Puzzles

Puzzles
Episode 77 - Luka Lama



Bara tengah duduk di kursi tamu yang ada di rumahnya. Ia menatap sekeliling rumah yang sudah lama kosong. Bahkan, sudah mau dua bulan lebih ia tinggal bersama Sasa.


"Huh..."


Bara menyandarkan kepalanya ke sofa dan membiarkan udara masuk ke otaknya. "Apa bunda akan kembali lagi ke sini ya?" tanya Bara secara tiba-tiba.


Seketika Bara tersadar akan ucapannya. Ia lalu segera mengambil ponsel dan menghubungi Renita.


(Dering telfon)


(Dering telfon)


Tidak ada jawaban. "Apa mereka lagi tidur ya?" tanya Bara seraya mencoba mengirim pesan ke Arya.


'Ayah, kenapa ga angkat telfon aku? Bunda baik-baik aja kan?'


Bara lalu meletakkan ponselnya di meja usai mengirim pesan itu. Ia kemudian kembali pada lamunannya.


'Sasa baik-baik aja ga ya?'


Bara seperti ingin menelfon Sasa, namun enggan. "Kok perasaan gua ga enak ya?" tanya Bara pada dirinya sendiri.


Ia lalu melirik sekeliling rumah. "Apa karena gua udah terlalu lama ga pulang ke sini?"


"Ini beneran ga enak, gua harus balik ke rumah Sasa lagi," ujar Bara seraya bangun dari duduknya.


Ia lalu segera menuju kamarnya untuk kembali berkemas. Setelah itu, Bara langsung mengendarai mobil menuju rumah Sasa.


***


"Gua ga punya banyak waktu, sekarang udah jam 9 lewat, buruan!" tegas Sasa yang tengah memegang pisau makanan itu.


Ghare menarik nafas dalam. Ia lalu mulai berbicara pada gadis di depannya itu.


"Dulu ada suatu situasi dimana Mami gua yaiti Tante lo, dan Papi gua yaitu investor di hotel milik nyokap lo," jelas Ghare tanpa melihat Sasa.


"Mereka melakukan sebuah kesalahan hingga akhirnya gua lahir," jelas Ghare.


"Lo pasti udah dengar cerita ini di pintu, gua cuma mau flashback sedikit," jelas Ghare lagi.


Sasa nampak mendengarkan dengan seksama. "Sesalah-salahnya nyokap gua saat itu, apakah gua adalah sebuah kesalahan?" tanya Ghare.


"Ga ada anak yang lahir dengan nota salah di jidatnya kan?" sindir Sasa.


"Ga ada, tapi kesalahan yang ga terlihat itu membawa hidup gua ke area gelap."


"Dua puluh tahun lebih gua berjalan sendiri," jawab Ghare.


Sasa menatap Ghare dengan sendu. "Bokap lo?" tanya Sasa.


"Bokap tinggal di Korea Selatan, dia balik kadang satu, atau dua kali setahun."


"Setiap tahun tanpa Papi dan Mami, gua lalui dengan air mata, Sa." Ghare menatap Sasa penuh makna.


"Laki-laki itu cuma jenis kelamin, Sa. Untuk urusan orang tua, kita semua cuma kaum lemah!" ketus Ghare.


Mendengar itu Sasa seperti tertohok. "Sisi gelap lo baru setengah dari hidup gua, jadi ga usah heran kalau gua jawabnya datar." Sasa lalu meneguk jus mangga di depannya.


"Gua tau, Mami udah cerita soal ibu lo yang meninggal kar--"


"Karena dibunuh!" ketus Sasa.


"...Bukan, dia itu kena serangan jantung!" tegas Ghare.


"Sejak kapan orang serangan jantung punya luka sayatan di lehernya?" Sasa menatap Ghare dengan dingin.


"...Tapi, itu faktanya Sa!" tegas Ghare.


Sasa menatap Ghare semakin tajam. "Ini yang meninggal ibu gua apa ibu lo sih?!!" bentak Sasa.


"..." Ghare diam.


"Lo baru ketemu nyokap lo 3 jam dan langsung makan mentah-mentah ucapan dia?!" tanya Sasa seraya berdiri.


"Saa?!!! Tapi ini bener, nyokap lo emang ga dibunuh?!!" bentak Ghare.


"STOPPP GHAR!!!" tegas Sasa seraya beranjak dari duduknya.


"SAAA?!!" sorak Ghare menghentikan langkah Sasa.


Sasa menatap lurus ke depan dan membelakangi Ghare. "Nyokap gua ga ada sangkutnya dengan kasus kematian nyokap lo, lo ga seharusnya mecat dia dari Gloubel!" tegas Ghare.


Mendengar itu, Sasa langsung membalikkan badan dan melangkah mendekat ke Ghare.


"Kalau tujuan lo cuma biar gua terima nyokap lo?! Lo salah orang!!!" bentak Sasa.


Sasa lalu menunjuk Ghare tepat di dekat matanya. "Jangan terlalu percaya sama nyokap lo!!"


"Dia itu PEMBOHONG!" bentak Sasa.


"STOPPP SAAA?!!!" sorak Ghare menampar tangan Sasa agar menjauh dari matanya.


Sasa terkejut dan menyentuh tangannya yang ditampar itu. "Lo yang harusnya buka mata Sasa!!! Lo itu udah salah sasaran!! Sadar!!" bentak Ghare lagi.


Sasa langsung memutar badannya membelakangi Ghare. Ia lalu diam sejenak. "Seharusnya lo bisa mikir Ghar, dua puluh tahun dia pergi ninggalin lo tanpa rasa bersalah, apa lagi yang bisa lo percaya dari manusia kayak gitu?!"


Mendengar itu, Ghare tersindir, sementara Sasa segera melangkah pergi menuju luar Glamping. Ghare nampak terpaku di sana.


Sasa terus berjalan keluar Glamping hingga akhirnya berdiri di dekat tempat menunggu mobil seperti taxi online. "..." Sasa menarik nafas dan melihat ponselnya kembali untuk memastikan pesanannya.


"Ayo, gua akan anter lo pulang." Ghare memegang tangan Sasa dan segera menariknya ke mobil.


"Apaan sih?!!" ketus Sasa.


"Biar gua anter lo balik ke hotel, gua ga akan bahas hal tadi!" Ghare lalu kembali berjalan dan membukakan pintu untuk Sasa.


Sasa masih diam dan masuk ke mobil itu. Tak lama, Ghare menutup pintu dan ikut masuk ke mobil.


"..." Ghare langsung melaju meninggalkan Glamping. Ia tak berbicara lagi dengan Sasa saat di mobil. Sasa pun masih ada dalam emosi dan enggan membuka obrolan.


***


Zean memarkirkan motornya tepat di depan sebuah gudang tua. Ia lalu melepas helmnya dan sedikit bersembunyi. Ia lalu mematikan ponselnya agar tidak berdering.


"..." Zean lalu mulai menyelinap setelah melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB.


Ia mengendap menuju gerbang belakang gudang tua itu dan segera mencari celah agar dapat mengintip ke dalamnya.


"Beli makan dulu kali ya?" tanya salah seorang.


"Tapi, nanti dia siapa yang jaga?" ujar yang satunya lagi.


"Bentar doang, depan gang aja."


Mereka berdua pun berjalan menuju pintu untuk keluar gudang. Sementara, Zean yang sudah di bawah pintu itu mencari celah untuk masuk.


"Jangan kelamaan ya!" mereka berdua berjalan keluar untuk mencari makan.


Zean yang sudah tahu keadaan aman itu, lalu mencoba membuka pintu, namun terkunci. Ia lalu mencari jalan lain, jendela juga terkunci.


Zean lalu mengeluarkan linggis kecil dan mencoba mengorek jendela di sebuah kamar. Setelah terbuka, tanpa sadar sosok di dalam kamar itu adalah Bima.


"Bim?!" sapa Zean yang langsung membuat Bima terbangun.


"Zean?"


"Bimm!! Ayo keluar!" ujar Zean seraya melepas tali di tangan Bima.


"Lo sengaja ke sini ya? Tau darimana?" tanya Bima.


"Nanti aja, ayo pergi!" tegas Zean seraya mencoba menopang Bima.


Mereka lalu keluar melalui jendela dan berjalan menuju motor Zean. Baru saja keluar jendela, dua orang tadi sudah kembali dengan bingkisan di tangannya.


Mereka lalu mengendap ke arah motor, kedua orang itu masuk ke dalam rumah. "Ayo Bim, kita harus pergi!" Zean lalu menopang Bima hingga naik ke atas motor.


Zean memilih untuk mendorong sejenak motor itu sebelum dihidupkan agar suaranya tidak terdengar. "Buruan Ze!" tegas Bima.


"Woii?!!! Lo ngapain?" tanya pria itu ke rekannya yang hendak masuk ke kamar Bima.


"Ngecek lah, siapa tau aja kabur!" tegasnya.


Ia lalu membuka pintu dan mendapati kamar yang kosong. "Bro, ga ada!" tegasnya dengan cemas.


"Apaan?" tanya rekannya.


"Bima kabur!!" tegasnya seraya berjalan ke jendela.


"Jendelanya udah ke buka!" tegas yang satunya lagi.


Mereka lalu melihat lampu motor yang baru saja pergi dari gerbang. "Ayo Ze!" tegas Bima pada Zean yang sudah mengendarai motor itu.


"Udah, ini kita udah mau keluar gang!" ujar Zean.


"Buruan Bro, cepet keburu hilang!" mereka berdua ikut mengejar Bima dan Zean dari belakang.


"Kenapa lo bisa tahu?" tanya Bima bersorak di atas motor.


"PC lo gua retas, lo pakai jejak gps yang aksesnya ke protect di telinga lo."


"Kok lo tau gua pake protect acces di kuping?" tanya Bima.


"Gua itu sahabat lo Bima!" tegas Zean.


Bima lalu tersenyum dan merasa aman karena motor mereka sudah mulai memasuki jalan raya. Disini kendaraan sudah sangat ramai. "Kita selamat," jawab Bima dengan nada lega.


Zean melirik ke spion motornya, nampaknya mereka masih dalam bahaya. "Kayaknya belom aman," ujar Zean mencoba mengubah arah motornya ke lajur kanan. Ia mencoba bersembunyi di balik truk.