Puzzles

Puzzles
Episode 91 - Jia Nurhaya



Ruangan bernuansa elegan dengan lampu berwarna warm itu tak membuat tidur Sasa menjadi nyenyak. Ia bahkan seperti berada di titik setengah sadar.


Matanya terbuka dan menatap kosong ke langit-langit. "Mamm, apa Mysa harus singkap semuanya sekarang?"


"Buktinya udah cukup, dan pada akhirnya kasus ini akan ter-close!"


"tapi, apakah ada jaminan dendamnya akan ikut tertutup juga seolah ga pernah terluka?"


Sasa mencoba meyakinkan diri apakah ia akan membuka semuanya sekarang? "Bara, lo dimana? Gua butuh lo sekarang!"


Sasa mencoba menenggelamkan wajahnya dalam bantal untuk berfikir. "Gua belum yakin mau close kasus ini, ada yang masih mengganjal di hati gua," jelas Sasa.


"Mbok Ira? Apa dia tahu sesuatu soal ini? Terakhir kali Zean kasih identitas asli dia, gua harus selidikin ini dulu!"


Sasa menarik nafas dan mulai merogoh ponselnya. Ia lalu membuka galeri dan membaca identitas palsu seseorang yang ia kenal itu.


"Mbok Ira, alamatnya ada di jalan Kelapa Gading," ujar Sasa.


Sasa lalu bangun dan segera berbenah untuk menuju ke alamat itu. Sekedar informasi, hari ini Sasa tidak kembali ke rumahnya, ia memilih menginap di salah satu hotelnya yang ada di Bekasi.


***


"Bunda pasti akan sehat lagi, dokter kan juga sudah bilang ini akan jadi operasi terakhir karena sel kanker nya sudah 96% hilang karena kemoterapi," jelas Bara seraya menyentuh rambut Renita.


Dengan mulut tertutup alat bantu nafas, Renita menatap Bara dengan tatapan nanar. Ia sedang dalam proses menunggu masuk ke ruang operasi.


Krek!


"Ayah? Gimana kata dokter?" tanya Bara antusias.


"Operasinya akan dimulai 15 menit lagi, sekarang bunda diminta relax agar proses obat biusnya nanti bisa bekerja secara maksimal."


Arya lalu membungkukkan badannya dan mencium tangan Renita. "Kuat ya! Demi, Bara." Arya lalu melirik ke anak sematawayangnya itu.


Bara tersenyum getir dan ikut menyentuh lengan Renita. "Kita yakin Bunda akan balik lagi seperti dulu," ucap Bara meyakinkan.


Mereka lalu mencoba saling menenangkan diri sebelum memulai operasi ini.


'Ini akan jadi operasi Renita sebagai upaya terakhir karena sel kankernya sudah menyebar 96%,' perkataan ini terus berputar di telinga Arya.


Arya hanya bisa menahan sesaknya sendiri, ia harus bilang hal yang berkebalikan ke Renita agar Renita tidak putus asa.


Bara lalu menatap sendu ke arah Arya. Arya tahu sekali makna tatapan takut kehilangan itu. Namun, ia hanya bisa menghela nafas agar Renita tidak tahu apa yang mereka maksud.


***


Sasa mengendarai mobil yang kemarin ia bawa sendiri itu menuju jalan Kelapa Gading. Matanya melirik kiri dan kanan sebelum akhirnya ia berhenti dan membaca palang 'Selamat datang di Kelapa Gading'


"Huft!" Sasa lalu terus melaju dan memperhatikan sekitar.


"Gua harus cari kemana ya? Apa temuin ketua RT nya aja ya?"


Sasa lalu menuju ke sekretariat desa yang ada di sana. Ia memarkir mobil di depan kantor balai desa dan turun secara perlahan.


"Huh, gua harus lebih kuat karena Zean udah ga ada di sini untuk nguatin gua." Sasa lalu berjalan masuk ke kantor itu.


"Permisi, Pak!" Sapanya kepada salah seorang staff.


"Eh, iya! Silahkan, ada yang bisa dibantu?"


Sasa masuk dan duduk di kursi yang disediakan. "Saya lagi cari art saya, alamatnya ada di jalan Kelapa Gading,"


"Oh, ini benar jalan kelapa gading, nama artnya teh saha?"


Sasa mencoba membuka galeri ponselnya dan memperlihatkan sebuah nama. "Jia Nurhaya, ini mah saudara saya neng!" ujarnya seraya tertawa.


"Benar, Pak? Syukurlah, beliau sekarang dimana?" tanya Sasa.


"Beberapa bulan lalu dia memang jadi art, tapi di Bali." Pria itu mencoba menjelaskan.


"Tapi, setelah kepergian adek saya, dia ga pernah lagi balik jadi art, padahal dulu dia itu TKW Korea loh!"


"TKW Korea Selatan?" tebak Sasa langsung.


"Oh, engga! Saya cuma nebak sih," ujar Sasa cengengesan.


Sasa seperti dipertemukan dengan sosok yang tepat. "Jadi, dia sekarang ada dimana Pak?" tanya Sasa dengan penasaran.


Pria itu menatap Sasa dengan tatapan penasaran. "Gimana, Pak?" tanya Sasa dengan menaikkan sebelah alisnya.


***


Renita masuk ke dalam ruang operasi. Bara dan Arya nampak menatap pintu yang mulai tertutup setelah mereka mengiringi Renita yang terbaring lemas.


Pintu tertutup rapat, hanya petugas yang bisa menyaksikan operasi itu secara langsung.


[Bara dan Arya duduk di kursi depan ruang operasi]


Bara menatap Arya dengan raut datar. Tanpa bicara, Arya merangkul putranya itu. "Semua akan baik-baik aja, bunda itu kuat!"


"Dia berjalan sejauh ini mengikuti pengobatan aja udah jadi pertanda bahwa dia siap untuk balik lagi sama kita di rumah," ujar Arya meyakinkan Bara.


Bara hanya diam dan membiarkan Arya memeluknya. Ia mencoba menahan air matanya agar Arya tidak beban dengan keberadaannya di sini.


"Udah, pokoknya kita berdoa aja biar Bunda sehat lagi," ujar Arya melepas pelukannya.


Bara mengangguk. "Kamu udah kabarin, Sasa soal keadaan Bunda?" tanya Arya.


Bara lalu teringat kejadian sebelum ia menerima telfon dari Arya.


'Gua mau sendiri dulu.'


"Udah," jawab Bara secara gugup.


"Baguslah, Sasa itu juga jadi salah satu alasan Bunda tetap kuat berobat di sini," jelas Arya.


Bara mendengarkan ucapan Arya tanpa komentar. Pikirannya sedang fokus ke orang yang ada di dalam ruang operasi saat ini.


***


Sasa tengah berada di depan sebuah rumah semi permanen dengan banyak bunga di halamannya. "Permisi, Yati? Yati?" sorak pria yang tadi Sasa ajak bicara.


"Yati?" bisik Sasa seraya berdiri di belakang pria itu.


"Namanya memang Jia Nurhaya, tapi panggilannya di kampung ini Yati." Pria itu kembali menatap ke depan.


"Yatt??" sorak pria itu lagi.


"Iya, sebentar ini lagi masak nasi, bentar!" sorak Yati dari dalam rumah.


"Ini ada yang mau ketemu kamu, loh!"


"Iya, ini lagi nyolokin magic-nya, siap--" seraya berjalan keluar.


"Halo, Mbok Yati?" sapa Sasa dengan raut datar.


Yati hanya bisa diam, nafasnya seolah tertahan saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya.


[Ruang Tamu Yati]


"Silahkan diminum dulu, Mysa.... Maaf hanya seadanya," ujar Yati menawarkan.


"Terima kasih Mbok, sebelumnya saya mau to the point aja soal maksud kedatangan saya ke sini."


Sasa menatap Yati dengan tatapan lekat. "Apa yang Mbok dan Deina sembunyikan dari saya?" tanya Sasa.


Mendengar itu, raut wajah Yati langsung berubah. Ia seolah murung dan merasa bersalah.


"Sebelum saya jawab, Mysa harus janji dulu untuk tidak membenci saya," jelas Yati dengan tatapan cemas.


Tanpa ragu, Sasa mengangguk karena ia sungguh ingin tahu fakta baru yang berkaitan dengan Yati.


"Saya janji," ujar Sasa menambah keyakinan Yati untuk bercerita.