Puzzles

Puzzles
Episode 38 - Obrolan Tentang Deina



Motor yang dikendarai Zean baru saja terparkir di rumah Sasa. Ia turun dan segera menuju pintu. Sebelumnya, Zean memang sudah menghubungi Sasa.


Tok...Tok..Tok..


"SAAA...." sorak Zean.


"SASAAAA????" Zean melirik sekeliling, hanya ada satpam yang tengah ngopi.


Bara yang ada di ruang tamu kemudian berjalan ke arah suara, sedangkan Sasa masih sibuk di kamarnya menempel beberapa kertas di papan mading.


"SAAA?? PERMISI!!"


"Telfon aja kali ya," ujar Zean.


Zean mencoba menelfon Sasa agar dapat turun membukakan pintu yang dikunci itu. "Sa, gua udah di bawah, ga ada yang bukain pintu."


Sasa lalu mencoba berjalan ke balkon, dan melihat Zean yang memang sudah ada di bawah. Sasa lalu menutup telfon dan bersorak ke Zean.


"Bentar, gua turun dulu!" tegas Sasa.


"OKEEEE...." sorak Zean.


Baru saja memasukkan telfon ke saku celana, Zean langsung mendengar suara pintu yang terbuka.


"Lo lagi ngapain sih, kok––"


Zean terkejut melihat ternyata Bara yang ada di balik pintu. "Zean?" sapa Bara.


"Lo ngapain di––"


"Sorry lama," ujar Sasa mendekat ke arah mereka yang masih berdiri di pintu.


Zean nampak mengode Sasa, bertanya lewat mata kenapa ada Bara di sini?


"Bara tinggal di sini karena orang tuanya lagi berobat ke Singapura," sahut Sasa melirik ke Bara yang ada di sebelahnya.


"Ayo, masuk..." ajak Sasa seraya menarik tangan Zean.


Melihat itu, Bara langsung menepis pegangan tangan Sasa di lengan Zean. "Lo mau ajak dia kemana?" tanya Bara.


"Ke kamar lah, ayo Zean!" ujar Sasa lagi.


Bara menahan langkah Sasa. "Ga boleh, di ruang tamu aja!" ketus Bara.


"Apaan sih, ada yang mau gua bahas sama Zean, dan lo ga boleh denger!" bentak Sasa kembali menarik Zean.


"Gua ikut!" ujar Bara.


"Gua bilang lo ga boleh denger Bara!" bentak Sasa lagi.


Zean yang merasa dipermasalahkan itu lalu menoleh ke mereka berdua. "Lo ngapain berdebat sih?" tanya Zean.


"Lo ga boleh berdua-an di kamar, karena belom mukhrim!" tegas Bara.


"Kayaknya lo berlebihan deh Bar," ungkap Zean.


"Pokoknya gua ikut kalau lo ngobrol di kamar," ujar Bara lagi.


Sasa mendengus, Bara memang benar-benar menyebalkan. "Terserah lo!" bentak Sasa sembari menarik Zean menuju lantai atas.


Bara yang mendengar itu memilih ikut, ia lalu berjalan mengejar mereka berdua. "Lo ga nikah sama dia kan, Sa?" tanya Zean serius.


"Apaan sih lo!" Sasa terus berjalan masuk ke kamarnya.


"Iya, lo soalnya menghilang beberapa minggu dari kampus dan udah ada dia aja di rumah lo," jelas Zean.


"Lo kan juga baru 2 hari ga ketemu gua, ege!" bentak Sasa seraya membuka pintu kamar.


Pintu itu terbuka lebar, Sasa lalu masuk bersama Zean dan tepat di belakang mereka berdua sudah ada Bara.


"Lo tau kan kalau lo masuk artinya––"


Bara menatap datar ke arah Sasa. "Artinya gua ga boleh denger apapun obrolan lo," ungkap Bara. Sasa mengangguk dan mengambil seseuatu di meja belajarnya.


"Ini," ujar Sasa memberikan earphone ke Bara.


Bara mengambil earphone itu dan duduk di kursi rias milik Sasa. Ia sesekali melirik ke arah mereka berdua.


"Sa, ini serius kita akan ngobrol di depan Bara?" tanya Zean sembari duduk di dekat balkon.


"Tenang aja, dia ga denger kok!" Sasa ikut duduk di sebelah Zean.


"Sa, lo yakin?" tanya Zean sekali lagi.


"Yakin, buruan bahas apa yang lo bilang di telfon tadi," pinta Sasa.


Bara hanya bisa memperhatikan mereka berdua dengan penasaran. Zean sebenarnya merasa cemburu akan ulah Bara. Terlebih, mereka bisa bertemu 24 jam sekarang.


"Huh, Larisa beneran mau pindah ke Bali, Sa."


"Kenapa Larisa harus pindah?" tanya Sasa.


"Nyokapnya dapet tawaran kerja sama di Bali, dan dia harua ikut."


"Kapan?" tanya Sasa.


"Satu minggu lagi, dan dia minta dibuatin acara perpisahan gitu," ujar Zean.


Sasa mencoba berfikir apakah ia bisa ikut atau tidak. "Gua ragu bisa ikut atau nggak, Ze. Lo juga tau kan gua sekarang lagi peralihan tugas buat jadi CEO."


"Jadi, menurut lo gimana? Apa gua harus tetap ikut?" tanya Sasa.


"Menurut gua sih iya, kenapa? Karena ini bisa jadi meet kita bertiga yang terakhir."


"Oke, gua akan ikut, tapi jangan sekarang... Tunggu 4 hari lagi," tukas Sasa.


"Oke, kita bisa siapin semuanya sama-sama kan?" tanya Zean.


"Pasti, gua akan bantu lo!" tegas Sasa.


Zean tersenyum. Ia merasa senang bisa sedekat ini dengan Sasa. Rasanya ada sesuatu yang mulai mencair di dalam dirinya.


"Tapi, lo tetap akan rahasiain soal alasan gua ga ke kampus kan sama Larisa?" tanya Sasa.


Zean mengangguk. "Tenang aja, gua akan selalu bisa lo percaya."


Sasa lalu melirik ke Bara yang masih asik dengan musiknya. Ia nampak mengantuk karena menenggelamkan kepalanya di meja.


"Soal AD, apa lo mau bahas lagi?" tanya Zean secara tiba-tiba.


Melihat Bara yang sepertinya terlelap itu, Sasa kemudian mengeluarkan selembar berkas yang dari tadi ia genggam.


"Soal itu, ada sesuatu yang mau gua kasih tau ke lo." Sasa menyerahkan kertas yang sudah diambilnya di atas meja tadi dan menyerahkannya ke Zean.


"Ini apa, Sa? Lo dapet bukti baru?" tanya Zean dengan sedikit pelan.


"Iya, bukti kalau Deina ada di TKP waktu itu, dan di sini udah ada data pemegang cctv waktu itu."


"Apa hubungannya Deina sama cctv waktu itu, Sa?" tanya Zean penasaran.


"Salah satu penyebab pembunuhan ini belum tuntas adalah cctv yang potongannya hilang,"


"Itu ngebuat polisi kekurangan bukti, dan mencap ini sebagai kecelakaan untuk penutup kasus."


"Jadi, lo minta gua untuk retas data cctv di waktu itu?" tanya Zean.


Sasa menggeleng. "Bukan, kali ini kita akan turun langsung ke lapangan buat dapetin rekaman suara Kylen F," jelas Sasa.


"Rekaman itu nanti bisa dipake buat bukti tambahan soal siapa yang nyuruh dia untuk hapus!" tegas Sasa.


"Kenapa lo bisa seyakin itu Deina terlibat dalam cctv?" tanya Zean.


"Dalam hotel Gloubel ada peraturan kalau cctv cuma jadi kuasa keluarga doang, Mama itu orangnya super privasi."


"Gua paham, itu karena Deina dan Ibu lo doang orang yang satu keluarga di situ, berarti–––"


"Satu satunya kemungkinan saat itu hanya Deina yang punya akses ke sana." Sasa sesekali menatap Bara yang tertidur pulas di meja.


Zean menatap Sasa dengan serius. "Lo mau kita temuin penjaga cctv nya?" tanya Zean.


"Bukan gua, tapi lo..." lirih Sasa.


"Gua sendiri?" tanya Zean menunjuk dirinya.


Sasa mengangguk. "Nanti gua akan kasih surat kuasa untuk lo, dan lo bisa dapetin rekaman suara itu."


"Lo yakin ini akan berhasil?" tanya Zean.


"Yakin," sahut Sasa.


"Tapi, kenapa lo ga ikut?" tanya Zean sembari menatap Sasa.


Sasa mendekatkan wajahnya agar Zean dapat mendengar bisikannya dengan jelas. Sementara, Bara yang tertidur, tidak tahu apapun soal percakapan ini.


"Jadi, gua...." Sasa menjelaskan sesuatu ke Zean. Zean nampak mengangguk paham.


"..." Zean masih menyimak setiap perkataan Sasa.


......................


Waktu berlalu hingga Sasa selesai mengantar Zean keluar dari rumahnya. "Hati-hati," sahut Sasa kepada Zean yang mulai melaju.


(Klakson)


Sasa masuk kembali ke dalam rumah, ia lalu berjalan menuju kamar untuk menemui seseorang yang sedari tadi tidur.


"Woi!" bentak Sasa tepat di telinga Bara.


Bara nampak masih terlelap. "WOIII!!" Sasa menggebrak meja di sebelah kepala Bara.


"Hmm! Apa?!" ketus Bara sembari menegakkan kepalanya.


Bara mengusap matanya agar lebih jelas, Sasa menatap Bara dengan sorot mata malas.


"Keluar!" bentak Sasa sembari berjalan ke kasurnya.


Bara nampak masih duduk. "Gua ga suka lo sok tau soal apapun yang gua lakuin," ujar Sasa.


"Ini baru Zean, dan gua ingetin ke lo sekali lagi..." pinta Sasa.


"Jangan lakuin hal kayak tadi ke orang lain yang kenal sama gua!" Sasa lalu duduk di pinggir kasur.


Bara bangun dari duduknya, ia kemudian mendekat ke Sasa yang tengah duduk. Jantung Sasa seakan berdetak lebih cepat.


Barae mendekatkan wajahnya ke muka Sasa. Jarak mereka hanya 1 cm sekarang. Hembusan nafas Bara terasa sekali.


"Gua ngelakuin hal kayak tadi cuma untuk jagain lo." Bara menatap Sasa dengan sangat dalam hingga gadis itu terdiam.