
Pagi ini, Sasa bangun lebih awal dari biasanya. Ia nampak sangat bersemangat, karena besok adalah hari yang sangat penting baginya.
Sasa yang sudah selesai bersiap itu, menuruni anak tangga untuk tiba di lantai bawah. Ia lalu berjalan menuju pintu tanpa sarapan.
"Gamau sarapan dulu?" tanya Bara sembari menyuap nasi goreng yang sama dengan kemarin.
Sasa hanya menoleh sebentar ke Bara, sembari terus berjalan. "Gua mau sarapan di luar aja,"
"Eh, lo mau kemana?" sorak Bara sembari bangun dari duduknya.
Sasa terus melangkah menuju gerbang, ia tak lagi menjawab apa yang Bara tanya. Bara yang hendak mengejar itu pun harus teralihkan oleh seseorang yang menelfonnya.
(Dering telfon)
Bara meletakkan sendoknya, ia merogoh ponsel yang ada di sampingnya dan melihat nama 'Ayah' di layar ponselnya.
"Halo, Yah?" ujar Bara sembari kembali duduk.
...----------------...
Sasa keluar gerbang dan berjalan beberapa meter. Ia nampak memperhatikan sekeliling, dan mendapati sebuah mobil berwarna merah maroon tengah terparkir tak jauh dari rumahnya.
Sasa menghampiri mobil itu yang kaca jendelanya perlahan terbuka. "Capek ga?" tanya Zean yang ada di kursi pengemudi itu.
Sasa membuka pintu mobil dan segera masuk. Ia duduk dan meletakkan tasnya di paha. "Deket, gapapa lah," sahut Sasa.
"Gua kenapa harus jemput lo sejauh ini sih, Sa?" tanya Zean sembari menutup kaca mobil.
"Biar Bara ga tau, nanti dia ikut!" tukas Sasa.
Zean menatap Sasa dengan tatapan berbeda. Ia seolah memiliki feeling kalau Bara memiliki persaan lebih ke Sasa.
"Bukannya lo seneng kalau dia ikut?" tanya Zean.
"...Seneng apanya, dia itu nyebelin tau!" ungkap Sasa.
Zean sekilas menoleh ke Sasa sembari fokus menyetir. "Tapi, kan jadi ada yang jagain lo, Sa."
Sasa menampakkan wajah malasnya ke Zean. "Gua bisa jaga diri sendiri!" ketus Sasa.
Dari setiap kalimat yang keluar, rasanya Zean menahan perih tersendiri. Ia penuh dengan ketakutan, takut Sasa akan benar-benar bisa beradaptasi atas kehadiran Bara.
Zean terus melaju menuju tempat yang sudah mereka bicarakan sebelumnya di chat. Mereka melewati perjalanan dengan beberapa obrolan.
...----------------...
Mobil Zean berhenti tepat di depan Slaraza Boutique. Salah satu butik terbaik di Jakarta. "Ayo, ke dalam butik." Zean turun bersamaan dengan Sasa.
Mereka berdua berjalan masuk ke butik. "Halo kakak, ada yang bisa saya bantu?" tanya supervisor di situ.
"Pesanan baju atas nama Zeano Pratama," ujar Zean.
Sasa melirik ke Zean, ternyata dia sudah memesan tempat untuk Sasa. "Oh, silahkan ikut saya kak."
Sasa dan Zean berjalan mengikut langkah wanita itu, mereka lalu berhenti di sebuah ruangan yang bertuliskan 'VIP Room'
"Silahkan masuk, Kak... di dalam sudah ada tim kami yang akan mengarahkan..." Wanita itu berjalan keluar setelah mempersilahkan masuk.
"Terima kasih, kak." Mereka masuk ke dalam dan disambut lagi oleh karyawan lain.
"Halo, dengan Zeano Pratama?" tanya wanita itu.
Zean mengangguk. "Silahkan duduk di sebelah sana, sebelumnya seperti yang sudah dibahas... fitting ini buat acara peresmian CEO ya?" tanya wanita itu.
Mereka mengangguk datar. "Ini yang mau di fitting?" tanya wanita itu.
"Iya, tolong kasih baju yang bener-bener sempurna untuk besok!" tegas Zean.
"Baik, kami akan berikan beberapa contoh dulu, mari ikut saya..." sembari mengajak Sasa ke ruang ganti.
Sasa menatap Zean dan mengikuti langkah wanita itu. Ia masuk ke ruang ganti, di sana sudah ada beberapa gaun yang disiapkan.
Sasa menyentuh beberapa gaun yang terpajang, ada slayar berwarna peach, hijau serta merah maroon. "Kamu mau pake gaun yang panjang atau pendek?" tanya wanita itu.
Wanita itu lalu berjalan ke lemari koleksi bajunya. Ia mencari beberapa pakaian yang sekiranya akan Sasa suka.
"Ini, silahkan dicoba..." sembari menunjukkan ruang ganti.
Sasa membawa dress berwarna milo itu ke ruang ganti. Dibagian lengan dress terdapat selendang mini untuk hiasan. Sasa mengenakan baju itu dan berjalan keluar.
Zean yang tengah bermain ponsel itu, lalu menegakkan kepalanya saat suara derap langkah terdengar. Zean lalu mendapati sosok Sasa yang sudah memakai dress pertama.
"Cantik," sahut Zean.
"Gua kan perempuan!" bentak Sasa.
"Iyaa, tau..." sahut Zean.
"Ini, gimana?" tanya Sasa sembari berputar kecil. Zean mengernyitkan dahinya.
"Kayaknya selendangnya kurang cocok di elo, coba yang lain."
Sasa kembali ke ruang ganti dan memakai baju kedua. "Kalau ini?" tanya Sasa yang sudah mengenakan drees selutut berwarna hijau itu.
"No," ujar Zean.
Sasa lalu kembali lagi, ia melakukan hal ini beberapa kali hingga sampai ke satu dress yang tepat. Dress berwarna hitam selutut. Bagian bawahnya mekar dan lengan balon yang simple. Di bagian samping dress ada pita mini berwarna gold.
"Gimana?" tanya Sasa sembari berputar.
Zean menegakkan kepalanya dengan baik. Ia melihat jelas penampilan Sasa yang benar-benar elegan itu.
"Sempurna..." ungkap Zean dengan lirih. Matanya seolah dibuat terpaku.
Sasa yang mendengar itu merasa dress ini benar-benar cocok. Ia lalu beberapa kali berkaca. "Perfect!" sembari tersenyum. Dari jauh, Zean masih memperhatikan Sasa dengan senyum di bibirnya.
...----------------...
Mobil yang dikendarai Zean kini tiba di depan gerbang rumah Sasa. Sasa lalu mencoba melirik sekeliling, tidak ada Bara di luar. "Udah, sampe sini aja..." ujar Sasa.
"Gua ga boleh masuk?" tanya Zean.
"Untuk sekarang jangan dulu," sahut Sasa.
Zean mendengus. Ada amarah kecil di hatinya. "Segitu patuhnya ya lo sama Bara?" sindir Zean.
Sasa menatap Zean dengan tajam. "Gua cuma ngehargain tamu."
Zean yang di sebelah Sasa itu tersenyum sinis. Ia lalu membiarkan Sasa turun dari mobilnya. Jujur, ada ketidakterimaan di hatinya.
"Makasi ya, gua masuk dulu!" sembari menekan bel.
"Iya, gua balik." Zean mengklakson dan berlalu pergi.
Sasa kemudian masuk ke gerbang yang sudah terbuka. "Mysa... Silahkan," sembari memberi senyum.
Sasa terus berjalan menuju pintu. Baru saja Sasa membuka pintu, seseorang nampak berdiri di depannya. Bara. Wajahnya sangat datar.
"..gua ke kamar dulu," ungkap Sasa seraya memegang bag belanjaannya.
Bara masih diam di tempat yang sama, ia membiarkan Sasa berjalan menaiki anak tangga. Kemudian, ia membalikkan badannya ke arah Sasa.
"Bisa ga sekali aja lo bilang ke gua mau kemana," pinta Bara.
Sasa menghentikan langkahnya. Ia lalu berbalik badan dan menuruni anak tangga kembali.
"Lo lama-lama kaya suami gua ya!" bentak Sasa.
"Kalau gua mau jadi suami lo kenapa?" Sasa menatap Bara dengan sinis.
"Lo bukan tipe gua!" ketusnya sembari berlalu pergi.
"Tapi kalau lo tipe gua gimana?" tanya Bara lagi.
Sasa tak lagi menghiraukan Bara. Ia membiarkan dirinya berlalu ke kamar dan mencoba dress itu kembali.