Puzzles

Puzzles
Episode 72 - Pelukan dari Zean



"Please, hari udah lewat jam setengah 9, semoga aja Sasa masih nungguin gua." Bara mempercepat laju mobilnya.


Ia benar-benar harus bertemu Sasa karena pasti Sasa menunggunya di bandara. Jalanan yang tidak sesuai harapan, membuat Bara harus terlambat ke bandara.


Bara fokus dengan jalanan agar dapat menyalip kendaraan lain. Kali ini, ia tidak boleh terlambat.


Sementara, di sisi lain, Ghare nampak baru saja masuk ke dalam taxi yang sudah ia pesan, kali ini ia memilih taxi lain di luar fasilitas hotel. "Pak, sesuai alamat ini ya."


"Ini lumayan jauh, Bli... Apa lagi pagi ini ada perbaikan jalan, kita harus muter lagi," jelas supir itu.


"Secepatnya aja, Pak..." Ghare lalu membuang pandangannya ke arah lain sejalan dengan melajunya mobil itu.


...----------------...


"Udah jam 8.45 loh, lo yakin ga mau masuk aja?" tanya Zean ikut melirik sekeliling.


Sasa masih melirik sekitarnya, tidak ada tanda Bara akan datang ke sini. "Ayo Sa, lo bisa ketinggalan pesawat loh."


Sasa menatap Zean yang masih berdiri di depannya. "Sampein ke Bara kalau gua udah masuk ke dalam ya, itupun kalau dia ke sini."


Zean tersenyum kecil. "Gua boleh meluk lo?" tanya Zean secara tiba-tiba.


Sasa mengangguk. Ia membiarkan tubuhnya dipeluk Zean kali ini. Zean dengan sangat ramah memeluk tubuh mungil Sasa. Dua tangannya melingkat di belakang punggung Sasa.


"Makasi udah mau jadi bagian dari perjalanan gua sejak awal kuliah," ujar Zean dengan berbisik.


Sasa sedikit tertegun dengan ucapan Zean. Nada bicaranya seperti berbeda kali ini. "Lo udah berhasil torehin warna lain di kanvas gua yang cuma ada warna abu-abu waktu itu," tambah Zean lagi.


"Gausah melow banget ege!" bentak Sasa membalas pelukan Zean.


"Hehe, take care ya! Gua selalu nunggu lo pulang di sini," jawab Zean lagi.


Sasa mempererat pelukannya. "Makasi, langkah gua ke Bali adalah karena salah satu bukti yang lo kasih," jawab Sasa.


"Sekali lagi, take care... Lakuin sesuatu yang udah lo rencanain di sana," ujar Zean seraya melepas pelukannya.


Sasa tersenyum. "Makasi ya, gua berangkat dulu." Sasa perlahan berjalan menjauh dari hadapan Zean.


"Jangan lupa ngabarin!!!" sorak Zean dari jauh.


"Iyaaa!!!" sorak Sasa seraya terus berjalan. Sasa melambaikan tangannya ke arah Zean.


Ada rasa yang tersenggal saat ini. Seperti ada sesuatu yang akan hilang. Mereka yang baru beberapa bulan berteman, justru menjadi pilu ketika berpisah.


"Saya pamit, Pak." Sasa lalu menarik koper yang sedari tadi dijaga oleh supir kantor.


"Hati-hati, Nona." Sasa tersenyum dan segera masuk ke dalam alur keberangkatan.


"Semoga lo baik-baik aja, Sa." Zean masih diam di tempat ia berdiri tadi, ia masih melihat Sasa yang sekarang tengah check in di counter yang ada.


"Brangkasnya maksimal 20 kg ya, tidak kena cash karena berat barang hanya 8 kg."


Sasa mengangguk. Ia lalu berjalan menuju lift untuk tiba di lantai atas. Matanya sesekali melirik ke belakang, ia sudah tidak bisa melihat Zean sekarang.


"Huh..." dengus Zean saat wajah Sasa tak lagi terlihat. Zean yang tahu bahwa Sasa sudah naik ke atas itu, lalu berbalik badan untuk segera pulang.


Baru saja berbalik, ia mendapati sosok Bara yang berlari ke arahnya. "Huh... Huhh... Sasaa... Sa--" lirihnya dengan nafas terengah.


"Sasa baru aja naik ke atas," ujar Zean tanpa ekspresi.


Bara yang mendengar itu seketika langsung berlari ke alur keberangkatan. "PERCUMAAA!!!" sorak Zean yang membuat langkah Bara berhenti.


"Maksud lo?" tanya Bara.


"Sasa nitip pesan buat lo, katanya tolong sampein ke Bara kalau dia udah berangkat."


Mendengar itu, Bara langsung merogoh ponselnya untuk mencoba menelfon Sasa. 'Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan.'


Sasa baru saja mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam tas. Ia lalu ikut masuk ke dalam pesawat karena pesawat yang akan ia tumpangi sudah tiba di bandara.


"Gua balik ya, take care!" ujar Zean segera meninggalkan Bara yang masih berdiri di sana.


Bara tak membalas ucapan Zean. Ia hanya diam dengan tetap mencoba mengirimkan sesuatu ke ponsel Sasa. Sementara, Zean segera menuju parkiran dan pulang ke rumahnya.


Bara masih berdiri di tengah bandara, ia lalu mengirimkan sesuatu ke Sasa. 'Take care, sorry gua terlambat datang, tapi gua senang lo berani ambil keputusan sejauh ini, tetap hati-hati dan kabarin gua kalau udah sampai.'


'I hope you stay safe today!'


Bara lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Tanpa sengaja, ia menyentuh sesuatu di celananya. Bara mengelurkan kotak kecil berwarna merah itu.


"Gua gagal kasih ini ke lo, Sa." Bara menatap gelang yang sudah ia siapkan itu.


"Meski lo bakal kembali lagi, tapi gua ngerasa gagal ga bisa buat moment penting di hari ini."


Bara kembali menyimpan gelang itu seraya melirik ke pintu keberangkatan. "Take care, gua pamit."


Bara meninggalkan bandara dengan lemas. Ia seperti sia-sia di sini. Bara membuka pintu mobil dan melihat satu pesawat yang baru saja terbang.


Ia lalu melirik ke jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9.15 WIB. "Setidaknya gua bisa liat pesawat yang lo tumpangin, Sa."


Bara menatap sebentar hingga pesawat itu tertelan awan. Ia kemudian segera masuk ke mobil dan menutup pintu.


"Huh, it's okay!" Bara lalu menghidupkan mesin mobilnya.


Baru saja hendak melaju, ponselnya berdering. Bara lalu memasang earphone dan menjawab panggilan itu seraya mengemudi.


"Halo, kenapa Yah?"


'Bara, kamu lagi dimana?'


"Di bandara, habis nganterin Sasa ke Bali." Bara memutar mobilnya untuk keluar.


'Sasa ke Bali? Ngapain?'


"Ada something yang harus dia urus, bunda gimana Yah?" tanya Bara.


'Bundaa, bunda baik...'


"Kenapa ragu? Aku boleh bicara sama bunda?" tanya Bara.


Bara masih terus menyetir, ia tetap fokus dengan jalanan agar selamat. 'Yakin, tapi bunda lagi tidur.' Arya nampak menatap wanitanya yang memejamkan mata.


"Yaudah, nanti aja, terus Ayah ada perlu apa?" tanya Bara.


'Ayah mau bilang, bunda suruh sampaikan kalau beliau sudah buat kado ultah untuk kamu.'


Bara mengernyitkan dahinya. "Ya ampun, kan masih lama, Yah?" tanya Bara.


'Kamu pasti sibuk magang ya, ulang tahun kamu itu satu minggu lagi loh,' jawab Arya.


"Oh ya, aku ga liat kalender Yah, btw sampein makasi buat bunda, aku tunggu kadonya."


'Iya, Ayah cuma mau sampein itu, bunda di sini baik-baik aja.'


Bara tersenyum mendengar kabar itu. "Sampein ke bunda juga, kado yang paling aku mau di ultah kali ini adalah pelukan bunda."


'Aamiin, semoga ya!'


"Yaudah, Yah. Aku mau pulang dulu, nanti aku telfon lagi." Bara lalu memutar mobilnya ke arah pertamina untuk mengisi bensin.


'Iya, hati-hati, jaga kesehatan.'


"Iya, see you!"


Bara menutup panggilan itu dan segera turun dari mobil untuk mengisi bbm secara mandiri.