
Operasi di Singapura yang berlangsung selama 8 jam akhirnya selesai juga. Sekarang,
sudah lebih dari 4 jam Arya mendampingi istrinya pasca operasi.
"Permisi, dokter Arya." Jay masuk dan berdiri di sebelah Arya.
"Iya, silahkan dokter Jay."
Jay melirik ke arah Renita. "Maaf saya tadi belum sempat menjelaskan soal kondisi Renita pasca operasi," ungkap Jay.
"Itu karena kami ada kendala yang tidak bisa dihindari," jawab Jay.
"Jadi, sekarang apa ada perubahan pada kondisi Renita?" tanya Arya.
Jay tersenyum. Arya yang melihat itu seolah bingung. Kenapa Jay tersenyum di depan istrinya yang bahkan sudah berbulan-bulan tidak sadar?
"Kenapa dokter Jay tersenyum?" tanya Ary.
"Setelah operasi yang dilakukan Renita, kami mendapati pemberhentian sel kanker secara signifikan," jawab Jay.
Mendengar itu, Arya seketika tersenyum lebar. "Serius?" tanya Arya.
"Saya baru kasih tau ini sekarang karena kami benar-benar ingin memastikan dulu pasca operasi tadi," jawab Jay.
"Ini, saya beneran ga lagi mimpi kan?" celetuk Arya.
"Hah, ini serius dokter Arya," jawab Jay.
"Kondisi Renita bisa dikatakan sangat membaik pasca operasi," jawab Jay.
Arya seolah tak percaya dengan fakta ini. "Ini adalah kondisi langka dokter Arya, karena di kondisi yang benar-benar tidak stabil seperti kemarin," jelas Jay.
"Sulit sekali bagi seseorang betahan apalagi pulih," ungkap Jay.
"Apalagi, untuk waktu secepat ini..." jawab Jay lagi.
"Saya... Saya bener-bener senang akan kabar ini," jawab Arya.
"Berdoa saja, semoga secepatnya Renita akan segera sadar." Jay lalu menepuk lembut pundak Arya.
Arya tersenyum, ia lalu melirik ke Renita. "Terima kasih, sudah bertahan sejauh ini."
...----------------...
Jakarta, Indonesia.
Matahari pagi masuk ke sela-sela kerai yang tersingkap. Sinarnya mulai membangunkan Sasa. Perlahan Sasa bangun dari tidurnya, ia lalu diam sejenak.
"Huuaaammm....." Sasa menggeliat, ia kemudian melihat jam di dinding.
Sudah pukul 06.30 WIB. Ia segera bergegas mandi dan menganti pakaian agar tidak ditinggal Bara.
Bara yang sudah selesai memasak nasi goreng, lalu memasukkannya ke kotak nasi. Cuma satu porsi saja. Ia lalu duduk sejenak di ruang makan.
Bara melirik ponselnya, sudah pukul 06.40 WIB. Ia teringat pada Ibunya, Bara kemudian mencoba mencari nomor Arya.
Baru saja akan menelfon untuk menanyakan kabar Renita, ia kemudian teringat percakapan beberapa hari lalu.
'Nanti biar Ayah yang hubungin kamu!'
Jujur, ia sangat ingin tahu kabar Renita. Tapi, egonya seolah membuatnya tidak ingin menelfon Arya duluan. Padahal, selisih waktu Indonesia dengan Singapura hanya 1 jam.
Bara menarik lagi jaringa dari ponsel. "Ayo, berangkat!" ujar Sasa yang berjalan menuruni anak tangga.
Bara yang tadinya sedikit melamun, tersentak mendengar suara Sasa. Ia lalu menoleh ke Sasa. "Buruan, udah mau jam 7 nih!" tegas Sasa.
Bara bergidik. "Lo mandi ga sih?" tanya Bara.
"Mandilah!! Kenapa gitu?" tanya Sasa.
"Cepet banget," celetuk Bara sembari membawa kotak nasi dan laptop.
"Ngapain lama-lama di kamar mandi? Streaming?" tanya Sasa ngasal sembari berjalan menuju pintu.
Bara hanya bisa menggeleng mendengar ucapan Sasa. Ia lalu berjalan menuju pintu. "Eh, bentar... earphone gua ketinggalan." Sasa berlari ke dalam rumah untuk mengambilnya.
"Makanya jangan buru-buru!" Bara lalu masuk duluan ke mobil.
Sembari menunggu Sasa, Bara memutuskan memutar mobilnya ke arah gerbang. Ia lalu meletakkan kotak nasi itu di kursi yang akan Sasa duduki.
(Pintu terbuka)
"Apaan nih?" tanya Sasa bingung.
"Sarapan dulu di mobil, nanti di jalan bakalan macet." Sasa lalu mengambil kotak itu dan segera duduk.
"Cuma satu?" tanya Sasa sembari menutup pintu mobil.
Bara mengiyakan, ia lalu membunyikan klakson dan melaju keluar gerbang. Terlihat jelas Diki memberikan salam hormat.
(Klakson Mobil)
"Hati-hati, Mysa, Bara!" sembari tersenyum.
Mobil itu lalu melaju meninggalkan rumah. Sasa yang baru mengambil earphone itu memutuskan untuk memakainya. "Eh!" bentak Bara yang membuat Sasa mengulurkan niatnya memasang earphone.
Sasa melirik ke Bara yang sedang menyetir. "Kenapa?" tanya Sasa dengan earphone di tangannya.
"Makan dulu, kalau dingin ga enak." Bara melirik ke nasi goreng yang ada di paha Sasa.
"Bandel banget sih dibilangin." Bara terus menyetir dengan sedikit emosi karena Sasa tidak memakan nasi goreng buatannya.
Sasa yang tak merasa bersalah itu, memilih mendengarkan musik lewat earphonenya. Saat sedang asik bermusik, dering telfon membuat irama musiknya menjadi kacau.
Sasa bergidik, ia melihat nama Arya tertera di sana. Sasa lalu melepas earphonenya. Suara dering telfon itu sekarang dapat terdengar juga oleh Bara.
(Dering telfon)
"Dokter Arya," sahut Sasa melirik Bara.
Bara melirik Sasa dengan heran. "Angkat aja." Bara masih fokus menyetir.
"Iya, Halo dokter?" sapa Sasa.
'Sasa, apa kabar?' tanya Arya.
"Baik, dokter sama Bu Renita gimana?" tanya Sasa.
Arya diam sejenak, ia lalu bertanya ke Sasa. 'Mm kamu lagi sama Bara ga?' tanya Arya.
"Iya, ini dia di sebelah saya."
"Kalau gitu, saya mau minta vidio call aja." Arya langsung mengalihkan panggilan itu.
Sasa mengangkat vidio call itu dan meletakkan ponselnya di holder mobil. Sekarang, muka mereka berdua dapat terlihat jelas.
"Bara, kamu lagi nyetir, mau ke kampus?" tanya Arya.
"Iya, Yah... Bunda gimana?" tanya Bara dengan datar.
Arya tersenyum. "Dokter, senyum kenapa?" tanya Sasa.
Arya melirik ke vidio itu, Arya tersenyum lebar.
"Bunda sudah sadar." Bara seketika tersentak mendengar itu.
"Apa? Yang bener Yah?" Bara nampak terharu sekali.
"Syukurlah, dokter." Sasa juga ikut senang dengan kabar ini.
Arya tanpa sengaja mengeluarkan air mata. "Bunda berhasil melewati operasi itu dengan baik Bar, sekarang sel kankernya sudah berhenti berkembang," jawab Arya.
"Alhamdulillah, aku, aku seneng banget Yah..." Bara tanpa sadar mengeluarkan air mata di sudut matanya.
Sasa yang melihat ini hanya bisa diam menikmati suasana. "Bunda mana Yah? Aku mau liat Bunda."
"Sekarang, Bunda hanya sadar tapi belum bisa bicara, ini sebagai pengaruh dari obat bius yang kemarin dikasih."
"Tapi, Bunda nanti akan pulih lagi kan Yah?" tanya Bara.
"Lewat terapi pasti akan pulih," jawab Arya.
Mendengar ini, Bara sedikit teriris, namun ia bahagia karena Renita sudah kembali membuka mata. "Bunda kembali membuka mata aja udah satu keajaiban untuk aku, Yah... sekarang, semoga Bunda cepet pulih total."
Sasa tersenyum mendengar ucapan Bara yang tetap tegar. "Aamiin, Sasa tadi mana?" tanya Arya yang fokus ke Bara.
"Iya, dokter?" tanya Sasa melihatkan diri.
Bara kemudian fokus menyetir di tengah macet. "Sasa, ada hal yang mau saya sampaikan ke kamu."
"Apa dokter?" tanya Sasa.
"Saya dan Renita akan tinggal di Singapura untuk pemulihan pasca operasi sampai Renita benar-benar bisa bicara normal." Bara mendengarkan itu dengan seksama.
"Jadi, saya minta ke kamu biarkan Bara menetap di rumah kamu dulu biar dia ga kesepian," jawab Arya.
Bara melirik Arya dari kursi pengemudi. "Yah, jangan gitu lah, ngerepotin Sasa."
"Boleh dokter, saya ga keberatan." Sasa tersenyum ke arah Arya.
"Saya harap kalian bisa saling jaga, sama seperti saya menjaga Renita di sini."
"Nanti rumah kita jadi sarang setan loh, Yah!" ketus Bara.
"Rumah udah Ayah serahin sama Pak Gema, tukang kebun rumah kita." Arya tersenyum dari balik telfon.
"Yah,..." lirih Bara.
"Itu aja ya Sa, saya akan lama di sini, biar Renita bisa benar-benar fresh lagi."
"Baik dokter, saya doakan semoga Bu Renita bisa pulih kembali," ungkap Sasa.
"Aamiin, terima kasih... Bara, Ayah mau liat apartemen baru dulu, hati-hati kuliah ya!"
"Iyaa, salam buat Bunda." Arya lalu mematikan sambungan vidio itu.
Bara kemudian melirik ke Sasa sembari menyetir. "Gua akan lama ngerepotin lo nih kayaknya!" ketus Bara.
"Santai aja, gua juga ga terlalu berkontribusi kok selain nyediain kamar." Bara seketika menatap Sasa.
"Lebih banyak kontribusi gua dong, setiap pagi buat nasi goreng," celetuk Bara.
Mendengar itu, Sasa langsung terkekeh. "Hahah, gapapa gua jadi rajin sarapan."
"Sarapannya sama terus lagi," celetuk Bara.
Mereka berdua lalu tanpa sadar sama-sama terkekeh akan ucapan masing-masing.