Puzzles

Puzzles
Episode 44 - Peredaran Vidio Sasa



Singapura, Rumah Sakit Hawland.


Dari dalam ruang rawat, nampak Renita masih tertidur seperti di Indonesia. Bedanya, detak jantung dan kualitas tubuhnya sudah mulai membaik.


Arya yang masih setia di samping Renita itu lalu tersentak dengan kehadiran Jay, salah satu dokter dari Indonesia yang bertugas di sini.


"Permisi, dokter Arya?" Jay masuk ke dalam ruangan.


"Dokter Jay, bagaimana kabar terbaru soal operasi yang akan Renita jalani?" tanya Arya.


"Operasinya tetap akan berjalan, kami sudah melakukan pengecekan, detak jantung dan kadar oksigen Renita normal," jawab Jay.


Arya menarik nafas dalam. "Syukurlah, saya harap semua akan berjalan baik."


"Dokter Arya, saya dan tim di sini akan mengupayakan hal terbaik, kita sama-sama berdoa saja." Jay menepuk lembut pundak Arya.


"Terima kasih, saya percayakan semuanya sama dokter Jay." Arya tersenyum getir.


"Silahkan tunggu di luar, kami akan membawa Renita ke ruang operasi sekarang juga." Jay berlalu meninggalkan Arya yang masih berdiri di samping Renita.


Arya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia berharap cemas semoga operasi kali ini akan membawa kabar baik. Ia lalu mendekat dan mencium kening Renita.


"Semoga, ini jalan yang baik supaya kamu bisa lihat matahari lagi."


Arya kemudian berjalan keluar ruangan, ia menuju ruang operasi duluan. Arya duduk di depan ruang operasi, menunggu Renita dibawa masuk ke dalam.


Jakarta, Indonesia.


Bila yang tengah duduk di dalam ruang kerjanya, melihat vidio yang sudah diunggah ke platform online. Ia nampak serius sekali menyimak perkataan Sasa.


'Saya Sasa Sasilia, CEO baru yang kini menghandle Hotel Gloubel.'


Di sisi lain, ada banyak orang di luar sana yang tengah menonton vidio klarifikasi itu. Termasuk, beberapa manajer yang sudah di pecat.


"Ini vidio CEO baru, ayo tonton." Beberapa orang berkumpul menonton.


'Seperti yang diketahui, sejak kepergian Zena Wijaya, belum ada CEO pengganti di hotel ini,'


"Liat ini deh, klarifikasi pewaris Gloubel," ujar salah seorang kepada temannya.


'Pelantikan saya menjadi awal dari peralihan kekuasaan yang sudah lama tidak terisi,'


Bila memperhatikan vidio itu setiap detiknya.


'Di awal jabatan saya langsung mendapat guncangan dengan adanya berita yang beredar, orang di luar sana pasti tahu berita apa,'


"Berita soal pemecatan sepihak bukan sih? Yang lagi viral." Semua orang melihat vidio itu melalui gadget nya masing-masing.


'Secara singkat saya nyatakan, pemecatan 25 manajer di 25 cabang Hotel Gloubel adalah hal tidak di sengaja begitu saja,'


'Sebelumnya, 25 manajer itu sudah menandatangi kontrak yang pada poin ke 7 menjelaskan bahwa masa kontrak akan secara otomatis,'


'Terputus jika ada CEO baru, dan ini merupakan aturan di Gloubel.'


"Jadi, berita yang beredar itu ngaco ya?" tanya beberapa orang.


Vidio itu sudah ditayangkan oleh banyak media online. Ada banyak fakta yang membuat orang lain terkejut.


'Saya sebenarnya tidak mau membeberkan soal alasan pemecatan, namun berita yang beredar memaksa saya untuk memperjelas ini semua,'


Disisi lain, nampak Larisa tengah ikut menonton vidio itu. "Jadi, Sasa ga hadir ke kampus karena udah jadi CEO?" tanya Larisa.


'Gloubel adalah hotel yang transparan dan bersih dari pemecatan sepihak, kami membangun Gloubel dengan komitmen.'


"Zean, gua harus tanya dia soal ini," Larisa lalu merogoh ponselnya.


'Setelah ini, saya harap tidak ada lagi berita salah yang beredar,'


'Karena semua hak sebelum pemecatan sudah kami penuhi, kami hanya menjalankan komitmen yang sudah lama terbentuk.'


'Sekian, dan terima kasih.'


Zean yang baru selesai menonton vidio itu langsung tersenyum. "Sasa emang bener-bener serius sama profesi barunya," celetuk Zean.


(Dering telfon)


Zean melirik nama yang tertera di ponselnya. Larisa. "Ada apa ya?" tanya Zean sembari menjawab telfon.


"Halo Larisa, kenapa?" tanya Zean.


"Kenapa lo ga bilang kalau Sasa ga ngampus karena jadi CEO?" tanya Larisa dengan nada marah.


"Larisa, lo ngaco deh, kenapa?" tanya Zean.


"Gausah ngelak, Ze... Lo pasti udah liat vidionya," jelas Larisa.


"Pasti lo habis nonton vidio yang viral ya?" tanya Zean.


"Iya, sekarang balik ke pertanyaan gua, kenapa lo sama Sasa ga bilang kalau dia berhenti ngampus?" Larisa berbicara dengan emosi.


"Gua juga kaget, ini baru mau hubungin Sasa." Zean terpaksa menyangkal soal ini.


"Lo pasti tau soal ini, Ze."


"Gatau, gua serius baru mau nanya Sasa," jawab Zean.


"Lo bohong, gua mau pesta perpisahan kita dibatalin aja." Larisa lalu menutup telfonnya.


"Halo, Larisa?!"


Zean melihat layar ponselnya yang sudah tidak tersambung dengan Larisa. "Huhh!" dengus Zean.


"Larisa pasti marah banget nih, gimana cara kasih tau Sasa soal ini," ungkap Zean.


...----------------...


Disisi lain, ada Ghare yang tengah duduk di ruang tamu. Ia nampak sedang menonton sesuatu dari ponselnya.


'Saya Sasa Sasilia, CEO baru yang kini menghandle Hotel Gloubel.'


Ghare menyimak setiap perkataan Sasa pada vidio itu. Raut wajahnya nampak datar. Ia seperti terkejut ketika tahu bahwa Sasa adalah CEO dari Hotel Gloubel.


'Saya sebenarnya tidak mau membeberkan soal alasan pemecatan, namun berita yang beredar memaksa saya untuk memperjelas ini semua,'


Belum habis vidio, Ghare seketika mematikan ponselnya. Ia kemudian meletakkannya di atas meja. "Cewe songong itu ternyata CEO di hotel bergengsi," ungkap Ghare.


Ghare seketika mengembangkan senyum, ia semakin penasaran dengan sosok Sasa. "Gua harus cari celah untuk selangkah lebih dekat sama dia."


Ghare lalu tersenyum sinis, ia mencoba memikirkan cara bagaimana bisa terlibat dalam kehidupan Sasa yang sangat gemilang itu.


...----------------...


Diruang nonton rumah Sasa, ada Bara dan Sasa yang tengah duduk di sofa sembari menatap layar tv.


"Vidionya udah ditonton sama lapisan masyarakat," ungkap Bara.


"Bagus, itu akan menepis opini orang soal berita yang salah." Sasa menatap datar ke depan tv.


"Lo puas sama hasilnya?" tanya Bara yang masih menonton vidio itu.


"Puas, semua orang jadi memihak Gloubel," jawab Sasa.


"Syukurlah," ujar Bara.


Sasa nampak puas dengan hasilnya, ia merasa mampu menyelesaikan tudingan itu. Masih bersama Bara, tiba-tiba telfon Sasa berdering.


"Halo, Zean?" sapa Sasa. Bara langsung menoleh Sasa yang berbicara dengan Zean itu.


'Larisa liat vidio itu dan marah,' ungkap Zean.


"Marah karena apa?" tanya Sasa.


'Dia ngerasa dibohongin, dan dia minta acara party nya dibatalin.' Sasa kaget mendengar ucapan Zean.


"Batal? Kenapa? Lo udah coba hubungin dia lagi?" tanya Sasa.


'Gabisa, dia ga jawab!' tegas Zean.


"Terus gimana, Ze?" tanya Sasa.


'Lo harus jelasin hal ini di kampus besok,'


"Gimana caranya? Gua kan––"


'Satu hari aja, Sa.'


Bara nampak memperhatikan Sasa yang rusuh itu. "Yaudah, besok gua usahain ke gerbang kanan." Sasa lalu menutup telfon itu.


"Kenapa? Ada masalah lagi?" tanya Bara menatap Sasa.


"Besok gua ikut sama lo ke kampus ya," jawab Sasa tiba-tiba.


"Kenapa? Lo bukannya udah ga kuliah lagi?" tanya Bara.


"Ada yang mau gua urus, lo besok berangkat jam berapa?" tanya Sasa.


"Pagi, jam 7."


Sasa terpaksa mengangguk, pagi sekali untuk dia yang sudah biasa bangun siang. "Yaudah, gua nebeng."


Bara mengangguk. Ia kemudian merogoh ponselnya untuk mengecek sesuatu. "Rumah gua udah selesai di renovasi."


Sasa seketika menatap Bara. Ia seakan tidak ingin Bara keluar dari rumah ini. "Lo boleh pergi kalau dokter Arya yang nyuruh."


"Kenapa?" tanya Bara.


"Karena lo dititip di sini, dan lo di Jakarta sekarang sendiri, jadi jangan keluar dari sini tanpa izin dari bokap lo," jawab Sasa.


"Ini juga udah gua tunda tau, sebenernya rumah gua udah selesai renovasi 2 hari lalu," celetuk Bara.


"Iya gapapa, kalau mau lo bisa renovasi 2 kali lagi," jawab Sasa ngasal.


"Bisa tinggal di sini selamanya dong gua," jawab Bara.


"Ga juga, ege!" bentak Sasa.


Bara menatap Sasa dengan senyum kecil. "Eh, gua ngerepotin lo ga sih?"


"Kalau repot, udah gua usir lo dari hari pertama," jawab Sasa.


Bara seketika tersenyum puas. Ia senang bisa benar-benar diterima di sini. Sebelumnya, ada banyak pertengkaran kecil antara mereka.