Puzzles

Puzzles
Episode 8 - OSPEK



Waktu berlalu, tahun berganti hingga akhirnya Sasa masuk ke titik yang disebut "Hari Ini."


Hari ini, semua mahasiswa baru Univ. Grellya Budaya tengah melaksanakan ospek. Semua mahasiswa itu nampak berkumpul di aula menunggu arahan para senior.


Cuaca hari ini sangat panas, matahari serasa ada tepat di kepala Sasa. Hawa panas seolah menguasai tubuhnya.


"Gila! panas banget anjir..." keluh Sasa.


Sementara, senior ospek nampak tidak peduli dengan berbagai keluhan dan cuaca yang panas itu. Ia masih saja menyuruh para mahasiswa itu untuk berbaris ke lapangan.


Tapi, apa boleh buat. Mahasiswa baru hanya dapat mengiyakan perintah itu. Menomerduakan kondisi kesehatannya, begitulah kira-kira.


"Semuanya, sekarang ke lapangan rumput yang ada di sebelah sana," ujar Ghare, senior ospek yang super galak.


Mahasiswa baru itu nampak nurut, ia mengikuti langkah Ghare menuju lapangan. Ada juga yang menggerutu namun diam ketika dilihat Ghare.


Ghare adalah salah satu kakak tingkat dari jurusan manajemen. Ia sudah kuliah dari 3 tahun lalu. Walaupun ia bukan ketua BEM, tapi kekuasaannya seolah melebihi, sama seperti rasa sombongnya. Semua, di atas rata-rata.


Karena tidak biasa berdiri di bawah terik matahari, Sasa seolah merasakan sesuatu yang tidak baik beres dari tubuhnya. Energinya seperti dikuras habis naik ke awan.


Beruntungnya, salah seorang wanita yang juga anak baru di kampus ini, bertanya tentang kondisi Sasa.


"Kamu pucet, kamu baik-baik saja?" tanya rekan ospek di sebelah Sasa.


"Aku baik-baik saja, just tired," ujar Sasa.


Wanita itu sadar sekali bahwa Sasa benar-benar tidak kuat lagi. Ia lalu memutuskan untuk membawa Sasa agar diberikan pertolongan pertama.


"Ga usah dipaksa kalo ga kuat, itu ada petugas PMI," bisik wanita itu.


Dengan mata sayu, Sasa melirik ke arah mobil itu dan menarik nafas dalam. Ia seakan ingin langsung sampai saja di mobil itu.


Pria lain yang memperhatikan mereka berdua lalu mendekat dan juga menawarkan hal yang sama. Mengajak Sasa ke PMI.


"Temen lo kenapa?" tanya seorang pria sebaya mereka.


"Kayaknya kurang sehat deh," ujar gadis itu.


"Bawa ke PMI aja, ayo gua bantu," sembari menopang Sasa.


Sasa yang sudah sangat lelah itu, tak peduli lagi dengan ucapan apapun. Ia merasa sudah selesai saat ini juga.


"I'm Done!" pelan Sasa saat ingin ditopang.


"KAK!" ujar wanita bernama Larisa itu sembari mengacungkan tangan.


"KAK, ADA YANG SAKIT!!!" sorak pria tadi.


Senior bernama Ghare nampak santai berjalan mendekati mereka.


"Apa?!"


Wanita itu bernama Larisa itu lalu melaporkan soal kondisi Sasa. Namun, respon Ghare sungguh di luar kepala. Ia bahkan tak punya rasa peduli pada adik tingkatnya.


"Ada yang sakit, mau minta izin." ujar Larisa.


Sasa hanya bisa diam karena terlalu lama berdiri di panas matahari.


"Kamu ga denger aku barusan bilang apa?!" bentak Ghare.


Larisa berusaha menjegal ucapan Ghare agar bisa menolong Sasa.


"Denger, tapi ini darurat!" ketus Larisa.


"Kak, dia sakit, harus diobatin," jelas pria itu.


Ghare lalu merasa tersulut emosi saat pria lain juga ikut menolong Sasa. Ia hanya memperlambat durasi pertolongan Sasa saja. Padahal, Sasa sangat butuh pertolongan saat ini.


"Ini lagi, ikut-ikutan," bentak Ghare.


"Coba ulangin apa yang saya bilang tadi," ujar Ghare.


"Ulang?" tanya Larisa bingung.


"Iya ULANG! ULANGIN APA YANG saya bilang tadi!!!!" ketus Ghare.


"APA!?" tanya Larisa sedikit kesal.


Dari ujung sana, di dekat mobil, seorang pria memperhatikan keadaan. Ia melirik Larisa yang tengah bercengkrama itu. Hal ini lalu menarik perhatiannya.


"...ini temen saya lagi sakit kak, saya ga punya waktu buat ngulang kalimat kakak." Bentak Larisa.


"Ayo, kita bawa aja dia ke PMI," pria tadi berdiri bersama Larisa.


"Huh... liat yaa semuanya, ini contoh adek kelas yang songong!"


"APA? Maaf ya, ini bukan songong, dia itu udah ga punya tenaga, dia sakit, YOU CAN SEE!?!!"


Melihat perdebatan itu, seorang pria berjalan ke arah mereka bertiga dan mulai menanyakan keadaan.


"Sasa..." ucap Bara.


Bara nampak mengenakan jas putih dan sarung tangan steril. Ia lalu menanyakan alasan Ghare menahan mereka.


"Ini kenapa ga dibawa dari tadi?!" bentak Bara yang membuat Ghare diam.


Larisa yang sangat kesal akan ulah Ghare itu mencoba memberi tahu Bara soal sifat konyol Ghare.


"Dia ga kasih izin," ujar Larisa menopang Sasa.


Mendengar itu, Bara seolah tersulut emosi. Ia langsung marah tanpa peduli opini orang lain lagi. Sementara, para mahasiswa baru menjadikan mereka poros dari penglihatannya.


"GILA YA LO, lo pikir nyawa orang itu mainan ospek?!" ujar Bara yang membuat semua maba menoleh ke arahnya.


"Bara...." ujar Nadine, kakak kelas Sasa.


Ghare hanya diam tanpa menjawab ucapan Bara, padahal Ghare tahu bahwa Bara adalah adik kelasnya.


"Ganteng, calon dokter lagi njir.." ujar beberapa Maba.


"Ayo dek, ikut kakak..." ujar Bara.


"Satu orang aja, kamu ikut saya!" ujar Ghare kepada pria yang tadi membela Larisa.


Dengan langkah tersenggal, pria bernama Zeano Pramana itu memilih mengikuti langkah Ghare. Larisa yang telah dulu melangkah itu, memilih menolong Sasa agar cepat sampai di posko.


***


Sasa perlahan membuka matanya saat di dalam mobil itu, wajah yang pertama kali ia lihat adalah..... dua orang yang bercengkrama.


"Makasi ya kak Bara, udah bantuin temen baru aku," jelas Larisa.


"Temen baru kamu itu super ngeri tau," ujar Bara.


"Benarkah? kak Bara kenal dia? aku belum kenalan soalnya, hehe."


( Suara gesekan sepatu )


"Sasa," ujar Bara yang langsung bergerak ke arah Sasa.


Larisa dan Bara menghampiri Sasa dan menyuruhnya untuk diam dulu.


"Maaf, ngerepotin." ujar Sasa datar.


"Gapapa, tadi kamu pucet banget, sekarang gimana?" tanya Larisa.


"Udah baikan sih,"


Sasa lalu melirik Bara yang dari tadi duduk di samping Larisa. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan orang ini, bahkan di kampus yang sama.


Bara tersenyum jahil dan mulai berbisik ke telinga Sasa. Sasa seketika terdiam dan merasakan hembusan nafas Bara di telinganya.


"Ternyata lu kalah juga ya sama matahari," celetuknya menggoda Sasa.


Sasa hanya terdiam walaupun jengkel, tenaganya terkuras habis oleh panas terik.


"Permisi," ujar seorang pria memberikan minuman.


"Makasi ya," ujar Larisa sembari memberi Sasa minum.


Sasa yang masih bingung hanya minum dan mencoba bangkit dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya sudah mulai pulih.


"Bar, ada maba yang sakit di lapangan sebelah kiri." Sorak seorang pria, rekan Bara.


"Oke, gua nyusul." Balas Bara.


"Gua tunggu ya," pria itu lalu pergi.


"Keluar dulu ya, jagain Sasa." Sahut Bara sembari berlalu.


Bara lalu terpaksa meninggalkan mereka berdua tanpa banyak bicara. Ia harus segera melakukan tugasnya sebagai calon dokter muda.


"Makasi Kak," ujar Larisa.


"Oh iya, kita belom kenalan," ujar Larisa.


"Gw Larisa Araska," sembari mengarahkan tangan ke Sasa.


"Sasa Sasilia," ujar Sasa membalas uluran tangan itu.


Mereka berdua lalu bercengkrama untuk saling mengenal satu sama lain.


......................


"Udah jam 12.15 WIB, semuanya isoma dulu, nanti kumpul lagi jam 13.15 WIB." Jelas Ghare.


Baru saja Zeano Pramana, pria tadi, ingin meninggalkan posisi berdiri tegak di bawah sinar matahari itu.


"Kecuali Lo!!" bentak Ghare.


Zean melihat sinis ke arah Ghare.


"Lo boleh istirahat jam 12.45 WIB. Setengah jam lagi,"


"Apa? gua kan mau ibadah juga," sanggal Zean.


"Itu hukuman buat lo, karena udah cari gara-gara di hari pertama kita ketemu." Jelas Ghare meninggalkan lapangan itu.


"WTF!" umpat Zean.


"Ini kayaknya dia merasa lebih dari Tuhan deh, kasih hukuman segala!"


......................


"Lo beneran udah mendingan?" tanya Larisa.


"Gua ga selemah itu kok," ujar Sasa.


"Sebentar, gua mau beli minum dulu," Sasa berlari ke arah penjual minum.


Sasa hanya diam menunggu di pinggir lapangan itu.


"Dah, yuk...." Sorak Larisa.


Mereka berjalan menuju lapangan, tepat dimana Zean dihukum.


"Itu, cowok yang diri di tengah lapangan, dia dihukum karena belain lo," jelas Larisa.


"Yang lo ceritain tadi?" tanya Sasa.


Larisa mengangguk pasti dan menuntun Sasa menuju pria itu.


"Nih, minum buat lo," ujar Larisa.


"Buat gua?" tanya Zean.


"Eh, lo yang tadi sakit?" tanya Zean menunjuk Sasa.


"Iya, makasi ya." Ujar Sasa.


"Minum dulu." Ujar Larisa.


Zean meneguk air itu sampai habis.


"Haus banget ya lo?" celetuk Larisa.


Zean hanya diam sembari mengelap keringatnya.


"Oh iya, kenalin, gua Larisa dan ini Sasa," ujar Larisa lagi.


"Zean." Ujarnya singkat.


"Lo, kenapa ga istirahat?" tanya Sasa.


"Belom boleh,"


"Gilaa emang si senior laknat!!!" ketus Larisa.


"Gapapa lah, itung-itung ngeluarin keringet." Ujar Zean.


"Udah jam 12.40 loh, yuk makan," ujar Sasa.


"12.45 baru boleh pergi," ujar Zean.


"Takut banget lo jadi cowok, ayo buruan!" bentak Sasa menarik Zean.


Zean sedikit terkejut dengan ucapan Sasa. Dia pikir Sasa adalah Larisa yang lemah lembut.


Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin kampus. Bergegas makan dan ibadah sebelum waktu berkumpul tiba.


......................


"Maaf ya Ze, gara-gara gua lo jadi dihukum, panas banget lagi." Ujar Sasa sembari melahap batagor.


"Gausah mintak maaf, itu juga akan gua lakuin untuk siapa aja yang ada di posisi lo saat itu," jelas Zean.


"Ini tuh karena seniornya aja geblek!" bentak Larisa.


"Lo kenapa ga lari aja sih? kenapa patuh banget nunggu jam 12.45?" tanya Sasa lagi.


"Cowok itu harus tanggung jawab, apalagi soal waktu," jelas Zean.


"Idaman banget lo ya!" puji Larisa.


"Tapi gua ga mau sama lo!" ujar Zean spontan ke Larisa.


Sasa pun tersedak dan segera meneguk air atas pernyataan Zean.


"What? lo pikir gua mau sama lo!!!" bentak Larisa.


"Gua ga mikir gitu," ucap Zean santai.


"Ihhhh!!! lo baru juga sehari jadi temen gua," celetuk Larisa.


"Udahhh, udahhh," senggal Sasa.


"Jadi orang kan harus jujur," ucap Zean lagi.