
Bara saat ini sedang pulang ke rumah untuk persiapan Renita berangkat besok. Ia memasukkan barang yang diperlukan ke dalam koper.
Satu per satu baju milik Renita ia kemas ke koper. Dengan hati yang berat tentunya. Bara memagang satu baju terakhir, ia lalu mengelus baju itu. Ada emosi yang tak terbendung. Rasanya ingin meluapkan tangis, tapi ia harus ingat kalau dia adalah laki-laki.
"Bunda, pasti akan sembuh." Ujar Bara sembari memasukkan baju itu ke koper.
Bara lalu menutup sleting koper itu. Ia kemudian membawanya ke luar kamar. Baju ayah Bara sudah lebih dulu ia siapkan, dan sudah dibawa ke rumah sakit juga.
Besok pagi, Arya dan Renita akan berangkat dengan ambulance ke bandara. Jadi, semua barang sudah harus siap dari rumah sakit.
Bara meninggalkan koper di ruang tamu, ia lalu berjalan ke kamarnya. Kamarnya nampak sangat rapi karena sudah lama tidak tidur di sini.
Bara membuka lemari dan mengambil sebuah syal berwarna biru muda. Syal itu adalah rajutan tangan Renita yang diberikan sebagai hadiah saat Bara berusia 16 tahun.
Bara tersenyum getir dan menggenggam syal itu. Ia lalu menutup lemari dan kembali ke ruang tamu.
Semua sudah siap, kini Bara harus segera ke rumah sakit. Kakinya nampak berat melangkah, ia sesekali menatap ke rumahnya. Bukan karena ingin pergi lama, tapi suasana ramai yang berubah jadi sepi.
(Dering telfon)
"Halo, Yah?" ujar Bara yang tengah berada di halaman itu.
"Udah, ini tinggal pergi ke rumah sakit," jelasnya lagi.
"Iya, oke yah." Sembari menutup telfon.
***
Sasa bangun dari tidurnya dan mendapati Zean yang tengah bermain laptop di sampingnya. Ia lalu menggeliat dan membuka mata lebar-lebar.
"Huaa..." sembari merentangkan tangan.
"Udah bangun?" tanya Zean sembari berhenti memainkan laptop.
Sasa lalu melihat ke arah jam dinding, sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB.
"Gila, lo kenapa ga bangunin gua?" ujar Sasa sembari duduk di sebelah Zean.
"Tidur lo pules banget," sahut Zean.
"Terus lo tadi ngapain?" tanya Sasa yang melihat Zean tadi bermain laptop.
"Cuci muka dulu sana, gua ada info bagus hari ini." Zean lalu bangun dari duduknya, ia berjalan ke balkon sembari membawa laptop dan duduk di kursi yang ada di sana.
Sasa bangun dan langsung ke kamar mandi. Ia mencuci muka dan gosok gigi. Setelah itu langsung menghampiri Zean yang tengah duduk di balkon.
"Lo mau minum apa?" tanya Sasa.
"Ga usah repot-repot, itu tadi kayaknya art lo pergi ke pasar deh, ga ada di rumah."
"Oh ya, yaudah, kita pesen makanan online aja, lo mau apa?" tanya Sasa.
"Nanti aja, Sa." Ujar Zean yang tengah sibuk mengatur laptop.
"Yaudah," Sasa lalu duduk di sebelah Zean.
"Gimana? Lo udah tahu siapa penulis dibalik inisial AD?" tanya Sasa.
Zean diam sejenak dan memperlihatkan seseuatu yang ada di laptopnya ke Sasa.
(FlashBack)
Baru saja pulang mengantar Sasa, Zean langsung mengambil kembali jurnal yang ia pinjam tadi. Zean lalu membaca dengan teliti apa yang perlu ia bantu dalam misi ini.
Satu per satu informasi sudah Zean pahami, ia lalu membuka laptopnya dan kembali membuka file soal Ghare dan plat SM.
"Pemilik mobil sedan ini pasti kenal sama Ghare,"
Zean lalu mencoba mencari data orang tua Ghare. Ia menemukannya dan melihat nama kedua orang tua Ghare.
"Kim Harley," Zean mengernyitkan dahinya.
"Ayahnya orang luar," sahut Zean.
Zean terus membaca informasi soal Ghare.
"Investor Asing di Korea Selatan, dia bahkan udah 3 kali ke Jakarta." Ujar Zean lagi.
Zean lalu menyalin data itu dalam satu file. Ia lalu mendownload semua data yang berkaitan dengan apa yang Sasa butuhkan.
(Right Now)
"Jadi, bener dong dugaan gua kalau pemilik mobil itu investor asing," sahut Sasa.
"Tepat, Ghare anak investor asing yang asalnya dari korea selatan," jelas Zean.
"Tapi, ayahnya ga tinggal di sini, dia pertama kali ke Indonesia tahun 1998," jelas Zean.
"Dan kabar terbarunya, udah sekitar 2 tahun dia ga pernah pulang lagi ke Indonesia," jelas Zean lagi.
"Kalau data soal ibunya, lo ada ga?" tanya Sasa lagi.
"Nah, ini yang mau gua bilang soal informasi bagus," jelas Zean.
Zean kembali memperlihatkan laptopnya ke Sasa. Ia lalu menunjuk artikel dengan inisial AD.
"Artikel ini cuma ada satu, dia diterbitin pake blog pribadi, setelah gua retas, nama dibalik inisial itu ternyata adalah nama yang sama dengan nama ibu Ghare," jelas Zean.
Sasa lalu mengernyitkan dahinya, ia bertanya kenapa keluarga Ghare bisa seterlibat ini padahal Sasa sendiri tidak kenal dengan Ghare.
"Jadi, maksud lo ibu Ghare yang udah nerbitin artikel ga berguna itu?" tanya Sasa.
Zean mengangguk.
"Berarti ibu Ghare tahu dong soal kasus pembunuhan 2016 silam?" tanya Sasa.
"Oh iya, tapi siapa nama panjang ibunya?" tanya Sasa.
"Sebentar, gua lupa," ujar Zean membaca kembali nama itu.
"Siapa?" tanya Sasa lagi.
"Ar.. Ardela Deina," ujar Zean menatap Sasa.
Sasa seketika bungkam, ia hanya bisa terdiam.
"... Ardela Deina?" Sasa nampak sangat tak percaya atas ucapan Zean.
"Iya, lo kenapa syok banget?" tanya Zean memastikan.
"Ze, lo pasti salah deh, atau lo coba cek alamat AD, bisa ga?" tanya Sasa.
"Bisa, 3 menit untuk lo," Zean lalu mengecek alamat yang Sasa mau.
Perlu 3 detik, untuk kembali memperlihatkan data Ardela Deina.
"Di Bali," ujar Zean.
"...." Mata Sasa langsung terbelalak atas ucapan Zean.
"Gua mau liat," ujar Sasa membaca sendiri tulisan di laptop itu.
Sasa lalu meletakkan laptop itu dan langsung bergegas masuk ke kamar. Ia lalu mengambil jaket di lemari untuk segera pergi.
"Saa?!!" ujar Zean.
"Saaa, lo mau kemana?" Zean mengejar Sasa yang sudah bersiap itu.
"Gua mau pergi," sembari berjalan ke luar.
"Saaa, lo kenapa?" tanya Zean menahan tubuh Sasa.
Sasa lalu terdiam. Ia menatap Zean dari dekat. Nampak emosi yang sangat dalam dari matanya. Zean yang menyadari itu, mencoba meredam emosi Sasa.
"Saaa, kenapa? lo tau sosok Ardela Deina?" tanya Zean memegang bahu Sasa.
Sasa hanya diam, ia lalu merasa seluruh energinya habis.
"Saaa, ayo bilang, kenapa?" tanya Zean.
Sasa menelan ludah, matanya nampak berkaca-kaca.
"Itu,..." ujar Sasa.
"Siapa Sa?" tanya Zean.
"Itu adik nyokap, dia tinggal di Bali," ujar Sasa sembari menunduk.
"Apa? Lo serius?" tanya Zean.
"Iya, tapi sekarang gua harus nyusul dia ke Bali!" sembari melepas tangan Zean dari bahunya.
"Jangan!! Lo ga boleh gegabah," ujar Zean.
"Tapi, Ze!" ujar Sasa.
Zean lalu seketika memeluk Sasa, ia memeluk Sasa dengan sangat erat. Kali ini, Sasa hanya diam menerima pelukan.
"Kita kumpulin semua bukti untum nyeret dia ke penjara, jangan gegabah, nanti dia jadi punya kesempatan untuk hilangin bukti!"
Sasa menerima ucapan Zean, ia lalu meredam emosinya dan bermaksud ingin mendalami hal ini.
"Percaya sama gua, gua akan bales dendam lo, kalau bukan ke pelaku, kita bales ke keturunannya!" Zean lalu melepas pelukan itu dan mengajak Sasa duduk kembali.
"Sini, Sa!"
Sasa kembali duduk dan melihat apa yang Zean lakukan. Setelah moodnya stabil, Zean lalu kembali bicara.
"Berarti Ghare sepupu lo dong, kenapa lo ga kenal?" tanya Zean.
Sasa menarik nafas dan mencob berfikir secara jernih.
"Setau gua Tante Deina itu belum pernah nikah, Ze. Gua juga baru tau kalau Ghare anaknya, dan gua juga baru ketemu Ghare di kampus," jelas Sasa.
"Apa ini pernikahan sirih ya, jadi dia cuma terdata di agama gitu,"
"Bisa jadi, lo bisa ngerekap buktinya jadi satu ga?" tanya Sasa.
"Bisa, tapi perlu waktu yang lumayan lama untuk ngerangkumnya," jelas Zean.
"Gapapa, selagi lo ngerangkum gua akan coba ambil bukti dari Bu Bila," ujar Sasa.
"Bu Bila itu siapa?" tanya Zean.
"Manajer utama di hotel gloubel," ujar Sasa.
"Apa semua yang mau lo retas udah selesai?" tanya Zean.
"Udah, cuma itu yang mau gua tau, dan semuanya sekarang udah makin terang," jelas Sasa.
"Gua udah mulai tahu kalau yang nguntit dan buat artikel salah itu tante gua sendiri," jelas Sasa.
"Gua akan bantu lo," ujar Zean.
Sasa lalu mengangguk, ia kemudian teringat sesuatu yang belum ia jelaskan ke Zean.
"Oh iya, ada sesuatu yang belum gua kasih liat ke lo," ujar Sasa berjalan ke dalam kamar.
"Apa?" tanya Zean menatap Sasa yang kini berjalan ke kamar.