
Taxi online yang ditumpangi Sasa berhenti di depan sebuah rumah minimalis. Rumahnya dibangun dengan model se simple mungkin. Sasa lalu turun dan manyerahkan sejumlah uang.
Usai turun, taxi itu berlalu dan meninggalkan Sasa sendiri di depan rumah. Sasa membaca alamat rumah itu dan mencocokkannya dengan kartu nama.
Benar, ini rumah Bila.
Sasa menekan bel yang ada di depan pagar. Ia menunggu si pemilik rumah membukakan pagar.
Sasa menekan bel itu beberapa kali.
Beberapa menit kemudian, keluar wanita yang mengenakan baju casual. Ia berjalan membukakan gerbang dan tersenyum ke Sasa.
Iya, itu adalah Bila.
"Sebentar...." ujarnya sembari membuka kunci pagi.
Ia lalu mendorong pagar itu dan langsung memeluk Sasa.
"Mysa..." lirihnya sembari memper-erat pelukan itu.
Sasa sama sekali tak membalasnya. Tangannya bahkan masih lurus ke bawah.
"Ayo, masuk... Udah lama sekali ibu ga liat kamu," sembari merangkul Sasa masuk.
Sasa masuk ke rumah itu, ia berjalan beriringan menuju ruang tamu.
"Duduk, Mysa!" sembari ikut duduk bersama Sasa.
"Kamu mau minum apa?" tanya Bila sembari menyilangkan kakinya.
"Ga usah repot-repot, Bu." Ujar Sasa yang ingin langsung masuk ke topik pembicaraan.
"Saya ke sini untuk..."
Sasa lalu mengambil sesuatu di tasnya. Ia mengeluarkan amplop yang kemarin Bila kasih. Amplop itu nampak sudah tak berperekat.
Sasa menyodorkan amplop itu ke Bila dari atas meja. Bila lalu melihat ke amplop coklat itu.
"Ini," ujar Sasa.
Bila melihat ke Sasa dengan datar. Ia lalu mengambil amplop itu.
"Kamu udah baca?" sembari membukanya dan mengeluarkan kertas putih itu.
"Sudah," Sasa lalu diam sejenak.
Bila memegang kertas putih itu dan melihat ke Sasa sebelum membukanya.
"Ibu boleh baca?" katanya dengan ragu.
Sasa mengangguk, ia berfikir bahwa Bila berhak tahu secara keseluruhan isi pesan itu. Sasa membiarkan Bila selesai membaca surat itu.
Usai membaca, Bila meletakkan surat itu di atas meja. Matanya lalu menatap kembali ke Sasa.
"Apa yang buat kamu yakin kalau pesan itu dibuat oleh Zena?" tanya Bila.
Sasa menelan ludahnya. Ada sesuatu yang menjadi kode bahwa memang ibunya yang buat.
"Kenapa ibu panggil saya Mysa?" tanya Sasa tiba-tiba.
Bila seketika mengernyitkan dahi, mencari jawaban kenapa dia memanggil Sasa dengan panggilan itu. Panggilan yang biasa Zena pakai.
"Ibu panggil kamu Mysa karena alm Ibu kamu panggil kamu dengan nama itu, jadi cuma sebagai tanda kalau ibu juga menganggap kamu anak," jelas Bila.
Sasa menatap Bila dengan datar. Detik itu juga ia semakin yakin bahwa bukan Bila yang menulis pesan ini.
"Saya percaya bukan ibu yang buat," ujar Sasa yang membuat Bila tertegun.
Memang surat itu bukan dia yang buat, tapi bukankah ada banyak kemungkinan yang seharusnya membuat Sasa ragu. Ia jadi heran kenapa Sasa bisa langsung percaya hanya dengan sekali baca.
"Apa yang buat kamu percaya secepat ini? bukannya kamu bisa aja nuduh ibu yang buat surat ini,"
"Apalagi surat ini udah dibuat 4 tahun lalu," ujar Bila.
"Bukannya dalam rentan waktu selama itu bisa saja saya sebagai manajer hotel membuat keterangan palsu?"
Sasa lalu mengambil surat itu dan menunjuk bagian terakhir surat. Disana tertulis 'Mysa, My Sasa.' Tepat di atas tanda tangan ibunya.
Kalimat itu, hanya Zena yang tahu maknanya. Zena hampir setiap hari mengucapkan itu ke Sasa. Kalimat yang seolah dibuat khusus untuk Sasa.
"Maksudnya?" tanya Bila tidak paham.
"Cuma ibu saya yang tahu arti Mysa, Bu." Ujar Sasa.
Sasa lalu menjauh dari surat itu, ia menatap Bila dengan sangat serius.
"Saya dateng ke sini sesuai permintaan ibu, saya juga udah tahu kalau surat ini dibuat oleh ibu saya." Jelas Sasa.
"Pertanyaannya kenapa surat ini ga dikasih ke saya pas hari kematian Mama?" tanya Sasa.
"Sekarang, tolong jelasin semuanya, apapun soal surat ini," ujar Sasa dengan tatapan tajam.
Bila lalu memutar memori masa lalu, 4 tahun silam. Ia mencoba menerangkan ke Sasa isi surat itu. Ingatan tentang kejadian sebelum kematian Zena mulai muncul di benaknya.
"Waktu itu, tepat satu hari sebelum kematian ibu kamu," ujar Bila.
(FlashBack)
4 tahun lalu.
Satu hari sebelum kematian Zena.
Di ruang kerja yang besar di Hotel Gloubel utama, nampak Zena tengah menulis sesuatu di atas meja. Raut wajahnya sangat serius.
Jemarinya lalu mulai menari di atas kertas, menulis pesan untuk putrinya.
"Mysa..."
"Hidup belasan tahun bersama kamu adalah hal yang paling ingin Mama ulang setiap detiknya,"
Zena lalu terus menulis pesan yang akan ia tinggalkan itu.
"Mama ingin kita bisa hidup bersama terus, tanpa batasan waktu,"
"Tapi,......"
"Semua terang sekarang mulai jadi abu-abu, di usia sekecil ini, Mama ga bisa kasih tau kamu soal apapun berbau masalah," jelasnya lagi.
"Intinya, kita yang hanya berjuang berdua, akhirnya mendapat guncangan dari seseorang terdekat kita."
"Seseorang yang kamu pasti tahu dan kenal siapa dia,"
Zena lalu meneteskan air matanya di kertas itu. Ia seperti tahu bahwa hidupnya hanya beberapa hari lagi.
"Mama harap, di saat kepergian Mama nanti, kamu akan memilih untuk hidup di rumah kita,"
"Jangan pernah keluar dan berpindah, apapun alasannya."
"Dan saat umur kamu sudah cukup, mulailah menemui Bila untuk memegang hak waris,"
"Bila adalah kuncinya, dia yang paling Mama percaya untuk bisnis ini,"
"Mysa, tetaplah kuat meski keadaan nanti akan mengguncang kamu dengan sangat hebat!"
Zena lalu mengakhiri pesan itu.
"Tetap sehat, Mysa, My Sasa."
Usai menulis pesan itu, Zena menyeka air matanya. Ia lalu melipat surat itu dan mengambil amplop coklat di dalam lacinya.
Setelah itu, ia memberi perekat pada amplop.
Zena lalu merogoh ponsel di lacinya dan menelfon seseorang.
(Dering Telfon)
"Halo?" ujarnya.
"Kesini sekarang," sembari menutup telfon.
Zena memperbaiki penampilannya agar terlihat baik-baik saja. Ia lalu duduk di kursi tamu menunggu sosok yang ia telfon.
Perlu beberapa menit saja untuk Bila sampai di hadapan Zena. Bila lalu memberi hormat dan berjalan mendekat ke kursi tamu.
"Silahkan," sembari mempersilahkan duduk.
"Terima Kasih, Bu.. ada apa ibu memanggil saya ke sini?" tanya Bila.
Zena menarik nafas dalam. Ia lalu menghembuskannya agar lega.
"Saya mau kamu pegang amanat ini," ujar Zena.
Bila seketika mengernyitkan dahinya. Kenapa harus dititip ke dirinya?
"Ini apa, Bu?" tanya Bila sembari mengambil amplop coklat itu.
"Kasih itu ke Mysa saat dia sudah menginjakkan kaki kembali ke hotel ini," jelas Zena.
"Menginjakkan kaki kembali? Maksudnya Bu? Bukannya Mysa sering ke sini ya?" tanya Bila dengan sangat bingung.
"Mulai hari ini, saya tidak akan bawa Mysa ke sini lagi,"
"Kenapa Bu?" tanya Bila.
"Ada beberapa masalah yang tidak bisa saya sebut, intinya saya mau Mysa aman," jelas Zena.
"Apa ibu perlu bantuan saya?" tanya Bila.
"Cukup bantu saya untuk kasih surat ini ke Mysa saat dia sudah besar nanti, percayalah, kamu tidak usah temui Mysa, biar Mysa yang temui kamu,"
"Di usianya yang beranjak dewasa, dia pasti akan ke sini, di saat itu kamu kasih ini ke dia," jelas Zena.
Bila mulai paham maksud dari perkataan Zena. Ia lalu menatap Zena dengan penuh keseriusan.
"Tapi, kenapa ga ibu aja yang kasih langsung ke Mysa?" tanya Bila.
"Ada beberapa hal yang saya harus urus," ujar Zena.
"Saya mau urus grand oppening hotel Gloubel ke 25 di Maluku, tapi karena terkendala, grand oppening formalitasnya akan diadakan di Bogor."
"Selepas itu, saya berencana ke luar negeri untuk beberapa waktu, jadi tolong urus ini." Jelas Zena.
"Apa Mysa akan percaya Bu kalau surat ini bukan saya yang buat?" tanya Bila ragu-ragu.
Zena lalu tersenyum ke Bila.
"Kamu ga perlu takut Mysa akan mencurigai kamu," ujar Zena.
"Ada sesuatu di surat itu yang akan bisa Mysa percaya kalau saya yang buat," jelas Zena lagi.
Bila lalu mengangguk paham, ia yakin bisa menghandle ini semua.
"Silahkan, pergi!" ujar Zena sembari bangun dari duduknya.
Bila yang paham bahwa perbincangan telah usai, langsung berdiri dan memberi hormat. Ia lalu berjalan ke arah pintu.
Zena nampak memperhatikan punggung Bila. Seolah ada hal lain yang ingin ia sampaikan. Ia lalu kembali memanggil Bila.
"Bila?!" soraknya yang membuat Bila berbalik badan.
"Iya, Bu?" tanya Bila lagi.
Zena lalu diam sejenak. Ia menatap Bila dengan sangat dalam. Seolah mengirim sinyal bahwa dirinya tidak baik saat ini.
"Saya percaya sama kamu," ujar Zena dengan nada tegas.
"Jangan sampai seorang pun tahu soal surat itu sebelum Mysa membacanya,"
Bila mengangguk paham, ia lalu memberi hormat dan kembali pada posisi semula.
"Saya ga akan kecewain Ibu, percaya sama saya!" ujar Bila sembari berlalu pergi.
Zena kembali menatap Bila yang semakin hilang dari pandangannya. Apakah Zena memang sudah tahu apa yang terjadi besok?
(Back to Right Now)
Sasa menatap lurus dengan mata yang sudah berkaca. Ia tak menyangka situasi seperti sudah disusun sedemikian rupa oleh Bila.
"Itu terakhir kali ibu ketemu sama Mama kamu," ujar Bila sembari menyodorkan tisu.
"Nangis aja kalau memang ingin!"
Sasa lalu menjatuhkan kembali air matanya di depan Bila. Ia seolah membuka topeng kuatnya. Ia tak peduli kali ini.
"Bicara lagi ketika kamu sudah mendingan," ujar Bila menunggu Sasa selesai nangis.
Sasa lalu meluapkan tangisnya beberapa saat. Lalu, ia kembali menguatkan diri demi informasi yang harus ia ketahui.
"Kenapa ibu ga ikut menghadiri grand opening itu?" tanya Sasa.
"Pagi sebelum grand oppening, ibu sempat telfon Mama kamu, tapi beliau tidak angkat dan mengirimi ibu pesan," jelas Bila.
"Pesan apa?" tanya Sasa.
"Kata beliau, sudah ada perwakilan manajer hotel lain yang hadir di sana, jadi ibu hanya diminta mengurus meeting dengan penanam saham," jelasnya lagi.
Sasa lalu kembali berfikir. Siapa manajer lain itu? Apa ada hubungannya dengan kematian Mama?
"Ada berapa manajer yang hadir waktu itu, Bu?" tanya Sasa.
"Setau Ibu hanya ada satu, tapi Ibu gatau juga manajer cabang mana," jelas Bila.
Manajer perwakilan itu pasti tahu soal kejadian pembunuhan ini? Tapi, siapa manajer itu? Apa Sasa mengenalinya?