
Jam bergerak ke angka 04.00 WIB. Matahari masih enggan menampakkan diri, Larisa keluar dari kamar mandi dan menukar pakaiannya.
Ia lalu mengambil satu kerudung hitam dan melekatkannya di leher sebagai scraf. "Huh..." dengus Larisa seraya mengambil koper dan bergegas ke lantai bawah.
"Keberangkatan jam 05.00 WIB, gua harus secepatnya ke Bandara."
Larisa turun bersama kopernya, ia lalu menuju ke kamar bundanya. "Assalamualaikum...." ujar Bunda seraya menoleh ke kiri dan kanan.
Larisa membuka pintu perlahan bersamaan dengan selesainya bunda membaca salam sesudah solat.
Tookk..tokk.. tok..
"Bunda..." lirih Larisa sembari masuk ke dalam kamar.
"Sayang, kenapa bawa koper? kamu mau kemana?" tanya Bunda seraya bangun dari duduknya.
Dari dekat pintu, nampak air mata Larisa menggenang di sudut matanya. "Hey, ur fine? sini cerita."
Larisa langsung memeluk bundanya dengan tangisan. "Zean... sahabat aku yang di Jakarta kemarin malam meninggal karena kecelakaan, Bunda..."
"Ya Tuhan, Innalillahi, bunda turut berduka, kamu jangan nangis lagoi," seraya memeluk Larisa.
"Hikkss...hikss.." Larisa merasakan tangan Bunda mengelus lembut punggungnya.
"Jangan nangis, kasian Zean kalau kamu sedih," ujar Bunda seraya menyeka air mata Larisa.
Larisa melepas pelukannya dan berpamitan. "Aku akan ke Jakarta subuh ini Bund, lusa aku balik lagi."
"Kamu akan baik-baik aja pergi sendiri? kuliah kamu gimana?" tanya Bunda.
"Nanti minta bantu ke Amel untuk urus surat izinnya, Bunda ga perlu khawatir."
Bunda menatap Larisa dan mendekapnya lagi. Ia lalu mencium kening putrinya itu. "Hati-hati di jalan, jangan kebanyakan nangis, kamu harus sampai ke Jakarta dengan keadaan baik karena kasian Zean kalau kamu sedih."
Larisa mengangguk. "Makasi Bunda, aku berangkat sama taxi, kayaknya udah di depan."
"Ayo, Bunda akan antar kamu," ujar Bunda seraya melepas mukenah yang sedang ia kenakan.
Larisa berjalan keluar rumah dengan menderek koper. Ia lalu melangkah perlahan menuju taxi yang sudah ada di depan pintu rumah.
"Masuk gih," ujar Bunda.
Larisa menatap Bunda dengan tatapan kosong dan sedih. Ia lalu menarik nafas dalam dan kembali memeluk Bunda. "I'll be back!" ujarnya sebelum masuk ke mobil.
"Iya, hati-hati." Bunda lalu melepas pelukannya dan menatap kepergian Larisa dengan taxi yang ada di depannya.
"Daaaa Bunda," ujar Larisa sebelum menutup kaca mobil.
Bunda membalas lambaian tangan itu dan setia berdiri di depan pintu. "Jalan Bli," ujar Larisa sembari menutup kaca mobil.
Mobil itu lalu melaju meninggalkan rumah Larisa. Mereka menuju ke Bandara yang jaraknya sekitar 30 menit dari sini. "Zean... wait me today!"
Larisa lalu memejamkan matanya perlahan. Rasa ngantuknya hilang karena kabar buruk ini. Ia bahkan hanya tidur 2 jam dengan keadaan setengah sadar.
Bayang Zean seolah menghantuinya dan enggan beralih dari pikiran. "Sasa?" ujar Larisa yang kembali membuka mata. Ia lalu perlahan membuka ponsel untuk menghubungi Sasa.
'Saaa.. gua berangkat ke Jakarta jam 5 subuh, sekarang lagi otw bandara.'
Pesan singkat itu terkirim ke Sasa. Larisa lalu kembali memejamkan mata seperti akan tertidur, padahal yang terputar di benaknya hanya kenanangan bersama Zean saat kuliah di Jakarta dulu.
***
34 Pesan belum terbaca
18 panggilan tak terjawab
"Hmmmm..." Sasa mengubah posisi tidurnya ke arah kiri.
(Dering Panggilan)
(Dering Panggilan)
Sasa yang tadinya tertidur, perlahan terbangun karena suara telfon. Ia lalu mengambil ponsel dengan meraba-raba.
(Dering Panggilan)
"Hmm...." ujar Sasa dengan mata yang masih tertutup.
"Sasa, gua masih di sini ya nungguin lo, kenapa lo ga coba turun dan temuin gua?!"
Mendengar nada suara itu, Sasa langsung membuka mata dan bangun dari pembaringannya. "Gua cuma mau ngomong, Sa. Apa salahnya lo dengerin dan pertimbangin soal nyokap gua?!" ketus Ghare.
"Lo bisa pulang dari kemarin, gua ga suruh lo berdiri di situ kok semalaman!" bentak Sasa.
"Dasar! emang ga punya hati ya lo!" bentak Ghare.
"Eh, lo yang mau nunggu di situ ya! jadi jangan salahin gua!" ketus Sasa.
"Sekarang terserah lo, dan gua harap lo ga akan nyesal sama keputusan lo ngeluarin nyokap!" bentak Ghare.
"Gua ga mau bahas ini ya, Gha! Lo pulang aja," ujar Sasa.
"Gua akan pergi dan ga akan pernah nemuin lo lagi," ketus Ghare seraya menutup telfon.
"Ya, ter---"
(Sambungan terputus)
"Saico emang!" bentak Sasa sembari memainkan ponselnya.
Sasa yang tengah emosi mendadak tertegun saat melihat notif pesan dan panggilan yang banyak. "Siapa nih nge spam?" ujarnya sembari membuka media pesan.
"Larisa," ujar Sasa membaca apa yang Larisa kirim.
'Sa? Lo dimana? Zean kecelakaan.'
'Gua berangkat subuh ini ke bandara, Zean akan dimakamin hari ini.'
'Zean meninggal Sa! Lo udah tau kan?!'
"Haa,...aa..." Nafas Sasa seperti tersenggal. Ia seakan lupa cara bernafas. "Haa... Aaa, Ze..."
Air mata Sasa perlahan jatuh. "ZEAANNNNNN!!!!!!!" soraknya dengan luapan tangis.
Ia perlahan menjernihkan pikirannya. "Gua harus cari tahu dulu, Zean ga mungkin meninggal."
Sasa lalu menyeka air matanya dan segera menelfon Larisa.
(Memanggil)
"Ga aktif lagi, gua chat aja kali ya." Sasa lalu mengirim beberapa pesan ke Larisa.
'Larisa? Lo ga bercanda kan? Zean kenapa? Kecelakaan kenapa?'
'Saaa... Jelasin ke gua, please!'
Sasa lalu melihat beberapa panggilan tak terjawab. "Bara?" Sasa seketika langsung menelfon Bara. Ia bahkan tak peduli sekarang masih jam 04.50 WIB.
'Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan,....'
"Shitt!!!" ketus Sasa.
Ghare yang kecewa karena Sasa tak menemuinya tadi, masih berada di depan hotel karena baru selesai menelfon seseorang. "Saico!! gua pastiin lo akan nyesel Sa!" Ghare lalu masuk ke mobilnya.
Sasa yang berada di lantai atas itu seketika teringat Ghare yang ada di depan hotel. "Ghare, gua harus temuin dia!"
Sasa langsung berlari keluar kamar untuk menemui Ghare dengan mata yang sembab. Ia mencoba menelfon Ghare seraya berjalan keluar.
(Dering Panggilan)
Ghare yang akan segera melaju itu melihat ponselnya yang berdering. "Sasa?" ujar Ghare saat melihat nama yang tertera di sana.
Ia lalu mendengus. "Gua bilang juga apa, Sa." Ghare lalu menaikkan alisnya dan segera men-start mobilnya karena ia akan tetap pergi.
"Ayo dong, angkat!" Sasa berlari usai keluar dari lift. Ia langsung bergegas ke halaman hotel. "Pagi Nona, mau kemana?" tanya Satpam yang tak dijawab oleh Sasa.
Sasa semakin kencang berlari ke luar hotel. Ia dapat melihat mobil Ghare dengan lampu yang sudah menyala. "GHAREEEE!!! STOPP!!! GHARRRR!!!"
Ghare yang tahu kehadiran Sasa itu langsung menjalankan mobilnya perlahan karena sakit hati. Ia bahkan sengaja mengabaikan Sasa yang terlihat jelas dari spion.
"GHAREEE!!!!" sorak Sasa seraya mengejar mobil itu.
Ghare yang melaju perlahan itu melihat jelas Sasa mengejarnya dengan keadaan tidak baik. "Kenapa ya? Kayaknya dia ga mungkin semenyesal itu deh?" tanya Ghare bingung.
"GHAREEE?!!!" sorak Sasa seraya berlari.
Saat mengejar Ghare, ia tak sengaja terjatuh dan mencoba tetap berdiri, namun nihil.
Bughhh!!!
"Aarghh!! Aww..." Sasa dapat merasakan sakit di lututnya.
Darah segar perlahan mengalir dari lutut Sasa yang sedikit tergores. "Aaaarghh!!"
Ghare yang melihat itu kemudian berhenti tak jauh dari tempat Sasa terjatuh. "Ngapain sih ni anak!" ketus Ghare sembari melepas sabuk pengamannya.
Ia lalu turun dan berjalan ke arah Sasa yang masih terduduk. "Aaargghh! Hiksss...Hikkss..Hikss..." Tanpa sadar, seperti kehilangan arah, Sasa kembali menjatuhkan air matanya.
Ia tertunduk dengan tangisan yang mendalam. Langkah kaki Ghare berhenti tepat di depan Sasa. "Gua kan udah bilang, lo pasti hubungin gua lagi!!! Makanya tadi tuh lo sebenernya temuin gua aja kali," ketus Ghare.
Sasa masih diam seraya menangis. "Hikkss... Hikss..."
Ghare yang menyadari hal ini, lalu mencoba jongkok di depan Sasa. "Saa...? Lo kenapa?" tanya Ghare.
Ghare lalu melihat ke lutut Sasa yang berdarah. "Lo nangis karena sakit? Yaudah, sini gua bantu!" Ghare lalu mencoba menopang Sasa.
Sasa tak membalas bantuan itu, ia lalu menatap Ghare dengan wajah yang basah. "Saa...." lirih Ghare yang baru pertama kali melihat Sasa menangis.
Ghare yang keras hati itu sekana tertegun dan enggan bicara lagi. "Zean..." lirih Sasa seraya menangis.
"Zean kenapa?" tanya Ghare memegang bahu Sasa.
"Zean... Zean meninggal." Sasa langsung meluapkan tangisannya setelah bicara.
"Ha, apa? Saa... Lo beneran?" tanya Ghare.
Sasa terus menangis tanpa menjawab lagi. Ghare yang ada di depan Sasa itu langsung memeluk gadis manis itu.
Sasa yang benar-benar syok itu bahkan menerima pelukan dari orang yang paling ia benci itu.
"Udah jangan nangis lagi, ada gua di sini." Ghare mempererat pelukan kepada sepupunya itu.