
Sasa berjalan menyusuri lorong rumah sakit bersama Bara. Ia harus segera pergi karena belum sarapan dari pagi. Sedangkan, sekarang sudah menjelang siang.
Bara nampak dengan santai berjalan di samping Sasa. Baru kali ini, mereka berjalan berdampingan dan bercengkrama secara baik. Biasanya selalu ada nada menjengkelkan dari keduanya, terutama Sasa.
"Bu Renita gapapa ditinggal sendiri?" tanya Sasa sembari terus berjalan.
"Ada suster yang jaga," jawab Bara.
"Oh, baguslah." Ujar Sasa menatap lurus ke depan.
"Lo udah makan?" tanya Bara basa-basi.
"Belom," jawab Sasa singkat.
"Ayo, makan bareng, pake motor gua." Ujar Bara mengajak Sasa.
"Boleh sih, tapi gapapa?" tanya Sasa.
"Gapapa apanya?" tanya Bara sembari terkekeh.
"Ya gapapa nih, makan kan butuh waktu, gua makannya lama." Jelas Sasa.
"Mau selama apa? Biar gua tungguin!" celetuk Bara yang sudah mulai balik ke versinya yang riang.
"Gua serius Bara! Gapapa Bu Renita sama suster aja?" tanya Sasa lagi.
"Terus mau sama siapa lagi Sasa?" tanya Bara.
"Iyaudah lah, ayo makan!" ajak Sasa.
"Gua lapor dulu ya," ujar Bara.
Bara lalu melangkah menuju resepsionis dan menemui Hanum kembali.
"Tunggu bentar, Sa." Sembari berjalan ke meja resepsionis.
Sasa nampak menunggu dengan jarak yang tidak begitu jauh dari resepsionis.
"Kak, aku mau makan dulu, minta dua suster stand by di ruangan bunda ya," ujar Bara.
"Oke, siap!" jawab Hanum.
Bara lalu berterima kasih dan tersenyum. Ia lalu kembali ke dekat Sasa dan mengajaknya ke parkiran.
Sasa sedikit heran dengan ulah Bara. Namun, ia tetap mengikuti Bara ke parkiran.
"Bisa gitu ya? Minta suster kaya tadi." Celetuk Sasa.
Bara menyerahkan helm bogo ke Sasa untuk dipakai.
"Bisa karena bokap dokter spesialis di sini," jelas Bara.
"Pantes, lo deket sama pekerja di sini," ujar Sasa.
"Gua deket sebelum mereka kerja Sasa, Kak Hanum yang tadi itu kakak tingkat gua, tapi dia dari jurusan keperawatan." Jelas Bara.
"Baru aja tamat," tambah Bara lagi.
Sasa mengangguk paham dan naik ke atas motor itu. Selang beberapa menit, motor Bara melaju meninggalkan rumah sakit.
***
Ini adalah kali kedua Sasa berkelana naik motor. Sebelumnya ia pernah berkendara bersama Zean. Sekarang hanya orang dan motornya saja yang berbeda. Dan ini juga kali pertama Sasa berkendara bersama Bara.
Sasa nampak diam menikmati angin yang menyapu rambutnya. Sesekali matanya berkedip terkena debu. Bara nampak memutar spion agar menampilkan wajah Sasa.
Nampak muka Sasa yang sangat datar tapi cantik sedang memandang sekitaran kota.
Bara nampak tersenyum ke arah spion itu, sedangkan Sasa merasa kesal saat tau Bara menyorot mukanya dengan spion itu.
"Lo ya!!!" ketus Sasa.
"Hahaha, datar banget kaya jalan tol!!" sindir Bara.
"Puter ke jalan aja Bar spionnya," ujar Sasa.
"Hahaha, ketus banget!" ujar Bara.
Sasa lalu merapikan beberapa rambut yang keluar dari helmnya.
"Ga perlu dirapiin, nanti juga keluar lagi, Sa!" ujar Bara sedikit keras sembari memperhatikan Sasa dari spion.
"Lo bisa fokus bawa motor aja ga?" bentak Sasa.
Bara lalu terkekeh dengan kedinginan gadis manis ini.
"Gua kan udah bilang, puter spionnya, bahayaa!" sorak Sasa.
"Iyaaa," sorak Bara.
Bara lalu fokus membawa motor sembari sesekali bercengkrama.
"Gapapa naik motor?" tanya Bara sedikit bersorak.
"Gapapa!" sorak Sasa.
"Gua mau bawa lo makan ke tempat bersejarah," jelas Bara.
"Candi prambanan?" sindir Sasa.
"Hahahha, bisa nge joke juga ya lo!" ujar Bara tertawa.
"...." Sasa seketika terenyum kecil mendengar tawa lepas dari Bara.
"Pokoknya lo liat aja nanti," ujar Bara.
Sasa lalu kembali memperhatikan sekitarnya. Motor melaju hingga berhenti tepat di Cafe Zefie. Motor berhenti dan mereka pun turun.
Sasa kembali menyerahkan helm kepada Bara. Lalu, berjalan masuk bersamaan ke cafe itu.
"Pelayan!" sorak Bara sembari duduk di kurai no. 6, Sasa seketika ikut duduk di depan Bara.
Mereka lalu memesan beberapa makanan dan minuman.
"Gua spageti," ujar Sasa sembari melihat buku menu di tangannya.
"Saya nasi ayamnya 2 ya mas," ujar Bara.
Sasa nampak heran dengan pesanan Bara.
"Mau minum apa?" tanya pelayan itu.
"Minumnya jus mangga 1," ujar Bara.
"Gua green tea," sahut Sasa.
"Udah Mas?" tanya pelayan itu.
"Udah, makasi ya mas!!" jawab Bara sembari kembali fokus dengan wanita di depannya.
Sasa yang heran itu menatap Bara dengan raut bingung.
"Buat apaan pesen dua nasi ayam?" tanya Sasa heran.
"Makan gua banyak!" celetuk Bara.
"Aneh lo!" bentak Sasa.
"Puitis karna kebanyakan baca," sindir Sasa.
Bara lalu menatap gadis di depannya itu. Nampak sangat jengkel dan dingin.
"Sikap nyebelin lo emang udah permanen ya?" celetuk Bara.
"Ga usah kebanyakan ngomong," ujar Sasa lagi.
"Gua baru kali ini di bilang aneh karena pesan dua makanan yang sama," ujar Bara.
"Udah aneh, ngelak lagi!" ketus Sasa.
Pelayan pun dateng saat mereka tengah bercengkrama. Membawakan beberapa pesanan dan berlalu pergi.
Bara lalu mengambil sepiring spageti yang hendak Sasa santap. Menggantinya dengan nasi ayam yang sudah ia pesan.
"Makan ini dulu setidaknya tiga suap," ujar Bara menyerahkan nasi ayam.
"Iseng banget sih lo," ujar Sasa.
"Makan hal berbau mie ga bagus kalau perut lo kosong," jelas Bara.
"Ini gua mau makan atau berobat ya?!" sindir Sasa.
"Nanti asam lambung lo bisa naik," jelas Bara.
"Gua ga punya riwayat sakit asam lambung!" ketus Sasa yang sebenarnya bermasalah dengan lambung itu.
"Asam di lambung lo yang normal bisa naik kalau lo makannya ga bener, walaupun lo ga ada riwayat," jelas Bara lagi.
"Iya, Pak Dokter! saya makan ya nasi ayamnya," ujar Sasa mengambil nasi ayam itu.
Sasa lalu memakan nasi ayam dengan sedikit jengkel. Ada saja ulah Bara yang akan memancing amarahnya.
Bara tersenyum ketika Sasa melahap makanan itu, ia hanya tidak ingin Sasa sakit perut karena mementingkan rasa dan selera.
Bara lalu menyantap makanan dan minuman yang sudah ia pesan. Begitupun Sasa, ia memakan nasi ayam dulu sebelum menyantap spageti.
***
Waktu berlalu, sudah hampir 20 menit Bara menghabiskan makanannya, namun Sasa masih saja mengunyah.
"Gua udah notice ya makan gua lama, siapa suruh ga peduli!" bentak Sasa.
Bara hanya terkekeh akan kelamaan gadis itu menguyah.
"Gua ga protes lo, Sa!" ujar Bara meneguk jus mangganya.
Sasa nampak kembali mengunyah sapgeti itu.
"Ngunyah yang lama itu bagus untuk pencernaan, gapapa, gausah buru-buru." Ujar Bara.
Bara lalu kembali memperhatikan Sasa yang terus menyuap itu.
"Lo mau denger cerita?" tanya Bara kepada Sasa yang sedang makan.
"Apa?" tanya Sasa sembari mengunyah makanannya.
Bara lalu mulai membahas sesuatu yang belum pernah Sasa dengar, ia seperti mengetahui banyak hal lewat pertemuannya dengan Bara.
"Dulu, Tante Zena dan Bunda sering makan di sini," ujar Bara.
Sasa seketika mendongak dan melihat Bara, ia bahkan tak tahu soal ini.
"Lo tau nyokap gua?" tanya Sasa.
"Gua sering ikut sama Ayah pas anter Bunda ke Cafe ini." Jelas Bara.
Sasa yang sudah selesai makan itu membenahkan sendok dan garpu lalu meneguk air minum di depannya.
"Gua ga pernah tahu soal ini," jawab Sasa.
"Tante Zena itu udah jadi sahabat bunda sejak smp," jelas Bara.
"Mereka deket banget sampai nikahan pun harus samaan tanggalnya." Celetuk Bara.
"15 Desember?" ujar Sasa meyakinkan.
Bara tersenyum dan mengangguk.
"Lo tau banyak soal persahabatan orang tua kita?" tanya Sasa.
"Ga banyak, sebagian, itupun karena bunda cerita ke gua." Ujar Bara.
"Soal gua? apa Bu Renita juga cerita?" tanya Sasa penasaran.
"Selalu!" jawab Bara.
Sasa lalu menatap Bara dengan sangat serius, ia ingin tahu banyak informasi yang ada pada Bara.
"Tentang apa?" tanya Sasa.
"Kita perlu banyak waktu buat bahas semuanya, tapi yang pasti Bunda selalu ingin gua jagain lo," ujar Bara.
"Buat apa?" tanya Sasa.
"Gatau, katanya ada alasan yang belum bisa di kasih tau, pokoknya gua harus selalu jagain lo," ujar Bara.
"Apa beasiswa di kampus Grellya ada hubungannya sama ini?" tanya Sasa.
"Soal itu, gua belum bisa kasih tau ke lo Sa, tapi yang pasti Bunda sayang sama lo," ujar Bara.
Sasa menarik nafas dalam atas perkataan Bara. Apa sebanyak ini hal yang ia tidak tahu dalam empat tahun terakhir.
"Apa pertemuan kita di bus juga bagian dari pengawasan lo?" tanya Sasa.
"Ga selalu, kadang kebetulan aja sih." Jawab Bara seadanya.
"Gua duduk di dekat lo awalnya cuma kebetulan, tapi lama kelamaan gua pengen tahu soal lo lebih dalam," jelas Bara.
Bayangan ucapan Bara kala itu langsung terputar di benak Sasa. Perkataan bahwa Bara akan selalu bertemu dengannya selalu berputar di benak Sasa saat ini.
"Gua pengen banget kenal lo dari dulu Sa, tapi belum ada time yang bagus aja, karena lo susah banget di ajak keluar dari zona yang bahkan gua ga bisa masuk ke dalamnya," jelas Bara.
"Apa gua segelap itu ya, Bar?" tanya Sasa.
"Iya, tapi wajar sih, setiap orang punya cara tersendiri untuk sembunyi dari dunia." Jelas Bara.
Sasa mencoba mencerna perkataan Bara. Apakah ini saat nya ia keluar dari zona nyaman?
"Tapi, jangan pernah lari dari dunia Sa," tambah Bara lagi.
Bara lalu melirik ke arah jam tangannya. Sudah lebih dari satu jam mereka bercengkrama.
"Balik yuk, gua anter lo pulang," ujar Bara.
"...." Sasa tidak menolak, ia hanya mencoba mencerna perkataan Bara.
Bara lalu berdiri dari duduknya dan membayar makanan itu. Ia kemudian keluar dari Cafe Zefie.
"Gausah terlalu banyak mikirin hal yang buat hidup lo makin gelap, Sa." Bara menyerahkan helm.
Sasa mengambil helm itu tanpa mengubris pernyataan Bara. Ia lalu naik ke motor itu dan menikmati perjalanan pulang bersama Bara.