Puzzles

Puzzles
Episode 90 - Bara Menghilang



"Saya pamit ya, Pak. Terima kasih sudah membesarkan anak seperti Zean." Sasa menatap Fergi dengan lekat.


"Zean membuat saya tidak pernah menyesal memutuskan untuk mesuk ke Univ. Gerillya Budaya."


Sasa lalu bersalaman dengan Fergi di depan pintu. "Terima kasih juga kamu sudah memberi warna di hari-hari terakhir Zean, tanpa kamu... Mungkin senyumnya ga akan pernah mekar lagi."


Sasa tersenyum getir. "Hidup saya yang jadi berwarna setelah kehadiran Zean," jawab Sasa dengan datar.


"Sayangnya semesta lebih mencintai Zean daripada kita," lirih Fergi.


"Bapak yang sabar dan kuat, saya yakin Zean ga mau liat Papinya sedih seperti ini," ujar Sasa mencoba mendamaikan keadaan. Ia tahu, Fergi pasti akan lebih sulit mengiklaskan Zean walaupun ini adalah sama-sama hal kedua bagi mereka.


"Zean pasti sangat menyayangi kamu setelah ibunya ya, Sa!" Fergi tersenyum tipis ke arah Sasa.


Perkataan Fergi barusan nyaris membuat muka Sasa memerah. "Saya juga menyayangi Zean karena berhasil menjadi rekan, sahabat dan teman seperjuangan yang sangat baik!"


Fergi seketika tersenyum mendengar jawaban Sasa. Ia merasa berhasil telah menjadikan Zean orang yang bermanfaat bagi mereka di sekitarnya.


"Mari, Pak." Sasa lalu melangkah mendekati mobilnya yang sedari tadi terparkir di dekat gerbang.


(Klakson Mobil)


Fergi masih tersenyum di depan pintu melihat kepergian Sasa. Sementara, Sasa yang ada di dalam mobil mencoba menghubungi seseorang yang sedari tadi menunggunya.


"Halo? Bu, maaf ya saya kayaknya akan pulang larut malam ke rumah."


'Kenapa, Mysa?' tanya Bila.


"Saya ada keperluan mendadak, jadi besok saya akan temuin ibu ke Gloubel."


'Oh, tidak usah, biar saya saja yang ke sini lagi besok sore.'


"Gapapa, di Gloubel aja, karena sepertinya beberapa hari ini saya belum pulang ke rumah."


'Gapapa, saya akan di sini sampai satu minggu ke depan, jadi nanti saya akan temui kamu lagi.'


"Yaudah, Bu."


Sasa menutup telfon itu dan melepas earphonenya. "Huff..." nafasnya nampak sangat berat.


"Ayolah, Sa! Ini bukan lo, lo itu kuat!!"


Sasa lalu kembali fokus ke jalanan karena ia menyetir sendiri. Di perempatan lampu merah, ia lalu mencoba menghubungi seseorang.


'Halo, Nona? ada yang bisa saya bantu?'


"......Saya mau...." Sasa lalu menjelaskan maksud ia menelfon wanita di balik sana.


***


Langit senja mulai berubah warna menjadi gelap perlahan, membuat obrolan dua sejoli menjadi semakin dramatis. Kini, Ghare dan Larisa sedang duduk di salah satu cafe tepian pantai, ada banyak hal yang sedang mereka bicarakan.


"Oh, jadi begitu ceritanya Sasa sampai marah ke lo? Tapi, kenapa bisa barengan ke Jakarta?" Larisa menatap Ghare penuh pertanyaan.


"Karena dia lagi down aja, gua ga mungkin juga biarin sepupu gua pergi sendiri dalam keadaan hancur kan?!" Ghare menatap Larisa penuh arti.


Larisa mengangguk. Mereka baru saja membahas perihal pertengkaran Sasa dan Ghare karena masalah Deina diberhentikan.


"Oh iya, jadi sekarang apa yang akan lo lakuin?" tanya Larisa.


"Entah apa yang akan gua lakuin, intinya gua mau nyokap balik lagi ke Gloubel!"


"Kenapa se ambisius itu?" tanya Larisa.


"Karena gua udah gagal jalanin misi bokap," lirih Ghare dengan nada sedih.


"Misi apa?" tanya Larisa lagi.


[Flashback]


"Gimana? Kamu udah berhasil temuin Mami dan dapetin setengah sahamnya?"


Ghare terdiam. Ia sadar akan benar-benar dikeluarkan dari rumah ini. "Aku siap keluar dari rumah ini!" tegas Ghare tanpa menjawab apapun lagi.


"Saya sudah duga kamu gagal! Sasa seperti sebelumnya kan!"


Ghare mengepal tangannya rapat-rapat. "Saya masih berbaik hati ke kamu, silahkan tempati rumah ini 2 bulan ke depan,"


Ghare hanya diam melihat Papinya berlalu keluar dari rumah. "Aaaaaa!!!!" soraknya meninju kursi yang ada di sebelahnya.


"Hahh.... Huhhhfff!!! ****!" ketus Ghare atas perkataan bokapnya tadi.


[RightNow]


"Jadi, itu alasan lo mau ngerebut lagi jabatan Tante Deina yang dicabut sama Sasa?" Ghare mengangguk atas pertanyaan Larisa.


"Gua tahu ini akan sulit, Larisa! Tapi, gua akan tetap coba." Ghare meneguk minumannya.


Larisa juga ikut meneguk minuman di hadapannya. "Gua ga begitu kenal Sasa secara dalam, tapi secara look dia itu susah banget percaya sama orang,"


"Bahkan, dia perlu waktu yang sangat lama untuk percaya sama, Zean!"


"Tanpa kepercayaan dari dia, lo ga akan pernah bisa balikin Nyokap lo ke Gloubel lagi!"


Ghare mengangguk, ia lalu menatap Larisa penuh arti. "Gua ga tau kenapa dulu lo mutusin gua, dan pura-pura ga kenal pas ketemu di ospek,"


"But,... dari semua versi lo yang udah gua temuin, ini adalah versi terbaik!"


"Thanks ya! Apapun yang lo bilang akan gua lakuin."


Pipi Larisa seolah berubah warna menjadi kepiting rebus. "Mmm... Aa.."


"Ga perlu salting," ujar Ghare setelah pipi melihat Larisa memerah.


"GR lo!" ketus Larisa.


"Eh, ga kebalik nih? Haha." Goda Ghare seraya menatap Larisa.


Larisa hanya bisa bergidik malu atas celetukan Ghare. Namun, tak bisa dipungkiri ada senyum tipis di wajahnya.


***


Mobil yang dikendarai Sasa akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah Bara. Rumahnya nampak amat sepi. Sasa melepas kunci mobilnya dan melihat ke pintu rumah yang tertutup.


"Apa Bara akan mau ya temuin gua?" tanya Sasa kepada dirinya sendiri setelah kejadian beberapa hari lalu.


'Lo harus pergi bersama Bara,---'


Kalimat itu kembali terngiang di telinga Sasa. Zean pasti ga bercanda soal ini, dia tahu apa yang akan jadi bahaya buat Sasa.


"Huft!" Sasa memutuskan untuk segera turun dari mobil.


Baru saja melangkah, matanya melirik ke kiri dan kanan. Kosong sekali. Sasa lalu mendekat ke pintu gerbang untuk membuka, namun ternyata ada gembok di sana.


"Gembok? Bara kemana ya?" tanya Sasa saat melihat tidak ada mobil yang terparkir di halaman.


"Permisi! Pak Ujang, Baraa!" sorak Sasa mencoba memanggil penjaga rumah dan pemiliknya.


"Permisi!" sorak Sasa lagi.


Tak ada jawaban. Yang ada hanya keheningan. Bahkan, Pak Ujang pun tak terlihat di sini. "Kemana ya? Gua coba telfon aja kali ya?" tanya Sasa seraya mengeluarkan ponselnya.


Sasa meletakkan ponsel itu di telinganya setelah menekan nama Bara di kontak.


'Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan'


"Huft!" Sasa membuang nafas dan melirik kembali ke rumah Bara yang tertutup rapat.


"Apa dia marah ya karena gua suruh keluar dari rumah?"


Pikiran Sasa seketika dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Bara kemana? Kenapa ia tidak ada di rumah? Gembok ini, apakah pertanda ia sudah pergi jauh?


"Bu Renita?" ujar Sasa saat teringat sosok yang dapat ia hubungi selain Bara.


Sasa lalu mencari nama Renita dan menelfonnya.


'Calling Bu Renita'


'Calling Bu Renita'


"Memanggil lagi, kenapa pada ga on semua ya?" tanya Sasa seraya menarik nafas dan mulai masuk ke mobil.