
Sasa dan Zean berjalan keluar dari cafe monrow. Mereka lalu berhenti tepat di sebelah motor Zean. Zean lalu memegang helm yang tadinya ada di spion.
"Btw, gua udah beberapa kali ketemu lo, tapi kenapa ga pake earphone?" tanya Zean menatap Sasa.
"Oh, ini..." ujar Sasa menyentuh telinganya yang kosong.
"Lo udah berdamai beneran sama diri lo, bahkan sebelum terkumpulnya semua bukti untuk balas dendam?" tanya Zean.
Sasa menelan ludahnya. Perkataan Zean benar-benar menyudutkan niatnya. "Gua ga pake earphone karena hilang, jadi gausah mikir macem-macem deh lo," jawab Sasa.
"Satu lagi, urusan dendam dan musik itu adalah dua hal yang beda." Sasa membuang pandangan matanya ke arah lain.
"Ya, kali aja lo bisa nerima saran gua waktu di pinggir danau," ujar Zean seraya memangku helmnya.
"Maaf, ga dulu," ujar Sasa dengan datar.
Zean lalu mengenakan helm yang ia pegang. "Lo ga nanya earphone gua ilang dimana?" tanya Sasa datar.
Zean menggeleng. Ia lalu terus mengunci helm itu. "Sesuatu yang lo anggap penting pasti akan lo simpen sendiri," jawab Zean dengan santai.
"Sama halnya dengan rahasia, lo akan keep itu dalam pikiran lo tanpa ada orang yang tahu." Sasa mendengarkan ucapan Zean.
"Jadi, lo mikir kalau earphone itu penting bagi gua?" tanya Sasa.
"Emang lo pernah mikir kalau earphone itu ga penting buat lo?" sindir Zean yang kini sudah menaiki motornya.
Sasa terdiam. Ia hanya bisa berdiri menatap Zean. "Beneran ga mau bareng?" tanya Zean.
"Gausah, gua ada urusan lain." Sasa menatap datar ke Zean.
"Yaudah, mau gua anter ke halte bus ga?" tanya Zean seraya menyerahkan helm.
"Gausah, lo duluan aja." Sasa mendorong kembali helm itu.
"Yaudah, gua akan cabut setelah lo balik," ujar Zean yang masih diam di parkiran.
"Oke, gua balik dulu." Sasa melambaikan tangan ke Zean.
"Hati-hati, besok gua kabarin lagi soal otw bandaranya." Sasa melirik ke Zean dengan mata berbinar. Ia lalu tersenyum kecil ke arah Zean.
"Gua harap lo bisa ikut," ujar Sasa.
Zean tersenyum dan mengangguk dengan pelan. Ia hanya bisa berkata dalam hati 'Gimana gua bisa ikut, Sa... Kalau yang duluan lo ajak itu adalah Bara.'
"Gua duluan." Sasa melangkah berjalan ke pinggir jalan.
Ia lalu memaikan ponselnya untuk memesan taxi. Zean yang masih ada di parkiran nampak memperhatikan Sasa dari jauh.
Tak lama, taxi yang ditunggu pun datang. "See you!" sorak Zean dari parkiran.
Sasa tersenyum dan segera masuk ke taxi. "Ke mall di dekat taman panda ya, Pak... Udah ada di maps," ujar Sasa dengan santai.
Supir itu mengangguk dan segera melaju. Mereka mengarungi jalanan menuju alamat yang ada di aplikasi. Sementara, Zean yang masih diam di parkiran itu hanya bisa menatap taxi yang perlahan menghilang.
"Kapan gua bisa jujur soal perasaan gua ke lo, Sa?"
Zean lalu memutar motornya dan segera meninggalkan cafe. Ia menutup kaca helmnya dan mempercepat laju kendaraan itu.
...----------------...
Bara yang baru bangun itu nampak bergegas menuju lantai bawah karena lapar. Ia sangat lelah kemarin karena harus menulis laporan magang day 1.
Bara melirik ke kanan saat keluar kamar, tidak ada Sasa di sini. Bahkan, pintu kamarnya nampak tertutup rapat. "Apa dia masih tidur ya?" Bara terus berjalan menuju ruang makan.
"Tumben ga nonton di bawah," ujar Bara yang melewati ruang santai itu.
Rumah terlihat masih rapi, tidak ada piring bekas makan di dapur. "Sasa ga makan apa?" tanya Bara.
Bara lalu duduk dan membalik piring yang ada di meja makan. Ia segera makan karena berfikir Sasa masih tidur di kamarnya.
Saat sedang asik makan, Bara diganggu oleh suara telfon rumah Sasa. Ia lalu segera mengangkat telfon itu.
(Dering telfon rumah)
"Telfon rumah, siapa ya?" Bara berjalan menuju telfon itu. Ia meninggalkan nasi yang belum habis ia santap itu.
"Halo, dengan siapa ya?" tanya Bara dengan nada pelan.
'Bara... Ini Ayah, kamu apa kabar?'
"Ayah? Ayah kenapa ga telfon ke nomer aku aja?" tanya Bara.
'Kamu ga cek hp dari kemarin ya? Pasti lupa ngecas!'
Bara mengingat rutinitasnya yang memang fokus dengan laptop kemarin. "Oh, mungkin iya, Yah... Aku belum cek hp juga dari kemarin."
'Gapapa, kamu gimana magangnya? Kata dr. Kimo, kamu jadi Kapten magang di rumah sakit itu?'
"Iya, aku kaptennya, ga ada masalah sama magang. Gimana kabar bunda, Yah?" tanya Bara yang sedang duduk di sofa itu.
Jarak sofa dan meja telfon sangatlah dekat, jadi tidak perlu lelah berdiri. 'Bunda sudah bisa bicara beberapa kalimat. Kondisinya semakin membaik, rencananya kami akan kembali bulan depan,'
"Beneran? Aku senang banget, buruan balik, Yah." Bara nampak sangat semangat.
'Tapi, bunda memilih untuk tidak pulang, dia mau liburan di sini selepas sehat.'
Bara seketika terdiam. Ia sangat rindu sekali dengan Renita. "Aku kangen Bunda, tapi kalau itu yang Bunda mau, aku harus setuju."
'Kamu harus maklumin bunda, ini untuk kesehatannya juga.'
"Apa bunda pernah bilang kalau dia kangen sama aku, Yah?" tanya Bara menahan sendu.
'Bunda baru belajar bicara dan beberapa kalimat sudah bisa dia utarakan. Kamu perlu tahu kalau kalimat pertama yang bunda rangkai adalah...'
'Bunda rindu sama Bara.'
"Aku juga rindu bunda, sangat rindu." Bara menahan sedihnya sendiri. Ia merasa separuh jiwanya memudar karena jauh dari Renita.
'Ga ada yang berubah dari rasa sayang bunda ke kamu, kamu harus semangat dan fokus sama kuliah.' Mendengar ini, Bara seperti tersentak. Kenapa lika liku percakapan selalu bersentuhan dengan belajar?
Bara hanya diam mendengar ucapan itu. Arya yang tak mendengar apapun itu lalu membuka percakapan baru.
'Bara, maksud ayah menelfon kamu sebenarnya bukan bahas soal bunda.'
"Maksudnya?" tanya Bara yang bingung.
'Ayah mau tanya, apakah ART Sasa masih bekerja di rumahnya?'
"Nggak, baru aja berhenti. Kenapa Ayah nanya itu?" Bara mengerutkan keningnya.
'Gapapa, Ayah cuma pengen tahu.'.
"Iya, kenapa Ayah harus tau?"
'Gapapa, udah dulu ya... Ayah mau bantu Bunda ke toilet.'
Bara mendengar jelas suara telfon yang terputus itu. "Halo, Yah? Ayah?!"
Arya yang ada di Singapura nampak memasukkan ponsel ke saku celananya. Ia lalu berbalik badan, di belakangnya sudah ada sosok Renita yang menatapnya dengan sayu.
Wajahnya begitu fasih dan tidak bergairah. Arya mendekat ke wanita itu dan memegang tangannya. "Sampai kapan kita harus sembunyiin ini?" tanya Arya menahan sedih.
Renita yang bernafas dengan tersenggal itu hanya bisa tersenyum dengan mata berbinar. Arya hanya bisa mencium tangan istrinya seraya tersenyum getir.
"Aku akan selalu ada di sini," ujar Arya dengan penuh kasih sayang.