
Zean yang baru saja tiba di kampus itu terkejut saat mobil sedan hitam ber-plat B 12 SM berhenti di depannya. Mobil yang waktu itu ia intip bersama Sasa.
Zean lalu ikut berhenti dan memperhatikan sosok yang keluar dari mobil itu.
"Ghare?" ujar Zean yang masih di atas motor.
Sembari Ghare menghampiri Zean, mata Zean terus terpaku pada plat mobil tersebut. Ingatannya seolah muncul kembali.
'Mobil ini kan punya Ayah Ghare, dan Ibunya adik dari Alm. Zena Wijaya.'
'Apa Deina sengaja pake mobil ini untuk mantau pemakaman waktu itu?'
'Tapi, bukannya Deina ada di pemakaman ya?'
"Woii!! Ngapain bengong sambil liatin mobil gua?" tanya Ghare.
Zean seketika menatap Ghare dengan gugup. "Gapapa, mobil lo bagus," ujar Zean.
Ghare menoleh ke arah mobilnya. "Jelas lah, itu mobil impor tau! Khusus dikirim bokap untuk keperluan di Jakarta," jelas Ghare.
Mendengar itu, Zean seperti mendapat informasi baru. "Emang bokap lo ga di Jakarta?" tanya Zean.
"Hmmm, kepo lo!!" ketus Ghare.
"Gua cuma nanya kali, yaudah gua mau cabut dulu!" ketus Zean.
"Ehhh bentar, bentar..." Ghare menahan stang motor Zean.
"Apa lagi?" tanya Zean.
"Lo kayaknya penasaran banget sama mobil gua," ujar Ghare.
"Gua ga penasaran, gua cuma bilang bagus!" ketus Zean.
"Kalau lo emang penasaran, lo bisa cerita banyak sama gua di rumah gua, gimana?" tanya Ghare.
"Maksud lo? Lo ngajak gua main ke rumah lo?" tanya Zean.
Ghare mengangguk. Ia lalu memperdekat jaraknya dengan motor Zean. "Tapi, ada syaratnya..." ujar Ghare.
Zean menatap Ghare dengan curiga. "Lo gausah bawa Sasa dulu," ujar Ghare denga nada pelan.
"Bukannya lo berteman sama gua karena ada Sasa?" tanya Zean kembali mengingatkan Ghare.
"Iya, tapi kali ini beda cerita..." ujar Ghare dengan santai.
"Lo punya niat lain?" tanya Zean menyindir.
"Gua cuma butuh bantuan lo, selengkapnya gua akan jelasin di rumah."
"Kapan?" tanya Zean.
"Kalau bisa hari ini, soalnya bokap gua lusa mau pulang, jadi hari ini gua harus bicara sama lo!" tegas Ghare.
"Pentingnya buat gua apa?" tanya Zean.
"Gua udah bilang, nanti gua jelasin di rumah!" tegas Ghare.
"Wajar dong gua nanya pentingnya apa?" tanya Zean lagi.
"Nih, gausah banyak bacot!" ujar Ghare menyerahkan telfon.
"Apaan? Ga jelas lo!" tegas Zean.
"Catet nomor lo di sana, biar gua ga susah-susah nyari lo di kampus kayak gini!" ketus Ghare.
Zean mendengus dan mencatat nomornya di ponsel Ghare. Ia lalu menyerahkan kembali ponsel milik Ghare itu.
"Nanti siang ketemu di gerbang kanan ya!" ujar Ghare.
Zean mengernyitkan dahinya. Kenapa Ghare jadi seperti pengganti Larisa? Bukankah tongkrongan gerbang kanan itu hanya diketahui oleh mereka bertiga?
...----------------...
Bila yang ada di ruangannya nampak sedang berbincang dengan rekan kerjanya dari Inggris. "Apakah lusa kita jadi berangkat?" tanya pria itu.
"Jadi, tapi saya akan tetap konfirmasi ke CEO dulu soal keberangkatan," jelas Bila.
"Baik, saya tunggu konfirmasinya ya, kami pamit dulu." Mereka bersalaman satu sama lain dan keluar dari ruangan Bila.
Bila yang kini sendiri itu, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Ia kemudian mengambil kertas dan menandatangi surat yang ada di hadapannya.
Setelah itu, Bila lalu menelfon seseorang yang akan membawa berkas itu pergi.
"Halo, kamu silahkan jemput berkasnya ke ruangan saya sekarang ya."
Bila lalu menutup ponselnya. Ia kemudian merapikan berkas bertulisan 'Recap Administrasi Proyek HG Inggris'
Tok...Tok...Tok...
Wanita yang merupakan sekretaris Bila itu langsung masuk dan berjalan ke meja kerja.
"Ini, saya butuh dananya besok siang, dan tolong pesankan tiket pesawat untuk kami berangkat ke Inggris lusa," jelas Bila.
"Baik, Bu... Sebelumnya, apakah saya perlu melaporkan ke CEO lagi?" tanya wanita itu.
"Biar saya yang bicara dengan CEO, kamu silahkan urus dua hal itu," jawab Bila lagi.
"Baik, Bu. Saya permisi dulu," jawab wanita itu sembari keluar dari ruangan.
Bila mengiyakan dan kembali duduk seraya merapikan berkas yang ada di mejanya. Saat sedang asik merapikan, tangannya tak sengaja menyentuh sebuah berkas.
Bila lalu mengambil berkas yang sudah terlipat dan membukanya. 'For: Ardela Deina'
Bila mengernyitkan dahinya. Berkas ini adalah berkas yang tidak jadi ia kirim ke Deina minggu lalu karena Sasa ingin ke Bali.
'Berkas ini.... Apa saya harus bantu handle ini juga?'
Melihat berkas itu, Bila kembali menghubungi sekretarisnya untuk membahas ini.
"Kamu bisa ke ruangan saya lagi?" tanya Bila dengan raut wajah serius.
Bila lalu menutup telfon dan menunggu sekretarisnya hingga datang ke ruangan itu.
...----------------...
Sasa yang memang dalam fase pemulihan itu masih tertidur lelap di rumah. Ia tak menghiraukan apapun yang akan mengganggunya sekarang.
Sementara, Zean nampak mengendarai motornya ke gerbang kanan. Dari jauh, sudah ada Ghare di sana. Motor Zean berhenti tepat di dekat mobil Ghare.
"Duduk dulu," ujar Ghare sembari melirik ke kursi di sebelahnya.
"Buruan, gua buru-buru!" ketus Zean.
"Santai dulu, ini udah gua pesenin minuman," ujar Ghare.
"Gua bingung sama lo, temen-temen lo pada kemana sih?" tanya Zean seraya duduk di kursi itu.
"Gua udah ga temenan lagi sama mereka," jawab Ghare.
"Ini akal-akalan lo doang atau gimana?" tanya Zean.
"Terserah kalau lo ga percaya," ujar Ghare.
Zean meneguk minuman yang ada di depannya. "Tapi, lo bisa liat sendiri kan kalau mereka udah ga temenan lagi sama gua?" tanya Ghare.
Zean mendengus. "Buruan pergi ke rumah lo sekarang juga," ujar Zean.
"Habisin dulu minuman lo kenapa sih?" tanya Ghare.
Zean meneguk minumannya sampai habis. Ia lalu menatap Ghare dengan datar. "Ayo! Lo mau pakai alasan apa lagi?!" tegas Zean yang sudah tidak sabar itu.
"Iyaa...iyaaa," ujar Ghare seraya berdiri.
Ghare berjalan menuju kasir untuk membayar. "Lo ikutin mobil gua aja," ungkap Ghare.
Zean mengangguk dan segera menuju motornya. Ghare masuk ke mobil dan membunyikan klakson. Zean lalu mengikuti kemana mobil Ghare itu melaju.
Mereka berkelana di jalanan yang berbeda arah dengan rumah Zean. Zean terus mengikuti mobil itu hingga melewati beberapa lampu merah.
Saat sedang asik mengikuti, tiba-tiba ponsel Zean berdering. Zean yang menyadari itu seketika memilih menepi karena tidak memakai earphone. Ia lalu menjawab panggilan itu.
"Halo? Kenapa?" tanya Zean.
'Ada info baik buat lo.'
"Really? Udah berhasil ya?" tanya Zean.
'Udah, dan lo bisa jemput hasilnya sekarang juga, karena gua harus segera pindah lokasi.'
"Oke, gua cari lo ke tempat biasa ya."
'Inget, jangan kelamaan, lo tau kan posisi gua gimana?'
"Iya gausah khawatir, gua on the way!" Zean segera menutup ponselnya dan melihat mobil Ghare yang sudah terlalu menjauh.
Tanpa menghiraukan itu, Zean memutar arah motornya dan melaju dengan cepat menuju penelfon tadi.
Ghare yang masih belum menyadari kepergian Zean itu terus mengendarai mobilnya menuju rumah.
Sementara, Zean yang dia pikir masih membuntuti malah melaju ke arah lain yang tak diduga sama sekali.
'Gua akan akhiri cerita ini dengan baik, Sa.'
Mata Zean seperti berbinar ketika tahu bahwa apa yang ia cari sudah ada di depan mata. Ia terus mengendarai motornya hingga berhenti di suatu tempat.