan satpam yang masih penasaran dengan Sasa itu.
Saa kini berdiri di depan pintu dan melihat jelas kekosongan di rumah ini. "Permisi..." ujar Sasa seraya menekan lonceng rumah.
"Pak Fer--"
"Masuk, Sa." Fergi berjalan ke ruang tamu dan duduk.
Sasa lalu ikut duduk di hadapan Fergi. "Pak, sebelumnya saya minta maaf karena baru ke sini temuin bapak sekarang,"
"Gapapa, gausah ga enak gitu." Fergi mencoba tersenyum.
Dengan wajah datar Sasa menjawab, "Saya benar-benar perlu waktu untuk berani datang ke sini lagi, Pak."
Fergi tersenyum ke arah Sasa dan berdiri. "Saya tahu, dan saya juga perlu banyak waktu untuk terbiasa dengan kepergian Zean."
Saya tersenyum getir. "Sebentar ya, saya buatin kamu minum dulu, art semuanya lagi berbenah abis acara tahlilan soalnya," ujar Fergi
"Eh, ga usah, Pak... Saya udah minum tadi, saya--"
"Sebentar, saya mau ke kamar dulu." Fergi langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar.
Sasa mengangguk. Ia lalu memikirkan bagaimana cara bertanya ke Fergi perihal pesan dari Zean.
Selang beberapa lama sendiri di ruang tamu, Fergi datang dengan membawa sebuah kotak berpita yang kecil.
Fergi lalu meletakkan kotak itu di atas meja, "Ini kan alasan kamu ke sini?" tanya Fergi.
Sasa menelan ludahnya setelah melihat kotak di hadapannya. "Ini?" tanya Sasa dengan ragu.
"Itu kotak yang Zean titip di malam sebelum kematiannya." Sasa terpaku mendengar ini.
"Ambil," ujar Fergi menyerahkannya ke tangan Sasa.
"Bapak udah liat isinya?" tanya Sasa memastikan.
"Saya ga tau apa isinya, tapi saya sering liat Zean dengan kotak ini di kamarnya setiap malam."
Sasa menyentuh kotak itu perlahan. Ia lalu membukanya di hadapan Fergi. Usai melihat flashdisk di kotak itu, Sasa lalu memutuskan bertanya ke Fergi.
"Pak, apa peralatan Zean masih lengkap di kamarnya?" tanya Sasa.
"Semuanya masih sama," jawab Fergi.
"Pak, boleh saya pinjam dan akses komputer Zean? Saya mau masuk ke kamarnya satu kali aja." Sasa menatap Fergi penuh arti.
Fergi hanya menatap Sasa dengan wajah datar. Ia bahkan belum memberikan jawaban apapun.