
Zean mengendari mobil nya dengan santai. Ia sesekali melirik Sasa yang asik melihat ke kaca sebelahnya.
Jujur, ini adalah kali pertamanya membawa wanita berkendara di malam hari. Terlebih, Sasa nampak sangat sempurna malam ini.
"Sorry ya," ujar Zean secara tiba-tiba.
"Untuk?" tanya Sasa melihat ke Zean.
"Untuk dua hal," ujar Zean yang membuat Sasa bingung.
"Pertama, sorry udah buat lo punya masalah sama bu Airi," jelas Zean.
Sasa lalu terkekeh dan melihat ke Zean.
"Itu baru masalah kecil, ga perlu minta maaf." Ujar Sasa.
"Lo bandel ya pas sekolah?" tanya Zean memastikan.
"Seharusnya gua yang nanya, lo patuh banget ya pas sekolah?" celetuk Sasa.
"Gua middle aja, ga terlalu patuh dan ga nakal juga, pastinya ga ngerokok, apalagi narkoba!" Zean seketika geleng kepala sendiri.
"Bandelnya orang itu beda-beda kali, intinya gua sih ga terlalu peduli sama peraturan, waktu SMA sih gitu," jelas Sasa.
"Apa semuanya berubah saat nyokap lo meninggal?" tanya Zean memberanikan diri.
Sasa diam dan memikirkan jawaban yang tepat. Ia tidak boleh terpancing dan membuka diri terlalu cepat.
"Ga ada yang tau pasti kapan sikap gua berubah, bahkan diri gua sendiri," jelas Sasa.
Zean lalu kembali fokus menyetir hingga lupa menyampaikan permintaan maaf yang kedua.
"Udahlah, lanjut yang kedua apa?" tanya Sasa mengalihkan.
Zean lalu mengingat kembali dan mengutarakan lagi hal yang ingin ia sampaikan.
"Soal bokap yang nanya-nanya tentang ibu lo tadi," tambah Zean lagi.
"Bokap emang gitu, kadang suka nanya berlebihan," jelas Zean.
"Kalau gua sih ga suka nanya hal yang orang lain aja ga mau cerita," jawab Zean.
Sasa seketika terdiam. Ia lalu menarik nafas dalam dan mulai berbicara.
"Ibu gua pemilik Hotel Gloubel," ujar Sasa datar.
Zean bahkan tak menyangka Sasa adalah anak pewaris tahta hotel mewah itu.
"Hotel termewah yang ada 25 cabang di Indonesia?" tanya Zean.
Sasa mengangguk pasti. Hotel itulah yang dirintis oleh ibunya sejak dari bawah.
"Pantes rumah lo super megah," ujar Zean.
"... bagusan rumah lo," ucap Sasa datar.
"Bagusan rumah lo kali!" celetuk Zean.
"Suasananya lebih hidup," sambung Sasa.
Zean lalu melirik ke arah Sasa yang menatap kosong jalan yang ia lewati.
"Hidup atau enggaknya suasana, tergantung hati lo, Sa!" jelas Zean.
"Hati gua mati!" ketus Sasa.
"Bukan mati,..." ujar Zean sembari menginjak rem.
"Tapi, belum hidup secara utuh," tegas Zean.
Sasa tidak membalas ucapan Zean, ia hanya membuka pintu mobil dan turun.
"Eh, Sa!" sorak Zean sembari menurunkan kaca mobilnya.
Sasa melihat ke dalam mobil itu dengan sedikit membungkuk.
"Ini, sorry for today!" sembari menyerahkan kado mini berwarna maroon dengan pita silver.
Sasa mengambil kotak itu dan kembali menjauh dari mobil.
"Thank you for this night!" sembari melambaikan tangan.
"Take care," lalu masuk ke dalam rumah.
Zean lalu mengangguk dan tersenyum sembari menutup kaca mobilnya.
(Klakson Mobil)
"Sebentar lagi, hati lo pasti bakalan hidup!" lalu melaju pergi.
***
(Rumah Bara)
"Bundaa, are you alright?" ujar Bara sembari duduk di sebelah Renita.
Renita nampak terbaring lemas di kasur. Menatap Bara dengan sayu. Bara menyentuh dahi Renita yang terasa panas.
"Badan Bunda panas, ke rumah sakit aja." Ajak Bara sembari memegang kepala Renita.
Renita mengambil tangan Bara dari dahinya dan menggenggamnya.
"Kamu ga perlu khawatir, Bara. Bunda cuma demam,"
"Ayo Bunda, ke rumah sakit aja. Nanti aku kabarin Ayah," jelas Bara sembari mengambil handphone di sakunya.
"Jangan, Bunda gapapa," sembari menepis handphone di tangan Bara.
"Bund..." lirih Bara.
Ayah Bara memang sedang menjadi dokter yang dikhususkan untuk tenaga bantuan gempa selama 1 bulan ke depan. Jadi, hanya ada Bara dan Renita di rumahnya.
"Tapi, Bunda lebih penting untuk di obatin." Ujar Bara.
"Ini cuma demam, Bar. Sini, coba calon dokter muda ini ngobatin Bunda." Renita tersenyum getir.
"Yaudah, aku coba cek suhu sama tensi Bunda, tapi janji ya... Kalau ga membaik, Bunda harus ikut ke rumah sakit," jelas Bara.
Renita mengangguk pasti. Kebetulan, di rumah Bara obat bisa dibilang lengkap karena ayahnya adalah seorang dokter. Tepatnya, dokter spesialis paru.
Bara dengan sigap mengambil alat kesehatannya, ia mulai mengukur suhu dengan termometer.
Selang menunggu, sembari memeriksa detak jantung, diperoleh angka 37,6°C.
"Demam bunda suhunya 37,6°C, aku akan kasih bunda pct 500mg, Bunda tunggu sebentar ya.."
Bara berjalan ke ruang klinik pribadi milik ayahnya, ia yang sudah menempuh semester 5 kedokteran itu sudah cukup faham tentang obat dasar demam.
Ia mengambil obat tersebut dan pergi ke kamar Renita dengan membawa segelas air.
Bara meminumkan obat itu dan segera membantu Renita untuk tidur kembali.
***
(Dringg.... Dring...)
Sasa berjalan dari toilet ke meja rias, mengambil ponselnya yang tengah berdering.
"Halo?"
"Gimana? Suka ga?" tanya Zean kepada Sasa dari balik telfon.
"Apanya?" ujar Sasa datar.
Zean seketika berubah ekspresi dari riang ke flat. Sasa yang memang belum membuka kado kecil tadi menjawab datar.
"Yang gua kasih tadi," ujar Zean.
"Belom gua buka," sahut Sasa tak bersalah.
"Yaudah, buka." Ujar Zean sembari menunggu Sasa membukanya.
"Nanti aja kenapa sih?" tanya Sasa sinis.
"Ayolah!" bujuk Zean.
Sasa yang masih mengenakan handuk di kepala itu terpaksa membuka kado kecil dengan ponsel di telinganya.
Sasa membuka kado itu hanya dengan sekali tarik. Nampak kertas putih menutupi isi dari kado tersebut.
Sasa menyingkap kertas putih tersebut dan melihat isi kado yang diberikan Zean.
"Gimana?" tanya Zean lagi.
Sasa masih diam. Tangannya mengambil earphone miliknya itu.
"Ini kan..." ujar Sasa hendak menyangkal.
"Gimana? Suka?" tanya Zean lagi.
Sasa seketika tersenyum kecil ketika melihat logo 'S' ada di sudut kiri dan kanan, sepasang earphone miliknya itu.
"Logo itu sengaja gua bikin sebagai permintaan maaf, kemarin sore baru jadi." Jelas Zean.
"Thank you."
Sasa mengambil sepasang earphone itu dan meletakkannya di atas meja rias.
"Sama-sama, yaudah gua tutup ya." Ujar Zean hendak mematikan telfon.
"Eh, bentar..." jegal Sasa sembari merubah posisi berdirinya menjadi duduk.
Sasa lalu duduk di sudut kasur dengan handuk di atas kepala.
"Gua mau nanya sesuatu,"
"Lo beneran bisa nge-hack?" tanya Sasa.
"Bisa, kenapa?" tanya Zean.
"Gapapa, cuman nanya aja." Ujar Sasa lagi.
"Mau dibantu hack apa?" celetuk Zean.
"Gapapa, gua mau hairdryer rambut dulu." Ujar Sasa hendak mematikan telfon.
"Kalau lo mau belajar, juga bisa, kabarin aja." Ujar Zean.
"Oke, See you!" sembari mematikan telfon.
Sasa hanya ingin memastikan ucapan Fergi tentang keahlian Zean. Karena, hack data adalah hal yang paling bisa membantunya kali ini.
Hidup memang selalu berpasangan, meski ia sulit dan tidak bisa hack data, Sasa malah diberi kemudahan lewat pertemuannya dengan teman kuliah.
"Kalau gua ga bisa hack, gua bisa collab sama Zean, ini akan lebih cepat." Ujar Sasa.
"Atau gua belajar sama dia," tambahnya lagi.
Sasa lalu mengeringkan rambutnya sembari melihat ke kaca. Ia menatap sosok dirinya yang semakin tumbuh dewasa.
"Tapi, apa Zean bisa dipercaya?" tanya Sasa pada dirinya sendiri.
"Gimana caranya biar gua tau dia bisa dipercaya?" tanya Sasa lagi.
Sulit bagi Sasa percaya pada orang lain selain dirinya sendiri saat ini.