
Di dalam mobil, Sasa sedang memperhatikan amplop coklat di tangannya. Ia belum membukanya karena ada lem perekat dengan gambar bunga. Larisa yang sedang menyetir nampak memperhatikan Sasa sekilas. Ia melihat raut datar dari wajah sahabatnya itu.
Larisa yang baru tahu sifat sangat dingin Sasa itu enggan bertanya. Ia takut mengganggu Sasa dan pikirannya. Meskipun banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan ke Sasa. Larisa menatap fokus ke jalanan. Sejak dari hotel tadi, belum ada satu kata pun keluar dari bibirnya.
Sasa yang menyadari ketegangan itu merasa tidak enak dengan Larisa. Ia tahu Larisa pasti kaget melihat kejadian tadi. Sasa memasukkan amplop itu ke dalam tasnya. Ia lalu kembali melihat ke jendela mobil.
Namun, tiba-tiba dirinya seolah harus bicara agar Larisa tidak gugup lagi.
“Gua udah empat tahun ga ke hotel itu,” lirih Sasa tanpa melihat Larisa. Sasa berbicara secara tiba-tiba.
Larisa yang kaget itu, memperlambat laju mobilnya agar dapat mengobrol dengan Sasa.
“....tepatnya saat nyokap meninggal, gua ga mau tau apapun sampai akhirnya lo ngajak gua ke sini,” jelas Sasa.
Mendengar itu, Larisa seakan merasa bersalah. Ia lalu memutuskan untuk meminta maaf karena tidak memberi tahu tujuan mereka sejak awal.
“Gua mintak maaf ya, Sa...” Larisa lalu melirik ke Sasa.
“Seharusnya gua dari awal bilang kalau tujuan kita ke hotel itu.”
Sasa mendengus dan tertawa kecil.
“Gua yang harus mintak maaf,” jelas Sasa.
“Seharusnya lo ga ngeliat kejadian tadi,” jelas Sasa.
Larisa masih fokus menyetir sembari sesekali melihat ke arah Sasa. Wajahnya nampak penuh beban.
Sasa yang nampak tidak baik-baik saja itu, memilih untuk pulang sendiri dengan bus.
“Anter gua ke halte bus terdekat aja,” ujar Sasa.
“Kenapa ga ke rumah lo?” tanya Larisa.
“Gapapa, ga enak, lo kan harus nunggu karyawan hotel juga anter uang.” Jelas Sasa.
“Tapi, Sa...” senggal Larisa.
“Gapapa, ayo anter gua ke halte aja.” Pinta Sasa.
Larisa terpaksa mengiyakan ucapan Sasa, ia lalu menyetir mobilnya ke halte bus terdekat.
Selama perjalanan, Larisa memikirkan banyak hal tentang Sasa. Hingga akhirnya mobil berhenti di dekat halte.
Sasa menatap Larisa dengan datar. Ia lalu membuka pintu dan bermaksud ingin keluar.
Baru saja hendak keluar, suara Larisa menahannya.
“Sa...” lirih Larisa.
Larisa menatap Sasa dengan sangat dalam. Sasa lalu berhenti dan kembali duduk di mobil itu.
“Dulu kakak gua pernah meninggal karena depresi,” jelas Larisa.
Sasa seketika terdiam, mengapa tiba-tiba Larisa membahas ini?
“Kata dokter ada obat terlarang yang dia konsumsi sampai akhirnya depresi berat,” jelas Larisa lagi.
“....” Sasa memperhatikan Larisa yang bercerita itu.
“Sejak saat itu hidup gua kayak abu-abu, gua berusaha keras jaga mental, bunda gua jadi overprotek ke gua,”
“Gua bener-bener ga nyaman, Sa.” Larisa menatap Sasa dengan sorot mata yang belum pernah ia perlihatkan.
Sasa terkejut dengan cerita ini, walaupun sebenarnya Larisa sudah pernah bahas saat ia pakai earphone.
“Lo tau bagian terburuk dari ceritanya apa?” tanya Larisa.
“Apa?” tanya Sasa.
“Gua berusaha bales dendam sama orang yang ngasih obat terlarang itu ke kakak gua,” jelas Larisa.
Deep!
Kisah ini, seolah menyamakan diri dengan cerita hidup Sasa. Cerita yang dijalin dengan versi berbeda.
“Apa lo berhasil bales dendam ke penjahat itu?” tanya Sasa.
“Gua udah tahu orang, tapi....”
“Gua memilih berdamai dengan masa kelam itu,”
“Gua dan Bunda memilih menata hidup baru,”
Larisa lalu tersenyum ke Sasa. Ia lega ketika bisa berbagi cerita kelam ini.
“Setiap orang, punya kisah kelamnya masing-masing, Sa.” Ujar Larisa.
“Tapi, sekelam apapun cerita lo, jangan lupa berdamai dengan keadaan, Sa.”
“Cuma itu yang bisa buat diri lo lebih ringan saat jalan,”
Sasa benar-benar tertegun dengan ucapan Larisa. Sekelam itu ternyata, melihat raut Bunda Larisa saja seolah membuat Sasa tak percaya. Tak percaya bahwa wajah secerah itu ternyata pernah merasakan luka yang begitu dalam saat anak pertamanya meninggal karena depresi.
“Kalau ada apa-apa, lo bisa kabarin gua!” ujar Larisa.
“Gua duluan.” Sasa berjalan keluar mobil, ia lalu menutup pintu mobil dan pergi.
Larisa nampak memperhatikan Sasa dari dalam mobil dan berlalu dengan klakson.
Kini, hanya ada Sasa di halte bus itu, menunggu bus sembari bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia sudah terlalu jauh berlari dari masalah?
Selang beberapa menit, bus tujuan Sasa berhenti tepat di depannya. Ia masuk dan mencari kursi favoritnya seperti biasa.
***
Dari balik kaca ruangan ICU, nampak Bara tengah menggenggam tangan Renita. Ia dengan sabar menunggu respon dari wanita itu.
Sedangkan, Ayahnya sedang ke bagian resepsionis mengurus langkah terbaik untuk membantu Renita yang sudah koma lebih dari seminggu itu.
Sudah 3 jam lebih Bara di sini. Duduk dan menggenggam tangan Renita sembari mengobrol.
“Dia ajak bunda ngobrol, persis kayak yang bunda mau.” Ujarnya lagi.
Bara lalu mengusap tangan Renita dengan lembut, berharap ada respon dari malaikatnya itu.
“Bunda bangun ya, katanya bunda mau ketemu langsung sama Sasa,” celetuk Bara.
Bara terus mengajak ngobrol Renita. Ia sangat rindu sekali dengan suara bundanya. Sudah satu minggu lebih mereka tak bicara.
“Bunda...” lirih Bara sembari menjatuhkan air mata.
Air mata Bara jatuh tepat di tangan Renita. Satu per satu tetesan air terasa di sana. Namun, Bara masih abai dan tetap menangis.
“Bangun, demi Bara dan Ayah..” lirihnya lagi dengan isakan.
Pria memang jadi makhluk lemah di depan ibunya, terlebih kondisi seperti ini.
Tanpa sadar, tetasan air mata Bara berhenti saat telunjuk Renita bereaksi. Bara seketika tersentak dan berdiri.
“Bundaaa?? Bundaaa bangun?” sembari melihat tangan Renita yang masih merespon.
Bara lalu menatap wajah Renita, masih sama. Belum ada respon di sana. Wajahnya masih datar.
Tapi, Bara bahagia sekali melihat respon kecil itu. Ia lalu menekan tombol biru untuk pemanggil dokter.
“Bundaa, Bara yakin bunda kuat, bunda pasti sembuh!” Bara lalu mencium kening Renita.
Selang bebera menit, Ayahnya masuk ke ruangan itu bersama satu dokter penyakit dalam dan dua orang suster.
“Ayah, bunda tadi ngerespon.” Ujar Bara yang diiyakan dr. Arya itu.
Dr. Arya memang bertugas sebagai spesial Paru di rumah sakit ini, namun untuk penyakit istrinya, tidak bisa ia urus sendiri karena juga ada beberapa masalah di organ bagian dalam Renita.
Hal ini membuat dr. Tedi ikut menangani Renita agar lebih efektif.
“Bara, kamu tunggu di situ,” sembari menyuruh Bara mundur.
Dr. Tedi lalu melakukan beberapa pengecekan seperti menyenter mata, dan mencek kadar oksigen di tubuh Renita.
Beberapa menit belangsung, Bara hanya terdiam di belakang para dokter itu. Sementara, para suster nampak sibuk memasang beberapa alat, membantu dr. Tedi dan ayahnya mencek Renita.
Sekitar beberapa menit, dr. Tedi melepas stetoskop nya dan dr. Arya menatap dr. Tedi agar dia saja yang menjelaskan ke Bara.
“Suster, silahkan pergi untuk input data kadar oksigen dan tekanan darahnya,” ujar dr. Arya sembari mendekat ke Bara.
“Baik dokter,” keduanya berlalu ke luar ruangan.
Kini, hanya ada mereka bertiga di dalam. Bara lalu mendekat ke dua dokter itu dan bertanya.
“Gimana Yah? Dok?” tanya Bara sangat bersemangat.
“Kadar oksigennya sudah mulai bagus, tekanan darahnya juga,” jelas dr. Tedi.
“Yah? Apa bunda bisa sadar secepatnya?” tanya Bara lagi.
“Bara, kondisi Bunda sudah bisa dibilang membaik, tapi tidak bisa dipastikan kapan sadarnya,” jelas dr. Arya.
“Kamu calon dokter kan?” tanya dr. Tedi.
Bara mengangguk.
“Hal seperti ini dalam kedokteran dianggap sebagai sinyal baik, namun kita tidak bisa memastikan apakah sinyalnya akan tetap kuat atau tidak.” Jelas dr. Tedi.
“Tapi, tadi tangan bunda sudah ada respon beberapa kali,” jelas Bara.
“Kondisi itu yang saya sebut sinyal, Bara. Kondisi itu biasanya terjadi saat seseorang mencoba bicara kepada seseorang yang koma,”
“Renita, berusaha kasih tahu kamu kalau dia mendengar kamu,” jelas dr. Tedi.
“Kamu bisa terus ajak ngobrol bunda, mudah-mudahan keadaannya besok membaik,” jelas dr. Arya.
Bara terdiam, ia sangat berharap bahwa Renita dapat sadar hari ini juga. Dr. Arya lalu kembali keluar bersama dr. Tedi.
“Jagain bunda dulu, Ayah mau ngobrol sama dr. Tedi soal bunda,” jelasnya sembari melangkah pergi.
Bara lalu kembali duduk di kursi dekat Renita. Ia memegang kembali tangan Renita. Menggenggamnya dengan sangat erat.
“Bunda ayo buka mata, Bara mau bunda ngerespon langsung,” ujar Bara.
Ia sebagai calon dokter belum punya mental sekuat Ayahnya. Sedangkan, dr. Arya yang sudah bertahun -tahun menjadi dokter, ia sudah mampu mengontrol diri untuk tidak sedih atau lelah dalam menjalani pengobatan istrinya.
Itulah alasan kenapa dr. Arya terlihat santai dengan kondisi Renita, ia hanya berusaha menyembunyikan emosinya yang campur aduk dari Bara.
“Bunda, Bara akan tetap di sini,” ujar Bara sembari menyandarkan kepalanya ke tangan Renita. Bara lalu memejamkan matanya dan tanpa sadar terlelap dengan kepala berada di samping tubuh Renita.
***
Sasa masuk ke gerbang yang sudah dibuka oleh Satpam Diki, Ia baru saja tiba di rumah setelah berkelana bersama Larisa tadi. Sasa membuka pintu rumah dan langsung melangkah menuju kamarnya.
Sasa menaiki anak tangga dan membuka pintu kamarnya. Ia lalu meletakkan tasnya di kasur dan berbaring. Rasanya lelah juga setiap hari harus berjalan seperti ini. Apa Sasa harus beli motor baru?
Sasa lalu teringat soal pembayaran bunga ke toko Larisa, ia lalu merogoh ponsel di tasnya tanpa melihat ke dalam tas itu dan mencoba menelfon Larisa.
(Dering telfon)
Perlu beberapa menit saja untuk menghubungkan Sasa dengan Larisa.
“Halo Sa?”
“Halo, gua cuma mau mastiin, apa orang dari hotel udah bayar biaya bunganya?” tanya Sasa.
“Udah, makasi ya.” Ujar Larisa.
“Oke,” Sasa lalu mematikan telfonnya.
Sasa yang lelah itu, kemudian melempar tas yang terbuka itu ke meja belajar tanpa menutup kembali sletingnya. Ia lalu memejamkan mata tanpa peduli aktivitas yang belum selesai ia lakukan.
Saat ini, ia hanya ingin terlelap.