
^^^15 Mei 2020^^^
Waktu berlalu, membawa Sasa Sasilia ke gerbang kuliah. Setelah beberapa tahun gap years, akhirnya ia menemukan niatnya untuk kuliah.
Meski bisa dibilang, niatnya menyimpang, yang jelas ia mau belajar walau sudah tertinggal oleh angkatannya.
Sasa nampak berjalan ke arah mading, membaca pengumuman yang dulu sering ia lewatkan. Di SMA ini, ada banyak suka duka yang tertanam.
Mading itu kita sudah menampilkan pengumuman yang berbeda. Ada banyak sekali informasi yang bahkan Sasa baru tahu kalau mading menampilkan berbagai hal penting soal sekolah ini.
Mata Sasa menatap mading yang berisi berbagai info itu, ia sampai tidak sadar akan kehadiran orang di sebelahnya.
"Dulu punya penyesalan ga liat nama di mading sekolah ya, Mba? pas kelulusan,...." ujar seorang pria yang pernah ia temui sebelumnya.
Mata Sasa langsung menatap ke pemilik suara itu. Suara yang sedikit familiar di telinganya.
"Lo, kayaknya kita..." ujar Sasa.
"Bener, kita pernah ketemu di kursi taman," ujar pria itu.
Sasa nampak sedikit bingung dengan pernyataan pria itu. Kenapa hidupnya selalu bertemu dengan pria ini?
"Abraham Glanellio, panggilan Bara." Sembari mengulurkan tangan.
"Sasa Sasilia, panggil Sasa aja..." ujarnya membalas uluran tangan Bara.
"Oohh, lo ngapain di sini?" tanya Bara.
"Ada yang gua urus sih, kuliah..." ujar Sasa.
"Kuliah? lo kuliah dimana?" tanya Bara penasaran.
"Rencananya di Univ. Grellya Budaya," jawab Sasa sembari melihat mading.
"Really?" ujar Bara.
"Iya, emang kenapa?" tanya Sasa.
Bara hanya tersenyum dan bergumam sembari pergi. Ia merasa senang akan semakin sering berhadapan dengan gadis ini.
"See you next time!" sembari melambaikan tangan dan pergi.
Sasa nampak bingung dengan pria itu. Ia nampak sangat bersemangat ketika tahu Sasa akan berkuliah di Univ. Grellya. Namun, ia membiarkan pria itu berlalu seperti angin.
"SASA! sini," sorak Renita.
Sasa lalu berjalan ke arah Renita dan memeluknya Sasa dengan erat. Ia merasakan kerinduan karena sudah dekat sejak sekolah.
"Gimana? berkas aman?" tanya Renita sembari mengajak Sasa masuk ke ruangannya.
"Aman Buk," ujar Sasa mengikuti langkah Renita.
Mereka pun masuk untuk membahas beberapa berkas yang akan dikirim ke kampus itu. Sasa nampak antusias dengan semua ini.
......................
Kurang lebih tiga jam sudah Sasa di sini. Menyiapkan berkas satu per satu hingga akhirnya selesai. Nampak amplop coklat sudah siap dikirim ke kampus tujuan dengan berkas di dalamnya.
Sasa lalu duduk di depan Renita dengan meneguk air minum. Ia sudah lelah karena tidak biasa sesibuk ini.
Renita yang menyadari Sasa lelah itu menyuruhnya untuk diam saja, biar Renita yang membuat nama tujuan pengirimnya.
"Ga pernah se cape ini ya?" tanya Renita sembari menempelkan lem ke amplop itu.
Sasa terkekeh dan meminum air untuk melepas haus.
"Biasanya lebih cape dari ini, Bu." Celetuk Sasa.
"Tapi, ke kantor kepala sekolah, bukan ke ruangan ini." Renita tertawa mendengar itu, ia masih ingat sekali kebiasaan buruk dari anak asuhnya ini. Benar-benar nakal.
"Setiap orang pasti punya waktunya masing-masing untuk berubah, Sa."
"Kalau saya kayaknya udah ga ada waktu buat berubah bu, soalnya jam saya udah hilang," ungkap Sasa dengan kiasan.
"Jam yang hilang jangan sampai ngebuat kamu kehilangan waktu, Sa!" tukas Renita yang membuat Sasa terdiam.
Renita yang menyadari kekusutan hidup Sasa itu hanya geleng kepala. Ia lalu menyelesaikan pekerjaannya dan menyerahkan amplop itu ke Sasa.
"Udah siap untuk pengajuan, kamu tinggal tunggu tanggal masuknya aja..." jelas Renita.
"Prosenya berapa lama Bu?" tanya Sasa.
"Sekitar satu mingguan, biasanya kuota beasiswa akan lebih dulu dari kuota lain," jelas Renita.
"Ooo, makasi ya Buk,"
Sasa merasa lega karena sudah selesai mengurus berkas untuk kuliah. Ia sekarang hanya perlu menunggu waktunya saja.
"Ibu senang kamu akhirnya nemuin niat buat kuliah,"
Renita menatap sendu ke arah anak sahabatnya itu. Ia seketika mengenang Zena yang sangat pekerja keras.
"Mama kamu pasti bangga," Renita tersenyum.
Sasa lalu menatap Renita dengan senyum kecil. Ia seperti menemukan kembali sosok wanita dewasa yang bisa membimbingnya.
"Saya boleh tahu ga, Bu? Alasan apa yang bisa jamin ibu kalau Mama beneran bangga?" tanya Sasa.
Renita menarik nafas dalam dan memegang tangan Sasa. Ia menjelaskan beberapa hal tentang Zena di masa lalu yang Sasa harus tahu.
"Setiap main ke rumah, Zena selalu tersenyum kalau liat putra ibu yang sebesar kamu," jelas Renita.
"Dia selalu nanya gimana sekolahnya, prestasi apa dan banyak lagi,"
"Tapi, satu hal yang ga pernah lupa Zena bilang..."
"Apa Buk?" tanya Sasa penasaran.
"Dia bilang kalau putra ibu harus sampai ke jenjang kuliah, harus sekolah lebih tinggi dari ibu..." jelas Renita menyeka butir air mata di sudut matanya.
Sasa seketika terdiam akan ucapan itu.
"Apa perkataan itu cukup untuk kamu percaya bahwa ibu kamu pasti bangga kamu udah berhasil masuk ke jenjang kuliah?" tanya Renita.
Sasa seketika tidak bicara. Ia merasakan ada kebanggaan tersendiri sudah mewujudkan keinginan ibunya.
"Kalau dia berkata seperti itu ke orang lain, dia juga pasti sudah siapkan hal yang lebih baik dari itu untuk kamu, Sa." Jelas Renita.
Mendengar itu, Sasa mengiyakan ucapan Renita. Ia merasa senang dengan jalan yang sudah ia ambil, meski rumit, yang jelas ia tidak berhenti dan tetap berjalan.
"Makasi untuk banyak hal, Buk." Ujar Sasa menatap Renita penuh arti.
......................
^^^04 Juni 2020^^^
Satu bulan berlalu, Sasa disibukkan oleh persiapan ospek. Ia harus bolak balik kampus untuk beberapa informasi yang tidak disiarkan di grup.
Tapi, ini tidak masalah untuk sebuah hal besar nantinya.
Sasa berjalan di koridor kampus yang nantinya akan ia jelajahi selama lebih kurang 4 tahun.
Ia melihat kiri kanan sembari membenarkan earphone-nya.
Matanya tertuju pada pusat pada pohon rindang di sisi belakang kampus. Ia duduk di kursi sembari melirik sekeliling yang nampak hijau.
Saat sedang asik menikmati pemandangan ini, seseorang datang dengan nada ketus.
"Kalo mau duduk izin dulu!" ketusnya.
Sasa yang mendengar musik itu hanya diam.
"WOII!! LU DENGER GA GW NGOMONG!!!"
Sasa menatap pria di sebelahnya dengan heran. Heran karena kenapa ada manusia seperti ini di sini?
"Padahal kampus tempat belajar, kok masih ada ya orang yang ga punya sopan santun!" ujar Sasa datar sembari melepas earphone-nya.
"EH!! berani juga lu ya, lu ga tau gw siapa?!" tanya pria itu.
Sasa berdiri dari duduknya, ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu.
"Gak tau,"
Pria itu terdiam.
Sasa pergi meninggalkan tempat itu dan segera ke parkiran.
"Belagu juga tuh anak baru! liat aja, lo pasti bakal ketemu gw!!!" bentaknya.
......................
^^^15 Juli 2020^^^
Tahun ajaran baru akan segera dimulai. Sasa tengah asik menyiapkan perlengkapan kuliahnya.
Ia lalu mengecek laptop dan beberapa data yang sudah ia kumpulkan.
Kakinya tergerak melihat ke arah gorden seperti biasa. Ia lalu melihat kekosongan. Tidak ada mobil seperti biasa.
Tidak ada penguntit hari ini.
"Kenapa mobil sedan item itu ga dateng?" tanya Sasa pada dirinya sendiri.
Ia lalu menutup gorden dan memajang data pemilik perusahaan inves luar negeri itu di mading.
"Sebentar lagi, gw pasti tau wajah lo!"
......................
^^^(Sore Hari)^^^
"Permisi,"
Seseorang datang mengetuk pintu.
"Permisi,,"
"Iya, sebentar," Mbok Ira membuka pintu.
(Pintu terbuka)
"Ada paket untuk Mbak Sasa Sasilia,"
"Bener ini rumahnya?"
"Iya, bener. Sebentar saya panggilkan dulu."
Mbok Ira berjalan menuju lantai atas dan memanggil Sasa.
"Mysa???"
Hening.
"Mysa...."
Hening...
"Sepertinya Mysa tidur ini,"
Mbok Ira kembali ke bawah dan menemui kurir.
"Maaf Den, Mysa nya lagi tidur kayaknya,"
"Saya titip paketnya ke Ibu, tolong ttd di sini ya,"
"Ohh, di sini ya?"
"Iya Buk,"
Mbok Ira mengembalikan pulpen itu dan berterima kasih. Ia lalu membawa masuk paket itu.
"Wahh, besar juga ya... Ini isinya apa ya."
Mbok Ira memilih meletakkannya di ruang tamu, lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.
......................
Sasa perlahan membuka mata dan merogoh jam digital mini di sisi kanannya.
Matanya melihat angka 17.15 WIB di jam itu.
"Huuuaaaa..."
Ia menggeliat dan mencoba bangkit dari posisinya sekarang.
"Mbok..." sembari menuruni tangga.
"...." tak ada jawaban dari Mbok Ira.
"Mbok..." ujar Sasa lagi.
Sasa berjalan menuju dapur dan mengambil minum. Ia meneguk air itu dengan tatapan kosong.
Ia lalu berjalan ke ruang tamu dan melihat paket berwarna coklat.
"Paket siapa?" tanya nya bingung.
Sasa duduk dan membaca alamat dan nama penerima di paket itu.
"Sasa Sasilia,"
"Gw,"
"Dari siapa ya, ga ada namanya..." ujar Sasa bingung.
Ia lalu membawa bingkisan itu ke kamarnya dan mengambil gunting.
Perlahan tangan Sasa membuka paket itu. Sembari menerka isinya apa.
......................
(Dering telfon)
Sasa melirik hpnya dan melihat nama Deina tertera di sana.
"Halo Tan?"
"Sasa... How are you? Fine?"
"Baik Tan, Tante gimana kabarnya?"
"Syukurlah, Tante juga baik-baik aja kok, Tante cuma mau bilang, itu paketnya udah nyampe belom?"
"Paket? jadi paket ini dari Tante?"
"Iya, suka ga?"
"Baru mau aku buka Tan, double box soalnya... hehe,"
"Sengaja biar aman,"
Sasa lalu melanjutkan membuka paket sembari menelfon.
"Macbook?" lirihnya terkejut.
"Gimana, suka?"
"Wahh makasi ya Tan,"
"Tante seneng kamu ada niatan lanjut S1, apalagi di jurusan berbau IT, kamu pasti butuh yang terbaik."
"Padahal laptop RoG aku masih bagus Tan, tapi gapapa, makasi ya Tan."
"Iya, sama-sama sayang,"
"Udah dulu ya, Tante mau lanjut kerja."
"Iya Tan, see you."
"See you."
Telfon itu tertutup sembari Sasa melihat isi Macbook nya dengan detail
"Laptop ini bisa dipake khusus untuk kuliah, supaya data nya ga nyampur."
Sasa lalu tersenyum kecil dan membereskan plastik paket itu. Ia menghidupkan laptop barunya dan segera mengecek semuanya.