
Setelah melewati banyak kemacetan, akhirnya mobil yang dikendarai Bara sampai di parkiran kampus. Bara memberhentikan mobil itu, ia lalu melihat ke Sasa.
"Lo mau ikut gua ke kelas?" tanya Bara.
"Nggak, gua ada urusan ke gerbang kanan kampus," jawab Sasa sembari membuka pintu mobil.
"Nanti pulang bareng kan?" tanya Bara yang masih di dalam mobil.
"Iyaaa, gua lagi ga mood naik bus!" Sasa lalu keluar dari mobil itu.
Bara yang melihat kotak nasi di atas kursi itu langsung memanggil Sasa kembali. "Eh, tunggu!" Bara lalu keluar dari mobilnya.
"Saaa??? Sasaaa!!!?" sorak Bara.
Sasa berhenti dan menoleh ke belakang. "Ini, jangan lupa dimakan." Bara menyerahkan kotak itu.
Sasa melirik ke Bara dan mengambilnya. "Thanks ya, see you!" Sasa langsung berlalu meninggalkan Bara.
Bara yang memang ada kelas pagi ini, langsung balik ke dalam mobil untuk mengambil laptopnya. Baru saja ia hendak melangkah menjauh dari mobil. Seseorang menghampirinya.
"Halo Bara...?" sapa wanita berparas cantik itu.
Bara menatap wanita yang sudah biasa ia temui di kelas, Hanum. Dia adalah teman sekelas Bara. "Iya, kenapa?" tanya Bara.
"Bareng yuk ke kelas," ajak wanita itu.
Bara yang tak menjawab itu memilih berjalan duluan. Ia malas menghadapi sikap Hanum yang makin hari makin menjadi-jadi.
"Bara... Lo sekarang udah sering bawa mobil ya?" tanya Hanum.
"Hm." Bara hanya berdehem menjawab ucapan Hanum.
"Nanti pulang sendiri kan?" tanya Hanum lagi.
Bara yang tidak suka dengan Hanum memilih meninggalkan gadis itu dan berlalu ke kelas. Hanum menjadi jengkel akan sikap Bara.
"Barrr... Tunggu!!!" soraknya mengejar Bara.
...----------------...
Sasa berjalan ke gerbang kanan, ia melirik sekeliling. Rasanya sudah lama sekali ia tidak ke sini. Di sudut gerbang sudah ada Zean yang duduk seperti biasa.
"Heii!!! Sa?" sembari melambaikan tangan.
Sasa membalas lambaian itu dan berjalan mendekat ke Zean. "Ze, Larisa udah dateng?" tanya Sasa spontan.
"Duduk dulu," jawab Zean mempersilahkan.
Sasa lalu duduk. "Ice tea buat lo, gua yang pesenin 5 menit lalu," ungkap Zean menyodorkan es teh itu.
"Makasi," balas Sasa.
Sasa lalu meneguk es teh itu. Ia kemudian kembali bertanya ke Zean. "Larisa belom dateng?" tanya Sasa lagi.
"Masih belom, hari ini biasanya dia emang dateng agak siang." Zean meneguk air minumnya.
"Oohh, yaudah kita tunggu aja." Sasa lalu kembali meminum es tehnya.
Zean melirik ke kotak nasi yang dibawa Sasa. Kotak itu sekarang ada di atas meja. "Tumben lo bawa bekal?" tanya Zean.
"Oh ini," ujar Sasa mengambil bekal itu.
"Bara yang kasih," sahut Sasa sembari membukanya.
Di dalam bekal itu, ada nasi goreng dengan telur mata sapi. Dan di bawahnya, tertulis 'Selamat Pagi Mysa!' yang dibuat dengan saus tomat.
Zean sekilas melirik Sasa yang tersenyum melihat tulisan itu. "Eheemm!!!" dehem Zean membuyarkan senyuman Sasa.
Sasa seketika menoleh ke Zean dan meletakkan nasi gorengnya di meja. "Dia yang maksa gua bawa ini," sangkal Sasa.
"Dia perhatian ya sama lo," ujar Zean dengan raut datar.
"Biasa aja sih, gua ga ngerasa diperhatiin." Sasa mengambil sendok dan memakan nasi goreng itu.
Zean hanya bisa melihat Sasa dengan sedikit rasa cemburu. "Enak ya?" tanya Zean.
"Lo mau coba? Ini..." Sasa menyodorkan sesuap nasi ke hadapan Zean.
"Males," celetuk Zean menjauh.
"Ayo, coba!" tegas Sasa langsung memasukkan nasi goreng itu ke mulut Zean.
Dengan terpaksa, Zean mengunyah nasi goreng itu. Dalam hatinya, tidak bisa dipungkiri kalau ini benar-benar enak.
"Enak kan?" tanya Sasa lagi.
"Biasa aja!" ketus Zean memalingkan wajahnya.
Sasa menatap Zean dengan terkekeh. Melihat raut bahagia Sasa, Zean seolah punya banyak alasan untuk tetap masuk dalam misi puzzles.
"Ze...." lirih Sasa meletakkan sendok di tangannya.
"Jangan nolak rasa yang enak cuma karena lo ga suka sama orang yang buat," ungkap Sasa.
"Gua bukan ga suka Bara," jawab Zean.
"Terus apa? Benci?" tanya Sasa lagi.
"Bagus!" tegas Sasa.
"Kenapa bagus?" tanya Zean.
"Berarti lo normal!" Sasa kembali memakan nasi goreng itu.
Zean hanya bisa menggeleng atas ucapan Sasa. Ia kemudian meneguk habis air yang sudah dipesan. Sementara, Sasa nampak melahap nasi goreng itu sampai ludes.
Dari sisi kiri gerbang, nampak Ghare tengah berjalan mendekat ke kedai yang ada di gerbang kanan. Ia bermaksud ingin membeli minum sembari menunggu jam masuk.
"Coffee 1 ya, Kak."
Saat sedang menunggu kopi, ia tak sengaja melihat Sasa. Sasa tengah menutup bekal yang sudah ia habiskan.
"Kenyang gua," sahut Sasa.
Sasa lalu melihat jam di tangannya yang sudah mulai lewat. "Ze, ini Larisa ga ke kampus atau gimana?" tanya Sasa.
Ghare terus memperhatikan untuk memastikan bahwa itu Sasa. "Ini Bang," sembari menyerahkan kopi.
"Iya," jawab Ghare sembari mengambil dan membayar kopi itu.
"Kita tunggu dulu aja, nanti juga dateng." Zean sesekali melihat ke arah masuk gerbang, tidak ada tanda kedatangan Larisa.
Ghare berjalan ke arah mereka sembari membawa kopi di tangannya. "Tapi, lo bukannya ada ke––"
"Hai?" sapa Ghare ke arah Sasa.
Sasa seketika mendongak dan melihat Ghare di hadapannya. Zean juga ikut terkejut dengan kedatangan Ghare.
Karena malas ribut, Sasa memilih tak menghiraukan Ghare. "Lo ada kelas jam berapa, Ze?" tanya Sasa.
"Jam––"
Ghare seketika duduk di sebelah Sasa. "Oh, jadi gua ga dianggap nih?" tanya Ghare dengan nada menyindir.
Sasa menarik nafas dalam, ia lalu menjauh dari Ghare. Sasa memilih memperdekat jarak duduknya dengan Zean. Zean yang tahu bahasa tubuh Sasa memberi akses untuk Sasa duduk.
"Eh," ujar Ghare menahan tangan Sasa.
"Jangan pegang-pegang!" ketus Zean memukul tangan Ghare.
"Lo diem aja!" bentak Ghare.
Sasa lalu mendekat ke Zean. "Lo ga ada angin atau hujan, tetap aja cari ribut ya?" tanya Sasa.
"Gua ke sini cuma mau temenan," celetuk Ghare sembari meletakkan kopi itu di meja.
Sasa mendengus. "Kita ga mau temenan sama lo!" bentak Sasa.
"Tapi, gua mau temenan sama lo." Ghare menatap Sasa dengan sangat dalam.
Zean lalu mengode Sasa. Ia teringat soal data diri Ghare yang belum sepat mereka dapatkan secara real. "Sa..." bisik Zean.
"Apa?" tanya Sasa dengan suara pelan.
"Temenan aja," sahut Zean lagi.
"Kenapa?" tanya Sasa.
"Nanti gua jelasin," sahut Zean.
Zean lalu menatap Ghare yang sedang meneguk kopi. "Kenapa lo mau temenan sama kita?" tanya Zean.
"Sebenernya gua cuma mau temenan sama dia doang, tapi karena lo ada di sini, yaudah sekalian aja!" ketus Ghare.
"Lo emang ga bisa dibaikin ya?" sindir Zean.
Ghare meletakkan kopinya. "Gua ga suka lama-lama, jadi bisa ga kita temenan?" tanya Ghare lagi.
"Gabi––"
"Bisa." Zean seketika tersenyum kecil.
Sasa sontak menyorot Zean dengan tatapan tajam. "Bisa, kita kan sekampus, bisa lah!" tegas Zean.
"Lo gimana?" tanya Ghare ke arah Sasa.
Zean menyikut Sasa untuk menjawab iya. "Gua, ikut Zean aja sih," jawab Sasa dengan datar.
"Oke, gua mau ke kelas dulu!" ujar Ghare pergi begitu saja.
Sasa dan Zean menatap punggung Ghare yang semakin menjauh. Mereka lalu saling menatap. Sasa lalu menjauhkan duduknya dari Zean.
"Maksud lo apa sih, Ze?" tanya Sasa.
"Tenang dulu, Sa..." ujar Zean.
"Terus apa? Kenapa lo iyain, gua ga mau temenan sama dia!" tegas Sasa.
Zean tersenyum. "Lo pasti lupa sama apa yang udah lo rencanain, ini pasti karena lo terlalu sibuk sama Gloubel."
Sasa langsung menatap Zean. Ia mencoba mengingat kembali apa yang direncanakan waktu itu. "Maksud lo––" Sasa menatap Zean lebih dalam setelah ingat soal pembahasan mereka waktu itu.