Puzzles

Puzzles
Episode 9 - Gerbang Kanan



Hari ini, adalah hari pertama Sasa ke kampus. Setelah menyusun semua jadwal, ia lalu melaksanakan perkuliahan ini seperti mahasiswa lainnya.


Sasa turun dari angkutan umum, tepat di depan gerbang kampus. Ia berjalan menuju fakultasnya. Tidak hanya Sasa, ada beberapa orang yang juga ikut berjalan.


Sembari membenarkan earphone, Sasa sesekali melirik ke kiri dan kanan.


Tidak ada yang ia kenal. Amat banyak manusia di sini yang belajar. Semuanya bahkan sudah mendapatkan teman dengan cara berkenalan santai.


(Suara telfon)


Belum memutar musik, suara dering telfon membuyarkan pikirannya.


"Iya, halo?" ujar Sasa.


"Sasaaaa, lo dimana? ini gua udah di depan gedung C2, buruan." Sorak Larisa.


Iya, setelah usai Ospek, mereka menukar nomor telfon satu sama lain. Hal ini untuk membuat grup dan mempermudah urusan mereka.


(Waktu itu)


"Udah gausah ribut lagi." Ujar Sasa pada dua teman baru nya itu.


"Dia nih," ketus Larisa.


"Gua ga ngapa-ngapain." Balas Zean.


"Stop!!" sorak Sasa.


Mereka berdua pun diam dan memakan batagornya kembali.


"Gitu dong, kalian dari prodi apa?" tanya Sasa.


"Gua Teknik Informatika," ujar Zean.


"Sama dong, kalo lo?" ujar Sasa lagi.


"Gua Psikologi," jawab Larisa.


"Beda kita," sahut Sasa.


"Beda pun bisa temenan kan?" ujar Larisa tersenyum.


"Pasti," ujar Sasa.


Zean hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Buruan, tukeran nomor hp, biar bisa janjian makan di kantin." Ujar Larisa.


Mereka pun sibuk menukar nomor satu sama lain. Dan berteman sampai sekarang.


(Back)


Sasa bergegas menuju gedung C2. Meski beda jurusan, Sasa dan Larisa menjalin pertemanan baik. Zean juga.


"Gedung C2," ujar Sasa dengan nafas terengah.


"SASAA!!" Sorak Larisa bersama Zean.


Sasa yang masih terengah lalu menghampiri dua temannya itu. Nafasnya nampak ngos-ngosan sekali.


"Lo jalan kaki?" ujar Larisa.


Sasa hanya diam terengah. Ia mengatur nafas sebelum akhirnya bicara.


"Sini, duduk dulu," ujar Larisa lagi.


Mereka bertiga sengaja bertemu di sini untuk membagikan almamater yang kemarin sudah di ambilkan Larisa.


"Ini punya lo Sa, ini Zean." Ujar Larisa.


"Thanks ya," sahut Zean dan Sasa.


"Sama-sama, sansss aja!" Ujar Larisa merangkul mereka berdua.


"Eh, kalian ada kelas jam berapa? pagi kan?" tanya Larisa.


"Kaga, ini karena mau ketemu lo doang, kita ke sini, ya kan Sa?" tanya Zean.


Sasa mengangguk pasti. Hari ini, Sasa dan Zean memang tidak ada kelas, tapi mereka tak masalah harus menjemput almamater sepagi ini.


"So sweet," ujar Larisa.


Sasa dan Zean hanya bisa geleng kepala.


"Lo ga ada kelas?" ujar Zean.


"Ada, ini mau masuk, sorry ya gengg," sahut Larisa.


"Iya, gapapa, buruan masuk, makasi almetnya." Ujar Sasa.


"Iyaaa, nanti ketemu di tempat biasa ya, gerbang kanan," sahut Larisa sembari memeluk Sasa dan berlalu.


"Hati-hatii..." Sorak Sasa.


Mereka berdua menatap kepergian Larisa dengan menggeleng.


Kini, hanya ada Zean dan Sasa di sana. Hari pertama mereka bertemu sebagai mahasiswa resmi.


"Mm, kantin yuk," ujar Zean.


Sasa pun mengiyakan dan berjalan ke kantin bersama Zean.


"SA! naik motor gua aja," ujar Zean.


Sasa mengangguk dan mengikuti langkah Zean.


......................


"Ini, teh botolnya." Zean menyerahkannya ke Sasa.


"Makasi Ze," jawab Sasa.


Mereka duduk berhadapan di kursi kantin itu dengan minuman masing-masing.


"Sa," ujar Zean.


"Mm," sahut Sasa.


"Hehe, gausah Ze, gua emang biasa jalan kaki, naik angkutan umum," celetuk Sasa.


"Biar lo ga kecapekan aja, kebetulan kan MK kita semua nya juga samaan kan," ujar Zean.


"Mmm, tapi ga usah repot-repot juga," sahut Sasa.


"Nanti pulangnya bareng gua aja," ujar Zean lagi.


"Gua bisa naik bus kok Ze," ujar Sasa.


"Lebih aman bareng gua Sa," ujar Zean lagi.


"Zeee..."


"Lo kenapa? belom makan?" tanya Sasa.


"Gua pesenin makanan ya," Sasa berdiri.


Reflek tangan Zean menahan jemari Sasa.


"Gua udah kenyang, Sa."


Sasa kembali duduk dan menatap Zean.


"Kalo gua butuh bantuan, gua pastiin, lo orang pertama yang bakal gua repotin!" tegas Sasa.


Tanpa disadari, lengkungan tipis itu membentang sempurna di bibir Zean.


"Makasi, dengan begitu gua ngerasa lo bener-bener anggep gua sahabat, bukan cuman teman!" ujar Zean.


Sasa hanya tersenyum tipis, karena ini adalah kali pertama ia bicara seperti itu. Sebelumnya, di SMA ia tidak pernah mau berteman karena menurutnya itu adalah hal yang merepotkan.


......................


(Pulang Ngampus)


Larisa bergegas mengendarai mobilnya ke gerbang kanan, di sana sudah ada Sasa dan Zean menunggu.


(Klakson Mobil)


"Mau makan dulu ga?" tanya Larisa sembari turun dari mobil.


"Ga dulu deh, gua kenyang." Sahut Sasa.


"Gua juga," ujar Zean.


"Yaahhh, gua laper. Ayolah, temenin!" Ujar Larisa manja.


Zean melirik ke arah Sasa dan mulai mengangguk. Mereka lalu memutuskan menemani Larisa makan.


......................


Motor Zean tepat terparkir di parkiran cafe Monrow, begitupun Larisa. Mereka turun dan berjalan masuk bersama.


"Kalian mau pesen apa?" tanya Larisa.


"Gua pesen minum aja," ujar Sasa.


Sasa lalu memesan Ice tea, sedangkan Zean memesan Ice Coffe. Larisa memesan minuman dan makanan.


Mereka lalu bercengkrama sebelum makanan tiba.


"Ada kelas apa lu tadi?" tanya Zean.


Sasa nampak asik dengan earphone dan musik yang ia dengar.


"Dasar psikologi," sahut Larisa.


"Kenapa ambil psikologi?" tanya Zean.


"Karena..." ujar Larisa.


"Permisi kak, ini pesanannya.." Ujar pelayan cafe.


"Iya Mas, makasi," sembari mengambil pesanan masing-masing.


Mereka pun mulai menyantap pesanan itu sembari ngobrol.


"Sebenernya gua ambil psikologi karena abang gua meninggal karena depresi," jelas Larisa.


"What? Serius?" tanya Zean sembari meneguk minumannya.


"Iya, itu ngebuat gua pengen tahu aja psikis seseorang, biar bisa ngelindungin adek gua,"


"Kalau lo kenapa ambil IT, Ze?"


"Karena suka nge-hack!" ujar Zean sembari tertawa.


Sementara Sasa nampak asik dengan musiknya.


"Serius, gua suka banget hack, dan gua juga freelance jadi hacker bayaran..." jelas Zean.


Sasa yang pakai earphone itu tidak menghiraukan obrolan penting ini.


"Kalau lo Sa?" tanya Zean dan Larisa.


Sasa hanya diam sembari menatap meneguk minumannya.


"Sa!!?" ujar mereka berdua.


"Iya, Apa?" tanya Sasa melepas earphone.


"Yaelah, lo dari tadi ga denger?" tanya Zean.


"Kaga!" ujar Larisa datar.


"Tadi, Zean nanya lo kenapa ambil jurusan IT?" tanya Larisa sembari melahap spageti.


"Oo.. Itu... Gapapa, pengen ambil aja." Ujar Larisa datar sembari memasang kembali earphonenya.


"Huh, bener ya kata Kak Bara, Sasa ngeri!" celetuk Larisa.


"Baru kali ini gua ketemu cewe kayak batu es!" ujar Zean.


Mereka berdua hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Sasa yang datar.