
Dering telfon di sore hari ini, membuat Sasa yang masih di kamar mandi bergegas merogoh telfon di kamarnya.
Ia berjalan dengan handuk yang masih melekat di kepalanya.
"Halo?" ujarnya mengangkat telfon itu.
"Sasa? Ini Tante Deina..."
"Tante?" tanya Sasa.
"Kamu apa kabar sayang?" tanya Deina.
"Baik, Tante gimana?"
"Tante baik, gimana sekolah kamu?"
"Aman Tan," jawab Sasa.
"Tante denger dari Renita, kamu dapet beasiswa di Univ Grellya Budaya? Bener sayang?" tanya Deina lagi.
"Iya," jawab Sasa singkat.
Sasa nampak tak bersemangat membahas hal ini. Ia seakan ingin mengganti topik agar terbebas dari tuntutan kuliah.
"Wah, selamat ya, Tante bangga sama kamu," puji Deina dari balik telfon.
"Makasi Tan," ujar Sasa datar.
"Kenapa ga semangat? kamu ga mau ambil?" tanya Deina lagi.
"Iya Tan, aku ga mau ambil," jawab Sasa tanpa ragu.
"Kenapa sayang? Tante bisa biayain kuliah kamu kok, ga usah takut." Jawab Deina.
"Bukan masalah itu Tan, kalo uang untuk biaya kuliah, warisan Mama sama Papa juga masih banyak." Jelas Sasa.
"Tante juga ga perlu repot biayain hidup aku, tante kan tahu cabang hotel Mama ada berapa," ujar Sasa yang tidak ingin merepotkan Deina.
Ia memang besar dengan sifat mandiri, sama seperti Zena. Pantang sekali merepotkan orang lain, apalagi soal uang. Karena, baginya usaha adalah kunci hidup.
"Aku yang belom mau!" tegas Sasa.
"Tante cuma gamau kamu pusing ngurusin hotel, jadi biar biaya hidup kamu tante yang handle." Ujar Deina.
"Gaperlu Tan, aku udah bilang dari tadi kalau tante ga perlu repot soal uang!" tegas Sasa.
"Tante harap kamu bisa pikirin ini mateng-mateng, mulai dari kuliah sampai urusan uang, jangan sampe salah ambil keputusan ya,"
"..." Sasa hanya diam.
"Yaudah,Tante mau meeting dulu, Take care ya!"
"Ya, See you soon."
"Daaa..." ujar Deina sembari menutup telfon.
Sasa meletakkan telfon itu dengan tarikan nafas panjang. Ia sudah bertanya berkali kali kepada dirinya tetapi memang tidak ingin kuliah dulu.
"Kenapa semua orang kayak maksa sih?" ujar Sasa.
Ia lalu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer sembari berkaca.
"Apa gua ambil aja?" tanya Sasa lagi.
"Ga, sekarang bukan saat yang tepat Sa!" jawabnya lagi.
Ia lalu membuyarkan pikirannya dan fokus mengeringkan rambut. Disisi lain, ia heran sekali dengan Deina yang selalu ingin melibatkan uang pribadinya dalam hidup Sasa sedangkan ia tahu bahwa harta Sasa lebih banyak darinya.
"Apa gua harus ikut join dulu ya, ngelola bisnis Mama secara langsung?" tanya Sasa.
"Gua kan juga belum mau kuliah, udah lama juga ga ke hotel." Ujar Sasa.
Sasa lalu mecoba memikirkan apa yang harus ia lakukan di tahun yang gap years ini.
***
Sore berganti malam, waktu yang tidak diisi membuat Sasa merasa bosan dan memilih berjalan keluar. Kali ini, ia masih sama, pergi dengan bus.
Ia duduk di halte dekat rumahnya dan masuk ke dalam bus yang sudah ada di depannya.
Sasa memilih kursi favoritnya seperti biasa, namun, nampaknya sudah ada yang isi. Ia mencari kursi lain, tapi nihil, semuanya penuh.
Seiring dengan bus yang melaju, ia memilih berdiri dan berpegangan pada pegangan tangan. Ia lalu mengenakan topi yang melekat di hoodie yang ia pakai.
Sedang asik melihat jalanan yang ia lewati, mata Sasa langsung menoleh ke arah pemilik suara yang mengajaknya bicara.
"Hei, duduk di sini aja," ujar pria itu.
Sasa menoleh dan segera duduk tanpa kata karena ia lelah berdiri.
"Makasi," jawab Sasa singkat.
"Iya..." ujar pria itu sembari berdiri di tempat Sasa tadi.
Pria itu nampak memperhatikan Sasa yang sedang duduk, ia seperti punya banyak informasi soal wanita yang baru saja ia beri tempat duduk.
***
Selang beberapa menit, bus itu berhenti di tempat tujuan Sasa. Sasa bergegas keluar tanpa memperhatikan pria tadi. Ia lalu berjalan menyusuri trotoar di dekat mall.
Matanya menatap sekeliling yang dihiasi lampu pernak pernik. Indah sekali, malam yang sangat bising bahkan hening di telinganya.
Usai berjalan dan melihat-lihat, ia memutuskan untuk membeli jajanan kesukaannya.
"Mba, Ice Cup Moccacino nya 1," ujar Sasa.
Pemilik stand itu lalu memenuhi pesanan Sasa.
"Ini, totalnya jadi 38 rbu kak."
"Ini, kembaliannya ambil aja." Ujar Sasa memberikan uang dan pergi.
"Makasi kak," jawab wanita itu.
Sasa lalu berjalan menuju kursi di pinggir jalan, ada banyak orang yang duduk di sana. Ia mencoba mencari kursi kosong, dan mendapatinya. Sasa bergegas ke arah kursi itu dan meminum Ice Cup nya.
Sorot matanya nampak kosong, ada kebahagian besar yang hilang dari hidupnya. Ia hanya menatap orang di sekitarnya dengan pudar.
Persis, seperti hidup yang ia jalani.
Saat sedang asik meneguk minuman itu, seseorang menghampiri Sasa dan mencoba berkomunikasi agar bisa duduk di kursi yang sama.
"Permisi, boleh duduk di sini..." ujar seorang pria yang berdiri itu.
"Kursinya bukan punya saya!" jawab Sasa yang membuat pria itu langsung duduk.
Sasa kembali fokus dengan ice cupnya. Sementara, pria itu nampak ingin kenalan dengan Sasa.
"Gua, Abraham Glanellio..." ujarnya mengulurkan tangan.
"Panggil Bara aja," ujarnya lagi.
Bara? Nama itu nampaknya bukan asing lagi, tapi Sasa tak begitu peduli dengan ini semua. Ia tak peduli entah sudah berapa kali nama itu terdengar oleh telinganya.
"Ya, gua Sasa," ujar Sasa tanpa membalas juluran tangan Bara.
Bara menarik kembali tangannya dengan gugup. Merasa sedikit asing dengan wanita yang benar-benar dingin itu.
"Mm, lo anak SMA 3 Karya Bangsa juga kan?" tanya Bara.
"Stalker?" tanya Sasa sinis.
"Gua kemarin sempet liat lo di lapangan," ujar Bara.
"Oh, pentingnya buat lo ngajak ngobrol gua apa sih?" ketus Sasa tanpa menatap mata Bara.
"Sasa..." ujar Bara dengan lembut.
Sasa nampak tak menghiraukan panggilan Bara. Ia masih sibuk dengan Ice Cappucino nya.
"Kadang, kita bicara sama orang itu bukan karena pentingnya aja...." jelas Bara.
"Tapi, ka..." ujar Bara hendak menjelaskan.
"Sok puitis lo!" bentak Sasa.
"Ya, kaga! gua kan cuman bilangin." Ujar Bara lagi.
Sasa yang menyadari hari sudah mulai larut itu lalu berdiri dari duduknya. Ia berdiri tanpa memandang apalagi pamit dengan Bara.
"Mau kemana lo?" tanya Bara.
"Penting banget ya buat lo tau!?" tanya Sasa dengan tatapan tajam.
"Ya, nanya doang sih!" ujar Bara.
"Ga usah tanya-tanya, gua bukan pacar lo!" bentak Sasa.
"Jadi, gua harus jadi pacar lo dulu untuk tanya-tanya?" tanya Bara polos.
Emosi Sasa seperti dipancing dengan ucapan polos Bara. Ia langsung kesal dengan pertanyaan orang yang baru ia kenal itu.
"Kita baru kenal 2 menit, besok gua juga ga akan ketemu lo lagi!" ketus Sasa.
"Jadi, gausah berharap macem-macem!" bentak Sasa berlalu pergi.
Bara tersenyum kecil dengan ulah gadis manis itu. Ia menatap punggung Sasa yang semakin terlihat menjauh. Namun, dari bentakan yang ia terima, ia semakin tertarik dengan gadis itu.
"Percaya sama gua Sa, kita bakal ketemu terus nanti, besok atau tahun berikutnya..." sahut Bara sembari meminum Boba di tangannya.
***
Sasa turun dari bus dan menuju ke rumahnya. Dalam perjalanan menuju pintu, pikirannya dihantui teka-teki pembunuhan ibunya beberapa tahun lalu.
"Siapa pembunuhnya?" tanya Sasa pada dirinya sendiri.
"Mama orang baik, ga punya musuh, kenapa bisa se tragis ini?" tanya nya lagi.
Ia lalu membuka pintu rumah dan segera menuju lantai atas. Tubuhnya sudah lelah berkelana sejak senja tadi.
Baru saja hendak menaiki anak tangga. Mbok Ira mengeluarkan kalimat yang membuat Sasa semakin harus menyelidiki hal ini.
"Mysa.... ada yang mau Mbok kasih tau.." ujarnya membuat Sasa berhenti melangkah.
Sasa balik badan dan melihat ke arah Mbok Ira.
"Apa Mbok?" tanya Sasa.
"Sebenernya si Mbok sering melihat sedan hitam berdiri di depan rumah Mysa..." ujarnya yang membuat Sasa bungkam.
Perihal sedan hitam, Mbok Ira memang belum diberi tahu, yang tahu hanya Satpam di rumahnya saja.
"Sedan itu selalu ada di depan rumah pas Mysa di sekolah dan pergi setelah Mysa pulang," jelasnya lagi.
Pernyataan Mbok Ira seolah memberi sinyal bahwa tampilan jam di Cctv itu benar, potongan yang terjadi sekarang bukan masalah karena Mbok Ira sudah lihat secara langsung.
"Mbok ga usah takut, nanti saya bilang ke Tante Deina untuk tambah satpam di rumah ini," jelas Sasa.
"Baik Mysa, si Mbok cuman takut ada yang niat jahat sama Mysa."
"Aku bisa jaga diri kok Mbok, si Mbok lanjut kerja aja ya," ujar Sasa.
"Iya, Mysa hati-hati ya..."
"Makasi ya Mbok, aku ke kamar dulu..." ujar Sasa menuju ke kamarnya.
Sasa berjalan ke kamarnya, ia duduk di meja belajar dan terdiam. Mbok Ira tidak perlu diberi tahu soal Cctv yang sudah melacak keberadaan sedan hitam itu.
Pikirannya penuh teka-teki masa lalu itu sekarang. Kepingan puzzles seperti meminta dirinya untuk segera mencari bagiannya satu per satu.
"Sedan itu selalu ada di depan rumah pas Mysa di sekolah dan pergi setelah Mysa pulang,"
"Itu pasti sedan yang sama,"
"Sedan yang plat nya ada di hari Mama dimakamkan." Jelas Sasa.
Sasa lalu mengambil buku dan segera menulis sesuatu di sana. Buku jurnal yang menjadi kumpulan bukti selama bertahun-tahun.
"Perkiraan sesuai Cctv, sedan dateng jam 11 dan pergi jam 12.45 WIB,"
"Cctv yang kepotong ternyata ga meleset, Mbok Ira udah liat secara langsung!" tegas Sasa lagi.
Sasa mencatat jam itu di buku yang tengah ia pegang. Ia lalu menutup buku itu dan mulai memikirkan rencana untuk hal ini.