Puzzles

Puzzles
Episode 47 - Misi Rahasia Zean



"Lo butuh bukti untuk tahu siapa keluarga Ghare kan? Terlepas dari dia adalah sepupu lo," jelas Zean yang langsung memotong ucapan Sasa.


"Iya, tapi ga gini juga caranya, Ze." Sasa memalingkan wajahnya.


"Kenapa ga gini?" tanya Zean.


"Kalau dia punya niat jahat gimana? Emang lo ga curiga apa? Belom lagi para bedebah yang bareng dia tuh," tanya Sasa.


"Kita kan juga punya niat," jawab Zean.


Sasa bergidik kesal. "Niat kita masih bisa dicapai sama jalan lain kali, Ze!" tegas Sasa.


"Tapi kita butuh jalan yang tercepat, Sa."


Sasa menggeleng. "Nggak! Pokoknya gua ga mau!" ketus Sasa.


Zean melihat ke arah Sasa yang sedang emosi itu. "Kita harus tahu soal kapan Deina melakukan pernikahan dengan investor itu secepat mungkin, Sa."


"Gua kan udah pernah bilang, soal Tante Deina biar gua yang cari tahu," jawab Sasa.


"Lebih cepat kalau berdua, Sa." Zean mencoba meyakinkan Sasa.


"Tapi, gua ga mau lo terlibat terlalu jauh, Ze..." lirih Sasa.


"Gua seneng masuk terlalu jauh dalam masalah lo," ungkap Zean.


Sasa menatap Zean dengan raut datar. "Bukti yang lo dapetin, mulai dari siapa pemilik mobil sedan, kabar keluarga Ghare, sampai banyak data retasan itu lebih dari sekedar cukup!" tegas Sasa.


"Jadi, stop terlalu jauh..." lirih Sasa.


"Ayolah, Sa.... Ini salah satu cara kita dapetin bukti soal Ghare," jawab Zean.


"Dengan cara berteman? Gua ogah tau ga!!!" bentak Sasa.


Zean menatap Sasa dengab serius. "Justru ini caranya, Sa... Kita ga perlu repot-repot nguntit Ghare dari luar rumahnya," ungkap Zean.


"Dengan jadi temennya, kita akan bisa masuk ke rumahnya," jawab Zean.


"Ini kesempatan buat kita dapetin banyak informasi," jawab Zean lagi.


Sasa nampak tak yakin dengan ucapan Zean. "Gila lo ya!" ketus Sasa.


Zean tersenyum ke arah Sasa. Ia lalu menyerahkan ponselnya, di sana ada rekaman yang bisa Sasa tonton. Rekaman seseorang yang tengah berada di ruang cctv.


"Ada yang lebih gila lagi dari gua!" tegas Zean mengklik vidio itu.


{Flashback}


"Jadi, gua punya rencana di dalam peresmian CEO besok," jawab Sasa sembari menatap Zean.


Bara yang tengah tertidur tidak mendengar apapun soal percakapan ini. "Apa?" tanya Zean.


"Gua sengaja ikut dalam peresmian CEO besok, biar lo bisa masuk ke hotel Gloubel cabang Bogor," jawab Sasa.


"Kenapa harus gua sendiri?" tanya Zean.


"Gua akan ngalihin perhatian orang ke hotel Gloubel pusat, jadi lo ga akan terganggu dapetin informasi soal cctv itu." Zean mengangguk paham.


"Gua akan kasih lo surat kuasa untuk akses cctv nya, dan lo harus bisa dapetin info langsung dari pemegang cctv di sana," jelas Sasa lagi.


"Oke, besok gua akan jalan sendiri dapetin cctv itu," jawab Zean.


^^^Hotel Gloubel Cabang Bogor^^^


Ruang Kylen F


Singkat cerita, setelah perundingan Sasa dan Zean di kamar beberapa minggu lalu. Zean berangkat ke Bogor pagi-pagi bersamaan dengan Sasa yang menuju ke Hotel Gloubel Utama.


Baru saja keluar rumah, Zean langsung merogoh ponselnya dan mengabari Sasa. 'Gua lagi jalan ke Bogor.'


Sasa yang ada di dalam mobil langsung membalas pesan yang Zean kirim. 'Take Care, jangan lupa rekamannya.'


Zean membaca pesan itu dan segera berlalu pergi. Ia menyusuri jalanan menuju Hotel Gloubel yang ada di Bogor.


Perlu waktu sekitar 2 jam untuk Zean sampai di depan hotel. Zean melirik g.maps yang ada di tanggannya. "Ini dia hotelnya," ujar Zean.


Zean masuk ke parkiran dan segera turun dari motornya. Ia dengan cepat berjalan menuju resepsionis untuk memperlihatkan surat kuasa.


"Sebentar ya, Pak... Saya konfirmasi ke Pak Kylen F dulu," kata resepsionis itu.


"Oh, oke..." jawab Zean.


Zean melirik sekeliling dengan cemas sembari menunggu acc agar ia dapat masuk ke ruang cctv. "Mari, ikut saya ke ruangan Pak Kylen F," sembari tersenyum.


Zean mengikuti langkah wanita itu, ia kemudian tiba di depan pintu untuk akses cctv. "Disini ruangannya, Pak... Langsung berhubungan dengan monitor cctv."


"Sekarang beliau ada di dalam, silahkan masuk..." sembari membuka pintu.


Zean masuk ke dalam ruangan, ia melihat banyak sekali monitor yang memantau setiap lorong hotel di sini. Saat sedang asik memperhatikan, Zean dikagetkan dengan kehadiran Kylen di belakangnya.


"Silahkan duduk," ujar Kylen dari belakang Zean.


Zean membalikkan badannya. "Baik, Pak..." ujar Zean sembari duduk.


Kylen meneguk kopi di depannya. Ia lalu menyilangkan kaki. "Kenapa anak Ibu Zena Wijaya kirim kamu ke sini?" tanya Kylen.


"Dia butuh informasi soal peresmian yang terjadi tahun 2016 lalu," ujar Zean.


Kylen nampak mengingat kejadian yang sudah berlalu itu. "Di tahun itu cuma ada 1 peresmian yaitu peresmian Hotel Gloubel Maluku," jawab Kylen.


"Peresmian dimana Ibu Zena Wijaya meninggal dunia," ujar Zean menatap Kylen dengan tajam.


Kylen menelan ludahnya. "Kalau kamu minta data cctvnya, itu udah ga ada."


"Semua orang juga udah tahu kalau potongan cctv nya ilang," jawab Kylen lagi.


Zean memperbaiki posisi duduknya. "Saya tahu, untuk itu saya ke sini, mau nanya langsung siapa yang berbicara dan masuk ke sini sebelum tragedi itu terjadi," jawab Zean.


"Maksud kamu?" tanya Kylen.


"Saya minta pengakuan bapak soal siapa yang melakukan kontak dengan cctv ini sebelum kejadian," ujar Zean lagi.


"Itu sudah lama––"


"Saya minta bapak mengingatnya." Zean lalu berdiri dan berjalan ke arah monitor.


Ia dapat melihat 24 cctv di sana. Zean memperhatikan dengan seksama. Ia kemudian melihat 3 cctv terhubung dengan jalan menuju ruangan ini.


"Ini," tunjuk Zean ke layar itu. Kylen ikut berdiri di samping Zean.


"Setiap perusahaan punya salinan data kan? Apalagi untuk kejadian sepenting waktu itu?" Zean menyorot Kylen dengan tajam.


"Butuh waktu lama untuk nyari filenya lagi," jawab Kylen.


"Bapak ga harus serahin filenya sekarang, saya akan kasih waktu." Zean kembali ke kursi untuk duduk.


"Untuk apa data itu? Bukannya pihak kepolisian sudah mengunci data rekaman untuk penutup bukti?" tanya Kylen.


"Untuk mempertahankan jabatan bapak," jawab Zean.


Zean lalu menatap Kylen yang kini berada di depannya dengan serius. "Saya tahu bapak digaji lebih dari 30 juta sebulan di sini," jelas Zean.


Kylen nampak kaget. Darimana Zean bisa tau? "Dan gaji segitu sangat besar untuk sekedar duduk melihat cctv."


Kylen nampak menatap Zean dengan raut lemas. "Tapi, saya ga ada hubungannya dengan kasus itu."


"Ada, ada hubungannya karena bapak yang bertanggung jawab di ruangan ini," jawab Zean.


"Bapak lalai sampai bukti di cctv hilang," jelas Zean lagi.


Zean lalu mengeluarkan pisau dari dalam tasnya. Ia memperlihatkan mata pisau yang tajam ke Kylen.


"Kamu, kamu jangan macem-macem ya!" ketus Kylen yang ketakukan itu.


Zean nampak mengasah pisau itu dengan tangannya. "Mau langsung cerita soal siapa yang dateng ke sini, atau mau langsung menghadap Tuhan?"


Mendengar itu, Kylen menelan ludahnya dengan tersekang. Ia benar-benar tidak bisa teriak karena ruangan ini cukup privasi. Tidak ada banyak orang di lantai ini.


(Back)


Sasa mengambil ponsel itu dan melihat wajah seseorang di sana. Ia lalu menatap Zean dengan sedikit ragu. "Kylen F?" tanya Sasa sembari melirik Zean.


Zean mengangguk. "Mana eaephone lo?" tanya Zean.


Sasa mengeluarkannya, Zean lalu menghubungkan ke ponselnya dan memasangkan earphone itu ke telinga Sasa. "Lo beneran dapet buktinya?" tanya Sasa.


"Dengerin." Zean lalu mengeraskan volume rekaman itu.


Sasa seketika memperhatikan sosok Kylen yang sedang ada di depan kamera itu.


'Saya Kylen F, pemantau ruangan cctv di Hotel Gloubel Bogor.'


Kylen nampak tertekan karena Zean sedang menodong pisau di depannya. 'Saya sudah mengingat detail kejadian tahun 2016, kejadian yang merenggut nyawa Zena Wijaya selaku pemilik Hotel Gloubel.'


'Sebelum kejadian berlangsung, salah satu keluarga dari pihak pemilik yaitu Ibu Ardela Deina,' Sasa seketika langsung tersentak. Deina?


'Meminta akses masuk sebelum acara dimulai,'


'Saya selaku bawahan, memberi akses karena beliau masih satu garis keturunan dengan Ibu Zena Wijaya.'


Zean memperdekat jarak pisaunya. 'Cuma itu kejadian yang saya tahu, setelah itu Ibu Zena Wijaya meninggal dan Deina tidak ada lagi datang ke ruangan ini.'


Sasa melepas earphonenya. Ia lalu menatap lurus ke depan. Dadanya seperti sesak, untuk apa Deina masuk ke ruangan itu sebelum kejadian pembunuhan?