
(Dering telfon)
Ghare menjawab panggilan yang tengah masuk ke ponselnya. "Halo, gimana?" tanya Ghare kepada temannya itu.
'Data yang lo mau udah gua kirim via e-mail. Itu si Fanni yang ngerjain, bukan gua!'
"Thank's ya, gua juga tau kali Fanni yang ngerjain, sampein makasi gua ke Fanni." Ghare merasa lega atas masalah yang sudah terselesaikan.
'Iya, ngajak berantem mulu lo!'
"Yaudah, gua sibuk... Thanks ya!" Ghare lalu menutup panggilan itu.
Ia kemudian membuka e-mail via ponselnya. Disana, sudah ada pesan baru di kotak masuk atas nama Fanniyazara. Setelah Ghare membuka e-mail itu, ada sebuah link yang akan membawanya ke file pdf.
"Ini..." Ghare mengklik link tersebut.
Matanya berbinar saat mendapatkan apa yang ia cari. "Alamat Ardela Deina, di Jalan Sulatri, perum. Agara, No. 23."
Ghare membaca tulisan di dalam pdf itu dengan teliti. "Jaraknya lumayan jauh dari hotel Gloubel," ujar Ghare seraya menutup ponselnya.
"Gua harus ke sana besok, semuanya harus selesai besok!" Ghare menatap hamparan langit luas di depannya.
...----------------...
Sasa turun dari bus yang ia tumpangi. Ia lalu berjalan menyusuri taman panda yang ada di depannya. Matanya melirik ke jam tangan yang baru menunjukkan pukul 18.20 WIB.
Ia kemudian duduk di kursi kosong yang ada di dekat lampu taman. Sasa meletakkan barang belanjanya di sana. Ia lalu berjalan ke tukang nasi goreng yang mangkal tak jauh dari kursi yang ia duduki.
"Pak, nasi gorengnya dua ya, telurnya mata sapi aja."
"Makan di sini apa bungkus neng?"
"Makan di sini, saya duduk di kursi sebelah sana," ujar Sasa menunjukkan kursinya.
"Oke neng, tapi antre dulu ya... Saya mau buat pesanan untuk yang sebelah sana dulu," ujar penjual nasi goreng itu.
"Iya, nanti diantar ke situ ya, Pak..." Sasa lalu berjalan pergi ke kursinya. Ia tak mau barang belanjaannya nanti menghilang.
Sasa duduk dan melihat kembali apa yang ia beli. Ia kemudian menyingkap sedikit paperbag yang ada jaket puffer. "Udah lama nunggu?" tanya seseorang yang tengah berdiri di belakang Sasa.
Sasa yang mendengar suara itu langsung berbalik dan kaget saat mendapati sosok Bara yang tengah berdiri.
"Bara..." Sasa seketika menutup paperbag tadi.
"Lagi liatin apa? Belanja banyak ya?" Bara memutar badannya agar dapat melangkah ke kursi yang Sasa duduki.
"Kok cepet banget? Bukannya--" Sasa melirik ke jam tangan yang masih pukul 18.35 WIB.
"Harusnya jam tujuh kan?" tanya Bara yang juga langsung duduk itu.
"Iya, kenapa udah dateng? Gua baru aja pesan makanan," Sasa menggeser tubuhnya ke sebelah kanan.
"Maksud gua biar lo ga kelamaan nunggu, taunya lo udah nunggu di sini duluan." Bara menyandarkan tubuhnya ke kursi itu.
Sasa diam dan mencoba merapikan paperbag itu. "Itu, apa?" tanya Bara melirik ke paperbag.
"Ga ada, gua beli buat ke Bali besok." Sasa lalu memalingkan pandangannya.
"Ke Bali? Lo jadi ke Bali besok?" tanya Bara sedikit kaget.
"Iya, pesawat jam 9 pagi, mau ikut anter ga?" tanya Sasa.
"Gua besok ada kelas pagi jam 7," ujar Bara dengan raut datar.
"Lo ga bisa anterin gua?" tanya Sasa dengan kecewa.
"Bukannya ga bisa, tapi--"
"Gapapa sih, gua besok juga bisa pergi sama mobil kantor." Sasa menatap lurus ke depan.
Bara yang ada di sebelahnya menatap Sasa dengan senyuman kecil. Ia merasa ada sesuatu yang berubah dari Sasa. "Lo udah suka melibatkan orang lain?" tanya Bara.
"Ga juga." Sasa mencoba memalingkan pandangannya.
"Kenapa harus gua anterin?" tanya Bara menyindir.
"Gapapa, gua kan udah bilang gua bisa dianter sama mobil kantor, gua cuma basa basi kali."
"Permisi, ini pesanannya." Penjual menyerahkan pesanan Sasa.
"Ini, buat lo." Sasa lalu menyerahkan teh es dan nasi goreng.
"Pak..." ujar Bara memanggil tukang nasi goreng itu lagi.
"Iya, kenapa Mas?"
"Air minumnya diganti sama air putih biasa aja, yang ini kasih ke orang lain, nanti saya yang bayar." Bara menyerahkan teh es di tangannya.
"Lah," ujar Sasa tercengang.
"Loh, gapapa, kenapa dituker?" tanya Sasa sedikit kesal.
"Bawa aja, Pak..." ujar Bara dengan senyuman.
"Sebentar ya, saya ambilkan air putihnya." Penjual itu berlari ke gerobaknya dengan dua gelas teh.
"Kan mubazir," ujar Sasa.
"Air es campur nasi goreng yang tinggi minyak ga bagus buat tenggorokan," jelas Bara.
Sasa menatap Bara dengan kesal. "Lagian ga mubazir juga, gua kan udah kasih ke yang lain."
"Ini, minumnya..."
"Makasi, Pak..." Bara mengambil minum yang diberikan kepadanya itu. Ia lalu menaruh minum itu di sampingnya.
"Ayo, makan..." ujar Bara kepada Sasa.
"Harusnya gua yang nawarin lo makan," ujar Sasa.
"Gapapa, ayo makan..." ujar Bara lagi.
Sasa yang masih jengkel itu belum menyuap nasi di depannya. Bara yang menyadari itu lalu menyendok nasi di piringnya.
"Ini, first suapan untuk Nona Mysa..." ujar Bara menatap Sasa.
Sasa seketika menoleh ke Bara. "..." Sasa hanya diam.
"Ayo, gua suapin." Sasa lalu membuka mulutnya dan melahap satu suapan itu.
"Gitu dong, mau lagi?" tanya Bara hendak menyuapkan lagi.
Sasa melirik ke beberapa orang yang lewat. Mereka memperhatikan Sasa dan Bara. "Lo malu gua suapin?" tanya Bara melirik ke beberapa orang.
"Makan yuk." Sasa langsung menyuap nasi di piringnya. Ia membiarkan Bara tercengang dengan beberapa orang yang memperhatikan mereka.
"Yaudah," ujar Bara yang ikut melahap nasi goreng itu.
Mereka memakan nasi masing-masing dengan sesekali bercengkrama.
...----------------...
Motor yang dikendarai Zean berhenti tepat di depan kedai Bima. Ia melihat jelas kedai yang kini sedang tutup itu.
Zean turun dari motornya dan segera menuju pintu kedai. "Bimmm... Bimaaa..." ujar Zean seraya mengetuk pintu.
"Bimaaa... Lo di dalem?" tanya Zean dari balik pintu.
Tidak ada jawaban dari Bima. Zean melirik sekeliling yang sangat sepi. Bahkan kedainya berdebu. Zean lalu mencoba mengecek kembali jendela kedai dan pintu.
"Ke kopek... Bimm!?!" sorak Zean langsung membuka pintu.
Krek!!
Pintu yang sudah dibuka paksa itu kini menampilkan kasur milik Bima dengan komputer yang sudah tercabut.
"Ini, siapa yang lakuin ini?" sorak Zean seraya mengecek kamar itu.
Zean memeriksa dengan teliti apa yang terjadi pada kedai Bima. Komputernya pun hilang dari kamar itu. Ia lalu mencoba menelfon Bima dengan nomor rahasia.
(Berdering)
(Berdering)
"Angkat dong, Bim...." ujar Zean yang sedang berdiri di depan kasur itu.
Disisi lain, Bima yang sedang ada di suatu ruangan itu, nampak memperhatikan dengan seksama ponselnya yang sedang berdering.
Ia melihat jelas seseorang menelfonnya beberapa kali. Matanya kemudian melirik pada seseorang yang tengah berdiri di sampingnya.
"Gua harus cari cara lain," ujar Zean mencoba mengacak-acak kamar Bima.
"Dimana ya?" tanya Zean mencoba mencari kode yang biasanya ditinggalkan hacker saat dirinya berpindah tempat secara darurat.
Zean berhenti mengacak-acak dan mencoba mengingat dengan jelas.
'Lo naruh kode emergency biasanya dimana?'
'Rahasia, itu kan morse yang harus dipecahin sesama hacker.'
'Jangan bilang lo naruhnya di pohon kaktus.' Zean kemudian melirik ke topi dengan logo kaktus yang Bima gunakan.
Zean mencari pot kaktus yang ada di kamar Bima. "Dia pasti naruh morse di situ."
Zean kemudian melihat ke kolong kasur dan mendapati pot kaktus yang sudah terbalik. "Kaktus!"
Zean merogoh pot itu dan mencoba mencari morse yang dititipkan oleh Bima. Ia mencopot kaktus itu dari potnya dan menemukan secarik kertas berwarna kuning di sana.