Puzzles

Puzzles
Episode 32 - Pesan Arya



"Yah! Kenapa ga bilang ke aku dulu," ujar Bara dengan raut wajah yang kaget.


Sasa juga kaget atas pernyataan Arya. Tapi, untuk orang sebaik Renita, Sasa tentu dengan senang hati menerima Bara di rumahnya.


"Gimana Sa? Boleh ga?" tanya Arya menatap Sasa.


"Ha... Boleh, dokter ga usah khawatir," ujar Sasa.


"Terima kasih, Renita pasti tenang kalau Bara bersama kamu," jelas Arya lagi.


"Sa?!" ujar Bara menatap Sasa.


Sasa lalu menoleh ke Bara dan tersenyum jahil.


"Gapapa, Bara! Nanti kamu juga bisa bantu tumpangin Sasa kuliah, kan satu kampus." Ujar Arya lagi.


"Tapi, Yah.. nanti ngerepotin," ujar Bara.


"Sasa nya aja ga masalah, lagian kan kamu juga bisa bantu jaga Sasa," jelas Arya.


"...." Bara lalu diam dan menggerutu, kenapa Arya tidak bilang dulu ke dirinya, ia kan jadi merasa tidak enak ke Sasa.


Saat sedang asik ngobrol, seseorang datang menghampiri mereka.


"Dokter Arya, istri dokter sudah bisa dipindahkan ke ambulance, semua alat sudah siap." Ujar suster itu.


"Baik, saya akan segera ke sana." Ujar Arya.


Mendengar itu, Bara langsung bermaksud menuju ruang ICU, namun Arya menahannya.


"Hmm... Kamu ikut kan, Sa?" tanya Arya menatap Sasa.


"Ikut, dok."


"Kalian berdua langsung ke ambulance aja, kamu temani Bara ya di dalam ambulance," jelas Arya.


"Lah, Ayah ga naik di ambulance? Biar aku aja di mobil pribadi." Ujar Bara menahan.


"Jangan," ujar Arya sembari melihat ke Bara.


"..." Bara mengernyitkan dahinya.


"Kamu aja, ayah akan punya banyak waktu untuk ngobrol sama Bunda," jelas Arya.


"Sekarang, kamu dan Sasa ke ambulance duluan, ayah mau ikut jemput Bunda di ruangannya." Sembari berlalu pergi.


"Ayo, Sa." Sasa lalu mengikuti langkah Bara menuju ambulance.


***


Sasa dan Bara nampak menunggu Renita di depan ambulance. Tapi, belum juga datang. Sasa hanya diam menatap sekeliling rumah sakit. Sedangkan, Bara nampak mencari topik obrolan untuk memecah suasana.


"Lo ga ngampus?" tanya Bara.


"Yang lo liat gimana?" ujar Sasa dengan nada datar.


Bara yang susah mencari topik itu malah dibuat menelan ludah. Ternyata di keadaan yang sudah bisa dibilang dekat itu, Sasa masih jadi batu es.


"..." Bara tak membalas lagi ucapan Sasa karena ia sudah melihat kedatangan Renita menuju tempat mereka berdiri.


Sasa menatap ke arah datangnya Renita. Ia melihat seseorang tertidur dengan sangat cantik, namun ada berbagai alat baru di tubuhnya.


Renita dibawa masuk ke ambulance, lalu beberapa petugas keluar setelah menyetel beberapa alat. Arya mendekat ke arah Sasa dan Bara.


"Naik, ayah ikutin dari belakang," ujar Arya melirik ke pintu ambulance yang terbuka.


Bara lalu menoleh ke Sasa dan megodenya untuk naik.


"Ayo," ujar Bara melangkah lebih dulu.


Usai mereka bedua naik, petugas menutup pintu itu. Kini, di dalam mobil hanya ada mereka bertiga, Sasa duduk berhadapan dengan Bara.


Di luar ambulance, nampak Arya tengah mengobrol dengan dokter yang merujuk istrinya itu.


"Nanti kamu akan ditunggu oleh dr. Gerly dan dr. Hiqeo, spesialis penyakit dalam dan paru terbaik di sana yang bisa bantu masalah komplikasi paru-paru Renita,"


"Mereka sudah siapkan alat canggih untuk menghentikan sel kanker yang terdeteksi hidup kembali," ujarnya lagi.


"Terima kasih atas bantuannya, dok." Ujar Arya sembari pamit.


"Hati-hati, kabari rumah sakit kalau ada kendala,"


Arya mengangguk dan berjalan menuju mobil pribadinya. Sementara, ambulance yang dinaiki oleh Sasa dan Bara baru saja melaju meninggalkan rumah sakit.


***


Di dalam ambulance, mereka bertiga ditemani beberapa alat yang berbunyi. Bunyinya tidak enak di dengar, karena membuat suasana semakin deep.


Sasa menatap Renita yang terbaring lemah. Ia tidak menyangka tidur Renita akan sepanjang ini.


Bara yang menyadari Sasa tengah menatap Renita dengan sendu itu kemudian membuyarkan suasana.


"Dulu, gua sering minta Bunda untuk kenalin gua sama anak sahabatnya...." ujar Bara menatap Renita.


Sasa seketika menoleh ke Bara.


"Setelah kejadian ini, gua baru tahu kalau anak sahabatnya yang sering dia ceritain ternyata..." ujar Bara.


"Nyebelin?" ujar Sasa seketika.


Bara lalu mendengus, ia terkekeh atas ucapan Sasa.


"Bukan, tapi ternyata orang yang selalu gua perhatiin di bus bertahun-tahun,"


"Lo beneran stalker gua kan?" tanya Sasa.


"Nggak! gua cuma ga sengaja ngeliat cewek yang selalu pakai earphone," Bara melihat ke telinga Sasa yang kosong.


"Apa? kaget gua ga pake earphone?" ujar Sasa dengan ketus.


"Heran aja, kenapa lo ga dengerin musik lagi?" tanya Bara.


Mereka masih berbicara dengan suara detak jantung dan sirene ambulance.


"Lo emang selalu kepo, ya!" tegas Sasa.


"Gua cuma nanya," ujar Bara.


"Ga usah banyak tanya, gua kan pernah bilang kalau..." ujar Sasa.


"Gua bukan pacar lo, gua tau kok!" sambung Bara.


"..." Sasa membuang pandangannya ke arah lain.


Bara lalu menggenggam tangan Renita, mencoba memberikan energi dan salam perpisahan sebelum pergi ke Singapura.


"Bunda..." lirih Bara.


"Ternyata Bunda bener, anak sahabat Bunda itu adalah orang yang dingin banget ke orang lain," Sasa lalu kembali menatap Bara.


"Gua cuma males ngomong, Bu Renita juga paham." Ujar Sasa.


"Tapi, Bunda pasti seneng aku udah kenal sama Sasa," ujar Bara lagi.


"..." Bara lalu mengelus tangan Renita.


"Bunda yang kuat ya, ga usah mikirin aku," ujar Bara.


"Aku di sini akan baik-baik aja," sembari melirik ke Sasa.


"Semoga Bunda cepat pulih,"


"Bunda lo pasti balik ke sini lagi," ujar Sasa menguatkan Bara.


Bara membalas ucapan Sasa dengan senyum. Ia lalu merapikan rambut Renita. Sasa nampak terenyuh melihat kedekatan Bara dengan ibunya.


Ia jadi ingat bagaimana dekat dirinya dengan Zena.


"Sorry ya," ujar Bara tiba-tiba.


"...untuk apa?" tanya Sasa.


"Gua ga tau ayah akan ngomong kayak tadi, gua juga ga tau rumah dibersihin,"


"Gua juga ga maksa lo untuk terima gua tinggal di rumah lo," tambah Bara lagi.


"Kalau misalkan gua ganggu, lo gapapa tolak gua." Ujar Bara.


"Gua ga masalah lo tinggal di rumah gua," ujar Sasa menjawab ucapan Bara.


Sasa lalu mendekat ke Renita. Ia lalu mencondongkan badannya.


"Bara akan aman sama saya, Bu... sama kayak ibu pas jagain saya di sekolah dulu," sembari melirik ke Bara.


Mendengar itu, Bara tanpa sadar tersenyum kecil. Ia seperti melihat sisi lain dari Sasa. Gadis yang sudah mulai semakin dekat dengannya.


***


"Permisi," ujar seseorang sembari mengetuk pintu.


Dari ruangan manajer di Hotel Gloubel, nampak Bila tengah mengerjakan beberapa hal sebagai seorang manajer.


"Iya, masuk!" sembari terus mengetik di laptopnya.


Wanita itu berjalan mendekat ke meja Bila, ia lalu meletakkan beberapa berkas yang tersusun rapi.


"Ini laporan grand oppening di Bogor, tahun 2016 yang ibu minta," ujar wanita itu.


Bila menutup laptopnya dan melihat ke wanita yang masih berdiri di depan mejanya.


"Sudah lengkap?" tanya Bila.


"Sudah, Bu... Di sana sudah ada beberapa pihak yang hadir dalam grand oppening cabang ke 25 yang ada di Maluku," jelasnya lagi.


"Oke, terima kasih." Ujar Bila.


"Saya pergi dulu, Bu."


"Silahkan," sembari melihat ke karyawan itu.


Setelah karyawan itu pergi, Bila lalu mengambil berkas itu dan membukanya. Ada banyak kertas yang menjabarkan data grand oppening tahun 2016 itu.


Bila membaca judul laporan yang bertuliskan 'GO Cb. Maluku di Bogor/2016.20.


"Alasan grand oppening di Bogor," ujar Bila membaca halaman pertama.


"Tamu yang hadir..." ujarnya lagi.


Bila lalu membaca terus ke halaman berikutnya. Mencari manajer cabang mana yang mewakili keseluruhan saat itu.


"Internal Manajer in GO," ujar Bila dengan raut puas.


Bila membaca halaman itu dengan teliti, ada beberapa nama yang tertera di sana. Nama yang sangat tidak asing bagi Bila.