
Ghare mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Ada beberapa baju yang ia masukkan. Ia nampak bergegas sekali hari ini.
Usai berkemas, Ghare langsung berjalan keluar rumah. Ia lalu memasukkan kopernya ke dalam mobil. Setelah itu, Ghare masuk ke kursi pengemudi dan membuka ponselnya.
'Penerbangan menuju Bali'
"Gua harus sampai di Bali siang ini juga,' ujar Ghare mencari tiket dengan jam keberangkatan lebih awal.
Ghare memilih dan segera membayar melalui mobile banking. Ia kemudian meletakkan ponselnya dan memutar mobil ke arah jalan.
...----------------...
Zean yang baru saja sampai di kampus nampak melihat ke arah gerbang utama. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Ghare di sana.
"Kemana sih dia?!"
Zean terus menatap ke luar gerbang. Ia penasaran dengan Ghare yang tak terlihat beberapa hari ini.
"Apa dia marah banget ya gara-gara gua tinggal?" tanya Zean.
Zean lalu bergidik sendiri. Ia melihat ponselnya, tidak ada notif panggilan dari Ghare di sana. Setelah bosan menunggu, Zean memilih berjalan ke kelasnya.
...----------------...
Mobil sedan hitam yang dikendarai Ghare tepat berpapasan dengan mobil alphard yang Sasa tumpangi. Sasa nampak fokus dengan kemeja yang ia pakai.
Ghare yang juga fokus nyetir, tidak melihat ke arah mobil yang beda arah dengannya itu. Mobil Ghare terus masuk ke persimpangan sebelah kanan.
Ia lalu mengendarai mobil dengan cepat menuju bandara. Selang beberapa menit, ia kemudian sampai di bandara.
'Keberangkatan Pesawat New Airlines'
Ghare menurunkan kopernya dari dalam mobil. Ia lalu menelfon seseorang dan menutup pintu mobilnya.
(Panggilan Keluar)
'Halo, Kap?'
"Mobil gua tinggalin di bandara, jangan lupa jemput abis kampus."
'Siap, Kap... Ga mau nunggu kita dateng dulu?'
"Kelamaan, gua cabut!" ujar Ghare menderek kopernya.
'Hati-hati, Kap!' Ghare lalu mematikan ponselnya sebelum menuju ke pemeriksaan bandara. Ia berjalan masuk ke bandara seraya melirik ke arah mobilnya.
Mobil itu ditinggal sampai para sahabatnya datang menjemput. Lalu, kuncinya bagaimana?
(Flashback)
Ghare turun dari mobilnya dan menuju ke sebuah perkumpulan para lelaki. "Halo, Kapten!" ujar salah seorang seraya memeluk Ghare.
"Gua mau bicara serius," ujar Ghare yang membuat mereka berlima diam.
Pria sangar yang sedang minum berlima itu nampak serius memperhatikan.
"Gua besok mau ke Bali, ada yang mau gua urus," ujar Ghare dengan datar.
"Mau kita temenin, Kap?" tanya salah seorang.
"Kaya ada uang aja lo, makan aja minta!" ketus yang lainnya.
Plakkk!!!
"Sakit ege!" ketus yang kena tampar.
Ghare menatap mereka dengan datar. "Bisa diem ga!" ketus Ghare.
"Maaf, Kap..."
Ghare duduk di salah satu kursi dan mulai kembali bicara. "Gua mau minta tolong 2 hal, bisa?" tanya Ghare.
"Pasti bisa, apa Kap?"
Ghare menarik nafasnya. "Pertama, tolong jemput mobil gua di bandara besok siang," kata Ghare.
"Kuncinya gimana, Kap?"
"Ini, ambil!" Ghare melempar kunci itu ke salah satu temannya.
"Lah, Kapten mau hidupin mobil pakai apa?" tanya mereka.
"Gua ada duplikatnya, lo pikir gua bego!!!" bentak Ghare.
"Yang bego kan elu, ege!" ketus mereka satu sama lain.
"Jangan lupa untuk ambil mobil gua di parkiran bandara besok," jawab Ghare.
"Aman, Kap!!" ujar mereka serentak.
Ghare lalu terdiam setelah menyebutkan hal pertama. "Yang kedua, apa Kap?" ujar salah seoranv memberanikan diri bertanya.
Ghare menatap pria yang bertanya dengan tajam. Ia lalu berdiri dari duduknya. "Kedua, gua mau kalian pantau adek kelas yang namanya 'Zeano Pratama'."
"Zeano Pratama?" ulang mereka.
"Iya, pantau apapun yang dia lakuin di kampus dan di luar kampus," ujar Ghare.
"Iya, itu kan anak yang waktu itu kita pukulin ga sih? Kita hajar di kampus aja, ayo!" tambah yang lain.
"Jangan, dia anak rektor kampus," ujar Ghare.
"Ha? Apa? Pak rektor ada anak seumuran kita?" ujar pria itu terkejut.
Ghare mengangguk. "Makanya, jangan gegabah! Tugas kalian cuma pantau dia, cari tahu dimana lokasi nongkrongnya di luar kampus!"
"Oke Kap, gampang!"
"Gua denger-denger dia udah ga temenan lagi sama si cewe songong, jadi dia kemana-mana sendiri, itu kesempatan buat kalian mantau dia!" jelas Ghare.
"Oke, kita akan pastiin tempat terbaik untuk ngobrol manis sama dia, hahahaha...." mereka saling menatap satu sama lain.
"Yoi, kapan lagi ketemu sama anak rektor secara bail-baik, hahahah,..."
Ghare hanya diam dengan ucapan mereka. Yang ada di kepalanya hanya emosi dan dendam. Ia sangat kesal dengan ulah Zean. Ini semua terjadi karena Zean, pikirnya.
(RightNow)
Ghare masuk ke dalam pesawat, ia duduk di kursi VIP yang sudah ia pesan. "Makanannya, Pak..." sembari meletakkan nampan berisi asupan.
Ghare melirik wanita di sampingnya tanpa ucapan. Ia lalu menutup kembali kerai kecil yang ada di sebelahnya. 'Yang gua punya cuma alamat ini,'
'Gimana gua bisa tau bentuk wajah ibu gua, kalau alamat dia yang gua tau aja cuma alamat kantor,'
Ghare meletakkan kertas nama yang ada ditangannya itu. Ia lalu memejamkan mata seraya lepas landasnya pesawat itu menuju Bali.
'Mami? Apa wanita itu masih bisa gua sebut dengan panggilan Ibu?'
Ghare lalu mulai masuk ke dunia mimpi, ia semakin tak sadar akan yang ada di sekitarnya. Sekarang, ia hanya ingin menuju Bali dengan kilat.
...----------------...
Sasa menuju ke kamarnya dengan hati yang senang. Ia seperti mendapat dukungan dari orang lain. Sasa yang masih memegang amplop biru itu nampak tersenyum dalam perjalanan ke kamar.
Ia masuk ke kamarnya dan berjalan menuju balkon. Sudah lama sekali ia tak mendengarkan musik dengan earphone di balkon ini.
Sasa lalu meletakkan amplop itu di meja kecil. Ia memandang langit luas itu dengan perasaan berbeda kali ini. "Mysa udah berjalan sejauh ini demi Mama," ujar Sasa dengan mata berkaca-kaca.
Sasa merasa senang dan sedih kepada dirinya sendiri. Ia senang karena satu per satu bukti ia dapatkan, tapi ia juga sedih karena satu per satu orang terdekatnya hilang karena terjawabnya misi ini.
"Lusa Mysa akan ke Bali, Ma..." Sasa menatap hamparan langit luas.
"Mysa akan pastikan, kalau sampai beneran Deina yang bunuh Mama, Sasa akan buat dia ngerasain luka yang sama 10 kali lipat!"
Sasa lalu tersenyum kecil. Ia semakin dewasa untuk menyelesaikan masalah kali ini. "Semua ini akan berakhir."
(Dering Telfon)
Sasa yang sedang menatap awan itu menoleh ke ponsel yang ada di meja. Ia lalu merogohnya dan melihat nama yang tertera di sana.
"Zean, apa dia udah dapet fakta soal Mbok Ira ya?" Sasa lalu menjawab panggilan itu.
'Halo, Sa?'
"Apa? Lo udah dapet fakta soal Mbok Ira?" tanya Sasa.
'Udah, Mbok Ira ternyatamantan TKW di Korea,' jawab Zean.
"Maksud lo?" tanya Sasa.
'Dia pernah kerja di Korea selama 3 tahun, dan yang paling buat gua kaget adalah....'
"Apa?" tanya Sasa.
'Nama aslinya bukan Irana....'
"Apa? Maksud lo data ktpnya palsu?" tanya Sasa.
'Bener, gua belom bisa ketemu lo sekarang, jadi gua mau sampein ini di telfon aja...'
"Gua beneran kaget sama info ini, apa ini ada hubungannya sama Deina yang ngirim Mbok Ira secara sengaja ke sini?" tanya Sasa. Bayangan saat Mbok Ira datang pun ada di benaknya.
'Permisi, Nona...'
'Kayaknya iya, Sa...'
'Saya disuruh Nona Deina untuk bantu-bantu di sini.'
Seketika bayangan tatapan mata Mbok Ira terlihat jelas di ingatan Sasa. 'Gua yakin ini ada kaitannya sama Deina dan suaminya yang dari Korea... Lo harus cari tahu soal Deina secepatnya.'
"Iya... lo bener, Zean." Sasa tercengang dengan informasi yang Zean sampaikan.
'Sama-sama, gua kelas dulu.'
"Oke, Thanks ya!"
Sasa menutup telfon itu dan menggenggamnya dengan erat. Permainan apa lagi ini? Benaknya dipenuhi pertanyaan kali ini.
"Gua beneran harus ke Bali secepatnya!"
Sasa seketika benar-benar mantap ingin ke Bali. Ia harus segera menanyakan hal ini secara detail ke Deina. "Sekarang lo bisa tenang, Deina!"