Puzzles

Puzzles
Episode 82 - Larisa Landing



Waktu bergerak ke pukul 06.30 WIB. Larisa yang baru saja tiba di bandara bergegas menuju taxi agar dapat menuju rumah Zean segera.


Sementara, di sisi lain ada Bara yang tengah duduk di kursi bersamaan dengan Abu. "Eh, gua boleh pinjem cas an lo ga?" tanya Bara.


"Oh, ada nih gua bawa." Abu lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Bentar ya, gua cas di mobil dulu." Bara lalu berjalan meninggalkan Abu yang masih duduk di dekat pintu.


Abu yang duduk sendiri di dekat pintu itu lalu dihampiri oleh Fergi. Fergi menepuk lembut pundak Abu. "Zean akan dimakamkan pukul 11.00 pagi ini," ujar Fergi.


"Kita semua kehilangan Zean Om, tapi Om ga boleh larut dalam kesedihan ya," ujar Abu seraya menatap Fergi.


Fergi menarik nafas dan melirik ke jenazah Zean. "Huh..." dengusnya.


"Sasa gimana ya?" tanya Bara yang masih menunggu ponselnya on.


"Yah, terlalu kosong nih." Bara lalu terpaksa meninggalkan ponselnya yang tidak mau on itu.


Ia kembali melangkah ke arah Abu untuk kembali duduk. "Udah?" tanya Abu.


"Udah, tapi kayaknya batrai gua terlalu low deh, jadi harus di isi bentar baru hidup." Bara lalu duduk dan menatap sekilas ke arah Zean.


***


Sasa dan Ghare bergegas melangkah menuju keberangkatan. Beruntungnya, mereka mendapatkan pesawat jam 7.30 pagi, jadi tidak terlalu telat untuk sampai Jakarta.


"Buruan, Gha." Sasa menyelip di antara orang per orang.


"Sa, bentar." Ghare mengikuti langkah Sasa yang tergesa itu.


"Ayo, buruan!" Sasa yang bergegas itu hanya bisa menatap kosong ke sekitarnya. Yang ada di kepalanya hanya bagaimana cara ia bisa bertemu Zean detik itu juga.


"Lo udah berapa lama kenal Zean?" tanya Abu seraya melirik Bara.


Bara mengernyitkan dahinya. "Gua sebenernya ga begitu kenal Zean, tapi...." Bara berhenti sejenak.


"Apa?" tanya Abu.


"Seseorang ngebuat gua bisa bercengkrama dengan Zean." Bara melirik ke Abu.


Abu menatap Bara penuh penasaran. "Seseorang yang paling deket sama Zean," tambah Bara lagi.


"Sasa Sasilia?" tanya Abu secara mendadak.


Bara seketika tertegun. Kenapa Abu bisa tahu nama itu? "Gua tau nama itu karena Zean suka cerita soal Sasa ke gua," ungkap Abu spontan.


"Mereka sahabatan sejak masuk kuliah," tambah Bara.


"Terus, dia sekarang dimana?" tanya Abu melirik sekeliling.


"Di Bali, dia ada urusan di sana, dan kayaknya dia ga tau kalau Zean udah ga ada." Bara menarik nafas dalam.


"Lo harus kasih tau dia," ujar Abu.


"Ga bisa, batrai gua low dan ada satu alasan lagi yang buat gua belum bisa kabarin dia sekarang...."


Abu melirik Bara dengan raut bingung. "...Lo takut dia kenapa-napa kan?" sambung Abu.


Bara mengangguk. "Gua tau dia ga punya siapa-siapa di sana, dia pasti akan benar-benar syok kalau tau soal Zean."


"Bar..." Abu menoleh ke Bara.


"Sasa itu jauh lebih kuat dari apa yang udah lo takar." Bara tertegun dengan ucapan Abu.


'Lo ga tau aja Bu, dia itu jauh lebih rapuh dari apa yang udah orang-orang takar.'


Bara tak membalas lagi ucapan Abu. Ia hanya bisa memikirkan apa yang sedang Sasa lakukan saat ini? Apakah ia sudah tahu soal ini?


Jam sudah menunjukkan pukul 7.30, mereka berdua akhirnya masuk ke dalam pesawat untuk mengikuti penerbangan menuju Jakarta.


Ghare lalu ikut duduk di sebelah Sasa. "Huh..." dengus Ghare sembari memasang sabuk pengaman.


Sasa yang sudah siap itu hanya bisa menatap kosong ke kaca dengan mata berbinar. Air mata sudah siap jatuh di sudut matanya.


Ghare menarik nafas dalam dan meletakkan tangannya di atas tangan Sasa yang berada tepat di sebelahnya. Sasa yang benar-benar syok itu tidak membalas sentuhan Ghare.


"Sa...." lirih Ghare.


Sasa masih diam menatap ke jendela. "Hey..." ujar Ghare lagi. Tanpa sadar, air mata Sasa jatuh, namun isakannya sama sekali tidak terdengar.


Menyadari itu, Ghare mempererat pegangan tangannya. Ia lalu menyandarkan kepala Sasa ke bahunya. "Semuanya akan baik-baik aja, Sa." Ghare lalu mengelus lembut rambut Sasa.


Sasa hanya bisa menangis tanpa isakan. Ia membiarkan dirinya larut dalam sandaran Ghare. Mereka hanya bisa diam bersamaan dengan melajunya pesawat.


***


Larisa masuk ke jalan menuju rumah Zean. Suasananya begitu berbeda. Redup sekali, angin seperti memberi pertanda bahwa ada banyak air mata di sini.


Bendera hitam membuat mulut Larisa semakin membisu. Ia lalu berhenti tepat di pagar rumah Zean. Sudah ada banyak orang di sana.


Bara dan Abu yang masih berada di luar seketika melirik ke arah taxi yang ada di sana. Ia kemudian dapat melihat jelas bahwa sosok di balik itu adalah Larisa.


Larisa nampak menjinjing koper di tangannya dan bergegas menuju pintu rumah Zean. Ada banyak sekali orang di sini, karangan bunga juga dimana-mana.


Larisa berjalan dan berhenti tepat di dekat Bara. Bara dapat melihat jelas bola mata kesedihan itu. Bara lalu mengangguk sebagai kode agar Larisa dapat masuk.


Kaki Larisa perlahan melangkah menuju jenazah yang berada di tengah rumah. "Hikss...Hikss...Hikss..." Larisa melangkah semakin dekat dan terduduk tepat di dekat kaki Zean.


Bara yang berada di belakangnya kemudian langsung berlari menopang. "Larisa, tenang, Zean ga mau lo sedih, ayo." Bara lalu merangkul Larisa agar bisa kembali berdiri.


Larisa yang masih menangis itu hanya bisa terduduk. "Larisa... Percaya sama gua, Zean pasti sayang sama lo, jadi jangan biarin lo lemah di pertemuan terakhir lo sama Zean kali ini."


Bara mencoba menguatkan Larisa, namun yang ada dipikirannya 'Apakah Sasa akan lebih terluka dari pada ini?'


Mendengar ucapan Bara. Larisa kembali melangkah sedikit menuju kepala Zean. Ia lalu duduk di sebelahnya dan mulai berdoa.


"Zean... Hikss...Hikss...Hikks..."


Larisa lalu memberanikan diri melihat wajah Zean untuk yang terakhir kalinya. "Hikkss...Hikss... Zean, kenapa lo ninggalin kita semua di sini." Larisa kembali menangis usai melihat wajah Zean yang benar-benar pucat itu.


"Hikss...Hikss...Hikss.. Zean!"


Bara merangkul dan mengelus pundak Larisa. "Tenang, gua ada di sini." Bara lalu mem per erat rangkulannya.


Abu yang dari tadi ada di dekat mereka hanya bisa terdiam sembari menahan tangis. Ia tak berhenti menatap wajah tampan sahabatnya itu.


***


Waktu bergerak dan membawa Sasa landing di Jakarta. Setiap hentakan pesawat tak berpengaruh apa-apa pada pikiran Sasa. Ia hanya melamun dan membayangkan keadaan Zean.


"Makan dulu, nanti lo pingsan." Ghare menyerahkan sarapan ke depan Sasa.


"..." Sasa hanya diam.


"Saa... Lo harus makan, ayo." Ghare memaksa Sasa, namun yang dipaksa seperti tak ada respon.


Ghare mendengus, ia lalu mencoba menyuapi Sasa. "Aaaa... Ini," Ghare mencoba memaksa Sasa makan.


Sasa mengelakkan kepalanya. "Saa.. satu sendok aja," sahut Ghare.


Sasa masih diam dan tak merespon. Ghare yang paham akan penyebab sikap Sasa itu kemudian memaksa diri sendiri untuk melahap makanan itu.


'Zean... dari banyaknya tempat yang jauh di bumi, kenapa lo malah milih pulang ke pangkuan Tuhan?'


'Gua nanti gimana, Ze?'


Dalam lamunannya, terputar memori soal Zean. Tentang betapa besarnya sayang pria itu ke gadis misterius seperti Sasa.