
Sasa memakai jas dan rok span berwarna hitam. Ia kemudian menyisir rambutnya dan memakai anting. "I'm ready!"
Sasa berjalan keluar kamar dengan highheels berwarna maroon, senada dengan kemeja di dalam jasnya. Ia lalu menuruni anak tangga dengan hati-hati.
Bara yang sedang sarapan itu, nampak tercengang dengan paras Sasa pagi ini.
"Rapi banget, Nona CEO." Bara melahap nasi goreng di hadapannya.
"Biasa aja! gua duluan ya." Sasa lalu merapikan bajunya sebelum berjalan.
"Ga sarapan dulu?" tanya Bara.
"Lanjut, buru-buru!" sorak Sasa seraya membuka pintu rumahnya.
Baru saja sampai di halaman, sudah ada mobil alphard hitam menunggunya. Seseorang menyambutnya di depan pintu.
"Silahkan, Nona..." Sasa lalu naik ke mobil itu.
Supir segera menutup pintu dengan otomatis. Ia lalu melirik Sasa dari spion. "Ada yang ketinggalan lagi ga, Nona?"
"Nggak, jalan Pak." Sasa lalu mengambil kaca di tas kecilnya.
Mobil itu segera jalan bersamaan dengan Diki yang membuka gerbang.
(Klakson)
Sasa merapikan lipstik yang sedikit tidak rapi agar wajahnya semakin perfect. Ia lalu berhenti berkaca saat ponselnya berdering.
(Panggilan Masuk)
Sasa meletakkan kaca itu di sebelahnya. Ia lalu mengangkat telfon dari Bila. 'Halo, Mysa...'
"Iya, Bu."
'Kamu udah di jalan?'
"Udah, baru aja jalan." Sasa menatap lurus ke kaca depan.
'Oh, baik... Saya cuma mau nanya itu, hati-hati ya.'
"Iya, Bu." Sasa lalu menutup ponsel itu seraya mengambil kembali kaca di sampingnya.
...----------------...
Bila sudah duduk di kursi dekat resepsionis. Ia hanya tinggal menunggu kedatangan Sasa saja. "Sorry atas penundaan keberangkatan menuju bandaranya," ungkap Bila kepada rekannya.
"Tidak masalah, kami senang bisa dilepas langsung oleh CEO dalam keberangkatan ini," jawab pria itu.
Bila mengangguk. Ia lalu melirik ke wanita yang sedang berjalan ke arahnya. "Permisi, saya mau bertemu asisten sebentar."
"Iya, silahkan..."
Bila lalu menyusul wanita yang sedang berjalan ke arahnya. "Hei, di sini aja, berkas yang saya minta sudah ada?" tanya Bila.
"Sudah Bu, jadwal keberangkatannya juga sesuai sama yang Ibu minta," jawab wanita itu.
Bila mengambil amplop berwarna biru itu. Ia lalu mengecek kelengkapan berkas di dalamnya. "Lengkap, makasi ya... Kalau soal keperluan proyek di Inggris aman semua kan?" tanya Bila seraya merapikan amplop itu.
"Aman, Bu. Semuanya sudah siap, mobil untuk berangkat ke bandara juga akan tiba 10 menit lagi," jelas wanita itu.
"Oke, satu lagi... tolong tutup ruangan saya selama saya di Inggris, jangan biarin orang masuk kecuali CEO," jelas Bila.
"Baik, Bu... Saya akan pastikan juga petugas bersih-bersih yang masuk ke sana pun akan ada satu orang saja."
"Bagus, tetap rawat ruangan itu dan tetap jaga privasinya."
"Baik, Bu..." ujar wanita itu.
"Oke, berkasnya saya bawa dulu ya." Bila lalu berjalan menuju kursi dimana rekannya duduk tadi.
"Silahkan, diminum dulu sambil nunggu CEO," ujar Bila seraya duduk.
...----------------...
Mobil yang ditumpangi Sasa sedikit lagi akan sampai di Hotel Gloubel. Mereka berkendara dengan aman. Sasa yang kembali merapikan kerah kemeja itu, tidak sadar saat mobilnya berpapasan dengan sebuah sedan hitam.
Mobil sedan hitam ber-plat B 12 SM itu, melaju menuju arah persimpangan yang berbeda dengan mereka. Namun, Sasa nampak tak melihatnya karena fokus pada kemeja.
Tak lama, mobil alphard itu berhenti di depan pintu hotel. Pintunya terbuka, bersamaan dengan satpam yang menyambut Sasa.
"Selamat pagi, Nona..." Sasa mengangguk dan turun dengan hati-hati.
Ia lalu berjalan masuk ke hotel. Tepat di dekat resepsionis, sudah ada Bila yang bercengkrama dengan dua orang rekannya. Sasa lalu berjalan ke arah mereka.
"Semoga cabang pertama di luar negeri ini akan jadi induk dari cabang yang lain," jelas Bila.
"Iya, saya senang berbisnis dengan hotel ini."
Sasa mendekat dan berdiri di sebelah Bila, dua rekan lainnya yang menyadari kehadiran Sasa nampak segera berdiri.
"Silahkan duduk saja," ujar Sasa juga ikut duduk.
"Selamat pagi, Pak... Sir!" seraya bersalaman.
Bila melirik ke Sasa yang tampil dengan sempurna hari ini. "Nah, yang ditunggu sudah datang, seperti yang diketahui beliau adalah CEO baru di Gloubel," jelas Bila.
"So pretty!" jawab rekan dari Inggris itu.
"Oh, thanks..." jawab Sasa dengan senyuman.
"Sebelum berangkat, ada beberapa point yang akan dibahas oleh CEO, silahkan..." Bila melirik ke Sasa.
Sasa lalu menyilang kakinya dan mulai bicara soal bisnis. "To the point, saya sebagai CEO senang sekali dengan terealisasikannya rencana pembangunan Hotel Gloubel di Inggris yang akan segera dilaksanakan," jelas Sasa.
"Ini adalah proyek penting, karena menjadi salah satu mimpi alm. Zena Wijaya." Sasa lalu melirik ke Bila yang tersenyum ke arahnya.
"Hari ini, saya akan melepas keberangkatan rekan-rekan bersama dengan satu orang kepercayaan kami," ujar Sasa seraya melirik Bila.
"Bu Bila," jawab Sasa lagi.
"Baik, terima kasih Mysa... Saya dan para collega akan pastikan rencana ini berjalan baik."
"Saya percaya, semoga rencana ini dipermudah, dan terima kasih sudah menyambut Gloubel dengan baik dalam proyek ini." Sasa lalu berdiri dan kembali bersalaman.
"Senang bisa berbisnis dengan anda," jawab pria itu.
Bila berdiri dan ikut bersalaman dengan Sasa. "Hati-hati di jalan, Bu. Kabarin saya kalau sudah sampai," jawab Sasa.
"Iya, terima kasih atas semua dukungan dan fasilitas yang kamu kasih," ujar Bila lagi.
Sasa lalu tersenyum ke Bila. Ia benar-benar sudah seperti CEO sekarang. "Ayo, mobilnya sudah di depan," ujar Bila mengajak rekan kerjanya.
"Sekali lagi, terima kasih Nona, kami akan berikan yang terbaik," ujar pria itu seraya berjalan menuju mobil.
Sasa mengangguk. Ia lalu ikut berjalan untuk melepas mereka bertiga. Di depannya, kini sudah ada mobil sedan silver sebagai kendaraan menuju bandara.
"Kami pamit," ujar pria itu masuk ke mobil.
"Hati-hati," jawab Sasa yang masih berdiri di depan mobil.
Sasa yang memang tidak ikut ke bandara itu, hanya bisa berdiri di depan mobil untuk melepas mereka. Bila lalu berjalan mendekat ke Sasa.
Ia kemudian menyerahkan amplop berwarna biru. "Hadiah buat kamu," kata Bila seraya tersenyum.
"Apa ini, Bu?" tanya Sasa mengambil amplop itu.
(Flashback)
Sekretaris itu kembali masuk ke ruangan Bila. "Ada apa Ibu memanggil saya kesini lagi?" tanya wanita itu.
Bila mengeluarkan selembar kertas yang sudah ia tulis tadi. "Saya mau kamu pesan tiket pesawat ke Bali atas nama CEO Hotel Gloubel," jawab Bila.
"Untuk keberangkatan kapan, Bu?" tanya wanita itu.
"Lusa, saya mau Mysa pergi satu hari setelah kami ke Inggris," ungkap Bila.
"Baik, Bu... Ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Saya minta, informasi ini jangan sampai bocor ke CEO, biar saya yang akan kasih tau ini sendiri," jawab Bila.
"Baik, Bu... Saya akan pesankan secara diam-diam," jawabnya.
"Oke, saya butuh tiket itu sebelum menuju ke bandara, jadi jangan sampai salah tanggal!" tegas Bila.
Wanita itu mengangguk. "Ini data yang kamu butuhkan," ujar Bila menyerahkan kertas yang sudah ia siapkan.
(Rightnow)
Sasa mendengarkan cerita Bila itu dengan serius. Ia lalu menatap Bila dengan penuh arti.
"Ibu tau, ini adalah sesuatu yang kamu mau, jadi, ibu sudah siapkan semuanya," jawab Bila.
Sasa perlahan membuka amplop itu. Ia lalu melihat jelas tiket pesawat yang sudah dipesankan oleh Bila. "Ini beneran untuk saya?" tanya Sasa.
Bila mengangguk. "Kamu bisa pergi lusa, jangan khawatir soal Gloubel."
Sasa menatap Bila dengan sangat dalam. Ia lalu memeluk Bila karena hadiah ini. "I trust you!"
"I'm too," jawab Bila. Bila kembali memeluk Sasa sembari menyampaikan salam perpisahan.
"Ibu yakin, kamu bisa selesaikan masalah Deina sendiri, be strong woman!" Sasa tersenyum ke Bila.
"Ibu pamit, jaga diri kamu baik-baik!" Bila lalu masuk ke mobil seraya menutup pintu.
"Hati-hati," kata Sasa saat Bila membuka kaca mobilnya.
"Iya, kamu juga!" Bila lalu kembali menutup kaca mobilnya.
(Klakson)
Mobil itu melaju meninggalkan Hotel Gloubel, kini hanya ada Sasa di depan hotel dengan amplop biru di tangannya. Ia kembali melihat amplop itu.
"Gua akan urus ini sendiri," ujar Sasa sembari membaca tanggal keberangkatannya menuju Bali.